
Edrea duduk di meja makan bersama Davina dan Deva, meskipun hatinya masih penuh kekhawatiran tentang Derry. Ia mencoba tersenyum dan berbicara dengan tenang untuk tidak menimbulkan kecurigaan pada mertuanya.
"Saya sangat menghargai jamuan makan malam ini, Mommy dan Daddy. Rasanya seperti saya benar-benar menjadi bagian dari keluarga Anda," ucap Edrea dengan sopan.
Davina tersenyum tulus. "Kami senang memiliki Anda di sini, sayang. Kami berharap Derry dan Anda bahagia bersama."
Namun, atmosfer di sekitar meja makan terasa tegang, dan kekhawatiran Edrea semakin mendalam ketika Derry belum juga muncul. Aliya, sang pelayan, mencoba mencari tahu keberadaan Derry.
Setelah beberapa saat yang panjang, Derry akhirnya muncul. Wajahnya terlihat pucat dan mata gelapnya tampak letih. Edrea merasa lega melihatnya, tetapi juga khawatir tentang apa yang mungkin telah terjadi.
"Derry, kamu baik-baik saja?" tanya Edrea dengan nada khawatir begitu Derry duduk di sampingnya.
Derry menatap Edrea, dan matanya penuh dengan penyesalan. "Aku baik-baik saja, sayang. Maafkan aku atas keterlambatan ini," jawabnya pelan.
__ADS_1
Davina mencoba memecahkan ketegangan dengan tersenyum. "Tidak apa-apa, yang penting kita bisa makan malam bersama. Mari kita mulai makan."
Namun, Edrea tetap merasa ada sesuatu yang disembunyikan Derry. Ia bertekad untuk mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena kini ia semakin merasa bahwa ada rahasia kelam di balik keluarga Derry yang harus diungkap.
Edrea mencoba menenangkan dirinya saat mereka makan malam, tetapi kekhawatiran tentang Derry tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya. Ia merasa perlu untuk membicarakan hal ini dengan Derry setelah makan malam.
Setelah makanan selesai, Edrea mengajak Derry untuk berbicara secara pribadi. "Derry, apakah kamu yakin semuanya baik-baik saja?" tanyanya dengan lembut.
Derry merenung sejenak sebelum akhirnya mengakui, "Sebenarnya, ada masalah yang sedang aku hadapi, Edrea. Aku akan menjelaskannya padamu, tapi aku minta kamu untuk tetap tenang."
Derry dan Edrea beranjak dari meja makan, menuju tempat yang lebih tenang untuk berbicara. Derry mulai menceritakan masalah yang telah dihadapinya dan rahasia keluarganya yang tersembunyi selama ini.
Edrea mendengarkan dengan penuh perhatian, mencoba memahami situasi yang dihadapi oleh Derry. Meskipun rahasia ini bisa menjadi beban berat, ia merasa bahwa kejujuran adalah langkah pertama untuk mengatasi masalah ini bersama.
__ADS_1
Setelah makan malam, Derry mengajak Edrea untuk beristirahat di kamar, tapi Deva justru ingin mengobrol dengan Edrea sebagai menantu. Deva ingin memastikan kebahagiaan wanita itu bersama putranya.
Deva menyadari pentingnya memastikan kebahagiaan Edrea bersama putranya, Derry. Dengan penuh hormat, ia mengajak Edrea untuk duduk bersamanya di ruang tamu, ingin mendengar pendapat dan perasaan wanita yang menjadi bagian dari keluarganya ini.
"Edrea," kata Deva dengan lembut, "saya ingin tahu bagaimana perasaanmu tentang hubunganmu dengan Derry. Apakah kalian berdua bahagia bersama?"
Edrea merasa dihargai atas kepedulian Deva dan menjawab dengan tulus, "Saya sangat mencintai Derry, dan saya ingin membuat hubungan kami bahagia. Kami punya masa-masa sulit, tetapi kami akan mengatasi semuanya bersama."
Deva tersenyum dan merasa lega mendengar jawaban positif Edrea. "Itu sangat baik, Edrea. Kami ingin melihat kalian berdua bahagia. Jika ada masalah atau dukungan apa pun yang kalian butuhkan, kami di sini untuk mendukungmu."
Mereka berdua melanjutkan percakapan yang tulus, membuka saluran komunikasi yang baik antara Edrea dan keluarga Derry. Ini adalah langkah positif dalam membangun hubungan yang kuat dan bahagia di masa depan.
Meskipun tanpa mereka sadari, Edrea justru sangat tersiksa dengan pernikahan yang ia jalani. Pria yang menjadi suaminya adalah pria yang sangat ia benci. Setelah itu, Derry pun mengajak sang istri ke kamar.
__ADS_1
"Kau sangat pandai mendukung keadaan. Aku tau kau juga sangat mencintaiku, bukan?" tanya Derry sambil terus menyusuri leher jenjang Edrea dengan lidahnya.