My Silver Star

My Silver Star
Mistake?


__ADS_3

Waktu terus berjalan


Hanya aku saja yang memilih untuk berhenti


Akulah yang memutuskan untuk menyerah


Aku ...


Kelas tambahan berjalan seperti biasanya, tidak banyak yang berubah. Mungkin hanya aku yang merasa aneh. Perasaan ini, perasaan "putus asa" aku bingung sendiri dengan hubunganku dan senior Jo. Terkadang aku merasa ada tembok transparan yang menghalangi antara kami berdua. Namun terkadang, aku merasa bisa menembus dinding itu dengan mudah. Aku hanya sedang labil, mengambil keputusan di situasi saat ini kurang tepat.


Sampai di rumah Eomma menyiapkan makan malam untukku. Aku berganti baju lalu kembali turun untuk makan malam. Sebenarnya aku tidak terlalu berselera makan saat ini, jadi aku hanya makan sedikit saja.


"Ada apa?" Tanya Eomma


"Ha? Ah~ tidak apa-apa. Sebentar lagi liburan musim dingin dan pergantian tahun ajaran jadi ... Hm, Eomma pasti mengerti hahah."


"Baiklah ... Istirahat dan jangan terlalu stress."


Aku kembali ke kamar, merebahkan tubuhku diatas kasur yang empuk. Melihat langit-langit kamarku sambil melamun sedikit lama. Aku mengarahkan mata ke jendela. Ternyata sudah sangat malam, sangat sangat gelap. Aku mengambil handphone dan mengecek grub kelas. Seperti biasa, jokes ala remaja Korea dan obrolan mengenai materi besok. Tidak ada yang spesial sebenarnya, aku melihat room chat-ku dengan senior Jo. Aku tidak ingin mengganggunya, aku putuskan untuk bicara dengannya besok. Aku tau ini sedikit mendadak, tapi menurutku ini keputusan yang tepat.


....


Sinar matahari pagi masuk ke kamarku menembus jendela kaca. Aku ingin berangkat lebih awal, jadi aku sudah bersiap untuk berangkat.


TING!

__ADS_1


Notif handphone-ku berbunyi ada pesan yang masuk. Siapa yang mengirim pesan sepagi ini? Tidak biasanya ...


'Apa kau ada waktu setelah selesai kelas?'


'Ya, ada apa senior?'


'Ku pikir kita sudah lama kita berkontak setelah kembali dari Gangwon. Ayo kita beli cemilan dan makan di tempat seperti biasa. Mau?'


'Baiklah. Nanti senior duluan saja, aku yang beli cemilannya.'


'Tidak usah, kelasku selesai lebih awal nanti jadi aku saja yang beli.'


Rasanya ... Hampa. Aku ingin bersamanya tapi aku juga tidak ingin menyakitinya. Kalau terus mengulur waktu, hingga saatnya tiba kami tidak akan siap. Pada akhirnya, masing-masing dari kita yang akan saling tersakiti.


....


Aku melambaikan tanganku juga dan berjalan ke arahnya. Di bangku yang sudah sedikit usang dan sudah dibersihkan diatasnya ada cemilan dan dua susu rasa pisang.


"Ayo duduk!" Ajaknya padaku


"Hmm. Terima kasih senior. You're the best!" Aku mengacungkan jempol padanya. Kami saling tertawa, rasanya menyenangkan tapi, hampa ...


"Apakah liburan nanti kau pulang ke Indonesia?"


"Sepertinya tidak, ayah bilang aku melanjutkan kuliah disini saja bersama kakek dan nenek nanti. Tidak perlu repot bolak-balik ke Indonesia lagi. Mungkin sesekali aku akan kesana lagi. Kalau senior?"

__ADS_1


"Ah itu ... Sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan juga. Tentang ..."


"Apa senior pergi ke China lebih cepat?" Kataku memotong pembicaraannya


Ia sedikit tercengang dan tidak berkata apa-apa. Senior Jo, bukan ... Jo Eun Byul menundukkan kepalanya ke arah susu pisang yang ia pegang. Aku juga memilih diam menunggu penjelasannya.


"Ada perubahan rencana ... Kakek ingin aku mengambil alih lebih cepat, jadi selagi menunggu perayaan kelulusan kakek menyarankan untuk belajar di perusahaan cabang di Nanjing. Kakek juga ingin aku berbaur lebih cepat ... Aku harap kau mengerti." Ucap senior Jo dengan suara yang gugup dan tidak melihat ke arahku.


"Pada akhirnya senior tetap pergi kan? Sebenarnya tidak ada yang berubah kan? Aku ...."


"Maaf, aku ..."


"Senior! Ah~ bukan ... Jo Eun Byul-ssi. Aku juga ingin mengatakan sesuatu. Aku tau ini juga sedikit mendadak tapi aku sudah memikirkan dengan baik-baik bahkan berulang kali aku terus memikirkannya. Aku mencoba memahami situasi kita. Aku mencari yang terbaik untuk kita, keluarga kita memang sudah saling mengenal tapi. Aku tetap merasa ada tembok penghalang diantara kita. Tembok yang justru makin membesar selagi kita semakin mendekat. Aku tidak menyakiti siapapun jadi ... Ayo kita berhenti sejenak."


"Berhenti ...? Sejenak ...? Apa benar hanya sejenak ...?"


"Pada akhirnya senior tetap pergi kan?" Air mataku menetes saat mengatakannya


"Jangan menangis ... Justru yang tidak mengerti kenapa ...? Kenapa? KENAPA?" Senior Jo terlihat emosional. Aku bisa melihat matanya yang berkaca-kaca, raut wajah yang asing namun aku juga melihat raut wajah ini di cermin.


"Apa senior percaya takdir? Bukan ... Begini, apa senior betapa sulitnya untuk ... Untuk mencoba bertahan tapi ..."


Senior Jo memelukku, aku hanya bisa menangis di pelukannya. Aku juga tidak ingin begini, tapi aku ... Aku sendiri yang tidak mengerti kenapa begini.


Musim gugur yang benar-benar terasa dalam, sebanyak daun yang berguguran. Sebanyak itulah kenangan yang perlahan kita ciptakan.

__ADS_1


Always behind of you


__ADS_2