My Silver Star

My Silver Star
Lucky Rain


__ADS_3

Tangisan awan hitam menutupi senyuman matahari ...


"Gila! Deras banget hujan hari ini hu hu hu"


Keluhan Sora sama sekali tak menggangguku, di kelas yang nyaman ini ketika hujan memang lebih baik tidur saja. Tapi bukannya merasa ngantuk aku masih memikirkan senyuman senior Jo, kurasa aku harus menanyakan tentang senior Jo kepada Sora. Apakah Sora akan curiga? Ah masa bodoh, aku kan hanya penasaran tentang senior Jo bukannya suka padanya.


"Hei Sora, daripada ngedumel sejak tadi mendingan kau tidur saja sana." Kataku pada Sora


"Bangunkan aku kalau sudah pulang ya!" Jawab Sora sambil tersenyum seolah-olah Sora ini punya banyak ekspresi, bisa berubah begitu cepat.


"Iya ... Tapi, aku ingin bertanya sesuatu."


"Kau seperti ada udang dibalik batu, apa yang ingin kau tanyakan?"


"Apa kau tau senior Jo?"


Ekspresi Sora berubah, wajahnya seperti detektif yang sangat penasaran. Sejenak ia terdiam, seperti menimbang sesuatu sebelum menjawab.


"Kau suka padanya?"


"Siapa?"


"KAU OLIVIA KIM!"


"Sssttt! Pelankan suaramu! Aku suka siapa?"


"KAU SUKA SENIOR JO?" Tanya Sora padaku dengan ekspresi menahan amarah dan kesal.


"Ya tidaklah! Aku hanya penasaran, apa kau tau tentangnya?"


"Bagaimana kau tau nama senior Jo?"


"KENAPA MALAH BALIK TANYA?"


"AKU KAN JUGA PENASARAN!"


"YA UDAH AKU TIDAK JADI TANYA!"


"Iya iya akan ku ceritakan tentang senior Jo, tapi kau juga harus cerita padaku tentang kau mengenalnya, ok?"


"Arasseo ..."


Ternyata bertanya tentang senior Jo kepada Sora lebih rumit dari yang ku kira. Memangnya senior Jo kenapa? Ada apa? Aku kan hanya penasaran astaga!


"Jadi senior Jo memiliki nama lengkap Jo Eunbyul ..."


"Aku tau namanya."


"Tunggu dulu, jangan memotong omongan ku! Jadi, senior Jo ini rumornya adalah seorang chaebol dan juga memiliki bisnis atas namanya sendiri!"


"Itu hanya rumor kan?"


"Gimana kalau itu benar?!?!!?"


"Lalu? Hanya itu saja?"

__ADS_1


"Masih ada lagi! Alasan kenapa dia tidak terlalu populer dibanding senior Nam adalah karena insiden tahun lalu, semenjak itu orang tidak terlalu sering membicarakannya."


"Insiden?" tanyaku pada Sora karena penasaran


"Ada sebuah insiden saat tahun lalu, tapi aku tidak bisa menceritakan disini lebih baik kau cari tau sendiri saja."


"Tentu saja akan ku cari tau, aku tidak akan bertanya padamu."


"Aku akan menunggumu mengibarkan bendera putih (menyerah) hahaha!"


Sora tertawa puas menantikan hari kemalangan ku, ya ... hari saat aku menyerah mencari tau dan bertanya kepadanya. Tapi, kata 'insiden' masih terngiang-ngiang di kepalaku menurutku hampir semua penghuni sekolah ini tau apa yang terjadi tahun lalu. Dan alasan kenapa disembunyikan diam-diam pasti ada sesuatu dibaliknya.


Posisi tempat dudukku berada di urutan kedua dari belakang dan tepat di samping jendela. Aku melihat keluar jendela air hujan dari awan yang hitam seolah-olah sedang menghapus jejak. Pohon-pohon dan bunga basah terkena air hujan, lapangan tenis basah tergenang air, hari ini seluruh kota basah dan tergenang air. Aku mendekatkan kepala ke arah jendela yang tertutup dan menghembuskan nafas agar tercipta embun. Kebiasaan sejak kecil aku suka mengukir di jendela ketika hujan, bau petrichor tercium sangat pekat atau hanya aku saja yang menyadari hal itu? Kelas masih lama berakhir, tak pernah aku merasa segundah ini, ada rasa penasaran, lelah, sedih, marah ntah kenapa semuanya bercampur aduk menjadi satu.


.....


Jam menunjukkan pukul 08.59 PM sebelum pulang biasanya aku suka ke perpus untuk menenangkan pikiran ku. Pukul segini perpus masih tak sepi pengunjung, banyak yang belajar mati-matian hingga larut malam. Aku mengambil sebuah buku novel terjemahan The Golden Compass, sejak dulu aku memang suka novel bergenre fantasi menurutku bisa menenangkan pikiran sejenak. Seperti biasa saat membaca aku selalu mendengarkan lagu melalui earphone, suara Jackson Wang terdengar begitu tegas di lagu ini.


"... Let me block the rain for ya


Witness every moment


Let me go through All the pain for ya


Let me be the one to make you smile overcoming all the fear


Let me be there


Wiping all your tears for ya ..."


Perlahan ku buka lembar demi lembar novel yang kubaca aku sangat larut ketika membaca apalagi sambil mendengarkan musik, aku akan masa bodoh dengan apa yang disamping ku. Sampai ke halaman 64, seseorang duduk didepan ku dengan buku yang banyak, aku tidak memperhatikan orang itu hanya kulihat bukunya yang begitu banyak ia pasti mati-matian belajar. Kembali ku lanjutkan bacaan ku tadi, tiba-tiba orang didepan ku memanggilku.


"Ya?"


Aku sedikit tercengang karena yang memanggilku adalah senior Jo, aku memperhatikan sekeliling kenapa di sekian banyak meja dia memilih meja di depanku. Ternyata meja sekitaran ku memang kosong, lalu kenapa ....


"Hei, apa aku mengganggu mu?" tanya senior Jo padaku yang membuyarkan lamunanku


"Ah, tidak ... tidak apa-apa kok."


"Sepertinya kita pernah bertemu kan? di depan ruangan guru? Bu Choi?"


"Iya benar." Aku seketika melepaskan earphone ku


"Ah, begini kita belum berkenalan secara resmi hahaha, perkenalkan namaku Jo Eunbyul aku dari kelas 3B, bagaimana denganmu?" kata senior Jo sambil mengulurkan tangannya kepadaku


"Halo senior Jo, namaku Olivia Kim aku dari kelas 2A anak pindahan tepatnya. Senang berkenalan denganmu, dan terima kasih atas yang kemarin." jawabku pada senior Jo dan menyambut uluran tangannya dengan sopan


"Ah, yang kemarin bukan apa-apa, terima kasih kembali ya."


Senior Jo tersenyum seperti tadi, begitu manis ketika tersenyum. Setelah berkenalan senior Jo melanjutkan kembali belajarnya aku juga kembali memasang earphone dan mendengarkan musik hanya saja sekarang aku tidak fokus membaca novel. Aku memperhatikan senior Jo yang berada di depanku, senior Jo memiliki bahu yang lebar, kulitnya tidak terlalu putih namun kulitnya terlihat begitu bagus, potongan rambutnya yang pendek mempertegas penampilannya, hidungnya mancung dan rahang senior Jo berbentuk V line begitu sempurna namun wajah senior Jo agak lebar jadi rahang V line miliknya tidak terlalu nampak jika sekilas. Senior Jo memiliki mata monolid, mirip seperti mata milik aktor Jisoo, alis senior Jo juga tebal. Seseorang ini 99% terbilang sempurna lalu apa insiden yang membuat orang enggan dengannya lagi?


Hah! Kenapa denganku? Kenapa malah memperhatikan senior Jo ?!?! Aku kembali melanjutkan baca novel, saat masih asyik membaca novel tiba-tiba senior Jo memanggiku. Aku yang menyadarinya melepaskan earphone dan bertanya padanya.


"Ada apa senior?"

__ADS_1


"Apa kau tidak pulang? sekarang sudah pukul 10.00 PM."


"Benarkah? Aku harus ke tempat les, tapi di luar masih hujan ..."


"Coba kau tanya ayahmu atau ibumu untuk membatalkan les hari ini, dan pulang ke rumah karena hujannya deras lagi."


"Baiklah akan ku coba, terima kasih senior Jo."


Senior tidak menjawab dan ia hanya tersenyum, aku menelpon Appa untuk membatalkan kelas tambahan malam ini dan pulang. Appa bilang dia akan menjemputku, jadi aku akan menunggu sebentar lagi.


"Bagaimana?" tanya senior Jo


"Ayah bilang boleh membatalkan kelas tambahan hari ini, dan ia akan menjemputku nanti." Jawabku


"Akan ku temani hingga ayahmu datang."


"Tidak apa-apa kah? Senior tidak buru-buru?"


"It's all right."


Aku mengembalikan buku ke rak buku sesuai nomor, senior Jo juga mengembalikan buku-bukunya. Aku bersiap untuk keluar bersama senior Jo yang menemani ku. Kami berjalan di lobi lalu aku mengeluarkan payung, tapi senior tidak membawa payung.


"Apa senior tidak bawa payung?" tanyaku


"Tidak apa-apa, kau pakai saja payungnya dan berjalan menuju halte, nanti aku akan lari menyusulmu kesana."


"Payungku cukup untuk dua orang kita pakai bersama saja, lagipula ini sudah malam bagaimana jika besok senior sakit?"


Senior terdiam sejenak menimbang keputusan, kemudian ia menyetujui untuk memakai payung bersama-sama. Senior memegang payungnya dan kami berjalan perlahan menuju halte. Sebenarnya halte tidak begitu jauh hanya saja hari ini hujan sangat deras. Aku sesekali memperhatikan raut wajah senior yang terlihat seperti orang yang sedih, mungkin hanya perasaanku saja tapi aku rasa matanya berkaca-kaca atau ini efek hujan? Ntah lah.


Kami sudah sampai di halte, cuaca malam ini sangat dingin tapi untungnya aku membawa jaket. Bagaimana dengan senior Jo?


"Kita akan tunggu ayah mu datang, aku juga akan menunggu bus terakhir." Kata senior Jo


"Terima kasih sudah mau menemaniku senior, apa senior tidak kedinginan?"


"Tidak apa-apa kok aku sudah biasa, duduk saja."


Memang benar, senior Jo seperti sedikit melamun dan tatapan matanya menunjukkan kesedihan. Aku mendapat notifikasi chat dari Appa yang bilang bahwa Appa agak lama sedikit. Kami cukup lama menunggu dan bahkan kami tidak saling mengobrol. Aku tidak tau harus memulai apa dan aku masih kepikiran soal 'insiden' tahun lalu. Apa insiden itu? Aku melamun bercampur mengantuk dan tak lama senior Jo membuka suara mengawali percakapan kami.


"Kenapa kau mau mengobrol denganku?" tanya senior Jo


Aku sedikit tercengang mendengarnya, memangnya kenapa kalau mengobrol dengan senior sendiri? Apa itu salah? Aku terdiam sejenak sebelum menjawab.


"Aku tidak membeda-bedakan orang, memangnya apa yang salah mengobrol dengan senior sendiri?"


"Kalau nanti kau tau sebuah kebenaran tentangku apa kau masih mau mengobrol denganku?"


"Kenapa tidak? Setiap orang memiliki masa lalu tersendiri kan ... Itu bukan acuan untuk tidak saling mengobrol, lucu sekali."


"Begitu ya ... kuharap kau memegang omongan mu." kata senior Jo dengan tersenyum pahit seperti ada sesuatu tentang insiden tahun lalu, tapi apa insiden itu?


Ucapan senior Jo memang seperti tidak masuk akal, memangnya apa yang salah dengan masa lalu seseorang? Yang namanya masa lalu tentu ada baik dan buruknya, tapi itu terjadi di masa lampau tidak usah dikaitkan dengan sekarang. Senior Jo seperti orang yang berbeda, siang hari tadi ketika makan di kantin dia masih terlihat hangat seperti sinar matahari, dan kini ia terlihat seperti menanggung beban yang sangat berat di pundaknya. Wajahnya terlihat lelah dan sedih, kurasa dari sekian banyak orang hanya aku yang menyadari hal ini, seolah senior Jo menutupi bebannya di bawah tangisan awan hitam. Raut wajah seperti itu, aku ingin menghiburnya tetapi aku masih tidak tau apa insiden tahun lalu.


"Senior Jo ..."

__ADS_1


"Ya?"


"Tolong tersenyumlah, aku tidak suka raut wajah senior yang terlihat sedih, aku suka senyuman senior. Begitu hangat dan menyenangkan ... Seperti senyuman matahari."


__ADS_2