
☆▪☆▪☆
Hari libur yang benar-benar melelahkan karena sedari pagi Sezi harus mengikuti langkah sang ibu yang mengajaknya berbelanja keperluan untuk acara selamatan di rumah saudara sepupunya yang baru saja menerima lamaran.
"Apalagi ma?." Tanyanya sembari menenteng dua keranjang plastik berisikan bumbu-bumbu mentah untuk menu masakan yang akan mereka sajikan pada acara siraman tiga hari lagi.
"Tunggu disini aja. Mama masuk kedalam dulu mau cari plastik kiloan buat bungkus jajanannnya nanti." Sang ibu berlalu dan meninggalkannya dipintu masuk pasar yang penuh dengan orang-orang berlalu-lalang.
Disaat itu seseorang menyentuh lengan Sezi yang sedang berdiri dibahu jalan menjaga dua keranjang yang penuh dengan belanjaan.
"Mbak?." Wanita itu menegur Sezi dengan senyum ramahnya.
"Iya." Sezi sempat lupa beberapa detik sebelum akhirnya dia berkata. "Oh, si mbaknya Meily?."
"Iya, saya kira mbaknya lupa." Wanita bernama Mina itu kembali tersenyum lebar karena Sezi mau mengingatnya meski baru dua kali bertemu.
"Maaf, saya ingat cuma kalo lagi banyak orang gini kadang suka ketuker ingatan ama daftar belanjaan." Sezi dengan ramahnya berucap seolah mereka adalah teman lama.
Mina terkekeh karena kalimat lucu Sezi. Wanita itu tampak senang bertemu dengannya yang adalah terapis anak sang majikan.
"Saya tadi langsung ngenalin mbak Sezi walaupun jauh hehehe... Soale mbak e cantik banget, wajahnya ngangenin." Ucapnya sedikit malu-malu yang kemudian disambut tawa oleh Sezi.
"Dih, si mbak bisa aja." Mereka lantas tertawa ditengah ramainya suasana pasar tanpa peduli dengan sosok yang tengah menunggu si mbak dari dalam mobil yang terparkir tak jauh dari keduanya.
"Papa lagi ngeliatin juga ya?. Cantik kan pa?." Meily yang sedang duduk disamping sang ayah baru saja menangkap basah senyum tipis yang tersungging dibibir pria itu sebelum akhirnya hilang saat Meily menegurnya.
-
▪▪▪▪▪
-
Bian menghabiskan waktu luangnya dengan monitor yang terus menyala selama hampir duabelas jam lamanya sejak pukul lima pagi meski sebenarnya pikiran pria itu sendiri jauh dari pekerjaan yang jelas berada diatas busy desk miliknya.
Disaat yang sama Zhian mengetuk pintu kamarnya untuk meminta menemaninya bermain sepedah dijalanan komplek.
"Om, main sepedah yuk." Bocah tampan itu menempel erat dipahanya sembari terus memeluk perut Bian dengan kepala menengadah.
"Papa mana?." Tanyanya dengan alis terangkat.
"Papa ketiduran di depan tv, kata mami sama om aja mainnya." Rengeknya dengan alasan top cer.
Bian menghela nafas berat sebelum akhirnya mematikan monitor kemudian mengambil topi untuk menghalau sinar matahari sore agar tak menyilaukan pandangan matanya.
"Bi jangan pulang terlalu sore ya." Pesan Bitha kepada adiknya agar tak membawa Zhian bermain terlalu lama.
-
***
__ADS_1
-
Notifikasi grup berbunyi saat Bian tengah menuntun sepedah Zhian menuju taman komplek yang sedikit jauh dari rumah mereka.
📩"Rud, ponakan gue gak terima salam elu!. Tu cewek udah dibooking ama dia buat dijadiin ibu tiri!." Pesan Mahesa.
📩"Wah, parah sih ponakan mu ngerti aja yang high Quality."
📩"Entar aja lu daftar kalo abang gue nolak. Tapi kayaknya gak bakalan nolak sih sama yang ini."
📩"Sumpah kamu manusia paling ngeselin!."
📩"Sekarang doa aja dulu, mudahan abang gue nolak."
📩"Minta fotonya Sa'."
📩"foto siapa?. Abang gue?."
📩"Dih! Ngapain poto abang lu!?."
📩"Jadi?."
📩"Ya fotonya si itulah!."
📩"Buat apa lu minta fotonya segala?. Kenal ama dia aja kagak lu."
📩"Emang nyamuk diasepin?!."
📩"Ya udah mana cepetan kirim!."
📩"🐴" Mahesa mengirimkan fotonya sendiri yang masih berada dikamar kos dengan tubuh toplessnya.
📩"Ngapain malah mukamu yang nongol oneng!!!"
📩"Biar lu tobat abis liat muka ganteng gue!."
📩"Aku lurus bangs*t!. Bukan tim burik!."
Sudah bisa dipastikan jika pria bernama Mahesa prayogo itu tengah terbahak-bahak membayangkan kemarahan Rudy karena ulahnya.
Tak lama satu notifikasi berbunyi lagi hanya saja Bian sama sekali belum membuka pesan grup itu sampai keduanya tiba ditaman dan wajahnya berubah tegang karena melihat wajah tak asing dalam potongan foto yang dikirim oleh Mahesa.
Ia hampir saja membanting ponsel hitam itu keatas paving jika tidak ingat harga seri kala pertama kali ia membelinya.
"Jadi beneran itu kamu." Senyum Bian tersungging tipis dengan sebuah tatapan tajam. Pria itu seolah ingin mengatainya namun hatinya justru merasakan hal yang sebaliknya.
Pria itu kembali memasukkan ponselnya kedalam saku celana joger miliknya. Ia kembali memikirkan ucapan Mahesa mengenai Rina. Ya, gadis yang menyukainya meskipun tak pernah ia harapkan.
Bian yang notabennya adalah seorang pria pasti akan melihat visual lawan jenisnya terlebih dahulu, namun jika untuk Rina ia rasa tidak ada salahnya mencoba.
__ADS_1
Rina merupakan sosok gadis dengan penampilan tertutup, tutur katanya juga lembut Jika dibandingkan dengan Sezi yang memiliki kepribadian cukup terbuka dan juga penampilannya yang serba minim, itu benar-benar jauh. Hanya saja Sezi jauh lebih unggul bila menilai dari segi fisik, bahkan untuk sekali lihat saja orang akan berkata jika wanita dengan kelakuan luarbiasa itu memanglah cantik.
Bian menghembuskan kasar nafasnya untuk membuang penat yang selalu menekan perasaannya belakangan.
"Rasanya udah gak perlu lagi mikirin dia." Gumamnya sebelum mengajak Zhian untuk pulang sesuai pesan Bitha kepadanya.
-
-
-
▪▪▪▪▪
Seminggu setelah Bian mengetahui kedekatan Sezi dengan seorang duda beranak satu yang tak lain adalah kakak dari teman sekantornya sendiri, Mahesa. Ia terlihat tak lebih baik dari sebelumnya, yang ada bahkan rasa kesal ketika Mahesa terus meledeknya dan selalu menjodohkannya dengan Rina.
Benar jika mulut selalu mengatakan'tidak perlu lagi untuk menemui wanita itu' namun pada kenyataannya hatinya justru berkata sebaliknya.
Perasaan Bian jelas semakin tertekan kala dua pria yang juga duduk disebelahnya tengah menceritakan bagaimana terapis kesayangan Meily itu bisa membuat hati sang duda kembali bersemi karena chat bodoh Mahesa bersama sang keponakan.
"Jadi beneran dia suka sama abang mu?."
"Maybe yes." Mahesa tak memberikan jawaban pasti karena ia juga tak tahu apakah wanita itu benar mau dengan kakaknya yang duda atau tidak lantaran Meily juga tidak mengerti ketika ditanya.
"Asli boy, aku gak bisa terima kalo kakak mu sampe dapetin tu cewek!."
"Jangankan elu, gue aja berdoa moga dia jadi jodoh gue."
"Perang sodara lah kalo kamu doain gitu!."
"Gak papalah gue rela meskipun bakalan adu jotos ama abang gue sendiri."
"Wah!. Parah emang."
"Mana taukan elu kalo nanti justru doa gue yang makbul!?."
Bian seketika menggebrak meja kerjanya sendiri dengan tangan terkepal. Hatinya terus diliputi rasa kesal yang tak tertahankan karena obrolan dua ceriwis disampingnya yang terus-menerus membicarakan Sezi.
Rudy dan Mahes sama-sama terkejut dengan kelakuan manusia disebelah mereka yang tiba-tiba saja terlihat serius. Keduanya terus memperhatikan mata Bian yang terpejam dengan terus melakukan in hale dan exhale berulangkali.
"Lu kenapa?." Mahesa bertanya kepada Bian yang justru meninggalkan keduanya tanpa sepatah katapun.
.
.
.
tbc.
__ADS_1