
Lembaran-lembaran kisah yang sebenarnya tertulis oleh tinta takdir.
Tiba saatnya hari-H ujian, aku dan Sora duduk terpisah. Sora duduk di pojok kanan bagian tengah, sedangkan aku duduk di tempat yang sama. Ekspresi wajah para siswa terlihat sama mulai dari dibagikan soal ujian sampai ujian hari pertama ini berakhir.
Setelah berakhirnya ujian, aku pulang bersama Sora. Banyak anak-anak kelasku yang membicarakan sesuatu, seperti kecelakaan. Aku tidak mendengar begitu jelas, biasanya Sora akan menceritakan berita yang ia dapat. Dan benar saja, baru kupikirkan Sora langsung membicarakan hal yang membuatku penasaran.
"Vivi, apa kau tau setelah ujian tadi berakhir ada seseorang di kelas kita yang bilang bahwa ada kecelakaan di simpang dekat sekolah kita!"
"Sungguh? Apa kecelakaan itu parah?"
"Kudengar korbannya adalah seorang siswa dari sekolah sebelah, ia mengendarai sepeda."
"Sepeda?"
"Iya!"
"Apa kau yakin?"
"Aku tidak salah dengar! Informasi ini akurat!"
Apa mungkin ... Ah! Aku tidak boleh negatif thinking. Bisa saja itu orang lain, banyak yang menggunakan sepeda untuk ke sekolah. Tapi ...
"Sora!"
"Ya? Kau membuatku terkejut!"
"Apa kau tau ciri-ciri korban kecelakaan itu?"
"Ya ... Kenapa?"
"Anu ... Tetanggaku juga ke sekolah dengan sepedanya ..."
"Korbannya adalah remaja laki-laki seumuran kita, sepedanya berwarna hitam dengan list merah, kudengar juga bagian rem-nya berwarna merah, selebihnya hitam."
Mirip! Apa jangan-jangan memang benar itu Junsu?
"Apa kau tau warna tas si korban?"
"Tidak, hanya itu yang kudengar lagipula kenapa aku tau sedetail itu? Memang aku pacarnya?"
"Ternyata kemampuan detektif milikmu tidak seberapa ya ..."
"Apa?!?!?"
"Aku duluan ya! Bye!"
Aku menelepon sopir Han untuk menjemputku pulang. Mendengar berita tadi membuatku khawatir, semoga tidak terjadi apa-apa.
Mobil jemputan ku sudah datang, aku segera naik dan pulang. Setelah beberapa meter aku melihat senior Jo di kaca spion mobil. Aku membalikkan badanku ke belakang untuk melihatnya di kaca belakang. Senior terlihat berdiri mematung, aku lupa memberitahu senior bahwa aku pulang dijemput.
Selagi di perjalanan aku menelepon senior. Aku tidak ingin ia khawatir.
"Halo? Senior!"
"Halo, apa kau baik-baik saja?"
__ADS_1
"Ya aku tidak apa-apa, hanya sedikit terburu-buru."
"Syukurlah."
"Maaf, aku lupa memberitahu senior."
"Tidak apa-apa, hati-hati di perjalanan."
"Senior juga hati-hati di perjalanan ya."
Syukurlah aku segera ingat untuk memberitahunya. Selama beberapa hari terakhir aku pulang ditemani senior. Pulang tanpa memberi kabar akan membuatnya khawatir.
"Nona Kim?"
"Ya, ada apa?"
"Apa Nona mendengar kabar bahwa anak pak Kwon kecelakaan?"
"HAH?!? SUNGGUH?"
"Ya Nona, sepertinya tidak terlalu parah, tapi sekarang masij di rumah sakit. Tuan dan nyonya menjenguk ke rumah sakit. Beliau berpesan agar Nona juga menjenguk ke rumah sakit nanti."
"Baiklah ... Terima kasih sopir Han."
Sesampainya di rumah aku langsung berganti baju. Sopir Han menunggu diluar, aku segera keluar untuk menghampiri sopir Han. Rumahku di jaga oleh ahjumma pengurus rumah yang biasanya membantu Eomma.
Aku memakai baju kaos kasual simpel berwarna rainbow dengan celana jeans panjang hitam dan tas kecil berwarna moka. Rambutku kuikat biasa dengan simpel juga. Sopir Han dan aku berangkat ke rumah sakit, di tengah perjalanan aku juga menelepon Appa bilang bahwa aku menyusul mereka ke rumah sakit.
"Sopir Han, berarti Appa tidak lembur hari ini?"
"Jadi Appa yang membawa Junsu ke rumah sakit ..."
"Bagaimana dengan pak Kwon?"
"Beliau panik mendengarnya, ia juga langsung menuju ke lokasi kejadian."
"Bagaimana dengan ibunya Junsu?"
"Eh ... Soal itu, saya tidak tau Nona ..."
"Baiklah ... Terima kasih atas informasinya sopir Han."
"Terima kasih kembali Nona."
Aku tidak habis pikir, aku takut. Aku takut hal yang tidak kuinginkan terjadi pada orang di sekitarku. Aku memandang ke arah luar jendela melihat lampu-lampu kota Seoul yang terang di sana-sini. Mobil melaju melewati gedung-gedung tinggi dan melalui jembatan layang.
.....
Mobil sudah tiba di rumah sakit. Aku keluar dari mobil menuju meja informasi. Sebelum aku tiba di meja informasi, Eomma mengirimkan pesan yang isinya adalah nomor kamar tempat Junsu dirawat. Setelah membacanya aku menuju ke lift dan menekan tombol nomor 5. Junsu dirawat di kamar nomor 503, ditemani pak Kwon dan orangtuaku.
Lift sudah tiba di lantai 5, aku mencari nomor 503. Akhirnya aku tiba di kamar 503 aku melihat dari luar tampak kedua orangtuaku yang sedang berdiri dan mengobrol. Aku menarik nafas sebelum memasuki ruangan, ku buka pintu kamar dan memasukinya. Pertama kali tampak, orangtuaku yang menyambut kedatanganku. Kemudian pak Kwon yang tadinya duduk kini berdiri untuk menyambutku juga.
Kemudian ... Seseorang yang terbaring di kasur dengan infus dan tangan yang dibungkus gips. Ia tersenyum lebar menyambutku. Luka-luka kecil disekitar wajah dan leher masih tampak basah dan sebagian diberi plester.
"Lihat siapa yang datang!" Ucapnya sambil tersenyum.
__ADS_1
Semua orang tersenyum dan tertawa, ia memang pandai membuat orang tertawa.
"Semua murid sedang ujian, kau malah terbaring disini." Kataku padanya sedikit meledeknya.
"Kasur ini terlalu nyaman sampai tidak tega kutinggalkan."
"Kami akan disini sebentar, setelah itu kami akan pulang ya." Kata Appa-ku pada Junsu
"Aigoo~ tidak apa-apa! Kalian datang disaat seperti ini aku sudah sangat berterima kasih!"
"Ah~ aku harus ujian susulan." Ucap Junsu sambil mengeluh
"Memangnya kau akan di rumah sakit selamanya? Sebentar lagi kau akan pulih dan keluar dari sini."
"Tapi disini terlalu nyaman~ aku tidak perlu ke sekolah~"
"Aigoo~ anak ini!"
Selama beberapa menit kami mengobrol dan membicarakan banyak hal. Keberadaan kami membuat pak Kwon tidak merasa kesepian. Kami juga berkumpul bersama seperti ini ada hikmahnya juga.
Hampir 30 menit sejak kedatanganku dan kami mengobrol. Kami memutuskan untuk pulang ke rumah. Kami pamit kepada pak Kwon dan Junsu. Sopir Han sudah menunggu di lobi setelah Appa meneleponnya. Kami pun pulang bersama, pak Kwon menemani putranya.
Tidak terlalu lama di perjalanan sampai ke rumah kami. Rumah pak Kwon terlihat sepi, beberapa lampu menyala dan sebagian mati. Ahjumma sudah menyiapkan makan malam untuk kami. Kami pun segera makan malam sebelum beristirahat.
"Eomma, aku ingin tau ... Apa Junsu ... Tidak punya ibu?"
Appa dan Eomma sedikit terkejut mendengarnya. Mereka menghentikan sejenak makannya.
"Dear ... Ibunya sudah lama meninggal. Junsu dan pak Kwon sudah hidup mandiri. Tapi mandiri saja tidak cukup, mereka juga butuh bantuan orang sekitar khususnya kita. Meskipun kita tidak tinggal di Indonesia lagi tetapi kita jangan pernah melupakan culture budaya Indonesia kita."
"Arasseoyo Eomma. Terima kasih Eomma. Tapi ..."
"Ada apa dear?"
"Ulang tahun kami berbeda sehari! Tidak sama ..."
"Dear ... Junsu lahir tanggal 8 jam setengah 10 malam, kau lahir tanggal 9 jam 2 pagi. Menurut perhitungan waktu adat Jawa, setelah waktu ashar sudah berganti hari jadi kalian lahir di waktu yang sama ..." Ucap Eomma sambil tersenyum
"Teori macam apa itu? Hah, dwaesseo~"
"Hahaha!"
Aku menghabiskan makan malam ku dan segera pergi ke kamar untuk belajar. Ujian esok hari juga butuh persiapan. Ku lihat handphone ku, melihat kontak senior Jo. Apa aku harus mengabarinya malam ini? Atau besok saja? Senior Jo juga pasti masih belajar. Besok saja, sekalian memberitahu Sora dan senior Nam juga.
Ku buka lembaran catatan belajar dan buku latihan soal-soal. Satu dua soal ku kerjakan dari beberapa materi yang diujiankan. Cuaca mulai terasa dingin, Eomma menyalakan penghangat ruangan di kamarku. Kamarku sekarang mulai terasa hangat dan nyaman. Materi-materi sudah kutuntaskan, saatnya beristirahat.
Daun-daun banyak yang menguning dan berjatuhan. Menyambut datangnya musim gugur di kota Seoul. Angin berhembus menyelimuti daerah tempat tinggalku. Memberi signal bahwa masyarakat kota Seoul sebaiknya menyalakan penghangat ruangan. Daun-daun yang berjatuhan meng-cover jalanan, dan menciptakan pemandangan baru yang indah di kala pergantian musim.
"In the same time,
we passed each other by too quickly
As if we’re standing on top of the clock hands
Time flows too quickly,
__ADS_1
having been together for a moment seems like a miracle ..."