
Selamat membaca ...
...****************...
Setelah menghubungi sang Daddy, akhirnya Derry kembali mencari nomor seseorang yang selalu mengikutinya, Grover. Sebelum pergi ke tempat tujuan, ia harus segera menyiapkan segala keperluan yang sangat penting.
“Halo Bos, saya sudah ada di depan ruangan sambil membawa keperluan anda. Jack sudah memberitahukan hal itu terlebih dahulu pada saya,” ucap Grover menyampaikan informasi.
“Baiklah, tiga jam lagi kita akan berangkat. Jam sebelas malam, segera bersiap,” ucap Derry memberi instruksi.
“Lalu, bagaimana dengan nona Edrea, jika kita pergi?” tanya Grover dengan penuh rasa cemas. Pria itu tidak bisa membayangkan jika wanita itu kabur lagi, atau yang lebih parah, tidak bisa ditemukan.
“Paman Galen akan mengurusnya,” jawab Derry dengan tegas.
“Baiklah kalau begitu.”
“Sebaiknya kau juga beristirahat dulu sebelum berangkat.”
__ADS_1
“Baik bos, terima kasih.”
Derry menghela napasnya panjang setelah mengakhiri sambungan telepon dengan Grover. ia kembali melihat wajah sang istri yang masih terlelap. Derry masih diam sambil menatap wajah lelah itu tanpa berkedip sedikit pun.
Waktu sudah berlalu dengan cepat, hingga kini waktunya untuk Derry berangkat ke luar kota sesuai dengan waktu yang sudah dia tentukan. Pria itu tidak tidur sama sekali, pada saat menjaga sang istri, yang masih tak sadarkan diri. Ia takut Edrea sadar tanpa melihat wajahnya terlebih dahulu.
“Bos, saya akan menunggu anda di depan,” ucap Grover saat menemui Derry dalam ruangan Edrea.
“Hm, tunggu ak sepuluh menit lagi,” kata Derry dengan tegas. Grover pun akhirnya pergi meninggalkan Derry di dalam ruangan tersebt.
“Eunghh!” suara lenguhan sang istri terdengar saat Derry hendak mencium kening lembut milik istrinya.
“Lep-as,” ucap Edrea dengan lirih, seraya berusaha mendorong tubuh kekar milik Derry. Pria itu tak bergeming dan terus mendaratkan bibir seksi itu di kulit sang istri.
“Aku sangat yakin jika kau tidak ingin aku tinggalkan, hingga sadar sebelum aku pergi. Aku sangat senang, karena pada saat matamu terbuka, aku lah yang pertama kau lihat,” celetuk Derry sambil tersenym senang.
“A-apa maksud mu. Apa kau akan pergi?” tanya Edrea setelah mendengar kalimat ambigu yang keluar dari mulut suaminya. Ia bersorak dalam hati, jika itu memang benar.
__ADS_1
“Benar, aku akan pergi,” jawab Derry sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat. Edrea senang bukan main, hingga membulatkan matanya dengan sempurna, dan dipenuhi lelehan bening, karena merasa terharu.
“Terima kasih, kau sudah mau melepaskan aku Derry. Aku sangat senang mendengarnya. Lalu, kapan aku bisa pulang ke rumah ku?” tanya Edrea dengan sangat antusias.
“Siapa yang mengatakan aku akan melepaskan mu hm?” tanya Derry dengan sorot mata yang tajam. Edrea kembali tertegun dengan apa yang ia dengar saat ini.
“A-apa--?”
“Aku hanya akan pergi karena ada satu urusan, dan kau akan tetap di sini bersama orang yang menjagamu,” sela Derry dengan tegas.
Melihat sang istri hanya diam tak bersuara setelah mendengar jawaban darinya, ia pun segera melummat bibir indah yang sejak tadi menggodanya itu. Derry semakin memperdalam ciumannya dan mengeksplor setiap sudut mulut wanita itu, meskipun Edrea sudah memberontak sekuat tenaga, tapi tetap saja tenaganya tidak cukup kuat dari Derry.
Ceklek!
Tiba-tiba saja terdengar suara derit pintu terbuka dari arah belakang Derry, hingga membuat ciuman panas tersebut langsung terhenti dan langsung menoleh ke arah sumber suara.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya