
...☆▪☆▪☆...
...▪...
...▪...
Hampir dua minggu Bian menjalani rutinitasnya seperti sedia kala. Tidak ada yang berbeda selain perlakuan Rina kepadanya yang menjadi lebih perhatian dari sebelumnya.
Sebenarnya ia sudah memberitahu wanita itu untuk tidak berlaku berlebihan kepadanya hanya saja ucapannya seperti dianggap angin lalu oleh Rina.
Pagi ini Bian terlihat lebih segar setelah merapikan potongan rambutnya kemarin sore sepulangnya bekerja. Semerbak wangi parfum menyapa penciuman dua orang wanita yang tengah berdiri didekat meja makan.
"Uuuhhh wanginyaaa...!." Bitha tampak mencibir adik sematawayangnya yang bersiap untuk menyantap roti bakar dengan selai tiramisu.
"Mau kemana?." Sezi justru melihatnya dengan tatapan aneh.
"Cari duit!." Ucapnya sembari menggigit roti miliknya.
"Iya, tapi kenapa mesti pake parfum aku gitu?."
"Punyaku abis."
"Issh, gak modal." Sezi mencibir sang suami yang tampak tak acuh dengan ucapannya.
"Modalnya abis buat nikahin orang."
"Eh, Bi!. WO yang kamu bilang itu udah konfirmasi ke kakak tadi malam. Katanya bisa tapi budgetnya nambah dikit karena gedung yang kamu mau ternyata udah ada yang ngajuin ditanggal itu cuman belum deal sama pihak pengelolanya.
"Ya udah gak papa. Iyain aja biar cepet."
"Emang gitu ya kalo sewa gedung?." Tanya Sezi sembari meletakan gelas berisi jus mangga kehadapan Bian.
"Iya, lebih mirip pelelangan."
_______
_______
Saat tiba dimini office ia dikejutkan dengan tingkah aneh Rudy yang langsung menariknya ke bawah tangga.
"Kamu seriusan sama omongan yang waktu itu?."
"Omongan apa?." Bian tak mengerti dengan pertanyaan yang dilontarkan oleh Rudy.
"Ya ampun Bai, yang kamu bilang udah nikah!?."
"Oh itu, iya bener. Udah berbulan-bulan lalu malah. Kenapa?."
"Si Rina patah hati!."
"Lah!. Terus aku kudu gimana?. Kan sedari awal juga kita gak ada hubungan apa-apa." Ucap Bian yang memang benar adanya.
"Lah iya ya." Rudy menggaruk tengkuknya, "Tapi kasian banget Bi, dia curhat sama si geblek."
"Dia tahu dari mana?."
__ADS_1
"Dia lihat kamu jalan sama perempuan pake kerudung."
"Ya udah lah, kita doa in aja semoga mereka berjodoh." Ucap Bian sembari melangkah pergi meninggalkan Rudy dengan pikirannya sendiri.
"Yaa elah si woles malah ngeloyor aja main tinggal." Rudy segera menyusul langkah Bian yang berjalan pelan saat menaiki anak tangga.
"Kamu nikah sama siapa sih Bai?." Tanya Rudy yang masih penasaran dengan wanita yang menjadi istri teman sekantornya itu.
Bian mengela nafas berat. Pria itu menoleh kepada Rudy yang sejak tadi terus mengekorinya.
"Intinya sama perempuan."
"Ya iyalah, Kecuali kamu belok nah!. Baru aku gak bakal nanya."
_____
Sezi membuka ponselnya untuk memeriksa pesan masuk yang sejak pagi tadi ia abaikan salah satunya ada Cia.
Wanita muda itu berpesan jika ia ingin bercerita banyak hal padanya. Sezi kemudian menutup kembali ponselnya untuk melanjutkan pekerjaannya yang tertunda setelah memberi balasan pada pesan Cia.
Pasien Sezi kali ini bukanlah seorang pria melainkan seorang wanita berumur yang mengalami cedera pada tulang punggungnya karena terjatuh dikamar mandi.
"Relax ya ma, kita bantu miring sedikit biar gak terlalu tegang." Ucapnya dengan begitu sabar.
"Susnya udah nikah?." Tanya si ibu kepadanya yang tengah memijat.
"Alhamdulillah, sudah."
"Wah, sayang sekali. Padahal kalo belum mau saya jodohin sama anak lelaki saya." Ucap si ibu sembari tersenyum.
Percakapan ringan terus berlanjut hingga membuat Sezi gemas karena sang ibu dengan senang hati mempromosikan kelebihan yang dimiliki oleh putra bungsunya.
_________
"Mau kemana?." Tanya Sezi saat pria itu memberikan jacket parasut kepadanya.
"Jajan dulu sebelum magrib."
"Terus jacket ini buat apa?. Bukannya kamu bawa mobil tadi?." Ia mengangkat jacket pemberian sang suami dengan dahi berkerut.
Bian tak menjawab secara verbal namun matanya justru mengarah pada bagian yang paling menonjol pada tubuh wanita itu.
"Mata kamu Bi!."
"Loh, apa?." Bian tersenyum nakal.
Sezi langsung memasangkan jacket parasut tadi untuk menutupi miliknya yang begitu berharga.
"Mataku emang kenapa?."
"Kotor!." Makinya yang membuat Bian terbahak-bahak karena wajahnya terlihat begitu kesal bercampur malu.
"Punya kamu aja kok yang aku lihat bukan yang lain. Itupun baru lihat doang belum nyobain." Kelakarnya yang membuat Sezi memukuli lengannya berkali sembari terus mengumpati si mantan pasien itu.
_________
__ADS_1
______________
_________
Tersebarnya undangan digital milik Bian menjadikan hati seorang gadis bernama Rina semakin terpuruk. Entah apa yang diharapkannya dari pria itu hingga membuatnya berkali-kali hilang kesadaran dan berakhir dilarikan ke rumah sakit.
Kabar itu sampai pada telinga Bian dan membuatnya mengerutkan kening. Pasalnya ia sendiri tak paham dengan keadaan yang sebenarnya terjadi justru kini Mahesa ikut membuatnya pusing karena pria itu seperti menghasut Rina untuk semakin terjerumus dengan perasaan sepihaknya.
Sedangkan Rudy jelas ia lebih mendukung Bian karena pada kenyataannya Bian memang tak berbuat apapun dan sudah memberitahu gadis itu untuk tak mendekatinya.
"Gak nyangka gue Bai, elu yang pendiem tega banget makan teman sendiri. Udah gitu si Rina?. Elu tahu gak sekarang kondisinya kaya gimana?." Mahesa memuntahkan kekesalannya dihadapan penghuni kantor yang saat itu baru akan pulang.
"Depresi dia Bai!. Cuma gara-gara lihat elu jalan sama cewek, apalagi kalo sampek dia baca undangan yang isi keterangannya ternyata elu udah nikah?!" Mahesa begitu emosional sampai menunjuk wajah Bian. "Dan yang lebih parahnya lagi, ternyata elu nikahin cewek incaran gue!." Mahesa melemparkan tasnya dan hampir melepaskan tinjunya yang dengan sigap ditahan oleh Rudy.
"Udah Sa, Udah!, Udah!."🔥
"Sini loe baji**an!. Lawan gue!!."🔥Mahesa sampai hilang kendali dan membuat mereka yang menyaksikan keduanya spontan berteriak.
"MAHESA SUDAH!!!!."🔥 Rudy menyuruh Bian untuk segera meninggalkan kantor sembari menahan tubuh Mahesa yang ingin terus menyerang sang lawan.
"Minggir loe bangs*t!." Sekuat tenaga Mahesa melepaskan diri dari dekapan Rudy hingga membuat pria itu hampri tersungkur saat akan mengejar mobil Bian yang melesat meninggalkan parkiran kantor.
"DASAR PENGECUUTT!!!. Teriaknya sembari menendang udara.
_________
Alex yang berada dirumah spontan bertepuk tangan saat mendapati adik iparnya itu pulang dengan tergesah-gesah.
"Luar biasa kamu Bi, pencetak record." Ucapnya sembari tertawa.
"Kenapa?." Bitha bertanya pada sang suami yang saat itu masih asik terkekeh.
"Bian jadi aktor."
"Aktor?."
Alex lalu menyerahkan rekaman video amatir yang didapat dari asisten pribadinya, Bagas. Pria itu juga baru mendapatkannya dari sang sekretaris tepat saat Bian meninggalkan TKP.
Bitha begitu takut saat melihat bagaimana pria bernama Mahesa itu hampir meninju adik lelakinya.
"Apa masalahnya ini?." Tanyanya pada Alex dan membuat pria itu mengangkat kedua bahunya bersamaan.
"Kamu tanya dia coba?." Ucapnya pada Bitha.
"Entar ajalah sekalian makan malam."
*
*
.
.
.
__ADS_1
tbc.
🐛 hai pembaca cerita nut nut, kita hampir sampai diakhir cerita ya, so jangan bosen ya guys buat dukung nut nut pake jempol kalian ditiap babnya. Jempol kalian itu penyemangat bagi nut nut loh🐛. 🤗