
Selamat membaca ...
...****************...
Satu bulan kemudian ...
Setelah sekian lama di luar kota, akhirnya penantian Derry hampir terwujud. Hari ini Derry sudah bersiap untuk pulang ke apartemennya. Ia sudah sangat merindukan istrinya di sana, hingga bayangan wanita itu terus menari-nari dalam pikirannya.
“Grov, nanti kita mampir dulu membeli sesuatu untuk istriku,” ucap Derry saat dalam perjalanan menuju pulang.
“Baik bos.”
***
Sedangkan Edrea, wanita itu sudah pulang dari rumah sakit sejak dua Minggu yang lalu. Keadaan Edrea sudah membaik dan sehat kembali, karena diberikan penanganan dan perawatan yang baik. Bahkan, sosok pria paruh baya yang menjadi paman Derry pun ikut merawatnya dalam beberapa waktu.
“Juan, apa kamu masih mengingat ku. Apa kau tahu jika aku pergi dengan keadaan seperti ini. Bagaimana dengan dirimu. Aku sangat merindukan mu,” gumam Edrea di dalam kamar. Air matanya tak dapat ia tahan lagi setelah sekian lama, saat ia terus dalam pengawasan paman suaminya.
Edrea berusaha sebisa mungkin agar isak tangisnya tidak terdengar oleh penjaga yang ada di depan kamar. Ia tahu, meskipun suaminya jauh, tapi pria itu selalu mengawasi gerak geriknya selama ini.
“Nona, sekarang waktunya makan siang!” teriak seseorang dari luar, hingga membuyarkan lamunannya. Tak lupa juga ia segera menghapus jejak air mata yang mengalir di pipinya.
“Baiklah, aku akan segera keluar,” balas Edrea seraya bangkit dari tempat tidur berukuran king size tersebut.
Ceklek!
Edrea membuka pintu kamar, dan melihat seorang pria kepercayaan paman Galen masih tak bergeming di depan sana. Edrea menghela napasnya kasar, saat merasa tercekik dengan keadaan ini.
Edrea ingin bebas, dan melakukan aktifitas seperti manusia normal lainnya. Ia tidak ingin hidup dalam sangkar seperti ini. Ia juga punya cafe peninggalan kedua orang tuanya, yang harus ia kelola.
“Apa paman Galen juga datang ke sini?” tanya Edrea saat tidak melihat pria paruh baya yang sangat dingin itu.
Galen memang sering membawa makanan dari Mansion Deva, yang khusus dimasak oleh istrinya, Aliya. Sesuai keinginan Derry, ia tidak memberitahukan hal itu pada Davina.
__ADS_1
“Bos tidak datang hari ini, ada urusan mendesak yang harus ia tangani,” jawab sosok pria dengan raut wajah yang tak kalah dinginnya seperti Galen.
‘Siapa juga yang berharap paman kutub itu datang. Justru aku sangat senang jika dia tidak ingin mengurusku lagi,’ batin Edrea seraya mendengus kesal.
“Baiklah. Apa kau mau ikut makan bersama ku?” tanya Edrea setelah duduk dan siap menyantap makan siangnya.
Glek!
‘Nona tolong jangan menawari saya atau pengawal lainnya. Bisa-bisa kami akan dapat masalah,’ gertu pengawal tersebut.
“Tidak Nona.”
Tak butuh waktu lama, Edrea sudah memakan makanan yang ada di meja hingga ludes. Wanita itu akhirnya memilih diam sambil memakan buah yang sudah tersedia.
“Aku sangat bosan, bisakah kau mengantar ku jalan-jalan?” tanya Edrea penuh harap.
“Tidak Nona. Bos tidak mengizinkan anda untuk pergi ke manapun.”
***
Di sisi lain, seorang pria tengah mengunjungi tempat di mana sang kekasih biasanya berada. Ia tidak sabar ingin menemui wanita itu dan meminta jawaban atas batalnya pernikahan mereka. Bahkan wanita itu sudah mempermalukan keluarga besarnya.
Juan, seorang pengusaha tampan itu datang ke cafe milik Edrea. Berharap wanita itu ada di dalam sana dan mau memberikan penjelasan tentang semua yang telah terjadi. Di sana sudah ada Rico sahabat Edrea, karena tak ingin membuang banyak waktu, akhirny pria itu segera menghampirinya.
“Rico,” ucap Juan seraya menepuk bahu milik Rico. Pria itu terkejut saat melihat pria yang ada di hadapannya.
“Juan, ada apa kau kemari?” tanya Rico dengan penuh selidik.
“Di mana Edrea?” bukannya menjawab, Juan malah balik bertanya dengan tatapan dingin.
Tentu saja hal itu membuat Rico mengernyitkan dahinya tanda tak mengerti. Bukankah pria itu sudah menikah dengan sahabatnya, Edrea? Tapi kenapa sekarang Juan malah datang dan bertanya tentang keberadaan wanita itu.
Rico hanya tahu jika sahabatnya itu menikah dengan pria kaya bernama Juan satu bulan yang lalu. Namun, mengapa suaminya datang seolah tidak tahu apapun. Edrea juga tidak pernah datang ke cafe setelah berita pernikahan itu di gelar. Rico sendiri memang tidak datang dengan alasan sakit. Hatinya!
__ADS_1
“Bukankah kau suaminya? Lalu, kenapa kau malah bertanya padaku,” jawab Rico tak habis pikir.
“Apa kau tidak tahu dengan insiden pernikahan kami?” tanya Juan dengan penuh selidik.
“Tidak, aku tidak datang ke acara pernikahan kalian karena sedang sakit. Sudah satu bulan lamanya Edrea juga tidak pernah datang ke Cafe. Aku kira dia sedang berlibur dengan mu,” jawab Rico dengan tak habis pikir. Tiba-tiba saja ia mempunyai firasat buruk.
“Apa! Dia pergi di hari pernikahan kami. Kami belum menikah. Astaga! Ke mana dia?!” Juan terlihat sangat gusar setelah mengetahui hal ini. Jujur saja awalnya ia punya pikiran buruk mengenai kekasihnya yang berselingkuh di belakang, tapi opini itu hilang seketika.
“Apa! Sekarang kita harus mencarinya, aku takut terjadi sesuatu pada Edrea.” Juan mengernyitkan dahinya saat melihat reaksi Rico yang begitu cemas saat tahu kabar hilangnya Edrea.
“Tunggu! Aku bertanya sesuatu padamu.”
“Apa kau bisa bertanya nanti saja? Edrea hilang dan kita hanya diam saja. Apa kau sudah gila?”
“Rico, apa kau menyukuai Edrea?” Rico mematung saat mendengar pertanyaan yang dilontarkan oleh Juan padanya.
“Bukan urusan mu.” Rico segera menitipkan Cafe tersebut pada karyawan lainnya dan segera bergegas pergi bersama Juan.
Juan merasa bersalah karena setelah kejadian batalnya pernikahan bersama Edrea, ia terus menyalahkan Edrea dan juga dirinya sendiri. Ia berpikir jika Edrea berselingkh dan kabur di hari pernikahan mereka. Lalu, ia juga menyalahkan dirinya sendiri, karena tidak dapat menjaga wanita yang sangat ia cintai itu.
Setelah ini, ia akan menjaga Edrea di sisinya, tapi ke mana sekarang wanita itu. Juan merasa hatinya begitu sakit. Kali ini, bukan karena pernikahannya yang batal, tapi karena hilangnya wanita yang sangat ia cintai.
“Edrea, maafkan aku. Aku yang tidak bisa menjaga mu, dan malah berpikir buruk tentang dirimu,” gumam Juan seraya melajukan kendaraannya menuju tempat-tempat yang pernah ia kunjungi bersama dengan wanita itu.
***
Setelah jam makan malam. Sosok pria gagah tengah berjalan menuju kamar dengan sebuah senyum yang mengembang. Pria itu tak henti-hentinya menarik kedua sudut bibir itu selebar mungkin. Netranya menyapu seisi ruangan yang ia lewati, dan berharap sang istri mau menyambut kedatangannya. Tapi sayang, wanita itu tak ada di manapun. Mungkin saja di dalam kamar, begitu pikirnya.
Ceklek!
...****************...
Jangan lupa tinggalkan jejak ya
__ADS_1