My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...โ™กโ™กโ™ก...


..._______...


Mulut memang berkata 'tidak' tapi tubuh tidak bisa berbohong tentang perasaan yang sebenarnya. Terbukti dengan apa yang dilakukan oleh pasangan halal ditempat yang tidak lazim itu.


Tangan yang semula ia gunakan untuk menahan bahu Bian kini berubah haluan. Sezi menyugar rambut hitam sang suami dengan jemari panjangnya dan hal itu sukses membuat Bian semakin lupa dimana mereka saat ini berada.


Namun aktifitas keduanya harus terganggu kala derap langkah Sisil dengan senandungnya terdengar mendekati mereka. Di saat itu Sezi tersadar dari buaian nikmat dunia dan segara menjauhkan kepala si pria yang kini justru mendekap tubuhnya semakin kuat.


Bian menggigit tulang selangka Sezi karena sesuatu dan Wanita itu bisa merasakan jika nafas lelaki itu tengah memburu seperti_kuda?_. Tak lama tubuhnya melemas disertai detak jantung yang tak beraturan. Ia kemudian mengecup leher putih sang istri untuk terakhir sebelum akhirnya melepaskan dirinya sendiri.


"Kamu apa-apaan sih!!." Sezi terlihat kesal sedangkan Bian hanya terkekeh dengan mata terpejam.


Pria itu masih bersandar pada brangkar dengan peluh yang membasahi dahinya. Sezi tidak bisa berbohong jika Bian memanglah tampan sedari dulu dan kini ketampanannya bertambah dua kali lipat saat pria itu tersenyum memperlihatkan deretan gigi putihnya dan juga rambutnya yang sedikit basah karena keringat.


Tunggu!. Keringat?!.


"Kamu kenapa?." Sezi semakin bingung karena suami abal-abalnya itu kini terlihat semakin lemas dengan keringat yang menghiasi wajahnya.


"Kamu __harus__tanggung jawab." Ucapnya terbata dengan nafas yang sudah mulai kembali teratur. "Bantu berdiri." Pinta Bian sembari merapikan kembali kerah kemejanya yang telah berantakan.


"Basah Bi celana kamu." Sezi tak sengaja melihat noda seperti bercak air yang tertinggal pada celana pendek berwarna khaki yang digunakan oleh Bian.


Bian hanya tersenyum simpul sembari berbisik padanya jika itu adalah kromosom XY dan hal itu sukses membuat Sezi menabok mulut sang suami lalu menyilangkan tangannya sendiri untuk menutupi tubuh atasnya.


"Kamu gila Bi."


"Aku normal sayang dan lagi aku masih per__ja__ka jadi wajar kalo keluar walaupun cuman kiss kiss kamu doank." Ucapnya begitu jujur membuat Sezi kembali bergidik ngeri karena dirinya.


"Jangan diulangi."


"Gak janji, kalo aku khilaf yaaa_


"Makanya gak usah nyosor-nyosor kaya soang."


"Tapi kan kamu juga gak nolak."


"Kamu maksa!."


______________


๐Ÿ’•


Sezi kembali bertemu dengan Bitha yang saat itu baru saja keluar dari ruangan prakteknya dikala senja telah menyapa sebagian sisi bumi.


"Bian mana?." Tanya Bitha sembari menggandeng tangan kecil Zhian.


"Udah pulang dari tadi siang." Sezi menjawab seperlunya hingga saat keduanya berjalan diparkiran dan dia mengajak sang ipar untuk berjalan-jalan dipusat perbelanjaan.

__ADS_1


"Ayok, sekalian kakak juga mau belanja." Jawab Bitha.


Dokter wanita itu melihat rona gelisah diwajah adik iparnya dan bertanya apa mungkin dia ingin bercerita.


"Kak Bith,


"Ya?."


"Bian emang gak pernah pacaran ya?."


Bitha menoleh untuk sesaat kemudian kembali fokus pada lalulintas dihadapannya.


"Kayanya belum pernah ya kalo kakak lihat-lihat. Karena Bian juga gak pernah cerita apa-apa selama dia sekolah sampe akhirnya kerja dan nikah sama kamu." Jawaban Bitha membuat hati Sezi sedikit lebih tenang.


"Kenapa?. Apa ada perempuan yang tiba-tiba datang ngaku-ngaku ke kamu?." Tanya Bitha sembari tersenyum geli.


"Enggak sih." Ada jeda diantara kalimatnya. "Cuman tadi tuh dia kebocoran." Ucapnya sedikit lirih.


"Kebocoran?. Apanya yang bocor?." Bitha seperti menerka maksud ucapan adik iparnya.


"Kromosomnya."


"Ha?." Bitha langsung menepikan mobilnya. Kemudian memiringkan tubuhnya menghadap Sezi. "Maksud kamu_ dia_


"Dia cium-cium aku kak, terus tu ejak***si."


Bitha terbahak-bahak karena ucapan Sezi yang begitu jujur kepadanya. Seolah jika itu bukanlah sebuah rahasia yang harus ia jaga dari orang lain.


"Udah setengah jalan terus dia bikin ulah dan berakhir seperti itu."


Tawa Bitha semakin menjadi karena Sezi benar-benar menceritakan kelemahan adik lelakinya sendiri kepadanya sebelum akhirnya ia terdiam dengan mengambil nafas panjang untuk memulai pencerahannya.


"Jadi kakak mau kasih tahu kamu kalo sebenarnya apa yang kamu bilang tadi memang wajar buat dia. Apalagi sekarang statusnya udah beristri yang seharusnya dia udah punya tempat halal buat nyalurin hasratnya."


"Tapi kak, aku takut."


"Takut apa?."


"Hamil."


"Kasih tahu dia buat pake pengaman."


Bitha masih tak habis pikir dengan dua adiknya yang benar-benar membuatnya bingung. Jika dahulu ia gemas dengan si pria maka kali ini ia pusing dengan si wanita. Ia yakin jika Sezi berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya karena egonya terlalu besar.


_________


๐Ÿ›


Bian tengah bermain PS bersama Alex diruang tengah saat dua wanita mereka tiba dengan menenteng kantong belanja dari sebuah super market ternama.

__ADS_1


"Lama banget, pada kemana sih?." Alex bertanya kepada sang istri tanpa menoleh.


"Nongkrong dong, kan sekarang ada temennya." Jawab Bitha sembari melenggang pergi ke arah dapur bersama Sezi. Sedangkan Zhian langsung ikut berkumpul dengan dua pria yang sibuk menyerang satu sama lain.


โ–ชโ–ชโ–ชโ–ชโ–ช


Kamar Bian terasa sepi karena tidak ada Sezi disana entah berada dimana wanita itu Bian pun tak tahu. Namun saat akan mengambil air putih ia bisa mendengar seseorang sedang berbicara melalui sambungan telepon dari teras belakang rumah.


๐Ÿ“ฒ"Bagaimana keadaan Bian?." Tanya seorang wanita diujung sana.


"Alhamdulillah baik. Hari ini sudah mulai terapi lagi."


๐Ÿ“ฒ"Alhamdulillah, baik-baik ya nduk sama suami. Dijaga bener-bener suaminya, jangan mbantah, jangan bikin kesel hatinya." Ucap sang mama begitu sabar.


๐Ÿ“ฒ"Orang laki-laki itu bisa bertahan sama satu wanita karena perlakuan dari pasangannya sendiri. Kalo ada masalah sama dia coba dibicarakan baik-baik, Mama yakin Bian mau dengerin kalo kamu ngomongnya gak pake nyolot."


Sezi kemudian berdecak saat tahu jika ibunya tengah membicarakan keburukannya.


"Tapikan mulut dia sama pedesnya ma."


๐Ÿ“ฒ"Hush, ndak boleh gitu. Dia pedes itu kan dulu waktu sebelum sah, coba sekarang?. Apa masih sama?."


Ia terdiam mendengarkan bagaimana ibunya berceramah tentang ilmu rumah tangga.


"Ma, pengen pulang."


๐Ÿ“ฒ"Ya nanti tunggu Bian udah bisa berdiri baru ajak kesini sekalian."


Bian yang berada dibalik kaca bisa melihat raut sedih diwajah istrinya ketika berbicara dengan ibu mertuanya.


Sezi tampak memanyunkan bibir, ia seolah malas jika sang ibu terus menyebut nama itu hanya karena untuk meluluhkan hatinya.


๐Ÿ“ฒ"Ya sudah, udah malem ini. Sana datangin dia, usap-usap punggungnya. Kasian dia pasti capek seharian duduk dikursi roda."


"Mama salah. Dia_


Sezi hampir menyebut tragedi tak berdarah yang terjadi tadi pagi kepada ibunya. Beruntung dia mengingat jika kini ia sedang berada dirumah kakak iparnya dan bisa saja kini si pemilik rumah tengah mendengar suaranya yang begitu keras.


Ia kemudian menyudahi panggilan dan berjalan memasuki rumah untuk beristirahat.


.


.


.


.


tbc

__ADS_1


๐Ÿ›


__ADS_2