
Selamat membaca ...
...****************...
Warning 21+!!!
Edrea semakin ketakutan saat memegang kepala ular milik suaminya yang sangat besar, tegak dan berurat. Wanita itu berusaha menarik tangannya menjauh dari sana, tapi Derry semakin memperdalam lummatan bibirnya dan mengeksplor setiap inci bagian mulut sang istri.
“Akhh!” dessah Edrea saat Derry sudah menelusuri leher jenjangnya dan berakhir di puncak bukit himalaya.
Pria itu mengulum Chococip yang ada di ujung bukit itu dengan gemas. Lidah Derry terus bergoyang di bagian daging berwarna cokelat itu dengan sangat lincah. Bahkan seperti ingin melongsorkan bukit yang tak kunjung runtuh.
Hanya kekenyalan dan kenikmatan saat ia mulai menghisapnya bagai bayi yang sedang kehausan. Sedangkan Edrea, wanita itu hanya bisa memejamkan matanya seraya menahan kepala Derry agar tidak terlalu kencang menghisapnya.
“Derry, hentikan. Aku mohon hentikan, aku kedinginan,” ucap Edrea dengan lirih, berharap pria itu memiliki hati dan tidak memaksanya di dalam kamar mandi.
“Baiklah, kita pindah saja,” celetuk Derry seraya menggendong Edrea, hingga wanita itu menjerit karena kaget. Edrea membeku, saat kepala ular di bawah sana menyentuh pinggangnya.
“Apa yang akan kau lakukan?” tanya Edrea dengan tatapan ketakutan.
“Tentu saja ke kamar kita.” Tanpa rasa malu sedikit pun, pria itu langsung keluar dari dalam kamar mandi tanpa sehelai benang yang menutupi tubuhnya.
Dengan langkah cepat, karena gairrah yang sudah membara, akhirnya Derry membawa Edrea ke atas tempar tidur mereka. Derry membaringkan Edrea yang sudah polos dan menampilkan seluruh tubuhnya yang begitu indah dan menggoda.
Namun, tiba-tiba saja wanita itu bangkit dan hendak melarikan diri dari kungkungan Derry. Edrea tidak ingin melakukan hubungan int*m lagi bersama Derry. Pria itu sangat menyeramkan di matanya, dan tidak akan pernah berubah.
__ADS_1
Bugh!
Edrea menendang suaminya saat pria itu ingin menarik kakinya. Edrea segera turun dari atas termpat tidur tersebut dan memecahkan satu gelas yang ada di atas nakas, untuk mengancam suaminya.
“Jangan mendekat! Atau aku akan melukai diriku sendiri.” Edrea berjalan mundur dengan tubuh polosnya. Derry hanya berdecih sambil tersenyum smirk saat melihat tingkah istrinya.
“Sayang, apa yang ingin kau lakukan? Kemari lah, jangan melakukan tindakan konyol untuk melawan ku.” Derry terus mendekati Edrea yang masih ketakutan.
“Lepaskan aku, aku mohon. Aku juga punya kehidupan di luar sana. Aku ingin keluar dari tempat terkutuk ini. Aku ingin bebas dari jeratan mu yang sangat gila!” Edrea menangis merasa frustasi dengan apa yang telah ia lalui selama ini.
“Edrea, aku sudah berusaha bersikap lembut padamu, tapi sepertinya kau jauh lebih menyukai kekerasan. Sekarang kau harus tahu, jika hidupmu sudah ditakdirkan untuk bersama ku. Aku lah kehidupan mu di masa kini dan masa depan. Jangan harap untuk keluar dari sini dan lepas dari sisiku. Kau hanya bisa menjadi milikku!” ucap Derry mendesis seraya menatap Edrea dan menampilkan tatapan tajam ke arah wanita yang sudah meringsut di pojokan kamar.
“Tidak! Kau bukan kehidupan ku! Kau memaksa ku di sini, dan menyakiti ku seolah kau tidak punya hati. Sebenarnya apa tujuan mu? Apa kau sadar, jika kau sudah gila! Kau hanya terobsesi padaku!” Edrea menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan lelehan bening yang terus mengalir di pipinya.
Derry mengambil kesempatan untuk merebut pecahan gelas yang ada di tangan Edrea, saat wanita itu tengah lengah, dan langsung membuangnya ke pojok lemari. Tak ingin menunda waktu lebih lama lagi, akhirnya Derry menarik tangan wanita itu hingga mendarat di dada bidangnya.
“Eum!” Derry langsung melummat bibir Edrea dengan sangat rakus, dan tidak akan memberikan kesempatan pada wanita itu untuk kabur lagi. Edrea terus memberontak saat ia sudah terbaring dalam kungkungan Derry di atas tubuhnya, tanpa melepas pangutan bibir yang sejak tadi terus bertaut.
“Ahhhsss! Derry hentikan!” ucap Edrea dengan lirih disela dessahannya, saat Derry kembali menikmati dua bukit himalayanya dengan tangan yang sudah mengobrak-abrik goa miliknya hingga berkedut hebat.
“Nikmati saja, sayang. Aku akan memuaskan mu hingga kau tak mampu lagi untuk berdiri.” Derry tersenyum puas saat tubuh Edrea merespon setiap sentuhan yang ia berikan untuk sang istri. Bahkan, kini sebuah senyum kemenangan sudah terbit dari bibirnya.
“Aahsss! Stop it!” racau Edrea saat tangan Derry mulai bergerak cepat untuk mengguncang danau rimbun yang dalam, sedalam palung mariana.
“Ahhhs!” Edrea mulai merasa ada yang berkedut dan banjir di area goa miliknya. Derry pun tersenyum penuh kemenangan, saat Edrea sudah mencapai titik puncaknya yang pertama.
__ADS_1
Dengan cepat, akhirnya Derry mulai memusatkan kepala ular cobra bermata satu itu ke dalam goa Edrea. Derry mulai memasukkan dan mendorong secara perlahan hingga masuk dengan sempurna, memenuhi pintu goa tersebut.
Edrea mendessah berat, saat Derry mulai mengayunkan pinggulnya dengan sangat intens. Merasa Edrea sudah lebih menikmati permainannya, Derry pun mempercepat gerakannya. Hentakan yang kasar dan intens itu membuat Edrea semakin mendessah, meringis, dan merintih dengan hebat.
“Yeah babe ... ahhss! Keluarkan suara indah mu,” racau Derry dengan senyuman nakalnya.
“Ahss! Derry ....” Edrea merasa kwalahan dengan permainan Derry yang sangat buas bagai singa yang sedang kelaparan, hingga ia mencengkram sprei dengan sangat kuat untuk mengalihkan rasa sakitnya.
Hingga satu jam lamanya permainan mereka, akhirnya Derry hampir sampai pada titik puncak kenikmatannya.
“Kita keluarkan bersama, sayang. Ahhss!” Derry akhirnya mengeluarkan bibit kecebong miliknya di dalam sana, bersamaan dengan milik sang istri.
Derry tidak langsung mencabut ular miliknya untuk menahan lahar hangat itu agar tidak berceceran keluar. Wajahnya yang menelusup diantara dua bukit himalaya itu pun tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, untuk kembali menghisap chococip yang sangat nikmat di sana. Bagai bayi yang kehausan karena lelah, itulah Derry sekarang.
“Lepaskan milik mu!” titah Edrea seraya mengangkat kepala Derry, hingga mulutnya lepas dari chococip milik Edrea. Derry tidak peduli dan langsung menghisap chococip itu kembali tanpa rasa bersalah.
Edrea sangat lelah, hingga tubuhnya terasa lengket. Namun, pria itu tidak menggubris segala ucapannya. Derry masih betah memainkan bukit himalayanya dengan berbagai cara, dimulai dari menghisap, meremmas, dan juga memillin yang ada di sana.
“Aku ingin lagi,” pinta Derry dengan santai, seraya bangkit. Edrea membulatkan matanya dengan sempurna, saat mendengar ucapan Derry.
Gila!
...****************...
Hareudang ... padahal di sini lagi hujan.
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya ...