My Obsession Husband

My Obsession Husband
Pelajaran


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


Dini hari ...


Setelah memastikan sang istri tidur kembali, akhirnya ia bangkit dan duduk bersandar di ujung tempat tidur. Pria itu mengambil sebatang rokok lalu menyalakan pematik api. Kepulan asap mulai menguar di dalam kamarnya.


Pria itu sesekali melihat ke arah wanita yang sedang terlelap dalam tidurnya, hingga ia menyunggingkan sebuah senyuman yang tak dapat diartikan. Ia pun tanpa sadar mengulurkan tangannya untuk mengelus rambut sang istri.


“Edrea Chandara ... sampai kapan pun kau tidak akan pernah bisa lari dariku. Kau sudah menjadi milikku, dan tidak akan pernah aku biarkan kau disentuh oleh pria lain, termasuk mantan kekasih mu itu,” monolognya sambil tersenyum penuh kemenangan.


Setelah puas memandang wajah cantik istrinya, kini Derry mengambil benda pipih yang ada di atas nakas, samping tempat tidurnya. Ia mulai meluncurkan jari jemarinya di atas layar benda pipih tersebut.


Derry mulai mengetikkan pesan untuk ia kirim pada orang kepercayaannya. Ia harus membuat Edrea bertahan di sisinya. Ia tahu, asistennya itu masih tidur , karena saat ini sudah waktu dini hari. Tak ingin membuang banyak waktu lagi, Derry mulai merebahkan tubuhnya kembali di sisi sang istri. Jangan lupa sebuah dekapan yang sangat erat, agar wanita itu tidak lari saat terbangun nanti.


***


Tak terasa pagi sudah menyapa sebagian alam semesta, dengan sinarnya yang sangat cerah, hingga mampu membuat semangat asa. Namun, tidak bagi seorang wanita yang masih bergelung dalam selimut.


Edrea terusik, saat merasakan sesuatu menyentuh wajahnya. Bahkan, matanya merasakan benda kenyal yang terus menerus menciuminya. Wanita itu terusik dan mulai mengerjapkan matanya berulang kali.


“Enghh!” terdengar suara lenguhan sang istri, yang membuat Derry semakin tersenyum saat mendengarnya.


“Good Morning, sayang.” Derry langsung mengecup singkat bibir ranum milik sang istri yang masih belum mengumpulkan kesadarannya.


Edrea langsung bangkit karena terkejut, saat mendengar suara seorang pria yang sudah menghancurkan hidupnya. Wanita itu langsung merapatkan selimut tebal, agar menutupi tubuhnya yang masih polos tanpa sehelai benang pun sejak tadi malam.


“Apa yang kau lakukan?” tanya Edrea dengan nada ketakutan.


“Tentu saja memberikan ucapan selamat pagi pada istriku,” jawab Derry dengan santai sambil terus mendekati wanita yang ada di hadapannya.

__ADS_1


“Jangan mendekati ku!” bentak Edrea dengan tatapan penuh kebencian. Ia benci pria yang kini jadi suaminya. Ia benci pada pria yang sudah merenggut semua impian dan kebahagiaannya.


“Jangan pernah berani membentakku!” ucap Derry dengan tegas, seraya menarik tubuh sang istri, hingga jatuh dalam dada bidangnya.


“Jangan sekali-kali kau menatapku dengan tatapan seperti itu, karena aku tidak suka. Apalagi jika kau membentakku seperti tadi. Kau tahu apa yang akan aku lakukan padamu, jika kau melanggar semua itu,” sambungnya lagi dengan nada penuh ancaman.


Edrea bergetar saat mendengar ucapan Derry. Bukan hanya karena takut, tapi karena ia tidak bisa melakukan apapun. Tanpa ia sadari, ia sudah terisak dalam dekapan sang suami. Namun, tiba-tiba ia merasa terkejut saat tubuhnya mulai melayang di udara, karena pria itu menggendongnya tanpa aba-aba.


Aaarrghh!


Teriak Edrea seraya memukul dada bidang milik Derry, agar pria kejam itu mau melepaskannya.


“Lepaskan aku brengsekk!” bentak Edrea memberontak. Ia semakin takut tatkala Derry membawanya ke dalam sebuah kamar mandi. Ia takut pria kejam yang menjadi suaminya kembali menjamah tubuhnya secara kasar.


Brak!


Terdengar suara pintu kamar mandi tertutup dengan keras.


“Apa kau masih memikirkan pria itu?” tanya Derry dengan begitu bodohnya. Bagaimana mungkin Edrea mampu melupakan calon suaminya dalam waktu satu hari.


Bukannya menjawab, Edrea semakin terisak dan tak mampu untuk mendongak. Ia sangat hancur. Ia terpuruk dalam keadaan saat ini. Bagaimana mungkin ia bisa hidup dengan sosok pria yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.


Bagaimana mungkin, kemarin lusa rasa bahagia yang menyelimuti hidupnya, karena akan menikah dengan calon suaminya, Juan. Kini, malah berganti rasa duka yang membalut rasa sakit dalam hatinya.


Gagalnya sebuah pernikahan bersama orang yang dicintai, sekaligus kehilangan cintanya. Membuat ia merasa sangat hancur dalam sekejap mata. Ia harus segera mencari cara untuk pergi dari tempat terkutuk itu. saat ini, ia hanya ingin melihat keadaan Juan, kekasihnya.


“Iya! Kau benar! Aku memang masih memikirkan dia! Memangnya kenapa. Apa kau sudah gila bertanya seperti itu?!” Edrea mendongak dan membentak Derry tepat di hadapan wajah pria tersebut.


Derry yang melihat keberanian yang ditunjukan oleh istrinya, langsung menggeram dan segera melummat bibir ranum itu dengan sangat rakus dan penuh gairrah. Ia tidak peduli dengan Edrea yang sudah memukuli dadanya secara bertubi-tubi.


“Emmh!” Edrea terus berontak dalam dekapan Derry. Apalagia ia merasa sudah kehabisan napas.

__ADS_1


Plakk!


Edrea langsung menampar wajah Derry sesaat setelah melepaskan ciumman panas mereka. Derry mengusap pipinya yang terasa panas akibat tamparan tersebut. Meskipun tamparan itu bukanlah apa-apa baginya.


“Kau salah karena telah melakukan ini padaku Edrea. Kau sudah berani menantang ku, maka aku tidak akan sungkan lagi padamu. Ini adalah pilihan mu, maka terimalah akibatnya.”


Mata Derry memerah akibat menahan amarah. Bukan karena Edrea sudah menamparnya, melainkan karena sudah memikirkan pria lain, selain dirinya. Ia tidak suka jika wanita itu memikirkan pria lain, apalagi itu adalah mantan pacarnya.


Kini, Derry akan memberikan Edrea pelajaran, agar wanita itu tidak punya keberanian lagi untuk memikirkan pria lain. Apalagi itu adalah Juan. Pria itu akhirnya mulai menikmati tubuh sang istri dengan cara paksa.


“Akhh! Sakit ... Derry akhh!”


“Nikmati saja, sayang.”


“Pel—Akh! An ... sakit.”


Rintihan, errangan dan ringisan menggema dalam kamar mandi itu di pagi hari ini. Derry tanpa ampun terus menggoyangkan pinggulnya dengan sangat kasar dan keras, hingga membuat wanita yang ada di dekapannya kwalahan dan tak berdaya.


“Ini kan yang kau inginkan ... akkh!” Derry menciumi tengkuk leher sang istri tanpa menjeda gerakannya sama sekali.


“Aku akan memberimu kepuasan, agar kau tidak berani lagi memikirkan pria lain dalam pikiran mu, karena aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi.”


“Akhh! Aku tidak kuat Derry ... sakit,” ringis Edrea dengan nada lemah. Wanita itu benar-benar sudah tidak sanggup menerima perlakuan kasar dari pria yang sedang menikmati tubuhnya tersebut.


Namun, bukan Derry namanya, jika mendengar rintihan dan ringisan wanita yang sedang ia nikmati. Pria itu terus mengayunkan tubuhnya dengan gerakan cepat, hingga ia hampir sampai pada puncaknya.


“Akkhh!” akhirnya pria itu sudah sampai pada titik puncak kenikmatannya. Namun, bersamaan dengan itu, Edrea jatuh tak sadarkan diri.


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya

__ADS_1


__ADS_2