My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...💕...


...▪...


...▪...


...▪...


Kabar kematian Mahesa sudah pasti menjadi pukulan tersendiri bagi Bian dan Rudy yang selama ini selalu menjadi partner dalam suka maupun duka pun dengan teman sesama karyawan yang juga bekerja ditempat itu.


Suasana hening menyelimuti kantor Alex sejak pagi hingga menjelang sore. Para karyawan seperti bekerja dalam senyap meski sebenarnya mereka tidak berniat melakukannya. Hanya saja setiap mereka melihat bagaimana tiga serangkai itu berada dikantor benar-benar menjadi penyumbang kegaduhan yang paling menghibur namun kini salah satu dari mereka telah tiada untuk selama-lamanya.


Terlebih setelah perkelahian yang terjadi diantara Bian dan Mahesa kala itu hingga sempat menjadikan keduanya trending topik diantara para karyawan sebelum akhirnya berita duka itu datang.


Berawal dari masalah itu hingga terbongkarlah status Bian yang merupakan adik ipar dari pemilik perusahaan tempat mereka bekerja namun hal itu tak lantas menjadikannya sosok yang gemar menyombongkan diri.


____


Lalu bagaimana dengan Rina, bagaimana kabar wanita muda itu kini?.


Setelah kunjungan Bian malam itu dua hari setelahnya orang tua Rina memilih untuk memindahkan anak mereka ketempat perawatan khusus orang-orang dengan gangguan psikis sepertinya.


Tidak ada sesuatu yang buruk tentangnya. Bian pun berharap kesembuhan untuk Rina dan berdoa agar wanita itu bisa mendapatkan pendamping hidup yang sesuai dengan dirinya nanti.


____


💕


____


Dua bulan berlalu sejak berita sedih mengenai kematian Mahesa terdengar dan semua telah kembali seperti biasa. Seorang pria kini sudah mengisi posisi almarhum dikantor itu. Tidak ada lagi canda tawa selain sekedar saling sapa hanya untuk menghilangkan kecanggungan yang ada diantara mereka.


Jam kantor pun menjadi lebih pendek karena banyak dari mereka memilih untuk menyelesaikan dengan segera pekerjaan yang ada kemudian pulang kerumah masing-masing atau sekedar nongkrong diluar.


Begitupun dengannya, Bian tengah duduk disebuah rumah makan bersama Sezi. Pria itu sengaja pulang lebih awal semenjak sang istri memutuskan untuk resign dari pekerjaan yang ditekuninya selama ini.


Bukan karena Bian memaksanya tetapi memang karena dirinya merasa jika berada dirumah menunggu sang suami pulang kerja akan lebih baik untuk dilakukan dan tak memiliki banyak resiko lantaran dirinya yang terkadang sering kali menjadi pusat perhatian dari mata para lelaki tak bertanggung jawab diluaran sana.


"Tadi kak Bitha telepon, katanya kita disuruh nyusulin dia kerumah sakit." Ucap Sezi yang membuat Bian mendongak seketika.


"Kenapa?."


"Gak tahu. Kak Bitha gak ada bilang apa-apa."


Bian lalu melihat jam yang menempel dipergelangan tangan kirinya dan mencocokan dengan jadwal praktek sang kakak hari ini seiring dengan ponsel Sezi yang kembali berdering dan menampilkan nama sang kakak ipar disana.


"Halo!."


...


"iya kak. Kami kesana sekarang."


Sezi menatap Bian dan langsung mengajaknya untuk pergi.


Selama diperjalanan Sezi selalu menanyakan perihal sang ipar yang menyuruhnya untuk menyusulnya kerumah sakit kepada Bian.


"Ada apa sih Bi?."


"Gak tahu juga, kan kamu yang dihubungi sama dia."


Sezi memanyunkan bibirnya. Ia begitu penasaran hingga membuatnya terus bermonolog.


Sesampainya dirumah sakit, keduanya lantas menuju poli dimana Bitha biasa melakukan praktek.


Seorang bidan dengan tubuh subur menyambut kedatangan mereka. "Silahkan duduk, dokter Bitha masih ke kamar kecil sebentar."


Tak lama yang dinanti pun akhirnya tiba. Bitha kemudian menyuruh adik iparnya itu berbaring diatas brangkar untuk melakukan pengecekan pada kesuburan rahimnya.


"Mau ngapain sih kak?." Tanya Sezi penasaran, pasalnya ia merasa tidak sedang dalam masa kehamilan untuk melakukan USG.


"Periksa dulu, cek kesuburan sama kondisi rahim."


"Sekalian cek tensinya kak." Bian menyambut obrolan sang kakak dengan istrinya.


"Lah harusnya udah tadi sebelum masuk sini." Terang Bitha namun matanya tetap fokus pada monitor yang menampilkan gambar hitam putih.


"Kamu aja sana yang periksa kenapa bisa ngantuk seharian." Balas Sezi dengan wajah kesalnya.


"Berdua bisa diem gak?!." Suara Bitha menginterupsi keduanya.


Dokter wanita itu sebenarnya ingin sekali tertawa karena kelakuan dua adiknya yang selalu ribut dimanapun tanpa peduli dengan sekitar.


"Lah?." Bitha melebarkan matanya. Ia menangkap gambaran halus sebuah lingkaran dengan titik kecil ditengahnya.


"Apa kak?." Tanya Sezi ketika melihat iparnya itu tersenyum hingga memperlihatkan giginya.

__ADS_1


"Udah ada orangnya ini." Ujarnya tanpa niat untuk menyembunyikan kabar bahagia itu sama sakali.


Bian yang duduk dikursi pun segera berdiri untuk mendekati monitor yang menampilkan gambar hitam putih itu.


Bitha kemudian menunjukan gambar yang dimaksud dengan jemarinya agar mereka paham.


"Ini!. MaasyaAllah, sudah disitu sekalinya." Bitha tampak bahagia namun tidak dengan Sezi yang justru menangis karena rasa terkejutnya.


"Kakak kok cepet banget dia nongolnya." Ucapnya sembari mengusap lelehan air mata yang terus mengalir membasahi pipi.


"Berarti dia pengen cepet-cepet ketemu kalian, kalian gak boleh lama-lama pacarannya."


"Top cer resep yang abang bilang."


"Emang abang ada bilang apa?." Bitha menoleh kepada Bian yang kini tengah cengengesan.


"Ada deh, rahasia!."


"Hiss, dasar kalian. Kaum ngeselin."


_


_


_


Sepanjang perjalanan pulang Sezi tampak diam. Ia masih syok dengan apa yang tadi dilihatnya namun juga merasa bahagia disaat bersamaan karena artinya tuhan sangat menyayanginya dengan menganugerahkan kesuburan pada rahimnya.


"Kenapa sih diem aja dari tadi?." Tanya Bian disela-sela kesibukannya mengemudi.


"Abang, aku takut."


"Takut apa?."


"Takut jadi ibu, takut gak bisa didik dia, kamu tahu sendiri aku dulu kaya gimana." Ucapnya sembari terisak.


Bian membantunya menenangkan diri dengan mengusap kepala Sezi menggunakan tangan kirinya.


"Bisa, pasti Bisa."


"Kan setiap orang punya masalalu dan dari masalalu itu mereka belajar untuk memaknai hidup, belajar untuk bisa menjadi pribadi yang lebih baik." lanjutnya.


"Makanya ada tuh yang namanya doa dari orang tua untuk anak-anaknya. Biar si anak dapet kehidupan yang lebih baik dari mereka terus masuk surga, gitu kan?."


Sezi menoleh sejenak menatap Bian, kemudian kembali menangis. "Abang, nanti kalo dia centil kaya aku gimanaaa!. Aku gak mau, abaaaang." Kalimatnya membuat Bian tergelak seketika.


"Enggak!!. Jangan kaya kamu!."


"Lah?. Emang kenapa?." Tanyanya dengan wajah polos. "Aku kan gak centil."


"Abang sayang, kamu itu memang gak centil, tapi lebih mirip kanebo kering. Coba bayangin gimana gak asiknya nimang bayi yang sukanya merengut gak mau ketawa kaya kamu?. Pasti bete!. Kan?." Ucapan Sezi membuat wajah Bian seketika terlihat kesal. Bagaimana bisa pria tampan sepertinya disebut mirip kanebo kering?. Ada-ada saja. 😌


"Ya udah, kalo gitu biar dia mirip pak Manah aja atau bu Yuni." Bian dengan kesal mengucapkan kalimat yang terdengar begitu ngawur.


"Emang bisa gitu?. Kan yang buat kita berdua, kok malah mirip tetangga?."


"Ya abisnya kamu mikirnya suka bikin ribet sih. Udah tahu kita kaya gini."


Sezi seketika terbahak-bahak melihat bagaimana kesalnya Bian setelah ia menyamakannya dengan kanebo kering tadi.


"Tuh kan kamu marah, baru dibilang mirip doang padahal sama kanebo kering." Masih dengan tawanya Sezi berkata namun kali ini Bian pun ikut tekekeh geli setelah melihat bagaimana wanita disebelahnya bisa dengan cepat melupakan kisah sedihnya yang baru beberapa menit berlalu.


Wanita itu tak hanya bisa menjadi mood booster untuknya namun terkadang juga bisa membuatnya istighfar hingga berkali-kali.


_


_


_


Sejak mengetahui kehamilan Sezi, Bian menjadi lebih protektif dalam hal duniawi. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama si bumil tercinta dengan membawanya berkeliling komplek setiap jam enam pagi.


Bukan sekedar jalan biasa melainkan untuk memperkenalkannya dengan lingkungan sekitar dimana orang-orang yang mendiami kampung itu lebih terasa religius terutama yang bermukim disekitaran masjid.


Bian juga membawanya untuk duduk bersama saat anak-anak belajar sore di TPA yang berada di masjid tersebut dan itu benar-benar bisa memupuk jiwa positif Sezi. Membuatnya lebih banyak membaca kitab suci disaat senggangnya dan yang pasti hampir tak pernah marah meskipun kecewa karena suatu hal dan Bian sangat-sangat bersyukur dengan hal itu.


Kesungguhannya untuk membantu sang istri berubah pun berbuah manis. Ia yakin jika tak hanya dirinya yang berdoa untuk sang istri dan si calon baby, namun juga doa dari kedua orang tua mereka yang senantiasa selalu tercurah untuk anak-anaknya dan paling ampuh karena besarnya harapan yang menyertai doa tersebut.


...🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻🌻...


Last,


Sembilan bulan lebih sebelas hari Sezi dengan terpaksa melakukan SC dan langsung ditangani oleh sang kakak ipar lantaran air ketubannya telah menyusut sedangkan anak dalam kandungannya tak juga menunjukan tanda-tanda kelahiran.


Ia yang awalnya memilih untuk pervaginam justru tak kuasa karena bukan hanya kontraksi yang terjadi namun juga tubuhnya yang tak mampu menerima efek dari rangsangan yang digunakan dan itu membuat Bian hampir menangis saat melihat bagaimana sang istri berjuang dengan tubuhnya sendiri agar anak mereka tetap lahir dengan selamat.

__ADS_1


Semalaman Sezi berjuang menahan sakitnya rangsangan untuk sang bayi agar bisa lahir namun berujung dengan SC saat ia sudah tak bisa bergerak dengan nafas yang hanya sampai dikerongkongan.


Pukul empat lebih empat puluh lima pagi ketika adzan subuh berkumandang, bayi berjenis kelamin perempuan itu lahir ke dunia. Bitha sempat merasakan panas pada matanya namun ia berusaha sekuat mungkin menahannya agar tidak jatuh saat mengangkat bayi mungil itu dari perut sang ibu.


🐛


💕


Sinar mentari pagi terasa begitu hangat terlebih setelah melihat bagaimana nayamannya si mungil yang tengah terlelap dalam dekapan Bian.


Mata pria itu sama sembabnya dengan Bitha, karena mereka berdualah yang menyaksikan bagaimana ibunya berjuang demi si mungil untuk segera terlahir kedunia dengan tetap sehat dan selamat. Tidak ada kedua orang tua mereka disana, baik ibu Bian maupun Sezi. Hanya Bitha dan Bian karena Sezi melarang keduanya untuk mengabari mereka dan menunggu sampai ia benar-benar selesai melahirkan barulah informasi itu sampai pada orang tua mereka dan juga Sarah.


Sezi tak ingin membuat banyak orang khawatir dengan keadaannya, untuk itu ia memilih untuk menunda kabar baik itu hingga bayi mereka lahir dengan selamat.


"Siapa namanya?." Tanya Bitha pada Bian yang saat itu mendekap si mungil dengan tangan besarnya.


"Mentari." Ucapnya sembari mengecup pelipis bayi mereka. "Biar dia selalu ceria seperti maminya."💕 Pipi mungil kemerahannya terlihat begitu menggemaskan dan membuat Bian tak tahan untuk tidak menyentuhnya.


"Cantik. Sini gantian kakak." Bitha memintanya bergantian untuk menggendong si mungil.


"Abisnya dia gak mau kalo dimiripin aku." Bian tampak lesu dengan ucapannya.


"Kenapa?." Tanya Bitha.


"Kata dia aku kaya kanebo kering."


Ucapan Bian membuat Bitha hampir menyemburkan tawanya jika tidak ingat akan si mungil yang berada dalam gendongannya. Begitupun dengan Sezi yang memilih berkali-kali menarik nafas agar jahitan pada perutnya tidak terkoyak akibat tawa berlebihan.


Hampir jam makan siang dan Bitha meninggalkan ruangan mereka tepat pukul sebelas.


Bian duduk disamping Sezi yang tengah belajar untuk menyusui si mungil. Pria itu begitu gemas ingin membantu memasukan put*ng sang istri kedalam mulut kecil Mentari yang masih berusaha merasakan dengan lidahnya.


"Sabar abang, biar dia belajar nyari sendiri."


"Kasian, aku gak tega." Bian begitu memelas dengan wajah gemasnya.


Sezi begitu geli dengan suaminya yang kini justru terlihat seperti manusia antah barantah karena semalaman menemaninya.


"Kamu udah mandi?." Tanya Sezi penasaran.


"Udah donk!. Kaya kilat."


"Kapan?."


"Abis sholat subuh langsung gerak cepat."


"Oh."


Bian mengecup kepala Sezi yang tertutup khimar. Pria itu berterimakasih untuk semua perjuangan yang telah ia lakukan untuk si kecil.


"Terimakasih, buat semuanya."


"I love you bawang ku."


Deepkiss pun tak terelakan meski kini ada orang ketiga diantara mereka.


Happy end.💕


_


_


_


_


_


_


...Here is the N! 💕...


Hai sobat nutnut🐛 tercinta koeh!.


Kisah si judes dan si centil udah end ya gaes,


Otor mohon maaf kalo endingnya gak sesuai bayangan kalian atau kurang memuaskan, kurang bla bla bla lah pokoknya.


Kenapa? karena kalo disambungin otor belum siap buat beli kambingnya. Itu anaknya pasti minta di aqiqahin entar. 😞 maap banget.


.............


Jangan lupa untuk kasih masukan buat tulisan otor ya, mau tanya-tanya apa aja juga boleh. terserah!.


maksa?.

__ADS_1


ooh enggak juga, cuman lebih ke ngeyel sih 😋🎶 komentar itu berguna banget buat setiap penulis termasuk otor ini.


Ok, pesannya udah cukup. Sekarang waktunya pamit. Sehat-sehat ya kalian...bye...💕💕💕🐛🐛🐛


__ADS_2