
♡♡♡♡♡♡
...Saya Terima Nikahnya Seziana Parasadi binti .........
...🤝...
...______SAH______...
Tidak ada acara yang dispesialkan lebih dari momen ijab dan qobul, dimana semua yang melihat dan mendengar ikut mendoakan kebahagiaan bagi kedua mempelai.
Sezi sudah berada dibelakang kursi Bian, dimana saat pria itu baru saja selesai mengucapkan akad atas namanya ia tengah munuruni anak tangga bersama dua kakaknya, Sarah dan Bitha.
Dan benar saja apa yang dikatakan Bitha. Bian benar-benar tak mengedipkan matanya saat Sezi berpindah tempat kesebelahnya untuk membubuhkan tanda tangan seperti apa yang baru saja ia lakukan.
"Kedip Bi, kedip." Lagi-lagi suara Ibram menginterupsi keadaan dan membuat yang lain ikut terkekeh menggoda dirinya.
Bian yang kesal pun langsung menoleh namun ia justru mendapati dua iparnya tengah cengengesan saat melihat bagaimana wajah speechless dirinya yang tak bisa berkutik saat menjadi main caracter.
"Bagaimana mas Bian, apa masih gugup?." Goda pak penghulu diantara tangannya yang sibuk merapikan berkas-berkas pernikahan mereka.
"Oh!. Masih lah pak, yang ini malah tambah parah kayanya jadi deg deg seerr." Mulut Ibram benar-benar senang menimbulkan kegaduhan dan membuat Alex yang berada disampingnya terpingkal-pingkal karena tak kuasa melihat rona aneh yang tercetak diwajah adik iparnya itu.
Tawa bahagia menyelimuti kediaman Alex dan Bitha. Meski hanya menghadirkan keluarga dari kedua belah pihak cukuplah bagi mereka untuk merasakan momen bersejarah sepasang duo labil yang kini telah sah menjadi suami dan istri.
____
____
____
Keadaan rumah telah sepi dari ramainya acara. Tinggalah si pemilik dan juga orang tua dari kedua mempelai yang masih menetap didalamnya.
Sezi tengah berada dikamar atas bersama dua kakaknya untuk melepaskan riasan yang tadi ia kenakan.
"Kak Bitha,"
"Ya?." jawabnya sembari membantu Sarah memcabuti jarum yang menempel dikerudung Sezi.
"Aku tidur disini ya?." Tawarnya pada si pemilik rumah.
"Loh?. Ya iyalah kamu tidur sini masa mau ikut pulang?!." Sarah lebih dulu menjawab pertanyaan aneh adiknya sendiri.
"Ck!. Bukan itu maksudnya."
"Tidur dikamar ini maksud kamu?." Bitha akhirnya paham maksud ucapan Sezi.
"Eeit Ndak!. Ndak boleh. Jangan Bith, jangan bolehin dia tidur disini. Kalo perlu kunci aja ni kamar takutnya dia nyelinap kesini pas kalian tidur."
"Iiissshh!. Kakak apaan sih!."
__ADS_1
"Nah kan, coba deh!. Ini kelakuan asli adek laki-laki mu Bith, ketukar kayaknya jiwa mereka!?." Sarah justru mengingatkan Bitha dengan masalalu keduanya hingga membuat mereka terbahak-bahak karena wajah lucu Sezi.
"Gak boleh, namanya pengantin baru itu harus bobo bareng. Mana ada malem pertama tidurnya sendiri."
"Tapi aku gak_
"Gak apa?. Gak mau?." Sarah begitu gemas ingin meremas bibir manyun Sezi yang tampak gelisah mencari alasan.
"Ish!. Aku takut kak!."
"Takut apa?. Kan sama suami sendiri, eh udah jadi suami maksudnya." Bitha segera meralat kalimatnya.
"Ih kaya kalian gak gitu aja dulu!." Ia semakin berdecak kesal setelah mendengar dua perempuan di sampingnya cekikikan karena dirinya.
"Tenang, Bian gak bakal ngapa2in kamu kok. Kan kakinya belum bisa buat jalan, ah jangan kan jalan berdiri aja dia belum bisa." Kakak perempuan Bian memberinya kalimat penenang agar Sezi tak lagi khawatir namun tidak begitu dengan Sarah yang justru menakut-nakuti dirinya,
"Kalo dia gak khilaf ya, kalo khilaf sih biasanya yang gak bisa tiba-tiba jadi bisa."
"Nah kan!. Aku tuh gak mau diperawanin kak!. GAK MAU TITIK!." Rengeknya setengah membentak membuat dua wanita tadi terbahak-bahak karena mendengar kejujuran Sezi.
"Ya kamu bilanglah sama Bian, dia tahan gak kalo lihat modelan kamu gini seliweran cuman pake daleman doank?."
"Ih kok ngomongnya gituan sih."
"Loh kan kalian tinggalnya satu rumah, bobo satu kamar, apalagi?. Mandi?."
"Eh tau gak, biar kata kamu diperkos* sama dia itu tetap sah loh, halal. Jadi buat apa kamu berkeras buat nolak coba?."
"Kakak ini apa sih aaa!."
"Udah Sar, kasian bocil gak lama nangis dia. Mana suaminya dibawah lagi."
"Keinget gak jaman jahiliyah dimana ada bocil suka banget ngintilin kita kesana -kemari sampe masuk parit."
Sarah dan Bitha kembali terbahak-bahak mengingat masa kecil mereka dimana Sezi yang masih kecil selalu menjadi anak bawang yang akan setia mengikuti kemanapun mereka pergi bermain.
"Eh jangan salah, dulu boleh bocil tapi sekarang?." Bitha menatap genit kearah tubuh Sezi yang hanya mengenakan kemben atau kain penutup dada berupa tapih yang terlihat begitu seksi dan menggoda.
"Kaan... kaan... kaan... kalian mulai lagi."
"Jumbo Bith!."
"Kakak!!!. Issh!. Nanti aku pake mukena aja sekalian biar ketutup semua."
"Janganlah, kasian Bian."
"Gak usah ngomongin dia!. Titik!."
"Ye dulu aja suka benget gelendotan sama dia, giliran udah jadi istrinya masa iya dia mau kamu suruh puasa?."
__ADS_1
"Tau ah, ngomong sama kalian bikin kesel!."
Sezi memilih keluar dari kamar dengan membawa semua perintilan yang tadi ia lepaskan. Tak lupa pula ia menarik kerudung rumahan milik Bitha yang memang telah disiapkan untuk ia kenakan.
Jangan pikir Sezi telah berganti baju saat meninggalkan lantai dua, ia bahkan hanya mengenakan tapih yang tertutup oleh kerudung dibagian atas tubuhnya hanya karena tak ingin mendengar dua wanita yang sedari tadi membantunya justru mengejeknya habis-habisan.
Bian serta Alex dan juga Ibram tengah duduk di ruang tamu tempat dimana akad tadi berlangsung. Obrolan mereka seketikan berhenti kala derap langkah kaki Sezi menyita perhatian ketiganya.
Mereka melihat bagaimana tingkah ajaib adik dari istri - istri mereka berlalu bagaikan Jet tempur.
Jet tempur?. Ya, cepat dan ribut.
"Kenapa dia?." Tanya Bian dengan wajah bingung.
"Lah kenapa malah kamu yang nanya, sono datangin cepet."
"Takut bang." Ucapnya kepada Alex,
Bian benar-benar terlihat enggan untuk menyusul Sezi masuk kedalam kamarnya sedangkan Ibram justru terbahak-bahak melihat bagaimana wajah Bian berubah menjadi serius bercampur bingung.
Tak lama Bitha dan Sarah turut menuruni anak tangga untuk menghampiri ketiga pria yang tengah duduk bersama sembari terkikik geli.
"Ada apasih?."
"Kalian kenapa ketawa?."
Tanya Ibram dan Alex bersahutan.
"Biasalah, pengantin baru. Iya kan Bi?."
"Apa?." Bian justru malah asik menyeruput orange jusnya seolah tak peduli jika ke empat kakaknya kini tengah menjadikannya bahan candaan.
"Yeee yang sok lugu padahal ketar-ketir. Noh datengin bini elu cil-bocil." Ibram kembali melontarkan candaannya.
"Mana ada sok lugu, memang aku gak paham kali bang. Lagian kakak ngomongin apa sih, kenapa tiba-tiba dia kembali ke wujud aslinya gitu?."
"Gak ada." Ucap Bitha yang langsung dibantah oleh Sarah.
"Ngomongin malam pertama kalian lah, apalagi coba?."
.
.
.
.
tbc
__ADS_1