
Selamat membaca ...
...****************...
Derry jelas sangat gugup saat sang ayah mempertanyakan apa yang telah terjadi. Benar saja, ayahnya tidak mudah untuk dibohongi, dan kini ia bingung untuk menjelaskannya.
"Tidak ada, Daddy. Semuanya baik-baik saja," jawab Derry seraya memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia tidak bisa terus menerus menatap wajah sang ayah yang melihatnya dengan tatapan penuh selidik.
"Aku harap memang begitu. Son, ingat aku adalah ayahmu, dan kau tidak akan bisa menyembunyikan apa yang sedang terjadi. Pikirkan lagi apa yang telah kau lakukan, dan hentikan semuanya sebelum terlambat. Atau kau akan menyesal di kemudian hari." Deva jelas tahu apa yang terjadi, karena ia tidak asing dengan suasana yang menantunya tampilkan. Ia tidak ingin putra sulungnya mengalami hal serupa dengannya.
"Dad, kau tidak perlu mengingatkan ku seperti itu. Urus saja dirimu sendiri. Ingat, aku juga tidak akan mudah memaafkan Daddy atas apa yang telah terjadi di masa lalu." Derry sangat kesal karena sang ayah yang terus mengingatkan dirinya. Hal itu juga yang membuat Derry kembali mengingat perlakuan sang ayah terhadap ibunya.
__ADS_1
Jika Derry tengah berseteru dengan ayahnya, maka Davina tengah menikmati kebersamaan bersama sang menantu. Wanita cantik di usianya yang sudah tak muda lagi itu sangat bahagia bisa berbincang dengan menantu barunya.
"Mommy harap kamu suka tempat ini ya. Jangan sungkan, dan anggap seperti rumah sendiri. Apa Derry bersikap lembut padamu? Dia anak yang baik. Semoga dia bisa menghargai dirimu seperti menghargai keluarganya. Apa dia suka membuat mu kesal?" Tanya Davina yang sangat antusias. Sedangkan Edrea hanya tersenyum miris dalam hati, tatkala mendengar penuturan dari dari wanita yang ada di hadapannya.
Derry anak yang baik? Sebuah kalimat yang terdengar sangat lucu di telinganya. Bahkan ia tidak bisa melihat satu kebaikan dari suaminya. Suami? Ah tidak. Pria itu hanya seorang bajjingan yang suka menyiksa.
"Ehm ... Dia--."
"Aku hanya ingin tahu pendapatnya. Lagipula aku percaya, jika putraku tidak akan seperti ayahnya," balas Davina sambil terkekeh geli sekaligus ngeri. Ia tidak bisa membayangkan jika Derry mempunyai sifat seperti Deva, karena selama ini, ia hanya melihat sifat lembut dari putranya.
"Sayang ...." Deva merajuk saat Davina membahas masa lalunya.
__ADS_1
"Aku hanya tidak ingin Derry menempel tidak ada hentinya sepertimu," kilah Davina yang kini gemas melihat suaminya. Sedangkan Edrea hanya menyimak dengan tatapan heran. Mengapa Derry mempunyai sifat kasar seperti itu, karena ia melihat kedua orang tuanya terlihat sangat baik dan lembut. Edrea terus berpikiran aneh tentang suaminya.
"Tuan, nyonya, makan malam sudah siap." Tiba-tiba saja Aliya datang untuk menjemput majikannya makan malam.
"Aliya, di mana Derry? Dia sejak tadi belum kelihatan lagi."
"Tadi saya lihat tuan muda ke belakang, nyonya. Saya akan panggilkan dulu," ucap Aliya yang segera dijawab sebuah anggukan oleh Davina.
"Sayang, ayo kita makan malam bersama. Derry pasti akan segera menyusul ke meja makan," ajak Davina pada sang menantu.
'Derry, sebenarnya apa yang terjadi. Aku takut berada di sini.' Edrea membatin sambil terus mengikuti arah kedua mertuanya.
__ADS_1