My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang Merah


__ADS_3

Bian mulai merasakan kesemutan diarea bawah tubuhnya juga denyut nyeri dari luka bekas operasi yang kemarin ia jalani. Mata lemahnya mengitari seisi ruangan tempatnya berada.


Ia sadar jika kini dirinya tidak sedang berada dikamarnya melainkan ruangan ICU dimana segalanya menjadi prioritas.


Seorang perawat menghampirinya dengan wajah tertutup masker dan menanyakan tentang apa yang ia rasakan saat ini untuk kemudian menghubungi dokter yang tengah berjaga kala itu.


"Jam berapa sus?." Satu kalimat yang keluar dari bibir pucat Bian.


"Sekarang pukul tiga dini hari pak."


"Subuh?."


"Iya."


Ruangan terasa semakin dingin kala detak jarum jam terdengar begitu nyata. Bian tak bisa kembali terlelap meski matanya tertutup. Hanya perasaan haus serta sedikit perih yang kini terasa merambati tenggorokannya.


Perlahan ia mulai menggeser tangan kirinya untuk membuka selimut yang dikenakannya, sekedar untuk mengintip rupa kakinya saat ini namun masih terlalu sulit untuk mengangkat lehernya sendiri sebab rasa ngilu pada persendiannya karena terlalu lama berbaring.


Yang ia bisa lakukan saat ini hanyalah menunggu pagi tiba sembari menahan cekatnya tenggorokan.


-


-


***


Kilau sinar mentari merambati jendela kaca ruangan dan kembali menyadarkan Bian dari lelapnya tidur setelah menunaikan kewajibannya.


"Bi."


Bitha menghampiri brangkar sang adik dan menanyakan apa yang pria itu kini rasakan.


"Udah disini?." Tanya Bian dengan mata mengerjap lambat karena menyesuaikan dengan cahaya ruangan.


"Iya tadi subuh dikabarin sama dokter Dito yang jaga malam katanya kamu udah sadar."


"Zhian sama siapa?."


"Di rumah tantenya dari semalem."


"Kak, minta pindahin dari sini."


"Sabar, nanti tunggu dr. Zahid visit dulu."


"Laper, haus."


"Tahan, udah kaya anak kecil aja sih."


Bitha ingin sekali meremas bibir pasien dr. Zahid itu jika tidak ingat bahwa pria itu baru saja menjalani operasinya.


.....


📲


Sezi baru saja akan mendial nomor baru pada ponselnya yang semalam ia dapatkan dari dokter cantik tepat saat seseorang lebih dulu menghubunginya dengan nomor baru.


Pagi itu Sarah lebih dulu menghubunginya dengan nomor baru. Wanita itu menanyakan kebenaran akan keputusannya untuk menikahi Bian.


"Kakak kurang setuju sama keputusan kamu. Atau jangan-jangan kamu lagi bikin rencana balasan?."


"Rencana apaan?." Desisnya kesal.


"Kamu gak seakur itu sama dia Sez, apalagi buat nikah?. itu tuh udah kaya dapetin mangsa tanpa perlawanan."


"Loh kan itu berarti rejeki donk kak, ibarat mau makan tanpa harus masak."


"Jangan Sez, mending kamu batalin aja."

__ADS_1


"Kak, udah berkali-kali aku minta sama dia buat cabut permintaan konyolnya itu dan dia tetep gak mau. Udah gitu pake ngancem lagi!. Mulai gila apa ya jangan-jangan." Sezi dengan entengnya menyebut Bian Gila meski sebenarnya dia tak berharap demikian.


"Eh, mulut!." Suara kesal Sarah saat menegurnya.


"Dahlah kak, aku males bahas dia. Manusia kebanyakan gak tau diri memang kalo sudah sekarat."


"Astaghfirulloh Sezi!."


Panggilan itu terputus karena Sezi mengakhirinya lebih dulu dan membuat Sarah hanya menghela nafas kasar.


-


-


-


Pukul satu siang Sezi memilih membeli satu cup brown sugar milk tea favoritnya dari sebuah coffeeshop kemudian duduk menyendiri disalah satu bangku taman untuk menjalankan rencananya.


Ia menekan nomor telepon Bian yang terdapat pada phonebook namun sayang panggilannya langsung terhubung pada kotak suara.


"Si burik, apa udah mati kali ya?." gumamnya pelan sembari terus memandangi nomor ponsel Bian.


Ia kembali mencari nomor kontak Bitha untuk menanyakan keberadaan pria itu. Panggilannya pun langsung disambut sang pemilik nama.


"Kak Bitha?."


📲"iya?. Tumben nelepon jam gini?. Gak kerja emang?." Pertanyaan Bitha membuat Sezi terkekeh sesaat.


"Kerja donk, cuman lagi santai aja sebentar."


📲"Ada apa nih nelpon, pasti nyariin si Anu ya?." Tebaknya yang memang benar-benar pas.


"Ih kok bener!. Hebat kakak bisa menebak!." Tawa keduanya pecah bersamaan.


📲"Dia masih pingsan, tadi baru selesai tindakan. Kemungkinan sore baru sadar sepenuhnya." Jelas Bitha di ujung sana.


"Ya udah, entar malem aja aku telepon lagi."


" bye kak!."


Sezi merasa tak enak hati setelah berbicara dengan Bitha. Dokter wanita itu terlalu baik untuk disia-siakan dari daftar saudara ipar. Hanya saja bila ia benar-benar menerima Bian ia pun tak tahu harus bagaimana menghadapi manusia itu.


Ia tak ikhlas menyandang status sebagai istri dari pria yang pernah membullynya meskipun dulu sekali ia pernah berharap demikian.


"Ditinggal pas lagi sayang-sayangnya sih jauh beda galaunya ama dinikahin pas lagi benci-bencinya." Gerutunya, "Ih dasar emang burik sialan!." umpatnya kesal.


Sezi memilih pergi meninggalkan nyamannya kursi taman untuk berpindah ke ruangan dimana ia seharusnya berada.


-


-


***


.


.


Kegiatannya tak berlangsung lama karena tepat pukul tiga sore mereka sudah dibebaskan dari jam kerja mengingat jika esok hari merupakan tanggal merah.


"Sez, kamu jadi liburan ke sono?." Tanya Cia sembari merapikan peralatan mereka.


"Kemana?."


"Itu, datengin calon laki elu."


"aih, kenapa sih kamu harus ingetin aku tentang itu lagi." Sezi seolah ingin menangis karena Cia kembali mengingatkannya pada Bian.

__ADS_1


"Istri durhaka kamu, di ingetin ama suami sendiri malah nggak mau."


"Aku belum nikah ya Ci, catet!. Belum nikah sama dia, eshh!. Lama-lama kamu sama ngeselinnya sih sama dia."


"Eh, ngomong-ngomong aku belum tahu rupa bakal - calon suami elu mak!. Mana sini lihat!." Si Cia justru tak mengindahkan omongan Sezi yang duduk tak berdaya di ruang ganti mereka.


"Eggak!."


"Ciee... gak mau dilihat calonnya, takut kalo aku naksir yaaa."


"Sumpah Ci, kamu bisa jadi semenjengkelkan ini ya ternyata."


"Makanya sini kasih lihat dulu, biar aku bisa ngasih masukan buat pilihan kamu."


"Gak!. Males, ntar tuh yang ada malah kamu jatuh cinta sama dia terus nyuruh aku pake maksa-maksa buat nerima dia. Jadi moon maap rencana licik kamu sudah terbaca, tolong cari alasan lain, sekian terimakasih." Ucap Sezi panjang lebar yang seketika membuat Cia terbahak-bahak karena apa yang dikatakannya memang benar seperti yang sudah-sudah.


"Emang iya seganteng itu mak?." Cia masih dengan pemikirannya.


"Udah yuk pulang, kepala ku mulai pusing dengerin kamu ngoceh melulu."


_


_


_


_


Sezi bersandar pada sisi ranjang kamarnya. Ia kembali melihat nomor kontak Bian, namun siapa yang akan menyangka jika hatinya kembali gelisah.


"aaa Hati, tolong kamu jangan hianatin aku." Wanita muda itu bergumam sembari menutup wajah dengan kedua tangannya.


"Bismillah,


📲📲📲📲📲📲....


Panggilan Sezi tersambung, namun kemudian terputus karena tidak ada yang menjawab diujung sana dan mengharuskannya kembali menekan tombol Call untuk kedua kalinya.


📲"Halo?."


Degub jantungnya kembali berulah saat suara pria disebarang sana menyambutnya,


1 ...........


2 ...........


3 ...........


📲"Halo?. Sayang?."


"Ckk, Najis!."


Kekehan Bian terdengar begitu jelas diseberang sana.


📲"Ada yang mau kamu omongin?. Atau ..."


"Abian khayr, tolong jangan bikin beban pikiran aku jadi tambah berat."


📲"Oke, Seziana Parasadi jadi mau ngomong apa?."


_


_


_


_

__ADS_1


_


Tbc.


__ADS_2