
Selamat membaca ...
...****************...
Kini, Derry maupun Grover sudah ada dalam perjalanan menuju rumah sakit di mana Edrea dirawat. Tidak ada percakapan diantara mereka, hanya ada suara bising dari kendaraan lain, yang memadati jalanan yang mereka tempuh.
Hari sudah semakin sore. Berari ia sudah lama meninggalkan istrinya di rumah sakit tersebut. Ia hanya berharap jika keadaan wanita itu sudah membaik, agar bisa segera pulang dan menyiapkan acara perpindahan mereka.
“Bos, apa kita tidak membeli sesuatu untuk nona Edrea?” tanya Grover memecah keheningan diantara mereka.
“Tidak. Kita bisa membelinya saat pulang nanti. Sebaiknya kita segera ke rumah sakit, dan jangan biarkan wanita itu melakukan hal yang tidak dapat kita pikirkan sebelumnya.” Entah kenapa saat ini hatinya sangat tidak tenang, dan terus memikirkan istri sanderanya.
“Baik Bos,” jawab Grover dengan patuh.
“Apa bibi masih memperlakukan mu seperti itu?” tanya Derry tiba-tiba memecah keheningan diantara mereka, yang mana hal itu membat Grover sedikit tersentak kaget, karena tak biasanya sang bos membahas masalah keluarga saat jam kerja.
“Benar bos,” jawab Grover singkat, padat dan jelas.
“Kali ini aku sedang mengajak mu bicara sebagai keluarga Grov, bukan sebagai atasan dan bawahan. Jadi, jangan terlalu kaku dan santai lah sedikit.” Hening. Pria yang sedang menyetir itu belum mau membuka suaranya.
“Kenapa kau diam saja?” tanya Derry kesal.
“Karena Kakak tidak bertanya lagi,” jawab Grover dengan santai, hingga membuat Derry mendengus kesal sebelum akhirnya terkekeh.
“Kau seusia adikku, Davira. Tetapi gadis itu masih bertingkah manja dan kekanakan. Ah! Aku sampai pusing saat membayangkan tingkahnya itu,” keluh Derry dengan senyuman di bibirnya. Grover tahu, pria itu sangat menyayangi dan memanjakan adik-adiknya.
Grover ikut terkekeh, saat mengingat adik-adik Derry yang sangat menggemaskan di matanya. Ia teringat pada anak ketiga Deva, yang tak lain adalah Danita. Remaja yang kini usianya menginjak sembilan belas tahun. Gadis cerewet yang selalu mengatainya kaku dan datar.
Sedangkan Davira, adik pertama Derry adalah gadis sebaya dengan Grover. Gadis berusia dua puluh tiga tahun itu cukup baik padanya, karena mereka adalah teman sejak di Taman Kanak-kanak. Grover merasa sangat beruntung bisa mendapatkan sosok kakak seperti Derry.
Bagi Grover, Derry adalah sosok kakak yang baik dan hangat. Pria yang bengis saat bekerja itu adalah panutan untuknya. Hingga ia sempat tidak mengenali sikap Derry setelah beberapa waktu yang lalu, saat sosok pria yang ia anggap sebagai kakaknya itu, mulai menelusuri identitas seorang wanita yang telah menolongnya. Sikap itu dikecualikan oleh Grover.
“Davira cukup baik akhir-akhir ini Kak, meskipun sikapnya masih angkuh pada lawan jenisnya. Hanya Danita saja yang masih belum bisa mengendalikan dirinya sendiri. Gadis itu selalu membuat ulah di kampusnya.” Grover menanggapi ucapan Derry dengan jujur. Ia masih ingat, saat ia dipanggil ke kampus Danita, karena remaja nakal itu sering membuat ulah. Ia cukup berperan pada gadis itu.
__ADS_1
“Kau benar, kau juga pasti lelah menghadapinya. Hanya saja, aku sedikit khawatir pada adik bungsu ku. Dia terlalu lemah dan sangat pendiam, aku sampai bingung harus mengatakan apa saat di dekatnya.” Derry terkekeh mengingat sikap Daffa yang sangat dingin. Ah bukan dingin! Lebih tepatnya, pria itu adalah Introvert. Mungkin ia kurang membuatnya nyaman, hingga tidak bisa mencairkan suasana saat ada di dekat adik bungsunya.
“Kita sudah sampai Bos,” ucap Grover kembali pada mode bekerja, dan mengubah panggilannya. Pria itu sudah menghentikan kendaraannya tepat di depan rumah sakit.
“Hm, kau tunggu di sini. Aku akan masuk dulu mengecek istriku,” ucap Derry segera turun dari dalam mobil.
Dengan langkah cepat, Derry menelusuri gedung yang cukup luas itu. Ia hanya takut terjadi sesuatu pada istrinya. Tidak! sebenarnya dia sangat takut jika Edrea melarikan diri dari rumah sakit. Ia cukup sadar dengan situasi pernikahan yang ia paksakan pada sang istri. Ia sangat sadar, jika dirinya telah merebut calon pengantin pria lain.
Derry menghela napasnya lega, saat melihat beberapa bodyguardnya masih ada di depan pintu ruangan sang istri. Tidak mungkin Edrea melarikan diri, sedangkan para Bodyguardnya saja masih tak bergeming di tempat.
Ceklek!
Derry membuka pintu ruangan sang istri.
Kosong!
Pandangannya semakin membulat, saat ada seorang perawat tak sadarkan diri terkapar di lantai, dengan tubuh yang mengenakan pakaian pasien. Tidak! Edrea telah membodohi para bodyguardnya.
“Bedebbah!” Derry segera keluar dan menghampiri dua pria yang menjaga tepat di depan pintu.
“Ma-maksud Bos? Nyo-nyonya ada di dalam,” jawab salah satu bodyguard dengan gugup.
“Apa kalian tidak menjaga istriku dengan baik? Istriku kabur dan kalian masih di sini!”
Bugh! Bugh! Bugh! Bugh!
Derry memukul dua bodyguard yang ada di hadapannya dengan membabi buta secara bergantian. Rahangnya mengeras, matanya memerah, dan dadanya naik turun saat merasakan amarah yang hampir saja menguasai dirinya.
“Cepat cari istriku ke segala penjuru rumah sakit, dan temukan dia sampai dapat! Kalian akan tahu akibatnya, jika istriku tidak kembali.” Ucap Derry dengan tegas dan sorot mata yang tajam.
Akhirnya Derry segera menghubungi para bodyguardnya dan dikerahkan untuk mencari istrinya. Dadanya masih bergemuruh menahan sesak, saat kehilangan Edrea. Ia berjanji tidak akan pernah membiarkan wanita itu tinggal sendiri, dan berusaha untuk kabur lagi. Ia tidak akan memberikan kesempatan pada wanita itu lagi, jika sudah tertangkap. Bahkan jika perlu, ia akan mengikat leher istrinya.
“Bos.” Derry menoleh pada seseorang yang telah memanggilnya, Grover.
__ADS_1
“Bos, saya sdah memeriksa CCTV di rumah sakit ini. Seorang wanita mengenakan seragam perawat sudah keluar melewati gerbang belakang. Ini terjadi satu jam yang lalu,” ucap Grover seraya memperlihatkan bukti rekaman CCTV tersebut.
“Brengsekk! Wanita itu sudah berani menantang ku. Ayo kita jemput wanita itu, dan lihat bagaimana setelah dia ada dalam genggaman ku,” ucap Derry dengan penuh penekanan, dan segera bergegas pergi meninggalkan rumah sakit, lalu di susul oleh Grover.
***
Di sisi lain, seorang wanita tengah terseok-seok setelah berjalan kaki selama satu jam lebih. Tubuhnya yang masih lemah, membuat tenaganya sudah tak kuat. Keringat mulai bercucuran, membasahi sekujur tubuhnya. Bahkan, rasa sakit yang ia rasakan sudah tidak ia pedulikan lagi. Ia hanya berharap bisa lepas dari genggaman sosok pria iblis yang telah menyandera, dan memaksanya untuk menikah.
“Aakhh! Kenapa rasanya semakin sakit,” gumam sosok wanita yang tak lain adalah Edrea. Wanita itu terlihat sangat pucat.
“Sepertinya aku mengalami pendarahan lagi,” sambungnya lagi, saat merasakan sesuatu yang hangat keluar dari bagian bawah tubuhnya.
Edrea mengedarkan pandangannya untuk melihat ke arah sekitar. Hari sudah mulai gelap dan ia masih belum cukup jauh, karena langkahnya yang tidak cepat. Tubuhnya masih terasa sakit, dan sekarang ia malah mengalami pendarahan lagi.
Bahkan, ia tidak mengenali tempat berpijaknya saat ini. Sepertinya ia telah tersesat menuju jalanan sepi, yang dipenuhi oleh pepohonan yang sangat lebat. Ia cukup takut, tapi tetap harus berusaha lari, agar tidak ditemukan lagi.
“Juan, kamu di mana. Aku takut ... aku takut sendirian.” Edrea terisak sambil terus melangkahkan kakinya tak tentu arah.
“Aku sangat lapar. Apa aku akan mati di sini. Juan, bagaimana dengan dirimu. Apa kau sedang mencari ku.” Edrea tak henti-hentinya bergumam memanggil nama calon suaminya itu.
Hingga pada akhirnya, ia sudah mulai kelelahan dan berhenti sejenak di bawah pohon yang rimbun. Edrea terus meringis disela tangisnya. Ia merasa hidupnya sudah hancur, karena ulah pria yang sudah ditolongnya. Menyesal? Tentu saja. Ia sangat menyesal telah menyelamatkan sosok iblis yang kini malah menghancurkan hidup berserta mimpinya. Air susu dibalas air tuba, itulah perumpamaan yang cocok saat ini.
Namun, tiba-tiba wanita itu semakin ketakutan, saat mendengar suara kendaraan dengan beberapa suara bising seperti tembakan. Pikiran Edrea semakin kacau saat ini, apalagi tubuhnya sedang tidak bisa diajak kerja sama. Ia sangat lemah untuk melarikan diri.
Apa itu pemburu, karena tempat yang ia singgahi adalah hutan? Atau jangan-jangan ...
Tidak! Edrea tidak bisa kembali begitu saja. Ia ingin lepas, ia juga ingin bebas. Ia tidak bisa menghabiskan sisa hidupnya bersama sosok pria menyeramkan seperti Derry. Pria itu sangat kejam, dan penuh ambisi. Ia tidak bisa membayangkannya, jika ia ditemukan dan pria iblis itu sedang marah. Sudah pasti ia akan mati, bukankah begit?
Krek!
Edrea mendengar sesuatu yang tengah mendekat ke arah tempatnya. Wanita itu semakin gugup, dan keringat dingin mulai bercucuran. Edrea meringkuk dan bersembunyi di balik pohon tersebut. Matanya terpejam, dengan perasaan tak karuan.
...****************...
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak ya