
Selamat membaca ...
...****************...
Di jalan sudah ada Grover dan para anak buahnya yang sedang bertugas. Keadaan jalan cukup terang karena adanya cahaya dari lampu mobil. Di sana, Grover sudah bersiap membukakan pintu untuk sang bos. Pria itu cukup terkejut saat melihat sosok wanita yang ada dalam gendongan Derry sudah tak sadarkan diri, dengan darah yang terus mengalir dari kedua kakinya.
Grover terkejut karena wanita itu adalah istri yang diingkan oleh bosnya, tapi kenapa pria itu begitu tega pada istrinya. Ingin rasanya ia bertanya pada Derry, tapi ia tidak punya hak sedikit pun dalam masalah tersebut.
“Silakan Bos,” ucap Grover sambil menundukkan kepalanya sopan.
“Kita kembali ke rumah sakit.” Derry menatap wajah pucat milik sang istri saat sudah berada di dalam mobil.
“Baik Bos.”
***
Brak!
Terdengar suara tendangan meja di sebuah ran6gan yang begitu gelap.
Arrggghhh!
Seseorang berteriak tak karuan seraya meraung tidak jelas.
“Tuan, hentikan! Anda tidak bisa seperti ini terus. Anda harus bangkit lagi. Saya yakin, jika anda mampu melakukannya!” teriak seseorang di luar pintu ruangan tersebut.
“Pergi! Aku bilang pergi sekarang juga!” balas seseorang dari dalam ruangan gelap, seperti tidak ada penghuninya.
“Baiklah, tapi saya pasti akan datang kembali, dan memastikan keadaan anda untuk ke depannya. Saya pergi.”
“Arrghhh! Kenapa? Kenapa semua ini terjadi padaku? Kenapa!”
“Apa kau tahu? Aku akan mati jika tanpa kamu di sisiku.”
__ADS_1
***
“Dok, bagaimana dengan istriku?” tanya Derry pada sosok wanita yang memakai Jas putih khas profesinya.
“Luka di kedua kaki istri anda sudah kami tangani. Tinggal masa pemulihan, dan tunggu satu sampai dua Minggu. Namun, sepertinya istri anda mengalami pendarahan lagi. Sebaiknya anda jaga baik-baik, dan jangan melakukan hal yang bisa saja membuat anda menyesal di kemudian hari,” ucap sang dokter seraya menghela napasnya panjang.
Ia tidak habis pikir pada pasiennya, yang ia rawat tadi pagi. Wanita yang dibawa ke rumah sakit karena kekerasan dalam seksual, sekarang datang lagi dengan luka di kedua kakinya.
“Apa maksud mu?” tanya Derry dengan penuh selidik. Tak lupa juga tatapan mengintimidasi yang ia layangkan, hingga sang dokter menjadi sangat gugup.
“Istri anda bisa saja mengalami masalah pada rahimnya, jika anda sendiri tidak berhati-hati. Maka dari itu, saya peringatkan anda mulai sekarang. Kalau begitu, saya permisi,” jawab sang dokter dengan tegas, lalu bergegas pergi dari hadapan Derry yang masih mematung di depan ruangan sang istri.
“Grov, apa ini benar-benar akan terjadi pada istriku?” tanya Derry yang malah lebih percaya ucapan sang asisten.
“Ini benar Bos, sesuai dengan ucapan dokter tadi, anda harus lebih hati-hati lagi terhadap kesehatan nyonya,” jawab Grover dengan tegas. Ia tahu atasannya itu sangat keras kepala.
“Kau tunggu saja di sini. Aku akan menjenguk istriku ke dalam.” Setelah mengatakan hal itu, Derry langsung memasuki ruangan dengan nuansa putih tersebut.
Derry melihat istrinya tengah terbaring lemah di atas kasur. Ia melihat dengan intens wajah pucat itu. Wajah wanita yang sangat ia dambakan. Entah itu cinta atau bukan, sampai kapan pun, ia akan selalu bersama wanita itu.
“Aku egois? Ya! Kau benar, aku sangat egois dan tidak berperasaan. Aku sampai bisa mendengar keluhan dalam ketidak sadaran mu. Kau tahu apa penyebabnya? Itu karena kau sudah menyatu dalam jiwa dan ragaku. Kau segalanya bagiku.” Derry terus meracau tidak jelas, sambil menciumi tangan mungil milik Edrea.
Namun, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh suara dering ponsel yang ada dalam saku celananya. Derry mendengus dengan kesal, saat melihat anak buahnya yang memanggil. Ia punya firasat buruk mengenai penyelendupan senjata yang ia dapatkan dari klan Dragon Black.
“Cepat katakan!” ucap Derry dengan nada perintah.
“Bos, Tuan Lucas sudah menemukan keberadaan senjata yang kita selundupkan. Mata-mata kita mengabarkan, jika tuan Lucas akan datang ke sini pada waktu dini hari.”
Derry menggeram saat mendengar laporan dari orang kepercayaannya. “Aku akan segera ke sana, dan kau perketat keamanan sebelum aku datang.”
Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Derry memutuskan sambungan teleponnya secara sepihak. Ia melirik ke arah wanita yang masih tak sadarkan diri itu. Seketika Derry menghela napasnya dengan panjang. Bagaimana mungkin ia bisa meninggalkan wanita lemah itu sendirian di rumah sakit ini. Ada sebuah keraguan dalam hatinya, tapi ia juga tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya sebagai seorang pemimpin.
Beberapa saat kemudian, ia kembali meluncurkan jari jemarinya di atas layar benda pipih yang ia pegang, untuk menghubungi seseorang yang sangat ia benci saat ini. Mau tidak mau, ia harus melakukan ini demi kebaikan sang istri.
__ADS_1
“Halo Son, apa kau mulai merindukan Daddy? Ah! Ya ini sudah sangat jelas. Bagaimana bisa putraku yang benci Daddy, malah bisa menghubungi ku saat ini,” ucap seseorang di sebrang sana dengan penuh percaya diri. Sedangkan, Derry hanya mendengus kesal saat mendegar ucapan sang Daddy yang terdengar seperti sebuah cibiran di telinganya.
“Aku tidak ingin bercanda dengan mu. Aku ingin minta tolong,” ucap Derry dengan dingin, dan langsung pada intinya.
“Oh! Son, kau semakin membuat Daddy merasa sangat bangga padamu. Kau sudah membuktikan, jika kau murni putraku,” ucap Deva tanpa mempedulikan ucapan sang putra, yang sudah siap untuk menyemburkan api amarahnya.
“Apa kau mencurigai dia bukan anak mu, hah! Apa selama ini aku hamil dengan iblis!” terdengar suara wanita yang sangat Derry kenal, yaitu Davina. Seketika Derry mengulum senyumnya, saat mendengar kemarahan sang ibu.
“Ti-tidak sayang. Aku hanya bercanda saja dengan putra kita. Kau jangan marah ya, nanti malam aku pijit,” Bujuk Deva dengan memelas, tanpa sadar masih bisa didengar oleh Derry.
‘Hais, kenapa orang tuaku terdengar sangat menggelikan. Tidak seharusnya aku mendengar hal ini,’ gerutu Derry dalam hati.
“Dad.” Hening, Deva yang sedang membujuk Davina akhirnya kembali fokus pada sang putra.
“Bantuan apa?” tanya Deva berubah dengan nada dingin.
“Tolong jagakan Edrea, tanpa pengetahuan siapa pun. Ada hal yang ingin aku urus,” ucap Derry jujur.
“Termasuk dia?” tanya Deva hanya untuk memastikan.
“Ya! terutama Mommy dan Edrea. Aku akan pergi ke luar kota, dan akan cukup lama. Aku harap Daddy mau menjaganya untukku.”
“Apa masalahnya sebesar itu?”
“Sangat besar. Aku akan memaafkan Daddy atas apa yang Daddy lakukan di masa lalu, jika mampu menjagakan istriku, hingga aku kembali.”
“Baiklah. Jaga dirimu baik-baik. Daddy akan menjaganya tanpa harus dengan syarat yang kau ajukan itu. Asal kau tahu Son, aku sangat mencintai mu melebihi apapun. Kau adalah detak jantung saat aku mulai sekarat. Kau harus mengingat hal ini sepanjang hidup mu.”
“Aku menyayangi mu Dadd.”
“Aku tidak menerimanya saat ini, karena aku ingin kau mengatakannya secara langsung padaku. Jadi, aku mohon, kembalilah dengan selamat, demi aku, Mommy mu, adik-adikmu, dan juga menantu ku. Daddy akan meminta paman Galen mengatur strategi yang bagus untuk menjaga istrimu.”
“Terima kasih Dadd, sampai jumpa.” Akhirnya panggilan pun terputus.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya