My Silver Star

My Silver Star
Wooden Chair


__ADS_3

"Senior kau tumben terlihat sangat rapi."


"Ada pertemuan dengan komisaris tadi ..."


"Ooh~"


Aku mengenal jalan ini, ini jalan menuju ke sekolah. Tapi mobil senior melewati sekolah kita, mengarah ke jalan lain. Ku lihat senior yang diam saja, sambil mengecek handphone-nya. Pacarku sudah sangat sibuk, baru saja selesai SMA tapi sibuknya seperti seorang CEO. Aku kembali mengarahkan pandangan ke jendela, mobil yang kita tumpangi menuju ke gerbang belakang sekolah. Setauku akses ke gerbang belakang sekolah tidak sembarang orang. Ah iya ... Senior Jo bukan orang yang sembarangan.


Mobil berhenti di depan gerbang dan satpam menghampiri kami. Sopir hanya membuka jendela, satpam tidak berkata apa-apa, ia juga melihat ke belakang dan melihat senior Jo. Lalu ia membukakan gerbang dan mempersilahkan kami masuk. Mobil masuk sekitar 250 meter dari gerbang kemudian berhenti.


"Tuan, kita sudah sampai."


"Geurae~ terima kasih. Aku akan turun, tidak usah membawa peralatan. Biar aku saja yang bawa."


"Baik Tuan muda."


Senior Jo mengajakku keluar mobil, ia menuju ke bagasi dan mengambil tas ranselnya. Aku belum pernah ke gerbang belakang sekolah. Beberapa bangunan yang sudah lama terlihat estetik karena menurutku terlihat klasik dan itu unik. Bunga-bunga liar juga tampak di sekitaran bangunan. Beberapa tiang sudah terselimuti tanaman rambat, dan lantainya diserbu ilalang. Keren sekali! Tempat ini keren!


"Aku membawa beberapa cemilan yang ku letakkan di laci depan. Tunggu kami dan makan saja cemilannya kalau lapar. Oh iya, minumnya juga ada disana. Aku pergi dulu." Kata senior Jo kepada sopirnya.


"Baik Tuan muda, terima kasih."


Senior menggandeng tanganku dan berjalan kaki ke tempat yang dituju. Semakin mengarah ke dalam aku semakin mengenal tempat ini. Ini menuju lapangan basket lama yang biasanya tempat senior Jo latihan sendiri. Karena musim gugur, daun-daun yang menguning dan berguguran di sekitar lapangan. Ditambah sinar matahari yang tampak keemasan ketika menyinari daun-daun yang berguguran itu. Cantik! Lebih cantik dari musim panas!


Aku tertawa haru melihatnya. Seperti ada dimensi lain di sekolah yang tidak diketahui banyak orang. Aku berjalan ke tengah lapangan, bermandikan cahaya matahari yang bersinar. Aku senang sekali! Tempat ini sangat cantik! Senior melihatku yang tertawa bahagia dari jauh juga ikut tersenyum. Sudah 2 musim kulewati di tempat ini, tempat ini seperti dunia paralel yang berbeda di setiap musim. Tidak perlu jauh-jauh untuk menikmati pemandangan yang klasik.


"Senior! Ayo kemarilah!" Ajakku pada senior Jo.


Senior Jo berjalan perlahan ke arahku. Tas ransel yang ia pakai hanya satu lengan saja. Kedua tangan senior dimasukkan ke dalam kantong celananya, senior Jo sangat keren! Senior mendekat dan membuka tas ranselnya. Ia membawa peralatan tukang seperti paku, lem kayu, palu dan juga gergaji kecil.


"Untuk apa senior membawa peralatan itu?" Tanyaku padanya.


"Coba kau lihat pohon itu." Kata senior dengan tangan yang menunjuk ke satu pohon.


"Ada apa? Pohon?"


"Perhatikan baik-baik."


"Itu ... Itu ... Itu tupai!" Ucapku pada senior Jo dengan nada sedikit teriak sehingga senior Jo terkejut. Melihatku seperti itu senior Jo tertawa.

__ADS_1


"Biasanya sebelum musim dingin tiba, aku memperbaiki rumah-rumah burung yang ada disana, sekilas memang sudah tampak tak layak lagi karena hanya ku perbaiki setahun sekali."


Aku baru benar-benar memperhatikan sekeliling. Ada rumah burung yang dihinggapi burung-burung kecil, kondisinya sudah terlihat bobrok, hampir rubuh. Warna kayu yang alami menyatu dengan warna pepohonan juga. Dan di pohon yang ditunjuk senior Jo ada seperti pintu kecil di bagian lubang rumah tupai.


"Saat musim dingin mereka akan hibernasi. Saat kelas 1 aku menemukan salah satu dari mereka malah mati kedinginan. Jadi setiap ada kesempatan aku membuatkan rumah untuk mereka." Lanjut senior Jo.


Saat aku melihat senior Jo ia sudah mengumpulkan kayu-kayu. Aku mendekatinya, memegang salah satu kayu. Kayu dengan warna coklat tua pada bagian luarnya dan berdiameter sekitar 10 cm. Senior melepaskan jas yang ia pakai, menggulung kemeja di kedua lengannya. Ku bantu untuk menggulung kemeja di lengannya agar nanti tidak kotor.


"Terima kasih." Kata senior Jo selagi aku menggulung lengan kemejanya.


"Aku akan ikut membantu, aku mau membantu."


"Tidak usah, banyak paku dan ujung kayu yang tajam. Nanti kau terluka, memperbaikinya tidak akan lama kok."


Aku menuruti perkataan senior Jo. Senior Jo menyuruhku duduk di sebuah kursi kayu. Kondisi kursi kayu itu kering, jadi permukaannya tidak basah dan kotor. Aku memperhatikan senior yang sedang bekerja. Tidak biasanya seseorang yang bekerja di meja dan komputer keluar dari zona nyamannya dan bekerja seperti tukang. Peluh senior Jo membasahi wajah dan lengannya.


Seperti kata senior Jo, ia sudah terbiasa memperbaiki rumah-rumah burung itu. Tidak butuh waktu yang lama ia memperbaikinya. Ia juga memperbaiki pintu kecil di pohon tempat tinggal tupai. Tangan senior kotor, aku mengambilkan air mineral dari tasnya dan membantunya cuci tangan. Aku juga memberinya tisu dan mengelap keringat di wajahnya. Aku senang melihat senior juga senang.


"Mungkin ini tahun terakhir aku memperbaiki rumah-rumah 'penduduk' ini ..." Kata senior dengan nada pelan.


"Kalau senior tidak bisa memperbaikinya, biar aku yang memperbaikinya. Hanya setahun sekali sebelum musim dingin."


"Apakah tempat ini masih ada?"


Senior mendekatkan wajahnya pada wajahku. Hidung senior yang mancung bersinggungan dengan hidungku. Semakin mendekat dan ... Aku menarik diri, berbalik arah dan membuang tisu yang kugunakan untuk mengelap wajah senior Jo. Aku kembali dan senior membereskan barang-barang yang ia bawa. Aku memakaikan jas navy kepada senior, memperbaiki dasi abu-abunya yang sedikit berantakan.


"Ayo kita kembali." Ajak senior Jo padaku, ia berjalan sambil menggenggam tanganku, aku mengikutinya.


Berjalan kembali dan kami sampai di mobil. Sopir terlihat sedang menikmati cemilannya. Melihat kami kembali ia buru-buru menyelesaikan makannya.


"Tidak usah buru-buru, nikmati saja makan mu. Kami akan menunggumu, di dalam mobil." Kata senior melihat sopirnya makan terburu-buru.


"Tidak apa-apa tuan?"


"Tidak apa-apa kok, kami juga tidak terburu-buru."


"Ya, nikmati saja makanannya. Oh iya! Duduklah ketika makan, agar tidak tersedak." Ucapku pada sopir senior Jo.


Sopir itu mengangguk mengiyakan dan duduk sambil ia makan. Sopir senior Jo terlihat seumuran dengan sopir Han. Aku juga belum menanyakan siapa nama sopirnya.

__ADS_1


"Senior ... Boleh aku tau siapa nama sopirmu?" Tanyaku pada senior Jo.


"Oh iya aku belum mengenalkannya padamu. Namanya Lee Joon Jae, beliau seumuran dengan sopir Han. Sudah bekerja dengan keluargaku sejak ayahku masih muda. Ayah beliau juga sekretaris dari kakekku."


"Oooh begitu. Lalu kenapa beliau tidak jadi sekretaris ayahmu senior?"


"Ntah lah ... Tapi adiknya jadi sekretaris ayahku."


"Wah wah! Sebuah dinasti!"


Sopir Lee sudah selesai makan. Beliau minta maaf karena membuat kami menunggu. Kami masuk ke dalam mobil dan mobil berbalik keluar dari lokasi.


"Apa kau lapar? Mau makan cake?" Tanya senior Jo.


"Cake? Aku mau red Velvet!"


"Kalau begitu kita ke toko cake biasa aku membeli cake." Kata senior pada sopir Lee.


"Baik Tuan muda."


Mobil pergi menuju ke toko cake. Perjalanan sedikit cukup lama hingga akhirnya kami sampai ke toko cake yang sederhana. Desain tokonya sederhana, tapi ramai dengan pengunjung. Toko cake ini ada dua lantai, lantai atas untuk pengunjung VIP dan lantai utama untuk pengunjung reguler. Senior mengajakku ke lantai atas, ada beberapa bangku yang kosong. Sisanya dipenuhi para pengunjung.


Aku duduk di bangku yang senior pilihkan, kemudian waiter datang membawa menu. Senior memesankan 1 potong cake red Velvet dan 1 potong cheesecake. Untuk minuman aku memilih matcha original dan senior memilih ekspresso. Sebelum pesanan datang, aku memperhatikan sekeliling tempat kami duduk. Aku belum pernah ke toko kue sejak datang ke Korea.


"Omong-omong aku belum pernah sekalipun ke toko kue sejak datang ke Korea." Ucapku pada senior Jo.


"Dan aku adalah orang yang pertama kali mengajakmu ke toko kue di Korea." Kata senior Jo sambil tersenyum.


Tidak lama kemudian pesanan kami datang, aroma kue yang khas sudah lama ku rindukan. Aroma matcha yang rileks juga sangat ku rindukan, meskipun terkadang aku membuat matcha sendiri di rumah. Aku meminum matcha terlebih dahulu, rasanya enak sekali! Lalu aku mulai mengambil satu sendok cake red Velvet dan memasukkan ke mulut. Omo! Rasa yang sangat luar biasa! Cake yang lembut dan rasa cream cheese yang begitu creamy berpadu menjadi satu!


Pantas saja toko cake ini ramai. Rasanya tidak mengecewakan! Senior juga memakan cheesecake nya, ekspresinya memperlihatkan kepuasan saat ia mengunyah cake nya. Aku melihatnya menjadi tersenyum. Baru kali ini aku melihat ekspresi senior yang cinta makanan. Senior menghabiskan cake nya lebih cepat dari aku, seperti senior sangat suka dengan cake di toko ini, atau karena lapar? Aku juga menghabiskan red Velvet ku, rasanya tidak tega menghabiskannya karena terlalu enak. Ah! Aku juga lupa memotret kue nya tadi.


Saat aku minum matcha, senior mengeluarkan sesuatu dari saku jasnya. Seperti sebuah kertas? Bukan ... Itu sebuah brosur. Ia menyerahkan brosur itu padaku. Brosur itu adalah brosur sebuah universitas di China. Aku meletakkan cangkir matcha dan meraih brosur itu. Tanpa senior ucapkan pun aku tau maksudnya. Aku melihat dengan lekat brosur itu dan kemudian memandang wajah senior. Senior Jo tersenyum iba melihatku, aku kembali melihat brosur dan tidak mengatakan apa-apa.


Somedays on rainy days


It's hard to say


What's falling down on me

__ADS_1


With all our time


With our all days


__ADS_2