My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Ektra one


__ADS_3

...🌳🐛🌳🐛🌳...


"Ayo sayang, sebentar lagi kita telat ini."


"Sabar kenapa?." Sezi memanyunkan bibirnya. Wanita dengan perut besar itu tampak susah untuk melangkah karena kakinya yang tengah kesemutan.


"Kamu makin lucu tau."


"Jangan biasakan body shaming!."


"Idiih, aku kan gak ada bilang yang gimana-gimana, cuma bilang kalo istriku lucu aja." Bian berkilah, jelas jika pria itu tidak ingin mengakui kebernaran dari kata-katanya tadi.


Sezi mendelik menatapnya yang tengah menahan senyum kala tubuh wanita itu merangkak untuk bisa berdiri dengan sempurna.


"Abaaaanggg!!!."


"Iya, AWW!!." Pekiknya tak tertahan saat dua jemari Sezi mencapit perut lelaki itu. "Sakit sayang."


"Lagian, punya mata jahat banget."


"Ya ampun, salah apa lagi sih mata aku yang sholih ini?."


"Mulut kamu bisa bilang enggak, tapi mata kamu jujur banget." Sezi berlalu dengan bersusah payah membawa perutnya yang besar sembari menggandeng lengan Mentari, putri pertamanya yang telah berusia tiga tahun.


______


Hari ini merupakan hari dimana saudara angkat Alex akan mengadakan pesta pernikahan mereka setelah sebelumnya sempat tertunda karena sesuatu hal yang membuat acara itu harus diundur.


Zoe, pria berwajah setengah bule dengan keperibadian unik itu kini tengah merasakan masa-masa indahnya setelah menemukan bagian dirinya yang sempat hilang beberapa waktu lalu.


Seperti halnya Bian dan Sezi, pasangan lain pun saat ini tengah disibukan dengan persiapan untuk menghadiri wedding party tersebut.


"Bian udah telepon?." Tanya Alex pada sang istri.


"Udah, dia lagi dijalan."


"Ya udah kita juga berangkat sekarang aja. Kasian nanti ibu kelamaan nungguin."


________


"Bang, emang kak Zoe itu bener-bener anak hilang kaya yang disebutin sama papanya Bara?." Tanya Sezi kepada Bian yang tengah fokus mengemudikan mobilnya.


"Bukanlah, bang Ibram tuh ngada-ngada aja. Bener kamu percaya gitu?."


"Ih, aku tuh nanya gini ya udah pasti karena gak percaya. Abang gimana sih!. Kesel deh."


Bian terkekeh, tak terbayangkan diotaknya jika dirinya benar-benar menikahi si gadis bau cuka yang membuatnya jatuh cinta hingga berkali-kali.


"Kak Zoe itu sebenarnya cucu dari tetangga orang tua kak Alex dikampung. Dia diadopsi karena ibu kandungnya itu bukan orang baik-baik. Sedangkan ayahnya sendiri merupakan imigran gelap."


"Hoooo...." Sezi mengangguk. "Terus kenapa dia gak kaya yang lain?."


"Maksud kamu?."


"Gak seperti Kak Rumi atau abang Alex."


"Gimana-gimana?."


"Seleranya itu loh."


"Oh, maksudnya yang suka dandan kaya banc*?."


"Iya."


"Gak tahu juga, merasa cantik mungkin?."

__ADS_1


"Yeeee.....dikira perempuan apa, cantik!."


"Lah, kan dia kerjanya diclub. Bebas mau jadi apa dan gimana aja."


"Kamu jawabnya yang seriusanlah."


"Aku serius sayang, aku juga gak tahu alasan kenapa dia suka begitu." Bian menjeda kalimatnya. "Tapi yang aku denger-denger sih karena dia menghindari perempuan."


"Kenapa emang?."


Bian tampak berfikir dan kemudian bertanya kepada sang istri, "Kamu sendiri kalo lihat dia pas dandan ala cowok gimana?."


"Gantenglah."


Secepat itu Sezi mengatakan apa yang tersimpan dalam benaknya.


"UGH!!!."


"Kenapa kamu?." Sezi justru melirik aneh pada sang suami.


"Hati aku sakit, kaya disayat sembilu."


"Idih, lebaaay..." Ia kemudian tertawa setelah menyadari maksud dari respon yang diberikan Bian kepadanya.


"Aku kan cuma berkata jujur sayang, seperti apa yang terlihat oleh mata orang lain."


"Sama aku gantengan mana?."


"Ya beda dong, masa kamu mau ngebandingin asia sama amerika."


"Istriku jahat!."


"Ih, kan marah. Abaaangg." Suaranya terdengar maja, menggelitik telinga Bian.


"Ada Mentari, sayang. Dia denger nanti ngomel tuh kalo lihat kamu manja-manja gini."


"Sayaaaanngg." Bian benar-benar dibuat kesal. "Aku belokin nih ke hotel!."


"Eeeit!. Jangan!."


"Kamu gak bisa banget dibilangin. Sukanya bikin lutut aku lemas. Nanti kalo aku gak kuat injak gas gimana?."


Sezi semakin terbahak-bahak mendengar ocehan sang suami yang sempat terpancing gai****nya.


"Kamu jadi ingetin aku sama insiden diruang terapi waktu itu."


"Ckk!." Bian berdecak, "Kok masih diingat sih kejadian itu. Kan udah berlalu sayang."


"Ya gak masalah kan?. Toh sekarang udah jadi dua walaupun yang satu belum rilis."


"Kamu tahu gak rasanya waktu itu?."


"Gimana emang?."


"Malu banget!."


Sezi kembali terbahak-bahak hingga membuat perut buncitnya terasa kecang.


"Itu nafs* bener-bener udah diujung dan gak bisa dibendung."


"Semudah itu?."


"Udah ah gak usah dibahas. Bikin kesel kalo inget itu lagi."


__________^^^

__ADS_1


Bitha berjalan santai bersama Zhian dan Alex yang tengah menggendong seorang balita dengan dress bunga-bunga yang membalut tubuh mungilnya, tampak sangat menggemaskan.


"KA BITHA!!!."


Suara Sezi benar-benar menarik perhatian banyak orang dan membuat Bitha seketika menutup mukanya karena malu.


Dokter wanita itu tak menyangka jika adik iparnya itu benar-benar telah kembali seperti saat masih remaja, begitu energic.


"Kamu ngapain sih teriak-teriak. Nanti kalo teberojol gimana?."


Sezi hanya terkekeh saat melihat bagaimana kakak iparnya itu menunjukan kehawatirannya.


"Ada dia!." Sezi menunjuk Bian yang tengah berjalan gontai dibelakangnya sembari menggendong si sulung yang masih terlelap dalam nikmatnya tidur diwaktu pagi.


"Bisa ambeien dia kalo gendong kamu." Ucap Alex spontan dan membuat Sezi mendengus kesal.


"Aku tuh gak berat kaak!."


"Iya, iya, ya sudah ayok masuk!." Bitha menengahi perdebatan keduanya.


______________


Sepasang pengantin tengah duduk bersama diatas pelaminan. Menjadi raja dan ratu sehari di momen spesial keduanya.


Zoe terlihat begitu menawan dengan tuxedo hitamnya. Sedangkan Zelia, wanita itu benar-benar tampak seperti boneka hidup karena make up diwajahnya yang mengedepankan riasan pada mata bulat miliknya, hanya saja ia tetap terlihat mungil saat bersanding dengan si pria meski telah mengenakan high heels sekalipun.


"Berarti abis ini udah gak ada adegan kabur-kaburan lagi dong ya?." Ibram menyentil dagu Zoe,


"Najis tangan lu bang____sat!." geramnya dengan wajah tersenyum.


"Iya, gak seru!." Alex menimpali.


"Ya udah, nanti giliran aku yang kabur terus kalian bagian cari-carinya." Ucap bagas dengan nada genit.


"Idih!. Najis elu mah."


"Ngapain nyariin elu, paling juga sembunyi diketeknya mak Jambang."


"Biar sekalian dimakan tikus dia."


Ketiganya justru berbalik membuli asisten Alex yang memang memiliki kebiasaan tak baik.


"Udah ganti mucika*i weee..."


"Gila lu nyet!. Maniak gak kira-kira." Zoe mbergidig setelah mendengar ucapan si gila yang gemar celap-celup.


"Stok pengaman gue satu dus."


"Bajul!, Bajul!. Ini kiamat makin deket gara-gara elu tau gak!?."


"Mana bisa!. Termasuk kalian juga lah!."


"Udah yuk, kelamaan kita disini. Yang lain juga bentar lagi pada naik, sungkeman ama dia." Alex menunjuk wajah tengil saudara angkat lelakinya.


.....


tbc.


_


_


_


_

__ADS_1


_


hai hai hai, pembaca cerita nut nut🐛. Boleh ya bikin ekstra part yang rada keluar dikit dari cerita. 🐮


__ADS_2