
Ketika tangisan awan hitam kembali menyapa ...
"Halo? Senior? Apa kau sudah pulang?" Tanyaku pada senior Jo saat meneleponnya.
"Oh halo~ aku masih di depan gerbang sekolah, sedang menuju ke halte. Ada apa?" Jawab Senior Jo
"Apa kau tau soal kecelakaan kemarin?"
"Ya ..."
"Apa kau ingat aku juga punya tetangga yang seumuran?"
"Ya ..."
"Jadi ..."
"Si korban adalah si tetanggamu?" Tebak senior Jo.
"Pacarku yang tampan memang pintar sekali ya~"
"Ah~ Hentikan itu~"
"Baiklah ... Apa senior mau menjenguknya? Sekalian berkenalan dengannya juga ..."
"Boleh, apa kau sudah keluar kelas?"
"Lihat kebelakang senior!"
Aku tepat berada 4 meter dibelakangnya, senior perlahan membalikkan badan dan melihatku. Senior tersenyum lalu tertawa, senior melihat handphone-nya yang masih ia genggam. Aku yang melihatnya juga langsung tersenyum, panggilan telepon ku akhiri dan aku berlari kecil ke arah Senior Jo. Senior memelukku dengan hangat dan kami berjalan bersama ke luar gerbang sekolah.
Hari ini senior mengenakan long coat berwarna hitam dengan kancing kayu yang berwarna krim. Senior juga memakai tas hitam motif naga miliknya. Rambut hitam senior Jo mulai memanjang dan sudah terlihat tebal. Senior Jo begitu matching dengan outfit serba hitam. Di cuaca yang dingin ini aku mengenakan coat biasa berwarna maroon.
"Kita akan ke supermarket dulu, setelah itu baru kita pergi ke rumah sakit." Kataku pada senior Jo.
"Baiklah~ nanti setelah belanja di supermarket kita berangkat dengan mobil saja, nanti aku telepon sopir."
"Bukankah lebih seru naik bus?"
"Seru? Sepertinya kau tidak melihat prediksi cuaca ya? Hari ini akan hujan ..."
"Benarkah? Aku tidak bawa payung."
"Aku juga tidak bawa, kita naik mobil saja."
Kami pergi ke supermarket terlebih dahulu dengan menggunakan bus. Bus terlihat agak sepi, hanya ada beberapa orang dewasa dan tiga orang siswa SMP. Aku dan senior Jo duduk dibagian belakang, hanya ada kami berdua saja. Kemudian senior mengeluarkan earphone dan tasnya, ia mencolokkan kabel earphone ke handphone-nya.
"Apa kau ingin mendengarkan lagu?"
Senior menyodorkan earphone ke arahku. Aku tidak menjawab pertanyaannya, tapi aku mengambil earphone yang ia tawarkan dan memasang ke telingaku. Senior tersenyum dan memilih lagu untuk ku dengarkan. Alunan musik mulai terdengar, aku mengenal lagu ini, salah satu lagu kesukaanku juga. Aku melihat senior Jo sambil tersenyum, senior juga balik tersenyum. Aku senang sekali, di cuaca dingin saat ini senior juga menggenggam tanganku dan memasukkan ke dalam kantong jaket coat miliknya.
You are my sunshine, my only sunshine
You make me happy when skies are gray
You'll never know dear, how much I love you
__ADS_1
Please don't take my sunshine away
.....
Aku dan senior Jo sudah sampai di supermarket. Saat tiba di supermarket langit tampak mendung, prediksi cuaca hari ini akan turun hujan. Kami pun masuk supermarket dan membeli beberapa buah seperti apel, jeruk Jeju, anggur dan buah pir. Kami juga membeli syal rajut berwarna biru muda untuk Junsu.
Syal dibeli di sebuah toko tepat di depan supermarket. Untungnya hujan belum turun, namun saat keluar supermarket langit sangat gelap.
"Apa warna ini akan cocok untuk laki-laki?" Tanyaku pada senior sambil menunjukkan syal biru muda padanya.
"Dia pasti akan memakai hadiah yang diberi untuknya."
"Semua laki-laki begitu?"
"Aku sih begitu, ambil saja akan ku bayar sekalian minta bungkus kadonya."
"All right~"
Senior Jo yang membayar hadiah syal untuk Junsu. Senior Jo membayar dengan kartu kredit 'Black Card' miliknya. Hebat sekali! Senior sudah punya Black Card sendiri. Aku tercengang ketika melihatnya. Pantas saja barang-barang yang dipakai senior terlihat ber-merk. Kalung yang ia beli untukku juga mahal.
Selesai membeli syal kami keluar dari toko, saat di depan toko hujan turun. Senior Jo mengeluarkan handphone-nya dan mengirim pesan ke sopir. Aku memandang hujan dan memejamkan mata menghirup aroma petrichor.
"Senior ..." Tanyaku pada senior Jo dengan mata yang masih memejam.
"Ya ..."
"Aku ingin bertanya sesuatu."
"Tentang Black Card?"
"Ya, itu pertanyaan kedua sebenarnya ..."
"Lalu pertanyaan pertama?"
"Tapi aku ingin senior menjawab pertanyaan kedua dulu."
"Hmm ... Haruskah?"
"Bagaimana kalau aku bilang iya."
"Persepsi mu?"
"Kartu itu milik Papa mu kan senior?"
"Aku tidak mau menjawabnya."
"Apa-apaan ..."
Ekspresi ku kini mengambek, dan senior tersenyum mengarahkan wajahnya ke depan wajahku. Aku tersipu melihatnya, wajahnya dekat sekali dengan wajahku. Senior menarik kembali wajahnya dari hadapanku. Sepertinya senior Jo memang sengaja melakukannya untuk membuatku malu.
"Kartu ini milikku sendiri, masing-masing anggota keluarga kami juga memilikinya."
Aku tidak menjawab, masih diam saja. Kemudian menatap senior Jo dengan lekat. Lalu menundukkan pandangan ke jalanan yang basah karena hujan.
"Keren sekali ya ..." Kataku
__ADS_1
"Aku yakin keluargamu juga punya kan?" Tanya senior tiba-tiba.
"Ya itu ... se-sebenarnya Appa dan Eomma punya Black Card juga ..."
"Sudah kuduga. Pasti hanya kau saja yang belum punya kan?"
Aku kembali menatap senior lalu memalingkan pandangan mengarah ke jalan. Senior mengusap kepalaku sambil tersenyum. Kurang lebih 10 menit kami menunggu, kemudian sopir datang dengan mobil sedan. Kami berdua masuk mobil dan duduk di bangku belakang. Aku memegang kado untuk Junsu sedangkan senior memegang belanjaan buah-buahan.
"Ke rumah sakit Gangnam." Kata senior kepada sopir.
"Baik Tuan muda."
Mobil berangkat menembus hujan yang deras. Hujan melanda seluruh belahan kota Seoul. Kaca mobil terhiasi tetesan air hujan dan embun.
.....
Mobil tiba di rumah sakit, sopir membukakan pintu untuk kami berdua. Senior mengatakan sesuatu kepada sopir, sepertinya meminta untuk menunggu kami. Aku dan senior masuk ke rumah sakit dan menuju ke lift. Ketika di lift aku langsung menekan tombol nomor 5. Dan mengatakan pada senior bahwa Junsu ada di ruang nomor 503.
Lift tiba di lantai 5, aku dan senior menuju ke ruang 503. Sesampainya di sana, senior membukakan pintu ruangan. Di dalam ruangan ada pak Kwon yang sedang menjaga putranya tapi sepertinya pak Kwon hendak pergi ke suatu tempat. Pak Kwon terlihat mengenakan jas rapi dengan dasi. Ketika kami berdua datang pak Kwon terlihat senang begitu juga dengan Junsu. Luka-luka yang kemarin terlihat basah, sudah mulai mengering.
"Oh! Vivi sudah datang! Kemarilah ..." Ucap pak Kwon menyambut kami.
"Terima kasih pak. Kami datang untuk menjenguk Junsu. Ah~ perkenalkan ini adalah senior Jo, senior Jo ini adalah pak Kwon." Kataku mengenalkan senior Jo pada pak Kwon.
"Jo Eunbyul."
"Kwon Jisoo, ayahnya Junsu."
Senior Jo membungkuk pada pak Kwon dan pak Kwon juga membalasnya. Kami juga memberikan buah-buahan dan kado untuk Junsu. Pak Kwon segera menyusunnya, dan merapikan meja. Pak Kwon juga mempersilahkan kami berdua untuk duduk.
"Ah iya, kalian silahkan mengobrol dulu aku akan keluar sebentar. Bolehkah?" Kata pak Kwon pada kami
"Tidak apa-apa, tapi di luar sedang hujan sebaiknya Kwon-ssi berhati-hati." Jawab Senior Jo, aku juga mengangguk setuju.
Pak Kwon keluar dengan membawa tas kerjanya. Aku dan senior Jo berdiri dan membungkuk hormat pada pak Kwon.
"Hey bro bagaimana kabarmu?" Sapaku pada Junsu.
"Seperti yang kau lihat sis~ Perkenalkan aku dengan pria tampan disampingmu itu~"
"Ah ini adalah senior Jo, senior Jo ini adalah Junsu."
"Jo Eunbyul."
"Kwon Junsu."
Senior Jo mengulurkan tangan dan bersalaman dengan Junsu. Junsu bersalaman dengan salah satu tangannya yang tidak terluka. Mereka berdua tersenyum dan saling menyapa.
"Hey sis~ Apa dia sungguh seniormu?"
"Ya ... kenapa?"
"Kelihatannya ia bukan sekedar senior untukmu." Kata Junsu sambil menatap senior Jo, aku juga ikut menatap senior Jo.
"Menurutmu?" Ucap senior Jo buka suara.
__ADS_1
Suasana jadi sedikit tegang dan suara rintikan hujan yang sayup-sayup. Mereka saling memandang tajam, masing-masing dari mereka juga mengeluarkan aura 'negatif'. Seperti harimau jantan yang berada di wilayah kekuasaan yang sama. Awan hitam tak menghentikan turunnya hujan, justru membuat hujan semakin deras.