
Selamat membaca ...
...****************...
Ketiga adiknya hanya diam seraya mengendikkan bahunya, tanda tidak tahu ke mana sang ibu pergi. Tak kunjung mendapatkan jawaban, akhirnya Derry melangkahkan kakinya menuju dapur. Namun, langkah kakinya terhenti saat melihat kepala pelayannya sedang menyuapi sosok pria dewasa di meja dapur, Grover.
“Ah! Bibi, maaf. Aku sudah mengganggu kalian berdua, aku hanya ingin mencari Mommy. Aku akan kembali keluar,” ucap Derry tersenyum kikuk dan hendak membalikkan tubuhnya.
“Kemari lah! Apa ka tidak merindukan bibi mu ini?” tanya Aliya tersenyum hangat, saat melihat kedatangan Derry. Pria tampan dan gagah yang ia asuh sejak kecil. Perasaannya kembali hangat saat mengingat masa-masa itu.
Derry akhirnya patuh dan menghampiri Aliya yang sedang menyuapi Grover. Ia tahu, jika Aliya memang selalu melakukan itu pada putra semata wayangnya. Sedangkan Grover, pria itu hanya diam dan patuh pada sang ibu. Meskipun wajahnya selalu datar seperti Galen. Ingin rasanya Derry tertawa saat melihat pemandangan yang ada di hadapannya saat ini.
“Aku juga sangat merindukan bibi, tapi sepertinya ada seseorang yang jauh lebih merindukan mu. Aku akan menemui Mommy dulu, permisi,” ucap Derry seraya bangkit dari duduknya.
***
Setelah keluar dari dapur, akhirnya Derry memutuskan untuk menemui sang ibu di kamarnya. Derry mengetuk pintu kamar Davina dengan perlahan. Beberapa kali ia mengetuk pintu itu, tapi tak kunjung ada jawaban dari sang empunya.
Tok! Tok! Tok!
Derry mengetuk pintu kamar itu untuk ke sekian kalinya, hingga akhirnya terdengar suara derit pintu. Tanda sang ibu sudah membukanya. Terlihat sosok wanita cantik diusianya yang sudah tak muda lagi.
“Mommy!” seru Derry yang langsung menghambur ke dalam pelukan Davina. Suara serak Derry membuat Davina sadar, jika putranya tengah menahan tangis.
Sama halnya dengan sang ibu, kini mata Davina pun sudah memerah dan cairan bening sudah menggenang di pelupuk matanya. Tangannya terulur untuk membalas pelukan sang putra, hingga tanpa sadar tangisnya pun pecah. Mereka saling melepas rindu yang selama ini tak dapat mereka ungkapkan dengan apapun.
__ADS_1
“Sudah, nak. Ada apa kau datang ke sini?” tanya Davina dengan suara serak seraya menghapus lelehan bening yang sudah membasahi pipinya.
“Mommy, apa yang Mommy katakan? Aku sangat merindukan mu. Apa Daddy bersikap baik pada Mommy?” tanya Derry dengan begitu santainya. Davina hanya mendengus saat mendengar pertanyaan yang terlontar dari mulut putranya.
“Daddy mu selalu baik. Justru kau yang ingin jadi anak durhaka! Kau menikah tapi tidak memberikan kabar pada keluarga mu sendiri. Bahkan, kau tidak memberitahu ku masalah ini. Kenapa? Kenapa kau menyembunyikan pernikahan mu? Kenapa! Apa kau sudah tidak menganggap ku sebagai Mommy mu lagi, Hah!” bentak Davina seraya memukul putranya bertubi-tubi.
Derry hanya meringis, saat mendapatkan serangan dari sang ibu. Ia tidak pernah membayangkan, jika wanita yang Selalu bersikap lembut itu berubah jadi wanita garang. Derry pun mencoba menghindari pukulan yang dilayangkan oleh Davina pada dirinya.
“Mommy, aku bisa menjelaskan semuanya. Aku tahu, aku salah, tapi aku mohon dengarkan penjelasan ku dulu. Aku punya alasan mengapa melakukan ini,” ucap Derry disela ringisannya. Setelah Davina puas memukul Derry, akhirnya wanita itu berhenti seraya membuang napas dalam-dalam.
Derry kembali menelan salivanya dengan kasar, saat melihat tatapan tajam dari sang ibu. Dengan segera, akhirnya Derry membawa Davina untuk duduk di sofa yang ada di dalam kamar tersebut. Derry berusaha untuk menenangkan ibunya yang tengah marah.
“Cepat katakan alasan mu dengan logis, karena Mommy tidak ingin membuang banyak waktu untuk seorang pembohong,” ucap Davina seraya melirik sinis ke arah Derry. Derry semakin takut, apakah Mommy sudah tahu yang sebenarnya, begitu pikir Derry.
“Mom, aku ke sini untuk memberitahu tentang pernikahan ku, meskipun ini telat. Aku menikahinya karena dia adalah orang menolong ku saat kecelakaan satu bulan yang lalu. Aku tidak ingin dia terkena masalah, jika pernikahan kami di publikasikan. Mommy tahu, aku adalah pemimpin pengganti Daddy,” ucap Derry dengan panjang lebar. Berharap sang ibu percaya dengan semua ucapannya.
“Tentu saja aku tahu. Bagaimana mungkin aku menikahi wanita, tanpa menyelidiki latar belakangnya terlebih dahulu Mom. Aku adalah pria tampan dan kaya, yang digilai banyak wanita. Jadi, aku harus lebih berhati-hati. Aku juga takut ada musuh yang menyelinap,” jawab Derry dengan tegas, yang mana hal itu membuat Davina manggut-manggut tanda percaya, dengan apa yang dikatakan oleh putranya.
“Apa kalian saling mencintai?” tanya Davina sambil menatap mata putranya dengan sangat lekat. Derry terdiam untuk beberapa saat, sebelum akhirnya pria itu menjawab pertanyaan sulit dari sang ibu.
“Tentu saja Mom, kami saling mencintai. Mommy tenang saja, aku tidak akan melakukan hal gila di luar sana.” Jawab Derry seraya tersenyum, menampilkan deretan giginya yang rapih.
“Bagaimana dengan orang tuanya?” tanya Davina lagi.
“Dia tidak punya orang tua lagi,” jawab Derry dengan cepat.
__ADS_1
“Lalu, kapan kau akan merayakan resepsi pernikahan sekaligus mengenalkan menantuku?” tanya Davina yang membuat Derry terdiam, seraya memikirkan cara agar ibunya tidak banyak bertanya lagi.
“Untuk resepsi, kami belum memikirkannya Mom, tapi secepatnya, aku akan membawa Edrea ke rumah ini,” jawab Derry dengan sangat percaya diri.
“Namanya Edrea?” tanya Davina dengan mata yang berbinar, saat mendengar nama menantunya. Ia sangat senang, akhirny Derry bisa menikah dengan normal layaknya seorang manusia. Tidak seperti dirinya dan Deva. Ah! Jika mengingat masa lalu, matanya kembali berkaca-kaca.
“Iya, Mom. Dia sangat cantik seperti Mommy,” jawab Derry sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.
“Siapa yang sudah memuji wanita ku?’ tanya suara bariton dari arah pintu. Seketika Derry maupun Davina menoleh ke arah sumber suara.
“Dev, jangan mulai lagi.” Davina menggelengkan kepalanya, sambil menatap sang suami di ambang pintu dengan tatapan tak habis pikirnya.
“Apa anak ini sudah membuat mu menangis, hm?” tanya Deva yang tidak menghiraukan pertanyaan Davina, dan malah mengelus wajah istrinya. Derry menatap geli pada dua orang yang masih kasmaran di usianya yang sudah tak muda lagi.
“Hentikan Dev, anak kita masih ada di sini,” ucap Davina seraya mencoba menghentikan sentuhan Deva di wajahnya.
“Memangnya kenapa?” tanya Deva seraya melirik sinis ke arah sang putra.
“Mom, sepertinya aku harus segera kembali. Aku takut Edrea merindukan ku. Secepatnya aku akan membawa istriku ke rumah ini,” ucap Derry bangkit dan segera meninggalkan kedua orang tuanya, yang malah asik bermesraan.
Jujur saja ia juga ingin melakukan itu bersama istrinya, tapi ia kembali sadar, jika wanita itu belum bisa menerimanya sebagai seorang suami. Entah kenapa ular Cobra bermata satu miliknya langsung bangkit saat otaknya memikirkan sang istri.
“Apa kau sudah merindukan rumah mu,” gumam Derry seraya menatap ular Cobra yang masih terbungkus rapi dalam celananya. Derry pun segera memanggil Grover untuk segera kembali ke rumah sakit, menjenguk sang istri.
“Sayang, apa nama menantu kita itu Edrea?” tanya Deva yang ternyata juga penasaran. Deva sangat bahagia, karena telah punya menantu. Davina mengangguk tak kalah bahagianya.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya