
Selamat membaca ...
...****************...
Derry hanya bisa menghela napasnya kasar saat sang adik datang ke kantor dan membuat istrinya salah paham. Sifat arogan Davira begitu lekat hingga siapa saja yang melihatnya akan segan. Terkecuali Edrea.
Derry semakin tak habis pikir saat mendengar kabar jika adiknya malah mempunyai masalah di kantor pusat. Padahal ia baru saja membanggakan Davira, karena wanita itu sudah lama tidak membuat masalah.
“Derry, aku mau pulang,” pinta Edrea setelah kepergian adik iparnya.
“Apa kau merindukan sentuhan ku. Kita bisa melakukannya di sini sayang,” bisik Derry dengan nada sensual tepat di telinga sang istri.
“Lepas! Kau tidak berhak memperlakukan aku sesuka hatimu, karena kau tidak pantas untuk itu!” bentak Edrea sambil mendorong tubuh tegap milik Derry, meskipun pria itu tidak bergeming sedikit pun.
Derry merasa tersinggung dengan semua ucapan istrinya, dan ia tidak akan pernah membiarkan wanita itu membangkang lagi di kemudian hari. Edrea membulatkan matanya dengan sempurna, tatkala sang suami tengah menatapnya dengan tatapan yang tak dapat diartikan seraya mendekatinya.
“Derry! Hentikan, apa kau sudah gila! Bentak Edrea yang berusaha lari menunju pintu keluar, tapi sayang langkahnya langsung terhenti saat lengan kokoh milik sang suami melingkar dengan sempurna di perutnya.
“Apa kau sedang memuji ku sayang. Apapun yang keluar dari mulutmu seperti madu bagiku,” desis Derry seraya menjilati leher Edrea bagai es krim. Wanita itu menahan dessahannya sekuat mungkin, agar sang suami tidak tergoda dan melakukan hal lebih.
__ADS_1
“Jangan ditahan sayang. Aku tahu kau sangat menyukai ini.” Tanpa menunggu lama lagi, Derry membawa Edrea dalam sebuah ruangan pribadi miliknya.
“Derry! Lepaskan aku!” bentak Edrea, saat mereka sudah berada dalam ruangan yang lebih mirip seperti kamar pribadi.
“Aku semakin menginginkannya, saat mulut kecilmu ini memaki ku. Kau semakin menggoda setelah satu bulan aku pergi. Apa kau sengaja agar aku tidak bisa lepas darimu walau sejengkal pun, hm?” tanya Derry sambil mengusap bibir ranum milik istrinya.
Dengan perlahan pria itu meraih tengkuk sang istri untuk ia ***** bibirnya, meskipun ada pemberontakan yang kuat dari Edrea, tapi ia tidak akan mudah melepaskan wanita yang sudah membuat ia tergila-gila selama ini.
“Derry ... aku mohon lepaskan aku. Setidaknya jangan lakukan itu di sini. Aku mohon,” pinta Edrea memelas. Ia takut untuk berhubungan dengan sang suami, karena ia tahu jika pria itu akan menjadi singa kelaparan saat menyentuh tubuhnya.
Drrtt! Drrrt! Drrrtt!
“Katakan dengan jelas atau aku akan memberimu sebuah peringatan, karena mengganggu ku saat jam kerja,” ucap Derry dengan tegas, tapi tangannya tidak terlepas dari Edrea sedikit pun.
“Apa begitu caramu berbicara pada Mommy, hah! Kau mau jadi anak pembangkang sekarang! Dasar anak kurang aja!” terdengar suara sosok wanita yang tidak asing baginya.
Mommy! Ia tidak melihat nama kontak sebelum menerima panggilan tersebut.
Derry seketika memucat saat mendengar suara sang Mommy yang sedang marah-marah di sebrang telepon sana. Bahkan terdengar suara sang Daddy dengan segala keposesifan nya. Bisa tambah rumit jika Daddy-nya memperhitungkan masalah ini, karena membuat wanita yang sangat dicintainya marah-marah.
__ADS_1
“Son, Daddy tunggu kamu di rumah. Renungkan kesalahan mu karena sudah membuat istriku menangis.” Kini sang Daddy sudah menggertaknya dan langsung memutuskan sambungan telepon secara sepihak.
‘Istriku? Hei Dad, dia juga Mommy ku,’ gerutu Derry dalam hati, tak habis pikir dengan pria tua itu yang masih saja bersikap posesif.
...****************...
Biar seger dikasih yang bening-bening dulu ...
Edrea Chandara
Derry Ghazanvar
__ADS_1