
♡♡♡
_______
Bian menoleh mengikuti si sumber suara dan ia mendapati Rudy tengah melambaikan tangannya. Pria itu juga tidak sendiri melainkan bersama seorang wanita yang tak Bian ketahui siapa dan dari mana.
"Weeeh!. Udah bisa ngemall ternyata bos kita."
Bian hanya tersenyum tipis sembari beradu tinju dengan bawahan lucknutnya tanpa ia sadari jika Sezi sudah lebih dulu meninggalkannya masuk kedalam untuk membeli minuman.
"Sama siapa kamu?."
"Bini."
"Bah!. Mulut kamu Bai, suka banget ngomong yang enggak-enggak." Ucap Rudy tanpa tahu kebenarannya. "Eh iya, kenalin. Sinta." Pria itu mengenalkan gebetan barunya dengan penuh rasa bangga. Bagaimana tidak, jika yang dikenalkan adalah wanita dengan gaya yang 'eemhh'.
"Sinta." Ucap wanita disamping Rudy dengan senyum mengembang.
"Bian." Bian hanya menyudutkan sedikit bibirnya. Terlihat dari caranya membalas jika ia sama sekali tidak berniat untuk basa-basi dengan keduanya.
"Kamu mau nongkrong apa gimana?." Tanya Rudy yang memang merasa aneh jika melihat bagaimana seorang Abian Khayr berada dikeramaian dengan kursi rodanya yang bahkan tidak pernah sekalipun datang ke kantor untuk mengunjungi mereka.
"Nganterin Nyonya." Jawabnya singkat.
"Nyonya siapa sih Bai?, kamu dari kemaren chat kita gak ada yang dibalas. Lah sekarang malah keluyuran di mall sama nyonya, Nyonya itu siapa?. Peliharaan apa gimana?."
"Sialan, bawahan durhaka emang."
Rudy terbahak - bahak karena Bian siap melemparkan kunci mobil kearahnya.
"Ya udah Bai, kita keatas. See ya." Rudy berpamitan dan meninggalkan Bian sembari merangkul pinggang wanita disampingnya dengan mesra.
Tak lama Sezi muncul dengan dua cup boba milk tea ditangannya. Ia menghampiri Bian sembari bersenandung lirih.
"Kamu bohong!." Ucapnya kasar.
"Bohong apa?." Bian menengadahkan kepalanya menatap si bawang dengan dahi berkerut.
"Kamu tahu harganya berapa satu gelas?." cecarnya dan membuat Bian seketika mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban.
"TIGA PULUH DELAPAN RIBU!." Pekiknya tertahan disertai emosi sembari menyeruput gemas minuman kesayangannya itu.
"Bayangin, tiga - puluh- delapan-ribu- terus dikalikan dua jadi dua cup harganya tujuh-puluh-enam-ribu. Udah dapet nasi bakar pake tongkol suwir plus pete ditambah kerupuk tempe sama es cincau sama gorengan dan itu tuh cuman lima puluh ribu kurang dikit... aaaaa..." Wanita itu begitu kesal karena telah membelinya tanpa duit dari sang suami.
Bian mengaduk cup berisi teh susu boba ditangannya kemudian menyeruputnya sedikit dan berkata,
"Enak aja kok."
__ADS_1
Membuat Sezi gemas ingin menjambak rambutnya yang terlihat begitu hitam.
"Ya iya lah enak, kalo gak enak kan gak mungkin dibeli. Dasar aneh!."
Sezi berlalu meninggalkan suaminya yang terkekeh geli sembari mengikutinya dari belakang dengan membawa boba milk teanya.
-
-
-
"Loh jadi Bian keluar sama Sezi?." Bitha tampak panik karena ia tak pernah melihat adiknya itu pergi dari rumah tanpa supir.
"Dia pake van sayang." Alex berusaha menenangkan istrinya dengan berkata jika Bian sudah pernah mencoba van yang ia belikan sebelumnya.
"Tapi kak nanti kalo dia capek gimana?."
"Ada Sezi."
"Sezi gak bisa nyetir mobil, sayang."
"Turun harga diri lah kalo sampe dia bilang capek nyetirin bini sendiri."
"Susulin gih."
"Ih, enggak. Masa kita mau ngintilin orang pacaran." Alex menolaknya mentah-mentah sembari menyamankan tubuhnya pada sofa malas.
Bitha terlihat kesal dengan respon sang suami yang terlihat begitu asik bermain PS bersama anak semata wayang mereka.
_
Pukul delapan malam dan dua sejoli yang baru saja menyandang status sebagai pasangan suami istri itu tiba dirumah.
Tidak ada yang spesial dari keduanya selain kotak karton yang berada dipangkuan Bian.
"Waw papa lihat, om Bian beli lego series!."
Zhian terlihat begitu bahagia saat karton bergambar mainan kotak-kotak itu menyapa penglihatannya.
"Makasih tante Zi." Ucapnya begitu tulus tanpa melihat siapa orangnya.
"Yang beli om Bian loh, kenapa makasihnya malah sama tante?." Bian tak terima dirinya dilupakan oleh ponakan tersayangnya.
"Kan waktu itu mama bilang sama om Bian katanya jangan beliin mainan." Ucapnya sembari mengingat-ingat kata-kata sang mama.
Bian meninggalkan ruang tamu untuk masuk kedalam kamar sedangkan Sezi memilih pergi kedapur menyusul Bitha yang terlihat asik dengan mesin kopi milik sang suami.
__ADS_1
"Kak, bikin apa?." Tanyanya basa-basi.
"Kopi. Mau?." Tawar Bitha dengan menuangkan susu full cream kedalam cangkir.
Sezi menggeleng pelan. Ia kemudian menarik kursi makan dan menempatinya.
Bitha yang melihat sekilas bisa langsung memahami jika adik iparnya itu pasti tidak mau masuk kedalam kamar karena ada Bian disana.
"Masuk aja. Bian gak bakal ngapa-ngapain kamu." Ucapnya sembari menyeruput kopi susu ditangannya, "Paling pegang aja dikit." Sambungnya.
"Kakak ih, gitu lagi kan ngomongnya."
"Loh, terus kakak harus kaya gimana?. Apa kakak harus bilang ke Bian jangan ini dan itu?."
"Ya gak gitu juga."
"Terus?."
"Aku gak pernah tidur sama laki-laki kak, terus sekarang harus tidur sama dia. Aku inget banget gimana sakitnya waktu dia bilangin aku Lont*, perempuan gak bener. Itu tuh rasanya bikin aku pengen matahin lehernya kak." Ucapnya sembari menelungkupkan wajah beralaskan tangan diatas meja.
"Jadi dia nyebut kaya gitu?." Bitha tampak syok dengan penuturan Sezi. Ia percaya jika adik iparnya itu tak mungkin berbohong.
"Terus dia bandingin aku sama perempuan berhijab dikantornya dan itu langsung didepan muka. Kakak kebayang dong sakitnya kaya gimana."
Bitha cukup bingung untuk menjawab dan ia memilih diam sembari menempelkan bibirnya pada mulut cangkir.
"Jadi tuh biar pun dia sekarang udah bicara baik-baik sama aku rasanya kaya gak masuk akal gitu."
Sezi terus berbicara untuk mengeluarkan uneg-uneg yang bersarang dikepalanya yang tanpa ia sadari jika Bian juga ada disana. Pria itu berada tepat dibalik punggung Sezi, diam dan menyimak apa yang dikatakan oleh si bawang merah tentangnya.
"Jadi mau kamu gimana?." Tanya Bitha sengaja.
"Gak ada, aku cuman mau kita pisah setelah dia sembuh sepenuhnya agar tidak ada hutang yang tertinggal diantara kita. Dia bisa bebas pilih perempuan yang sholihah dan aku bisa bebas tanpa harus mikirin sakit hati."
Bitha terdiam, ia cukup terkejut dengan ucapan adik Sarah tadi. Dirinya tak menyangka jika alasan Sezi menerima pinangan itu karena merasa bersalah kepada adik lelakinya.
"Kamu benar-benar mau ninggalin dia?. Terus gimana seandainya dia memang secinta itu sama kamu dan gak akan ngelepasin kamu apapun alasannya."
"Ya enggak lah kak, dia itu tipikal yang sulit buat ditebak."
"Terus kalau kalian punya anak gimana?."
"Gak, gak boleh punya anak. Aku gak mau diapa-apain sama dia. Enak aja mau cari enak doang. Rugi!. Perawan aku cuma buat orang yang spesial yang gak akan bilang aku Lont* didepan umum." Ucapnya bersemangat.
-
-
__ADS_1
-
tbc.