
Selamat membaca ...
...****************...
Edrea semakin meringsut di balik pohon dalam kegelapan. Wanita itu menyembunyikan wajahnya dengan lutut yang ditekuk. Hawa panas mulai menyeruak dalam dirinya. Bahkan, ia seperti sesak seakan berebut oksigen dengan banyak makhluk lain, saat mendengar suara yang sudah ada di dekatnya.
“Apa kau sudah puas bermain-mainnya, sayang?” bisik seseorang tepat di belakang tubuh Edrea.
Deg!
Jantung Edrea berdegup dengan kencang, seakan ingin keluar dari tempatnya. Matanya membulat sambil membekap mulutnya yang menganga, dengan gelengan tak percaya. Air matanya mengalir tanpa aba-aba, saat mendengar suara yang tak asing di telinganya beberapa waktu ini.
Edrea masih tak percaya hingga akhirnya ia ingin memastikannya, dengan menoleh ke arah sumber suara. Lagi dan lagi, semuanya bukan hanya halusinasinya semata. Ia membeku, seolah waktu terhenti seketika, saat pria yang ada di hadapannya itu tengah menatap dengan tatapan yang tak dapat diartikan. Ia masih bisa melihat sebuah senyuman devil, yang terukir dari bibir pria itu dalam cahaya temaram bulan.
“Ka-kau ....” Edrea takut setengah mati, seraya merangkak ke arah belakang bertumpu dengan kedua tangannya.
“Apa kau merasa takut? Kenapa kau ketakutan seperti itu, hm?”
“Bukankah sekarang sudah tidak ada gunanya, jika kau takut padaku?” sambung Derry yang terus mendekati Edrea.
“Derry, tolong lepaskan aku. aku ingin pulang ke rumah. Aku mohon.” Bibirnya bergetar ketakutan, saat melihat pria yang ada di hadapannya mulai mendekat.
“Bukankah kita akan pulang ke rumah, tapi kenapa kau malah berlari ke dalam hutan ini. Apa sekarang kau tinggal di dalam hutan.” Derry berjongkok lalu mengelus pipi Edrea yang sudah basah karena air mata. Pria itu tersenyum smirk, saat merasakan istrinya bergetar ketakutan saat melihat kedatangannya.
“Tidak! itu bukan rumah ku, itu penjara iblis. Aku tidak ingin tinggal bersama mu! Kau sudah gila! Aku mohon, tolong lepaskan aku,” sentak Edrea seraya menepis sentuhan tangan Derry di pipinya.
__ADS_1
“Terima kasih atas pujiannya, sayang. Aku semakin menyukaimu.” Edrea menggeleng tak percaya dengan apa dikatakan oleh pria gila di hadapannya.
Plak!
Satu tamparan keras mendarat sempurna di pipi Derry. Pria itu tak bergeming, hanya mersakan sedikit panas, tapi tak seberapa. Derry mengusap tamparan itu sambil tersenyum devil.
“Aku tidak sudi menikah dengan mu! Aku tidak sudi tinggal dan hidup dengan pria kejam seperti mu. Aku tidak akan pernah mencintaimu! Tidak akan!” sentak Edrea dengan mengumpulkan semua keberaniannya.
“Akhhh!” teriak Edrea, saat tangan kokoh milik Derry mencekik lehernya dengan keras, seolah ingin meremukkan leher kecil itu.
“Jaga ucapan mu Edrea, karena aku tidak akan segan untuk membunuhmu saat ini juga. Mau kau mencintaiku atau tidak, aku tidak akan peduli. Sampai kapan pun, kau hanya akan menjadi milikku,” desis Derry dengan penuh tekanan. Pria itu mencekik Edrea sambil menarik Edrea agar berdiri.
“Lep-pas ... sa-sakit.” Jika saja cahaya bulan sangat terang, sudah dipastikan wajah merah milik Edrea akan terlihat. Wanita itu merasa sesak dan kesulitan untuk bernapas, hingga matanya memerah.
“Apa sekarang kau sudah mulai menyesal hm.” Deryy semakin mengetatkan cekikannya, hingga wanita itu terbatuk-batuk.
Derry mendorong Edrea dengan keras hingga tersungkur ke tanah. Wanita itu meringis kesakitan seraya memegangi lehernya yang terasa sesak. Ia hampir mati di tangan pria kejam yang menjadi suaminya.
Napas Edrea terengah-engah untuk menghirup udara sebanyak-banyaknya, dan berusaha untuk tetap sadar. Dengan tubuhnya yang lemah, ia mulai bangkit seraya melihat ke arah Derry yang masih tak bergeming di tempatnya.
‘Aku ingin melihat seberapa kuat kau akan menentang ku, Edrea. Lari sejauh apapun dirimu, tetap akan jatuh dalam genggaman ku,’ batin Derry tersenyum Devil. Ia memperhatikan istrinya yang lemah sedang berusaha untuk berdiri.
‘Derry, nama mu akan ku ingat dalam memory kebencian ku. Kau tidak pantas untuk mendapatkan maaf dariku, entah itu besok, lusa, atau pun seterusnya. Kau tidak akan pernah bisa mendapatkan apa yang kau inginkan, termasuk cintaku,’ batin Edrea seraya menangis pilu, dengan tatapan yang tak dapat diartikan.
“Jika kau menyesal, maka ikutlah bersamaku. Jika tidak, maka silakan lari, selagi aku masih memberikan mu kesempatan. Jika dalam waktu tertentu kau masih bisa aku lihat, maka kau tidak akan pernah bisa melarikan diri lagi,” ucap Derry dengan nada dingin. Pria itu tak bergeming sedikit pun, tapi tak lama setelahnya menampilkan sebuah senyuman yang sangat mengerikan.
__ADS_1
“Kau akan menyesal karena memberikan ku kesempatan ini. Selamat tinggal ...!” tak ingin membuang banyak waktu, akhirnya Edrea membalikkan tubuhnya untuk berlari. Ia tetap berusaha lari sekencang mungkin, meskipun pada kenyataannya, ia masih tak cukup jauh.
“Tak ku sangka, wanita itu lebih memilih lari dariku dengan keadaan sakit. Maka, aku pun berhak memutuskan untuk mu, bisa lari atau tidak dariku,” gumam Derry seraya mengeluarkan dua senjata api yang selalu ia selipkan di balik jaket hitamnya.
“Edrea ... selamat datang kembali.”
Dor! Dor!
Derry melesatkan bidikannya tepat di kedua kaki milik istrinya yang tengah berlari, hingga wanita itu tersungkur untuk kedua kalinya. Derry tersenyum puas melihat kemampuannya yang sangat hebat.
Arrgghhh!
Suara teriakan Edrea menggema di area hutan tersebut. Kakinya terasa sakit yang tidak terkira. Ia meraung, meringis juga merintih atas apa yang tengah ia alami saat ini. Edrea merasa hidupnya akan segera berakhir, saat kesadarannya mulai menurun.
Namun, sebelum itu terjadi. Terdengar suara seseorang yang terkekeh saat melihat keadaannya. Ia yakin itu adalah suaminya, Derry. Tetapi, ia tidak bisa melihat dengan jelas, karena pandangannya mulai kabur.
Ia berusaha agar tetap sadar, tapi rasa sakit yang menyeruak di kakinya, seolah darahnya dihisap keluar, membuat ia tidak tahan untuk meringis.
“Apa sekarang kau sudah menyesal karena lari dariku, hm?” tanya Derry, seraya mengelus dahi Edrea yang sudah basah karena keringat dingin. Edrea hanya mampu mendengar, tapi sudah tidak mampu mengumpulkan kesadarannya. Wanita hampir hilang kesadaran sepenuhnya.
“Sa-kit ...,” ucap Edrea dengan lirih dan suaranya mulai melemah.
“Kau harus mengingat hal ini, agar kau tidak bisa lari lagi dariku. Bahkan, jika perlu, aku akan membuat kaki mu tidak bisa berjalan selamanya.” Setelah mengatakan hal itu, Derry akhirnya segera menggendong wanita yang sudah sangat lemah itu, dengan luka tembak di kedua kakinya. Darah segar terus mengalir tanpa henti.
Derry pun akhirnya keluar dari dalam hutan tersebut, menuju mobil dan para anak buahnya. Ternyata Derry sudah menyediakan rencana itu, dan menempatkan beberapa bodyguardnya di area jalanan dan ujung hutan, hingga ia tidak akan takut jika istrinya benar-benar lari dari sana. Bisa dikatakan, Derry sengaja ingin bermain-main dengan Edrea dan ingin menembak istrinya, meskipun tidak menggunakan syarat sebelumnya.
__ADS_1
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya