
1 minggu pun usai dimana ujian pertama kelulusan sakura juga telah selesai, dan kini dimana sakura harus menjalani nya, ya apalagi kalau bukan pernikahan yang tak ia inginkan, hanya tinggal menghitung hari sekitar 1 hari lagi, pernikahannya dengan pria yang sama sekali tidak ia cintai.
"hanya...besok..huuh"ucapnya dengan wajah lesu dan menangis, matanya bengkak karena ia menangis semalaman, tadi malam ia habiskan malamnya dengan menangis, sampai pagi hari ia tak menyadari kalau ibunya sudah tiba membawakan makanan untuknya.
"saki.....nak....ayo cepat makan, ayah mengajakmu untuk membeli gaun pernikahan siang ini.."ucap mebuki dengan sangat lembut.
"hmmm....iya ibu aku tahu...ehh...tunggu..kenapa...hanya....aku...dan.....ayah..?.apakah ibu tidak ikut bersamaku dan ayah?.."ucap sakura keheranan, masih dengan wajah sembabnya ia masih menyempatkan bertanya pada ibunya.
"tidak....nak aku akan menyiapkan perlengkapanmu untuk kau bawa kerumah suamimu nanti" ucap mebuki menjelaskan, lalu ia pun mengambil koper besar milik sakura dan mulai membereskan baju-baju sakura.
sakura yang melihatnya pun sedikit bersedih, matanya berkaca-kaca, tapi ia paksakan untuk tidak menangis dan menahan air matanya itu.
"ibu....aku pasti akan sangat merindukanmu"ucapnya dengan pelan tapi masih bisa didengar oleh mebuki.
"hmmm.....sudah sana pergi bersiap sebentar lagi kau berangkatkan bersama ayahmu" ucap mebuki dengan sendu
"baiklah...bu" ucap sakura ia hanya bisa mengangguk menurut.
.
.
.
.
setelah sakura selesai bersiap ia pun pergi dengan kizashi, mereka menggunakan taxi untuk pergi ke boetik, sesampainya di butik mereka memilih-milih gaun pernikahan yang cocok untuk sakura.
"hmmm.....saki gaun mana yang kau suka" ucap kizashi sembari memilih-milih gaun pernikahan.
"terserah...ayah saja"ucap sakura, ia bahkan bungkam itu semua iya serahkan kepada ayahnya, ia tak mau ambil pusing untuk mengurus gaun pernikahannya.
.
.
.
beberapa saat kemudian akhirnya mereka menemukan gaun yang cocok untuk sakura berkat bantuan pegawai butik tersebut, dan mereka pun memilih untuk pulang kerumah dengan cepat, karena mereka harus mempersiapkan untuk acara besok.
.
.
.
sesampainya dirumah, sakura dan kizashi disambut dengan mebuki yang telah selesai mengemasi barang-barang sakura, sakura yang melihatnya hanya memandang pada kopernya dengan tatapan kosong, ia sungguh tak menyangka akan berpisah dengan kedua orang tuanya secepat ini.
ia memutuskan untuk masuk kekamarnya, dan membiarkan ayah dan ibunya melihat gaun pengantin yang ia baru beli tadi bersama ayahnya.
__ADS_1
"hiks....hiks...hiks....aku membenci ini...sangat"ucapnya sambil meremas-remas bantal yang ada disampingnya, ia terus berguling kesana kemari, menangis tiada hentinya, melempar bantal dan seluruh yang ada didekatnya ia lempar, sampai akhirnya ia tak bisa menahan kantuknya sampai akhirnya ia pun tertidur.
.
.
.
.
pagi hari pun tiba, ini adalah hari yang tidak diingingkan sakura, "mengapa hari ini harus ada..?" ucapnya dengan perasaan marah.
dan lagi-lagi sakura terkejut ternyata gaun pengantinnya sudah tergantung didepan lemarinya,
"ibu menyiapkan ini saat aku tidur tadi malam....oh yaampun kenapa ibu repot-repot untuk menyiapkan gaun pengantin ini....aku bahkan berharap pernikahan ini batal" ucapnya dengan wajah geram, namun tiba-tiba pintu kamar sakura diketuk oleh seseorang siapa lagi kalau bukan ayah dan ibunya.
"saki...ayo bersiap...kita akan memulai pernikahannya 2 jam lagi..." ucap kizashi memberi tahu
"baiklah....ayah....aku akan bersiap"ucap sakura dengan pelan, tapi masih bisa didengar oleh kedua orang tuanya.
beberapa menit kemudian sakura pun keluar dengan memakai gaun pengantinnya, namun belun memakai polesan make up.
"ayo berangkat....saki.." ucap mebuki membukakan mobil taxi yang mereka pesan, sementara supir taxi memasukkan barang-barang yang dibawa sakura ke dalam bagasi, setelah itu mereka pun berangkat menuju gedung pernikahan.
.
.
.
sesaat sakura sedang di make up, tibalah keluarga uchiha di gedung pernikahan itu, mereka hanya disambut oleh kizashi, ayah mempelai wanita.
"dimana...sakura..?"ucap fugaku pada kizashi
"sakura sedang di make up tuan" ucap kizashi menjawab.
"mmm...ok kita tunggu saja,,"ucap fugaku sembari duduk di bagian bangku tamu undangan.
tidak ada yang spesial di pernikahan sakura dan sasuke, tidak ada tamu undangan hanya ada pihak keluarga saja, karena memang pernikahan ini ditentukan dalam waktu yang sangat cepat.
"mmm.....kedua mempelai harap kealtar pelaminan" ucap pendeta memanggil.
"sasuke.....ayo maju" ucap fugaku menyuruhnya untuk pergi ke altar pernikahan
sasuke yang diam, hanya bisa menurut dan langsung pergi ke altar pernikahan tersebut.
"dimana mempelai wanita?" ucap pendeta mempertanyakan, karena memang acaranya mau dimulai, dan pendeta tersebut juga harus mengurusi beberapa antrian orang yang mau menikah.
"mempelai wanita sedang berias pak" ucap kizashi menjelaskan.
__ADS_1
"tolong dipercepat, masih banyak yang mau aku urusi untuk pernikahan berikutnya" ucap pendeta tersebut.
"iya..iya..pak pendeta sabarlah dahulu" ucap fugaku menenagkan
sementara yang di make up terus menangis, sampai tukang rias kewalahan untuk mempolesnya.
"nona...bisakah...kau tidak menangis dulu....kami letih sedari tadi harus menghapus dan mengulang make up mu lagi" ucap tukang rias tersebut.
"ma....maaf....aku tidak akan menangis lagi.."ucap sakura, sebisa mungkin ia menahan lagi air matanya.
setelah selesai make up sakura pun keluar bersama ibunya, ia hanya bisa menunduk kebawah dan langsung menuju ke altar pernikahan, dan berdiri disamping sasuke.
"baiklah...kita mulai acaranya" pendeta pun langsung memulai acara pernikahannya
"sasuke uchiha....selaku suami dari sakura haruno...maukah kau sehidup semati bersama sakura haruno, menjadikannya satu-satunya istri didalam hidupmu, menjaganya dan senantiasa menjadi pendamping hidupnya?" ucap pendeta membacakan janji suci.
lama sasuke berfikir, ia langsung menatap sakura dan menjawab pertanyaan pendeta dengan mantap, sementara yang ditatap hanya menunduk dan menangis.
"iya....aku akan menjadi pendamping hidupnnya, menjadikannya istri satu-satunya dalam hidupku, dan senantiasa akan selalu mencintainya.." ucap sasuke uchiha dengan mantap
"baiklah...selanjutnya sakura haruno...kau akan mengubah namamu dari sakura haruno menjadi sakura uchiha.....kau siap untuk mengucapkan janji suci?.." ucap pendeta beralih ke sakura.
sakura yang tertunduk dan masih menangis itupun tidak tahu harus menjawab apa, ia lalu berbalik arah melihat ayah dan ibunya sambil menangis, sementara yang ditatap oleh sakura hanya bisa menganggukan kepala mereka seolah menyuruh sakura untuk berkata "ya",, berhenti sejenak ia kembali menghadap depan, dan menjawab pertanyaan pendeta dengan pelan.
"y...ya...pak pendeta aku siap...mengubah nama ku pun aku siap" ucap sakura dengan pelan, tetapi masih bisa didengar oleh sasuke dan pendeta.
"baiklah...maukah kau menjadi pendamping hidup sasuke uchiha, mencintainya, melayaninya selayaknya seorang istri kepada suami, menjadikannya suami satu-satunya dalam hidupmu dan selalu bersama sampai maut memisahkan?" ucap pendeta membacakan janji suci itu kepada sakura.
"y..ya...aku...mau.."ucap sakura dengan suara pelan sambil sesenggukan.
"selamat, kalian resmi menjadi suami istri" ucap pendeta memberi selamat dengan semangat.
"terima kasih pak" ucap kedua mempelai
"dan sasuke uchiha kau bisa membuka selendang istrimu, ini juga salah satu ritual pernikahan"ucap pendeta menjelaskan.
mereka berdua pun akhirnya saling berhadapan satu sama lain, dan sasuke mulai membuka selendang yang menutupi wajah cantik sakura.
ia bergumam dalam hati dan berkata
'mmm....lumayan juga..'batin sasuke, tanpa sakura tahu sasuke tersenyum tipis, entah itu malu atau semacamnya.
.
.
.
__ADS_1
.
maaf typo jangan lupa like dan coment ya, kalau bisa kasih saran ok!!ππ