My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

☆▪☆▪☆▪☆


Bian menghembuskan nafasnya perlahan. Ia tengah memikirkan permintaan Sezi agar dirinya mau menceraikan wanita itu saat keadaannya telah kembali normal.


Jika demikian lalu bagaimana dengan dirinya?. Apakah Sezi menganggap jika keseriusannya merupakan bualan semata?.


Bian sangat paham dengan keadaanya saat ini dan Sezi menerima pinangannya hanya karena ingin membantunya terlepas dari rasa bersalah sebab telah menjadi alasan dibalik laka maut yang dialami olehnya.


Senyum tipis menjadi cerminan perihnya hati yang kini tengah dirasakan oleh Abian. Ia tak pernah menyangka jika kesungguhannya justru menjadi ujian yang harus ia perjuangkan.



_



Sezi kini tengah berada disebuah acara amal yang diadakan tak jauh dari alun-alun kota tempatnya tinggal.


Ia bersama Cia menghabiskan waktu libur mereka dengan berkeliling dari satu booth ke booth yang lainnya setelah menghadiri acara amal tersebut. Namun tak pernah ia duga sekalipun jika saat itu Meily justru menghadangnya dengan senyum bahagia yang terpancar dari wajah polosnya.


"Meily?."


Remaja itu langsung memeluk Sezi dan berkata jika ia sangat merindukannya setelah beberapa waktu tak bertemu lantaran ia yang harus mengikuti ayahnya keluar kota.


Hanya berjarak lima meter dari keduanya, Seorang pria tengah menatap interaksi mereka dengan wajah terpukau, dialah Mahesa.


Yap, pria itulah yang bersama Meily saat ini dan bukan si duda tampan nan kaya. Tak ingin membuang waktu ia pun dengan sigap mengabadikan momen keduanya melalui kamera ponsel lalu mengirimkannya kedalam grup gosip.


...📨"Rezeki nomplok Woy😭." Tulisnya menyertai foto yang ia unggah.


Bian yang saat itu sedang berselancar di dunia maya pun tak ayal juga ikut melihatnya dan seketika membuatnya gemas.


...📨"Wah si kampr*t rezeki banget gak tuh!." Rudy menanggapi unggahan Mahesa digrup.


...📨"Bismillah, kakak terapis let me be your imam please." Lanjut Rudy yang langsung mendapat tinju online dari Bian.


📨👊👊👊👊👊👊


...📨"Udah, yang lagi sakit tenang gak boleh marah-marah." Mahesa tengah mengolok atasannya sendiri dengan pesan yang sangat mengundang emosi..... "Kalian pada datang ya entar dinikahan kami berdua." Tulisnya disertai ejekan.


📨"Jangan bilang kamu mau basa-basi sama dia?." Bian dengan segera membalas pesan Mahesa dengan hati kesal.


...📨"Tumben dia ngerespon Rud."


...📨"Biasalah, jablay." Balas Rudy dengan entengnya.


📨"Jangan pegang dia!." Pesan Bian adalah sebuah peringatan yang tak pernah di indahkan oleh kedua bawahan tengilnya.


📨"Dih, si bapak. Ya kali gak pegang kalo udah didepan mata gini, Rugi!." Ucap Mahesa


📨"Yah, minimal cipika-cipiki lah ya biar gak penasaran." Rudy menimpali dengan tawa yang tak bisa mereka dengar.


📨"Bini gue tu bocah! Woy!. Awas lu ya padaan!."


📨"Yeeee, ngarep juga sekalinya dia hahaha_

__ADS_1


📨"Sumpah Rud, emang indah banget ini tuh. Sayang kalo disia-siain."


Bian yang kesal memilih untuk meninggalkan obrolan. Hatinya semakin sakit kala perempuan yang disukainya menjadi bahan hayalan para lelaki diluaran sana.


Ia tak memungkiri jika dirinya sendiri juga pernah memiliki pikiran seperti mereka. Hanya saja ia masih bisa menahannya untuk tidak tergoda dengan semua yang ada. Oleh karenanya ia sangat membenci Sezi saat perempuan itu dengan ramah menempel padanya dan selalu berharap agar sicentil itu mau menutup tubuhnya dengan pakaian ala muslimah seperti yang dilakukan oleh kakak dan ibu mereka.


"Sungguh berat ujian Mu ya Allah."


_


_


_


_


Sezi melirik sekilas pada ponsel miliknya yang tergeletak diatas nakas. Apa yang ia cari?. Ataukah dia sedang menunggu seseorang menghubunginya?.


Tak lama pesan Bian muncul pada layar. Sezi membukanya dan mendapati fotonya bersama Meily. Ia cukup terkejut lantaran posisi mereka tengah berada di kota berbeda terlebih pria itu juga sedang lumpuh.


"Kamu ngirim mata-mata?." Tanya Sezi pada panggilan yang tersambung.


📲"Bisa jadi." Bian terkekeh mendengar bagaimana perempuan itu melontarkan pertanyaan dengan nada terkejut.


"Kamu gila Bian, ngapain kamu pake gituan?. Ha?."


📲"Buat mastiin calon istri aku aman dari gangguan Jin dan antek-anteknya."


"Bi, please jangan bikin tambah kesel bisa lah."


📲"Bisa aja sih, tapi_


"Stop!. Gak guna ngomong sama kamu."


............tuuttt............


Sezi memutusnya sepihak lalu menenggelamkan wajahnya pada bantal untuk melampiaskan kekesalannya yang sedari tadi mengganjal di kerongkongan.


Tiga minggu berlalu sejak operasinya yang terakhir. Bian terlelap ditengah buaian mimpi yang muncul disore hari. Pria itu terbangun lantaran dua orang nurse membangunkannya karena akan memberinya obat yang akan disuntikan melalui saluran infus.


"Permisi ya kak, sore ini kita mau masukin obat dulu ya."


"Oh, iya sus."


"Nanti malam ada kunjungan dokter Toni untuk pemeriksaan bedah plastik ya kak."


"ha?. Bedah plastik, sus?."


Nurse tadi terlihat bingung karena Bian justru menanyakan kedatangan dokter tersebut untuk memeriksanya.


"Dari info yang kami dapat, ini dokter Bitha yang minta untuk dibuatkan jadwal kunjungan kak."


"Tapi muka saya kan udah ganteng?."


Perawat tadi hampir saja meludahinya saat mendengar bagaimana pasien lumpuh itu memuji ketampanannya sendiri yang sebenarnya memang benar demikian. Hanya saja banyak bekas luka yang ikut tampil menghiasi wajahnya.

__ADS_1


"Bukan kak, dokter Toni mau lihat kondisi luka yang ada ditangan dan dikaki untuk meminimalisir timbulnya keloid dan biar kelihatan lebih rapi dari sebelumnya."


"....Ooo...."


Bian seperti Bihun yang baru saja disiram air panas, seketika lemas setelah sebelumnya sempat tegang karena mengira jika wajahnya yang akan diganti.


Pukul delapan malam dan Bitha baru saja mendorong pintu ruangan Bian. Ia melihat bagaimana pria itu begitu serius dengan macbooknya sembari mengetik dengan satu tangan.


"Kamu kerja?."


"Menurut kakak?."


"Stalking."


"Kek gak ada kerjaan aja." gerutunya dengan fokus penglihatan yang berlapis kaca mata.


"Kamu makan sendiri tadi?." Bitha bertanya dengan penuh penasaran. Pasalnya sejak keluar dari ICU adik lelakinya itu seolah menutupi rasa sakit yang kini mungkin tengah menjalari tubuhnya.


"Iyalah. Lapar, kelamaan nugguin kakak datang." Omelnya persis ibu-ibu rumpi.


"Ya maap, kamu sih pilih-pilih. Padahal ayahnya Zhian mau aja kalo disuruh nyuapin."


"Apa?."


Bitha berbicara seolah Bian adalah anak SD.


"Ya kan gak papa bantu suapin doank."


"Kak yang bener aja lah, Please!. GUE LAKI DAN DIA LAKI terus suap-suapan gitu?."


"Kenapa?. Kan abang mau aja malah kemarin menawarkan diri gitu."


"Kakak pernah belajar tentang majas gak?."


"Lupa, dahlah. Dah abis juga makanannya."


Bitha memilih untuk merapikan meja juga peralatan makan yang tadi Bian gunakan karena jika dia tetap menyambung pembicaraan dengan pria itu hanya akan menambah tingkat stresnya yang semakin tinggi.


"Kak_


"Emh?."


"Berapa lama waktu yang diperlukan sampai kaki retak ini bisa bener-bener sembuh?, Yah minimal udah bisa dipake napak lah." Tanyanya pada Bitha dengan aura wajah yang terlihat sendu.


Bitha kemudian menatapnya dengan rasa yang ia sendiri tak bisa menggambarkannya.


"Kenapa memangnya?."


_


_


_


_

__ADS_1


_


tbc


__ADS_2