My Obsession Husband

My Obsession Husband
Pulang


__ADS_3

Selamat membaca ...


...****************...


“Apa maksd mu?” tanya Derry dengan tatapan dinginnya.


“Tuan besar tidak bisa mencegah Nyonya, jika ingin datang ke kediaman anda. Maka dari itu, anda harus menemui tuan besar lebih dulu,” jawab Grover dengan tegas. Pria datar itu seperti sang ayah, Galen, dan tegas seperti sang ibu, Aliya.


“Hais! Apa Daddy akan menggunakan ini untuk membujuk ku,” gumam Derry seraya memijat kepalnya yang tak pusing.


“Grov, kita ke rumah utama,” acap Derry, akhirnya mau mendengarkan pendapat dari sang asisten.


Tak ingin membuang banyak waktu lagi. Derry maupun Grover, sedang menuju rumah utama untuk bertemu sang ayah, Deva.


***


Saat ini, seorang pria tengah meringis kesakitan karena terkena luka sayatan di area tertentu. Tak berselang lama, seorang wanita pun datang dengan membawa kotak obat untuk membantu mengobati luka tersebut.


“Apa yang akan kau lakukan?” tanya sosok pria itu sambil menatap tajam ke arah wanita di hadapannya.


Plak!


Awwhh!


Bukannya menjawab, wanita itu malah memukul lengan yang sudah dipenuhi oleh luka tersebut, hingga meringis kesakitan.


“Jika kau masih saja bersikap seperti ini, maka aku akan memberikan sayatan lagi. Diam dan patuh lah, aku tidak ingin putraku menganggap aku sebagai seorang ibu yang tidak sayang pada keluarganya,” ucap sosok wanita yang tak lain adalah Aliya.


Saat ini Galen sudah kembali setelah menyelesaikan misi dari Deva. Misi yang tak luput dari bahaya itu, membuat Galen pulang dengan membawa sebuah luka sayatan saat sedang menghadang musuh di perbatasan.


“Dia akan mengerti dengan luka ku. Kau tidak perlu bersikap baik seperti ini padaku,” ucap Galen dengan datar.


“Aku khawatir pada suamiku, apa itu adalah hal yang salah bagi seorang istri?” tanya Aliya sambil menatap Galen dengan tatapan penuh selidik.


“Kita tidak sedekat itu untuk saling mengkhawatirkan,” jawab Galen dengan nada dingin. Pria itu memang sangat keras kepala.


Plak!


Awwhh!


Lagi dan lagi, Aliya memukul lengan Galen sangat keras. Galen membulatkan matanya dengan sempurna.


“Apa kebiasaan mu sudah berubah, dan kini suka memukul orang?” tanya Galen tak habis pikir.

__ADS_1


“Ya! aku memang sangat suka memukul orang. Apalagi orang itu adalah kamu. Bahkan, aku sangat ingin memukul kepala mu, agar otak mu itu berjalan dengan baik. Oh tidak! bukan hanya itu saja, aku bahkan ingin membersihkan hatimu, agar kamu tahu, jika aku sangat mencintai mu. Haiss! Bagaimana bisa aku mencintai pria dingin ini,” gerutu Aliya seraya menunjuk dada bidang milik suaminya, Galen.


“Aliya, kau tahu, aku tidak bisa mengutamakan cinta dalam hidp ku. Kau tahu itu, tapi kau selalu saja keras kepala,” ucap Galen dengan suara yang lebih rendah. Aliya mendongakkan kepalanya menatap Galen dengan tatapan sendu.


Baru saja wanita itu ingin mengeluarkan suaranya, Galen langsung menyumpal mulut Aliya dengan mulutnya. Aliya tertegun dengan apa yang telah dilakukan oleh suami datarnya saat ini. Sebuah ciuman panas pun terjadi hingga tak ingat dengan luka yang sudah bercucuran darah.


“Aku mencintaimu, Aliya. ak mencintai mu dan juga Grover. Aku sangat mencintai kalian berdua,” ungkap Galen setelah melepaskan ciuman panasnya bersama Aliya.


“A-apa yang kau ucapkan itu adalah benar?” tanya Aliya yang masih tak percaya.


“Apa kau masih melihat keraguan dalam mataku?” Aliya menatap mata Galen sesaat, mencari sebuah kebohongan di dalamnya. Namun, ia tidak menemukan apapun selain cinta di dalam mata suami untuknya. Aliya segera menggeleng dan langsung memeluk tubuh tegap itu dengan sangat erat.


Pria yang ia nanti cintanya, kini luluh sesuai harapannya. Sebuah hubungan yang berawal tidak didasari oleh cinta, akhirnya bisa menumbuhkan benihnya sendiri. Bertahun-tahun lamanya ia menikah dengan Galen, dan selama itu pula ia menunggu cinta dari suaminya. Kini, waktunya sudah tiba. Cintanya sudah berbuah manis. Apalagi ada sosok anak yang gagah ada diantara mereka.


“Mom, Dadd! Kalian sedang ada drama apa?” tanya seseorang di ambang pintu, saat melihat kedua orang tuanya yang tidak seperti biasa.


Galen maupun Aliya, langsung terkejut dan melihat ke arah sumber suara. Di ambang pintu, sudah ada pria tampan berperawakan gagah sedang menatap dua orang yang masih belum sadar dengan keadaan mereka saat ini.


“Grover ku! Putra kecil ku! Kapan kau kembali nak?” tanya Aliya yang baru sadar dan langsung bangkit untuk menghampiri putranya. Aliya langsung memeluk tubuh putra yang sudah sangat ia rindukan saat ini.


Grover memang sudah jarang bertemu dengan kedua orang tuanya, setelah menjadi asisten Derry. Tentu saja hal itu membuat Aliya menjadi sangat senang saat bertemu dengan putra semata wayangnya. Namun, satu hal yang Aliya sayangkan. Grover datang diwaktu yang tidak tepat bagi Aliya maupun Galen.


“Aku ke sini karena mengantar Tuan muda untuk bertemu dengan tuan besar,” jawab Derry dengan datar.


“Ada apa dengan Daddy?” sambungnya lagi, saat melihat lengan Galen penuh darah.


“Kalau begitu, ikut Mommy ke sini. Tadi Mommy sudah menyiapkan makanan kesukaan mu. Meskipun tadinya makanan ini untuk Daddy mu.” Grover hanya patuh dengan menampilkan wajah datarnya.


***


“Selamat datang Son. Ternyata kau masih hidup, setelah memprovokasi ku. Kau memang putraku,” cibir Deva sambil tersenyum smirk.


“Cepat katakan dengan jelas apa yang Daddy inginkan. Aku tidak punya banya waktu untuk meladeni mu,” ungkap Derry dengan tatapan dinginnya.


“Sabar Son, kenapa kau sangat terburu-buru untuk pergi. Apa karena kau sudah merindukan wanita itu?” tanya Deva dengan penuh selidik.


Bugh!


Derry melayangkan satu pukulan tepat di wajah Deva. Pria paruh baya itu meringis seraya mengusap sudut bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah segar.


Deva terkekeh saat melihat raut wajah putra sulungnya. “Oh aku lupa, sekarang kau adalah ketua geng Mafia, dan aku telah memprovokasi mu, tapi kau jangan lupa, dari siapa kau mendapatkan posisi itu, jika bukan dariku.”


“Cih! apa sekarang Daddy menyesal, karena sudah memberikan posisi itu padaku?” tanya Derry sambil tertawa sinis.

__ADS_1


“Tentu saja tidak Son. Kau adalah segalanya bagiku. Aku akan memberikan apapun padamu, kecuali wanita yang aku cintai, yaitu Mommy mu.”


‘Jika bukan karena ada kamu, mungkin aku dan Davina tidak akan bisa bersama,’ batin Deva meringis takut, jika hal itu akan terjadi pada dirinya.


“Jika Daddy tidak ingin mengatakan apapun, maka aku akan pergi secepatnya,” kata Derry yang hendak membalikkan badannya dan ingin segera pergi dari dalam ruangan sang ayah.


“Siapa wanita yang kau nikahi?” tanya Deva dengan cepat, hingga membuat gerakan Derry terhenti seketika.


“Itu bkan urusan Daddy,” jawab Derry dengan cepat, dan menatap tak suka ke arah Deva.


“Apa dia mencintai mu?” tanya Deva lagi. Ia tahu jika putranya menikahi seorang wanita dengan cara paksa, dan lebih parahnya, itu adalah calon mempelai wanita dari pria lain. Ia sungguh tak habis pikir dengan apa yang telah putranya perbuat.


“Apa itu penting bagi Daddy?” tanya Derry tak suka.


“Meskipn itu tidak penting bagiku, tapi tentu saja hal itu sangat penting bagi wanitaku.” Mendengar penuturan dari sang ayah, Derry pun menghela napasnya panjang.


“Jangan katakan apapun pada Mommy,” ucap Derry yang kini sudah melembutkan suaranya.


“Apa sekarang kau sedang memohon padaku? Maka lakukan lah dengan benar, agar aku bisa membantu mu,” ucap Deva dengan santai, seraya menampilkan seulas senyum kemenangan.


“Apa kau pikir aku akan melakkan itu?” tanya Derry dengan nada datar.


“Orang bilang, jika kau mencintai pasangan mu, maka kau akan melakukan apapun agar mendapatkan cintanya. Apakah itu benar, Son?”


“Maka lakukanlah sesuka hati Daddy.” Setelah mengatakan hal itu, akhirnya Derry pergi dari ruangan sang ayah menuju tempat keluarga berkumpul. Di sana sudah ada Mommy dan adik-adiknya.


***


“Kakak!” seru Danita yang langsung menghambur ke pelukan kakak sulungnya.


“Hmm, apa kau sekolah dengan benar?” tanya Derry seraya mengacak rambut adik ketiganya.


“Iya Kak, aku sering dapat juara, tapi kak Derry tidak pernah memberiku hadiah,” ungkap Danita sambil mengerctkan bibirnya dengan gemas.


“Cie ... cie. Pengantin baru,” cibir Davira, adik keduanya. Derry mendengus seraya membuang wajahnya ke arah lain.


Derry tidak menggubris cibiran dari adiknya, tapi Derry malah menghampri adik laki-lakinya yang sangat pendiam, Daffa.


“Apa kau baik-baik saja, hm?” tanya Derry yang kini sudah duduk di samping adik bungsunya.


“Aku baik-baik saja kak.”


“Ke mana Mommy? Tadi aku lihat ada di sini?” tanya Derry sambil mengedarkan pandangannya ke segala penjuru ruangan.

__ADS_1


...****************...


Jangan lupa tinggalkan jejak ya


__ADS_2