My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...♤▪♤▪♤...


...▪...


...▪...


Bian dan Mahesa kini tengah duduk bersama. Keduanya ditemani oleh Rudy yang bertugas menjadi pihak ketiga jika sewaktu-waktu keduanya saling adu kekuatan.


"Buat apalagi elu ngajakin gue kesini?. Elu mau pamer tentang perempuan yang jadi bini elu?." Mahesa tidak sedang dalam keadaan baik-baik saja. Pria itu memiliki emosi yang jelas tidak stabil.


"Sa, Kamu berhak ngatain aku apapun itu, terserah kamu. Tapi seenggaknya kamu harus dengerin penjelasan aku dulu."


"Bac*t. Elu tuh intinya cuman mau pamer!."


Bian sekuat hati mengendalikan emosinya dari kalimat-kalimat provokatif yang dilontarkan Mahesa kepadanya.


"Aku memang bac*t dan itu semua aku lakuin buat mengembalikan pertemanan yang udah kita jalin selama bertahun-tahun ini Sa'!." Wajah tampan Bian semakin memerah.


"Dah lah Bai, percuma juga elu jelasin yang ujung-ujungnya tetep bikin elu menang."


"Sa, tahan dulu emosi kamu." Rudy menengahi.


"Elah gepeng, lu sama aja noh. Cuman mau khotbahin gue kan?!." Mahesa benar-benar tak ingin mendengar penjelasan apapun dari kedua temannya, "Lu berdua sama aja tau gak?. Sama-sama sampah!."


"Oke!. Sesuai dengan apa yang kamu pikirkan kalo kita memang sampah, tapi kamu harusnya juga sadar diri Mahesa Prayogo kalo bangkai itu gak akan pernah mendapat tempat spesial dimanapun dia berada!." Emosi Bian akhirnya tersulut juga. Pria itu menggebrak meja cafe lalu menunjuk wajah Mahesa yang juga sama merahnya.


"Perempuan yang kamu bilang aku rebut itu adalah perempuan yang sedari dulu ada bersama ku Sa!." Bian menurunkan sedikit tekanan pada kata-katanya. "Dia perempuan yang mati-matian aku pertahanin sampek buat aku koma."


"Terus tiba-tiba kamu datang dan bilang kalo aku ngerebut dia dari kamu?. Pernah gak kamu mikir kalo kamu itu urutan orang kesekian yang ngaku-ngaku kaya gitu!?. Bahkan sebelum kamu ngaku pun udah ada abang mu yang lebih dulu kenal dia!."


Mahesa tak bisa berkata. Pria itu hanya diam tanpa suara menatap Bian yang masih berdiri dihadapannya.


"Sadar Sa, Sezi itu bukan jodoh yang harus kamu kejar, dia perempuan bersuami." Bian menghela nafasnya yang terasa berat kemudian meminta maaf kepada pria dihadapannya atas segala kesalahan yang tanpa sengaja ia buat hingga menyakiti teman sekantornya tersebut.


Hening kembali mengisi celah diantara ketiga pria yang tengah duduk bersama dalam satu meja tersebut sebelum akhirnya Bian memilih berpamitan karena ia sudah tak tahan meredam emosinya terlalu lama.


"Doa ku semoga Allah mengganti rasa sakit mu dengan sesuatu yang lebih baik kawan" Ucapnya sebelum benar-benar meninggalkan tampat panas itu.


Bian berpesan pada Rudy melalui ruang chat untuk tak meninggalkan Mahesa sebelum pria itu benar-benar sadar dari amarahnya.


.......


...💕...


.......

__ADS_1


...______________...


Hari spesial yang dinantikan pun akhirnya tiba. Acara wedding party seorang pria bernama Abian Khayr dengan istrinya Seziana Parasadi tampak begitu menarik mata karena bertema Starry Night Party dimana bintang-bintang buatan tim WO tengah bersinar menemani hangatnya suasana kebersamaan mereka.


Bahkan orang tua dari kedua mempelai pun sampai disibukan karena harus berulang kali mengambil foto lantaran banyak dari para kolega yang hadir meminta untuk mengambil gambar dengan latar belakang yang sama.


Terlihat Bitha dan Sarah serta suami-suami mereka tengah sibuk menyambut para tamu yang hadir untuk menyamankan diri mereka dalam hangatnya pesta malam itu.


Ditengah-tengah ramainya suasana ada seseorang yang begitu Bian harapkan kehadirannya, dia Mahesa.


Pria itu sangat Bian harapkan untuk datang pada hari bahagianya bersama Sezi. Bukan untuk pamer melainkan sebagai bukti bahwa apa yang dikatakannya kepada Mahesa waktu itu benar bisa diterima oleh akal sehat pria itu sendiri dan membuatnya bisa berfikir lebih terbuka.


Namun sungguh diluar dugaan, Mahesa tak hanya sendiri melainkan bersama keponakan tercintanya Meily yang terlihat begitu cantik mengenakan dresscode Navy senada dengan kemejanya.


Beruntung tidak ada si duda dalam daftar undangan mereka, pria yang menjadi salah satu alasan seorang Abian koma hingga berhari-hari lamanya.


Sezi menyenggol lengan Bian yang tengah berdiri disampingnya sembari berbisik, "Udah sehat dia?."


"Siapa?."


"Itu si Mahesa."


"Yang bener dia udah sadar sepenuhnya."


Meily memeluk Sezi dengan sangat erat. Remaja itu seperti tak ingin melepaskannya meski Mahesa telah berpesan padanya untuk tidak berdiri terlalu lama diatas pelaminan.


"Pssttt,,, woy bocil!. Om kamu udah nungguin noh, sana!." Bian berucap dengan suara lirih sembari membungkukan sedikit tubuhnya mensejajari tinggi Meily yang masih setia memeluk Sezi.


"Apasih!. Dasar om jelek!." Meily melepas pelukannya lalu melenggang pergi begitu saja tanpa mau menyalami si mempelai pria.


Ucapan Meily sukses membuat Bian meradang lantaran anak mantan duda itu berani mengatainya jelek meski kini dirinya tengah menjadi main actor ditengah acara spesialnya.


"Titisannya si duda bener-bener bikin kesel." Ucapnya yang kemudian mendapat cubitan pada pinggangnya karena Sezi sempat mendengar bagaimana pria disebelahnya itu menggerutu.


"Sakit sayang!. auuh..." Rintihnya yang membuat Sezi membuang muka.


"Bisa-bisanya kamu kelahi sama anak kaya dia?." Geramnya dengan suara lirih.


"Tapi dia emang ngeselin yank."


"Inget umur Bi."


_


_

__ADS_1


_


Hangatnya malam pesta telah usai kini tinggalah pasangan pengantin yang akan melanjutkan perjalanan menuju rumah baru mereka.


Sejak beberapa waktu lalu Bian sudah mempersiapkan rumah itu agar bisa dihuni olehnya dan Sezi setelah acara pesta selesai dan benar saja semua ruangan telah terisi dengan barang-barang yang mereka butuhkan layaknya pasangan baru lainnya.


"Kamu seriusan mau langsung kesana?." Tanya Bitha yang saat itu tengah membantu Sezi mengangkat gaun bagian belakangnya yang menjuntai agar tidak terinjak.


"Ya, aku sudah siapin semuanya jadi kita tinggal masuk aja. Disana juga sudah ada yang jagain sama bantu bersih-bersih tiga hari ini." Ucap Bian menjelaskan.


"Kita antar ya." Tawar Sarah yang langsung ditolak mentah-mentah oleh Ibram.


"Ogah!. Buat apa nganterin pengantin lama, gak seru!." Ibram berseru dibalik tubuh Sarah.


"Kasian pap kalo mereka nyetir sendiri." Sarah beralasan yang langsung dibantah oleh sang suami.


"Mereka itu mau ngabisin waktu berdua, terus kalo kita ikut emang mau ngapain?. Jadi obat nyamuk?."


"Lagian, gak ada salahnya juga ngebiarin mereka pergi sendiri. Toh udah pada halal juga kan?." Alex menambahi.


"Kalian ini para ibu-ibu yang ada malah bikin ribut disana entar." Satu pukulan mendarat manis didada Bian dari Sezi karena ucapannya


"Mulut kamu Bi."


_


_


_


Keduanya berkendara dengan santai sembari menikmati indahnya jalanan dimalam hari yang sebenarnya sedikit menakutkan karena memang rutenya yang mengarah kepinggiran kota.


"Kamu pilih malam ini atau besok pagi?." Bian dengan isengnya bertanya tanpa melihat ke arah sang target.


"Apanya?." Sezi yang tak mengertipun justru kembali bertanya dan membuat Bian terkekeh, Pria itu kemudian menoleh sembari bermain mata kepadanya.


Mata wanita itu seketika membeliak lebar kala menangkap wajah mes*m sang suami.


"Kamu mes*m Abian!!!!." Pekik Sezi yang membuat Bian menutup sebelah telinganya dengan telapak tangan.


.


.


.

__ADS_1


tbc.


__ADS_2