My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

☆▪☆▪☆


 


Bian dengan sabar mendengarkan bagaimana wanita yang baru saja sah menjadi istrinya itu berkeluh kesah tentang dirinya.


Perih, jelas jika perasaannya menjadi perih kala mendengar kejujuran Sezi tentangnya dan yang lebih membuatnya sedih adalah saat Sezi berkata mereka tidak akan memiliki anak. Itu artinya Sezi benar-benar tak akan membiarkan dia untuk menyentuhnya.


"Kamu berani gak kalo ngomong langsung ke dia?." Tanya Bitha sebelum memutuskan untuk beranjak dari tempat duduknya.


"Berani, cuman dia kalo diajak ngomong gak pernah serius. Sebel gak?."


Bitha tampak manggut-manggut sebagai respon terhadap ucapannya.


"Kakak kedapan dulu ya, kamu masuk gih. Bian pasti nungguin tuh didalem." Ucapnya sebelum meninggalkan Sezi.


"Ntar aja deh. Biarin dia, paling juga udah tidur."


Lima menit, Sezi masih betah berada pada posisinya hingga saat ia berbalik dan mendapati Bian berada tepat dibelakangnya.


"Kamu!."


"Kamu ngapain disini?."


Sezi benar-benar terkejut mendapati Bian duduk tenang tak bersuara dibelakangnya.


Bian kemudian menahan pergelangan tangan Sezi. Ia meminta wanita itu untuk duduk dipangkuannya.


"Ih, enggak. Kalo patah jadi tiga gimana?."


"Gak akan."


Bian menariknya sedikit lebih kuat hingga membuat tubuh Sezi limbung kearahnya.


"Kamu apa-apaan sih?!. Bahaya tau!."


"Kamu gak mau dengerin."


"Aku denger tapi aku gak mau kalo harus kaya gini. Lepasin."


"Dengerin dulu."


"Ya udah cepetan kamu mau ngomong apa?."


"Lihat aku."


Sezi menoleh dan seketika itu pula ia terkejut karena Bian memberinya sebuah kecu-pan singkat. Pria itu kemudian tersenyum tipis melihat bagaimana respon tubuh Sezi ketika mendapat serangan tiba-tiba darinya.


Wanita itu menatap tak percaya kepada pria yang tengah memangkunya.


"Mau lagi?." Tanyanya dengan wajah menggoda.


"Bajing*n kamu Abian!." Geramnya tertahan saat kesadarannya telah kembali. Sezi berdiri lalu mengusap bibirnya dengan punggung tangan sebelum akhirnya berlalu meninggalkan Bian sendiri di dapur.


Pria itu hanya bisa menatap iba pada dirinya sendiri saat melihat bagaimana Sezi mengusap bibirnya tadi. Namun tekadnya sangatlah kuat, Ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu pergi dari hidupnya selain karena maut yang memisahkan mereka.


Selanjutnya apa?.


Pertama ia harus pulih terlebih dahulu atau setidaknya ia bisa berdiri untuk menopang tubuhnya kemudian rencana lanjutan akan dimulai.

__ADS_1


_


_


_


_


_


Pagi ini Sezi tengah bersiap untuk pergi bekerja dirumah sakit baru. Tidak ada yang spesial selain dari pada tantangan yang akan ia hadapi.


Ia pergi bersama Bitha bukan Bian, lelaki itu entah berada dimana ia pun tak tahu karena sedari bangun tidur ia tak melihat wujudnya dikamar mereka.


-


-


-


Kedatangannya disambut ramah oleh perawat dan juga terapis lain saat mereka berkumpul untuk briefing. Hal itu benar-benar membuat Sezi bahagia karena artinya mereka dapat bekerja dengan tenang.


"Sezi, ikut saya." Pinta seorang wanita yang menjabat sebagai kordinator.


Sezi yang masih baru pun hanya bisa mengekorinya tanpa berani bersuara.


"Sezi ini bukan pertamakali ya?. Sebelumnya udah pernah disini kan?." Tanyanya ramah.


"Iya, ini kali kedua kesini dan pertamakali jadi karyawan disini." Jawabnya sembari tersenyum ramah.


"Sezi dapat bagian diruang belakang ya, khusus dewasa dan lansia, disana sudah ada Erwin sama Tri satu lagi si Sisil. Masing-masing mereka udah pegang dua, nah nanti Sezi pegang satu. Biasanya sih si Geo yang pegang tapi si Geo dipindah ke bagian anak jadi kamu yang gantiin dia."


"Cowok, tapi baik kok orangnya, ramah, gak banyak ngeluh juga kalo denger dari ceritanya si Geo."


Sezi hanya manggut-manggut setelah mendengar penuturan dari sang koordinator.


-


-


Nuansa hangat dan nyaman menyapa indera pengelihatan Sezi, dimana segala fasilitas terapi tersedia lengkap didalamnya.


"Saya tinggal ya, langsung gabung aja sama yang lain. Sekitar tiga puluh menit lagi pasiennya datang." Ucapnya sembari melihat jam pada pergelangan tangan sebelum akhirnya berlalu dari ambang pintu.


"Sezi, yuk!." Sisil mendekat untuk kemudian mengajak Sezi bergabung dengan dua terapis lainnya yang tengah duduk dalam satu meja dengan catatan agenda mereka masing-masing.


Sezi kemudian diberikan catatan mengenai sang pasien yang membuat matanya seketika terbuka lebar dengan mulut sedikit menganga.


"Hei, kenapa?." Sisil menepuk pundak Sezi yang tampak bengong.


"Eh, gak papa." Sezi tersenyum canggung.


"Bisa-bisanya dia ngerjain orang." Gerutunya dibalik masker yang dikenakan. "Dasar abal-abal."


Setelah tiga puluh menit menunggu akhirnya pria itu datang juga. Sisil menyambut kedatangan Bian dengan ramah ala customer service. Ia menerima kertas yang dibawa Bian untuk kemudian dicocokan dengan data yang ada dikomputer.


"Silahkan." Sisil memberikan gelang berwarna kuning ketangan Bian. Sayang sekali ia tak melihat Sezi yang berdiri dibalik tubuhnya dengan mengepalkan tangan karena tatapan Bian yang terlihat mengejek dirinya.


"Sez." Sisil memberinya map berisi rangkuman kegiatan kepadanya. "Panggil si Erwin aja kalo ada apa-apa, dia disebelah." Pesan Sisil kepadanya yang hanya diangguki oleh Sezi.

__ADS_1


__________💕


"Kok diem?." Bian akhirnya bersuara. "Gak suka nerapi suami sendiri?." Tanyanya.


Sezi berhenti sembari menatap kesal pria di depannya. Bian yang sadar karena tak ada langkah Sezi disampingnya pun akhirnya ikut berhenti.


Sezi kemudian melanjutkan langkahnya mendahului Bian dengan wajah tak ramah dan hal itu sukses membuat Bian terkekeh geli.


"Sus, pasiennya jangan ditinggal." Bian memanggil Sezi yang berada didepannya.


"Tauk, jalan aja sendiri." Sahutnya sedikit kuat.


"Sus!. Oi!."


"Hiis, berisik Abian!."


"Pasien ini, kenapa ditinggal?."


"Ya Allah, demi apa bisa dapet pasien kaya kamu."


"Suami sendiri sayang."


Sezi langsung berbalik dan menutup mulut Bian dengan tangannya sembari menoleh ke kanan dan ke kiri untuk memastikan tidak ada orang yang melihat ataupun mendengar kata-kata pria itu tadi.


"Ssstttt...!."


"Apwahkajdjkkigj."


"Kamu bisa diem gak!?." Sezi terlihat begitu gemas ingin meremas mulut lantih sang suami yang tengah terkikik karena ulahnya sendiri.


_


_


Tiba diruangan, Sezi segera menyiapkan kebutuhan Bian seperti alat penyangga serta membantunya melakukan pemanasan terlebih dahulu dengan menekan bagian belakang punggung serta memijat tungkai juga lutut pria itu dengan begitu lembut.


"Sebelah sini sus." Ucap Bian mengarahkan telunjuknya pada bagaian bahu.


"Bapak bisa tenang?. Atau perlu saya ketok lagi ini pakai martil?." Sezi menunjuk tulang kering Bian yang kemudian membuat pria itu kembali tenang seketika.


"Sayang, sebelah sini juga." Bian kembali berulah namun Sezi berusaha untuk tidak terprovokasi dan terus melakukan apa yang seharusnya ia kerjakan.


"Sudah pak. Mari, saya bantu." Sezi merekatkan kaki Bian dengan alat bantu jalan yang terpasang disisi kakinya. Ia lalu menyiapkan tenaganya untuk membantu sang pasien berdiri.


"Gak usah peluk-peluk!!!." Sezi kembali geram karena pasiennya benar-benar mucil.


"Susah sus, tangannya juga patah yang sebelah gara-gara ngejar cewek." Ucapnya setengah mengiba dengan mimik menyebalkan.


.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


__ADS_2