My Lovely Bawang

My Lovely Bawang
Bawang merah


__ADS_3

...♡♡♡...


...______...


Untuk pertama kalinya dalam sejarah seorang Seziana Parasadi mendapat pasien yang benar-benar bisa mengganggu kewarasannya dalam bekerja.


"Bapak kalo masih susah dibilangin mending pulang aja." Geramnya kepada pasien tampan yang kini tengah berdiri menempel padanya.


"Sus, gak boleh marah-marah nanti kedengeran ama yang lain." Bisiknya disisi telinga Sezi.


"Saya gak peduli. Mau disini ada CCTV pun saya juga gak peduli karena bapak memang sejak tadi sengaja mengundang emosi."


"Pengen pipis sus."


Sezi memejamkan matanya sembari beristighfar demi meredam kembali emosi yang sempat meledak namun ia tetap membantu si pasien untuk kembali pada kursi rodanya. Tak lama Sisil menghampiri langkah Sezi yang saat itu tengah mendorong kursi roda Bian.


"Mau ke kamar mandi?." Tanya Sisil dan langsung diangguki oleh Sezi.


"Aku panggilin si Erwin bentar." Ucapnya


Namun lagi-lagi Bian menahan terapis wanita itu untuk tidak menukar sang istri dengan yang lain.


"Sus, gak perlu. Saya bisa sendiri." Ucapnya dengan senyum ramah dan itu sukses membuat Sezi gemas ingin memukul kepalanya.


"Oh, baik. Silahkan." Sisil menyingkir dari jalan dan membiarkan Sezi juga pasiennya berlalu.


Tatapan curiga menyelimuti Sisil saat melihat interaksi aneh yang terekam oleh inderanya.


"Kaya gak biasa." Batinnya berkata.


.......


Tiba dipintu kamar mandi khusus difabel yang masih berada satu tembok dengan ruangan terapi itu Sezi membiarkan Bian untuk menuntaskan kebutuhannya.


"Sayang temenin." Bisiknya


"Gak usah aneh-aneh, sana cepetan." balasnya sembari menahan giginya agar tetap terkatup.


"Nanti ada kecoak gimana?."


"Disini udah steril pak, jadi gak mungkin ada kecoak. Kalopun ada itu kecoak pasti peliharaan bapak sendiri yang bapak bawa dari rumah." Ucapanya panjang lebar.


Bian tertawa karena ucapan Sezi. Benar-benar menyenangkan untuk mengganggu wanita itu yang pada akhirnya membuat dirinya sendiri kelelahan.


________


Hampir dua puluh menit dan Bian belum memberikan tanda jika ia telah selesai dengan hajatnya dikamar mandi.


Sezi yang saat itu tengah duduk dikursi tunggu kamar mandi pun cukup panik karena memang belum pernah mengalami hal seperti itu.


Berulang kali ia mengetuk pintu toilet dan tidak mendapati jawaban apa-apa hingga akhirnya ia berlari meminta bantuan kepada Sisil yang saat itu sedang menginput data pada komputernya.


"Kok bisa?. Udah kamu gedor belum?."


"Udah, belasan kali malah."

__ADS_1


"Waduh, bentar. Kamu pergi aja kesana lihat mungkin si bapak udah keluar. Aku panggil Tri dulu disebelah." Ucap Sisil


Tak lama Sisil datang bersama Erwin. Saat terapis pria itu hendak mengetuk, pintu tiba-tiba saja terbuka dan menampilkan wajah bantal Bian.


"Maaf, saya tadi ketiduran." Ucapnya begitu ramah dengan rona wajah penuh rasa bersalah hingga membuat Sisil dan Erwin tak tega karenanya.


"Setelah ini langsung istirahat dulu ya kak. Kami siapkan ruangannya."


Sisil berjalan mendahului ketiganya dengan Erwin yang bertugas mendorong kursi Bian. Sedangkan Sezi, ia malah berjalan mengekori Erwin dengan wajah mencibir.


_______


Setengah jam berlalu. Bian terbangun dari istirahat siangnya diruangan terapi dan tak mendapati siapa-siapa disana hanya ada tombol urgent untuk memanggil petugas yang tengah berjaga.


"Kemana dia?." Gumamnya sembari melirik jam pada pergelangan tangannya.


Bian mecoba meraih ponselnya yang terletak di meja nakas rumah sakit sedikit memiringkan tubuhnya namun apa yang terjadi ialah hal tak terduga, ponselnya terjatuh membuatnya reflek ingin menangkap justru mengakibatkan dirinya terguling dengan bertumpu pada bahu kirinya sembari mendekap tangan kanannya yang belum sembuh sepenuhnya.


"AGH!." Pekiknya disertai desisan.


Sezi yang saat itu baru akan membuka tirai penyekat seketika terkejut karena mendapati tubuh sang suami berada pada tempat yang tidak seharusnya.


"Astaghfirulloh!."


"Kamu ngapain sih!?." Pekiknya setengah berlari menghampiri Bian. "Kok bisa dibawah sini?. Kamu ngelindur apa gimana?."


Melihat kepanikan Sezi insting Bian pun semakin menjadi-jadi. Pria itu menggigit bibir bawahnya seolah menahan rasa sakit yang tak tertahankan akibat benturan tubuhnya pada lantai meskipun benar adanya hanya saja tidak sampai separah itu.


Bian terus mendesis hingga membuat Sezi segera bangkit untuk membantunya berdiri namun ia salah karena Bian justru menahan pergelangannya dan berkata bahwa dirinya baik-baik saja.


"Enggak usah." Bian menarik tangan Sezi mendekat kepadanya.


"Kamu itu jatuh, nanti kalo kenapa-kenapa gimana?."


"Aku cuman butuh kamu." Lirihnya sembari menutup mata dengan tubuh bersandar pada brangkar pasien.


"Jangan ngomong aneh-aneh bapak. Coba sini lihat dulu."


Sezi memeriksa lengan Bian dan juga bahu pria itu. Tidak ada cedera selain warna merah karena benturan.


"Ada rasa nyeri-nyeri gak?." Tanyanya dengan tatapan serius.


Bian yang sedang dalam mode usil pun menjawab dengan begitu dramatis, "Disini." Ia memegang dada sebelah kirinya. "Sakit banget, kaya diiris."


"Ha?." Sezi seketika membuka kancing kemeja Bian sampai batas perut hingga memperlihatkan bagian dada pria itu.


"Bagian mananya?." Sezi tanpa sadar justru meraba dada sang suami dengan tangannya yang terasa begitu lembut hingga membuat Bian setangah mati menahan desiran halus yang menyapa tubuhnya.


"Gak papa kok, gak ada yang memar." Ucap Sezi dengan wajah polosnya.


Bian menatap wajah cantik Sezi begitu lekat kala tangan wanita itu sibuk mengancingkan kembali kemeja miliknya. Perasaan yang sulit dibendung membuatnya bisa berbohong dengan lancar,


"Kamu abis makan apa?." Tanya Bian disela-sela kesibukan Sezi.


"Apa?. Aku gak ada makan, cuma minum Taro ice blend aja tadi."

__ADS_1


"Bohong." Bian sengaja memprovokasi.


"Terserah." Sezi mulai kesal namun masih pada batasannya.


"Mana buktinya?." Bian menantangnya


"Buktin apa?." Sezi terlihat bingung.


"Taro ice blend yang kamu bilang."


"Ya udah abislah."


"Bohong."


"kamu mau?. Nanti aku belikan."


"Gak usah, aku cuma mau tahu rasanya aja bukan minum."


"Maksudnya _


.....¿¿¿


Bian meng*cup bibir wanita dihadapannya, begitu singkat hingga membuat Sezi terkejut.


"Kamu ngapain!!." Bentaknya sembari mengusap bibir menggunakan punggung tangan.


"Gak berasa." Ucap Bian begitu santai.


"Jangan macam-macam Abian Khayr. Ini rumah sakit!. Kamu _


Kali ini pria itu tidak hanya mengecupnya melainkan ******* dan menyes*p bibir wanitanya atas dan bawah secara bergantian. Ia benar-benar memberinya sebuah ci*man yang mampu melemahkan otot-otot saraf Sezi yang sedang tegang karena ulahnya.


Sezi begitu kuat menahan kedua bahu pria itu agar terlepas namun perlahan Sezi mulai terlena dengan ga*rah sang suami yang mampu membuatnya lupa akan visi dan misi awal membentengi diri dari pesona seorang Abian Khayr.


Bian melepaskan tautan bibirnya dan hanya menyisakan jarak sepersekian centi untuk menghirup udara lebih banyak hingga memenuhi rongga paru mereka.


"Lagi_" Ucap Bian sebelum akhirnya menekan tengkuk Sezi untuk semakin memperdalam aktifitas menyenangkan itu.


Keduanya bagaikan pasangan muda - mudi yang tengah dimabuk asmara hingga membuat Sezi yang awalnya benar-benar menolak kini justru ikut menikmati saat pria itu menyurukan kepalanya pada leher putih nan jenjang miliknya hingga membuatnya melenguh dengan suara tertahan.


_


_


_


_


_


tbc.


yeeeeaaaaahhhhh


buat yang nyari part-part begini, mon map banget karena nongolnya mesti ditengah dan gak ada yang extra extrem ya guys🔥, sekedarnya aja. 🐛nut nut ngeri2 sedep juga kalo bikin tulisan yang terlalu vulgar tuh...kayaaaa anu anu gitu deehh.

__ADS_1


__ADS_2