
"Apa? Kau bilang sesuatu?" Tanya Junsu yang sedang mengendarai sepeda
"Aku ... AKU MAU MAKAN AYAM GORENG!"
"Sekarang???"
"IYAAA"
"Let's gooo."
.....
"Pesankan aku ayam yang pedas ya chingu!" Kataku padanya sambil menepuk pundaknya.
Junsu dan aku duduk di pojok kiri dekat jendela. Ternyata hari sudah agak gelap ya. Sebelum mampir ke restoran ayam goreng kami berkeliling naik sepeda. Pantas saja sudah terasa lapar.
"Oi chingu!" Ucap Junsu agak mengejutkanku.
"Mwo?" Tanyaku padanya
Junsu mengarahkan jari telunjuknya ke arah luar jendela. Menunjuk ke arah luar jendela. Salju pertama turun hari ini. Wah! Cantik sekali! Salju pertama sejak kedatangan ku ke negeri ginseng. Sayangnya aku melihat salju pertama bukan dengan orang yang aku suka. Tapi si chingu ini sangat menyenangkan dan lebih dari cukup.
Waktu seperti berhenti sejenak ketika salju pertama turun. Kecil mungil dan berwarna putih bersih. Aku terhipnotis sejenak dengan benda putih yang berjatuhan dari langit itu.
"OI CHINGU! Ayo makan!"
"Oh sudah datang ya. Terima kasih. Selamat makan ...!"
"Chingu, kita harus sering-sering makan bareng. Karena kita bertetangga ..."
Aku sengaja memesan ayam yang pedas. Karena aku ingin menangis, ya menangis. Terlalu menyedihkan rasanya menangis karena seseorang. Aku mulai memakan gigitan pertama, menurutku tidak terlalu pedas. Tapi ...
"Oi chingu! Apa terlalu pedas sampai kau menangis?" Tanya Junsu dengan heran sambil memberi tisu padaku.
"Y-ya ... Pedas hiks pedas sekali hiks hiks."
"Ah~ aku ... Aku memang bodoh tapi sepertinya aku mengerti."
Junsu pindah sebelahku dan menepuk-nepuk pundak ku. Baru saja satu gigitan dan aku menangis. Mungkin kalau kami tidak mampir ke restoran tadi aku sudah menangis di jalan.
__ADS_1
"Perlahan-lahan kau akan terbiasa kan? Kan ada aku disini."
Aku berhenti menangis, menghapus air mata dengan tisu dan lanjut memakan ayam goreng. Tidak ada percakapan selama kami makan, bahkan sampai kami pulang.
.....
"Oi chingu! Mau mampir kemana lagi?"
"Tidak ada, kita pulang aja. Aku kedinginan ..."
"Okeee"
Junsu mengantarku pulang ke rumah. Sepertinya juga ibuku sudah di rumah. Hari ini terasa dingin sekali, besok harus pakai coat tebal.
"Terima kasih sudah mengantarku pulang" kataku pada Junsu
"Oh bukan apa-apa. Besok ... Mau berangkat bareng? Volunteer ..."
"Why not? Aku akan bawakan bekal untuk kita."
"Tidak perlu sampai begitu, tapi kalau memaksa aku tidak menolak."
Aku berbalik dan masuk ke rumah. Ibu sedang sibuk di depan laptopnya. Hari ini lumayan dingin, apa karena salju turun? Apa aku juga perlu beli syal? Sepertinya aku harus terbiasa dengan musim dingin di Korea.
Selesai mandi dan mengeringkan rambut, aku duduk di kasur mengarah ke jendela. Lagi-lagi, hari sudah gelap. Memang tidak ada gunanya menghitung hari.
DRRT DRRT
Ponsel ku berdering, ada telepon masuk dari nomor tidak dikenal. Sudah malam, jariku malas mengangkat telepon itu tapi hatiku merasa harus mengangkat teleponnya. Hati? Aku masih punya hati? Ku angkat panggilan telepon itu, dan sengaja untuk diam sebentar.
"Halo? Eunsu?" Ucap seseorang dari seberang sana. Suara yang sangat ingin kudengar, aku tidak percaya! Apa aku sudah tidur? Apa aku bermimpi?
"H-halo ...?" Jawabku
"Memang benar ... Eunsu-ku yang menjawab."
Sial! Aku tidak bisa menahan air mata lagi. Aku mengatupkan tangan dibibir dan mencoba tidak bersuara.
"Senior ... Bukan. Jo Eun Byul-ssi tiba-tiba meneleponku."
__ADS_1
"Sepertinya aku tidak bisa berlama-lama, aku menelepon dari telepon umum jadi ... Aku akan to the point."
"Ha?"
"Aku rindu Eunsu-ku. Apa disana sudah turun salju? Maaf aku tidak bisa menemani melihat salju pertama yang turun ..."
Aku masih menangis tanpa suara, dan suara diseberang sana juga terdengar parau. Kami memang belum terbiasa, kesibukan kami belum terlalu padat. Pasti ada celah yang membuat kami rindu satu sama lain.
"Maaf ... Apa kau baik-baik saja disana?" Tanya Eun Byul padaku
"Ya ... Ya aku ... Mencoba baik-baik saja dan terbiasa. Bagaimana denganmu?"
"Masih belum terlalu sibuk, hanya ... Pekerjaan dasar seorang rookie. Aku ... Ingin sekali melihat salju pertama denganmu. Jangan menangis, jangan begadang dan makanlah dengan baik. Kelas 3 nanti akan terasa agak berat karena akan masuk ke universitas. Persiapkan dengan baik dan jangan memaksakan diri. Lakukan saja yang terbaik untuk dirimu ..."
Orang ini belum berubah, bahkan ketika di telepon. Waktu kami memang terbatas jadi kami membicarakan banyak hal termasuk kegiatan hari ini. Air mataku berhenti ketika kami membicarakan hal yang menyenangkan. Aku bersyukur meskipun ia tidak secara langsung ada bersamaku tapi terasa nyata ia sedang disampingku. Ia sedang menemani melihat salju pertama turun, ya rasanya seperti itu.
So lay down just for one night
So I will never lose you in my eyes
Will I know
Or see the way of life
And will I ever know
What is going on
Even when I close my eyes
Will I ever see you
Mystic world
Will I ever gonna leave the maze
Will I ever find the key
Will I ever see you
__ADS_1
Somewhere in the dark