My Silver Star

My Silver Star
Ring of Fire


__ADS_3

Terjebak dalam lingkaran api di tengah samudra


Sudah beberapa hari sejak insiden di pertandingan. Tidak semua orang mengetahui insiden itu, namun semua guru sudah mengetahuinya. Dari beberapa murid juga hanya orang-orang terdekat saja yang tau. Sisanya yang mengetahui adalah para murid dari dojang Hapkido. Bagaimana dengan orang tua senior? Kedua orangtuanya datang untuk menjenguknya ke rumah sakit saat senior dirujuk ke rumah sakit Gangnam.


Aku? Aku hanya menjenguknya beberapa kali saja. Beberapa hari berlalu, senior sudah pulih dan kembali ke sekolah. Kunjungan terakhir ketika 2 hari yang lalu dan juga kontak terakhir dengan senior. Setelahnya kami tidak ada komunikasi bahkan via telepon atau chatting. Aku mengesampingkan ego-ku untuk terus bertanya tentang keadaannya. Selain itu karena sebentar lagi musim ujian tiba aku lebih memilih untuk fokus ujian. Senior? Kuharap ia baik-baik saja, baik senior Jo ataupun aku sejak kunjungan terakhir tidak ada inisiatif untuk saling bertukar kabar.


Seolah memang tidak terjadi apa-apa diantara kami. Ketika bertemu pun kami bersikap biasa saja. Seringkali kami bertemu di kantin atau di perpustakaan namun salah seorang diantara kami tidak ada yang buka suara untuk bertegur sapa. Kenapa? Entahlah aku juga tidak tau. Yang ku ingat ketika kunjungan terakhir kami memang memutuskan untuk bersikap biasa saja. Masing-masing dari kami menyetujui mungkin ada alasan tersendiri bagi senior untuk kembali seperti dulu. Alasanku? Jujur saja aku hanya ingin fokus ujian.


Beberapa weekend aku berkunjung ke rumah Sora, belajar bersama dengan senior Nam juga. Terkadang mereka bertanya ada apa denganku dan senior Jo, dan aku hanya menjawab ada alasan khusus saja. Mereka seperti khawatir terjadi sesuatu denganku dan senior Jo.


"Hei ... Apa benar tidak ada apa-apa diantara kalian?" Tanya Sora padaku.


"Sudah kubilang kami tidak ada apa-apa, wajar saja kan bagi setiap individu memutuskan untuk bersikap seperti semula?" Jawabku pada Sora.


"Tapi bagi kalian itu ... Aneh! Menurutku kalian satu sama lain menyembunyikan sesuatu."


"Hah ... Terserahlah ..."


"Apa kalian sering bertemu di luar sekolah?"


"Tidak ... Aku tidak pernah keluar rumah selain ke rumahmu."


"Nanti ... Saat musim ujian berakhir apa kau mau menceritakan padaku?"


"Baiklah, kau memaksaku untuk menceritakannya."


"Sudah kuduga! Ada sesuatu diantara kalian!"


"Kembali belajar saja Sora."


"Baik ssaem ..."


Aku tidak terlalu menghiraukan ekspresi Sora dan apa yang aku katakan tadi. Bagiku ujianlah yang terpenting, dan hubungan kami kedepannya ... Kami sudah berjanji. Perihal ada yang melanggar atau tidak akan dibicarakan saat waktu yang tepat. Yang kurasakan saat ini juga monoton, tidak ada yang spesial. Apa aku menangis? Ya, saat kami memutuskan untuk bersikap seperti itu tentu saja aku menangis. Perempuan mana yang mampu bersikap seperti itu pada orang yang dicintainya.


Tetapi lambat lain aku mulai terbiasa. Hatiku merasa hampa, tidak perlu lagi ditangisi. Masa depanku juga masih panjang, mengapa aku harus terpuruk karena hubungan asmara? Konyol sekali. Meskipun hatiku kini hampa, apa benar aku sanggup dan tegar ketika bertemu dengan senior?


H-10 ujian dan aku tidak memikirkan hal lain selain ujian. Kontak dengan beberapa teman sengaja aku kurangi, begitu juga kontak dengan Sora. Aku melihat diriku yang sekarang di cermin. Dengan seragam sekolah dan jaket Coat berwarna coklat, aku terdiam memandang diriku di cermin. Baru kusadari kini aku tak lagi tersenyum, yang berada di cermin memperlihatkan wajar dingin dan datar. Wajah yang tidak peduli dengan perasaan seperti remaja kebanyakan. Masa bodoh! Untuk apa bermain-main menjelang ujian, abaikan saja yang lainnya. Fokus dengan ujian saja!


.....


Di kelas beberapa siswa saling bercanda, aku melihat senyum mereka dan bertanya dalam hati mengapa mereka tersenyum? Siluet senyuman orang lain ku lihat di senyuman mereka. Siapapun yang tersenyum senang pasti aku melihat siluet senyuman orang lain. Sora tidak berubah masih mengajakku berbicara banyak sebelum kelas dimulai.


"Apa perasaanku saja atau kau yang memang kehilangan senyuman?" Tanya Sora sambil memiringkan kepalanya menatapku tajam.


"Perasaanmu saja ... Bagiku tidak ada yang berubah."


"Ayolah ...! Kalau memang kau rindu kenapa tidak bilang langsung padanya?"

__ADS_1


"Aku sudah bilang kami tidak ada apa-apa, apalagi rindu ..."


"Kau seperti orang lain Vivi! Bukan seperti dirimu yang biasanya!"


"Lalu? Sora sekarang lagi musim sensitif karena ujian, jangan membuatku marah."


Sora berbalik dan diam, aku merasa seperti berlebihan saat mengatakannya. Aku menoleh ke arah jendela, dan orang itu berjalan menuju keluar gerbang. Orang itu ... Ya orang itu, aku sudah hampir lupa apa yang terjadi dengan kami saat dulu. Kalung motif Yin Yang yang masih kupakai, aku memegangnya perlahan. Merasakan siluet Yin Yang begitu rapi dan harmonis.


Sepanjang hari selama di sekolah aku hanya diam, Sora hanya mengajak ngobrol untuk hal yang perlu saja. Selama di kantin aku juga tidak banyak mengeluarkan suara. Aku merasa lelah semalaman bergadang untuk belajar demi ujian. Kenapa ujian begitu lama mulainya? Semakin cepat dimulai akan semakin cepat selesai. Semakin cepat pula liburan. Tanpa terasa kelas juga sudah berakhir.


"Vivi apa kau mau mampir ke perpustakaan?" Tanya Sora yang bersiap untuk pulang.


"Ya, aku ingin menenangkan diri sejenak disana sekaligus mendengarkan musik."


"Kau pulang naik bus atau dijemput?"


"Aku ingin naik bus saja nanti."


"Kalau begitu aku pulang duluan, nanti hati-hati ya jangan lupa mengabariku kalau sudah sampai rumah."


"Baik Agassi~"


Sora dan aku berjalan keluar kelas, berpisah di persimpangan lorong menuju perpustakaan. Perpustakaan ramai seperti di kantin, maklum saja musim ujian memang begini. Semuanya kemari untuk belajar, kecuali aku. Suasana yang tenang cocok untuk mendengarkan musik dan mengulas sedikit pelajaran di kelas tadi. Aku memilih meja agak pojok belakang yang sedikit sepi. Empat menit berlalu, meja didepanku diisi dengan seseorang, aku tidak memperhatikan detail siapa yang duduk sampai ia memberiku susu coklat. Aku sedikit terkejut dan melihatnya, ternyata ... Orang itu.


"Terima kasih senior." Ucapku padanya lalu kembali fokus mengulas pelajaran.


Begitu saja? Hah ... Terserahlah. Aku juga tidak ingin mengganggunya, ujian kali ini penting bagi siswa-siswi kelas 3. Mereka harus mendapatkan nilai tinggi untuk bekal melanjutkan ke universitas. Aku mengambil susu coklat dan melihatnya yang fokus belajar. Jadi kita begini? Kupikir nanti harus ada yang dibicarakan sebelum kita benar-benar 'lepas'. Aku membereskan barang-barangku, melepas earphone dan bersiap pulang.


"Senior ... Aku pulang dulu."


"Tunggu! Apa kau dijemput?"


"Tidak, aku ingin naik bus saja."


"Akan ku temani saja sekarang sudah ..."


"Tidak usah senior. Aku tidak ingin mengganggu belajarmu, lagipula belum terlalu malam."


"Apa kau yakin?"


"Ya aku pasti baik-baik saja."


"Ah ... Begitu baiklah ..."


"Aku duluan ya~"


"Eh itu ..."

__ADS_1


"Ada apa senior?"


"Tidak ada apa-apa, pulanglah ... Hati-hati."


"All right~"


Aku pergi meninggalkan perpustakaan dan juga ... Orang itu. Bukannya merasa nyaman aku malah sedikit terganggu. Aku jadi tidak fokus, dan merasa salah tingkah. Kulihat susu coklat yang kupegang di tangan kananku. Aku masih tidak percaya ia memberiku sesuatu begitu saja dengan cuma-cuma. Tanpa menyapaku juga ...


Tidak lama setelah aku sampai di halte, bus sudah datang. Karena musim ujian, bus tidak seramai biasanya hanya sedikit siswa yang pulang ke rumah termasuk aku. Sisanya pasti menginap di perpustakaan atau ruang belajar. Sepanjang perjalanan aku tidak mendengarkan musik, hanya melihat sekitar jalanan dan pemandangan malam. Aku merasa seperti terjebak di suatu tempat yang sulit ditemukan jalan keluarnya.


Bus sudah sampai di halte dekat rumahku. Ketika aku turun dan berjalan di trotoar, melintas seorang remaja laki-laki dengan sepedanya. Aku belum pernah melihatnya, seragam sekolahnya juga berbeda dengan milikku. Seseorang itu belok ke rumah tetanggaku, pak Kwon. Rumah pak Kwon juga seperti orang pindahan, didepan rumahnya ada mobil pick up hitam dengan dua orang petugas pindahan yang sedang mengangkat barang. Remaja laki-laki itu sudah masuk rumah, sepedanya diletakkan di garasi. Pak Kwon juga terlihat diluar sedang memandu petugas pindahan meletakkan barang.


Aku langsung masuk ke rumah, dan menuju kamar untuk ganti baju. Eomma-ku sepertinya masih di toko, tetapi meja makan sudah dipersiapkan. Ketika aku kembali Eomma dan Appa-ku masuk ke rumah. Appa malam ini tidak lembur besok sudah weekend dan rutinitas kembali ke rumah sudah Appa terapkan juga di Korea.


"Ayo kita makan dulu dear~" Ajak Appa-ku sambil menarik kursi untuk duduk.


"Eomma, Appa apa kalian tau kenapa rumah pak Kwon ramai?"


"Ah, Eomma lupa memberitahumu dear kalau keluarga pak Kwon pindah ke rumahnya yang ini." Ucap Eomma


"Yang ini?"


"Sebelumnya keluarga pak Kwon tinggal di apartemen, kemudian ia membeli rumah dan apartemen miliknya dijual. Dan ia dan keluarganya tinggal di rumahnya yang sekarang."


"Ah ... Begitu."


"Pak Kwon juga punya anak laki-laki seumuran denganmu juga dear, ulang tahun kalian juga sama loh!"


"Hah?!!??"


"Lucu bukan? Kalian akan merayakan ulang tahun bersama nantinya."


"Ogah! Aku tidak mau! Dia kan cuma tetangga saja." Aku menolak dengan logat Jakarta yang kental


"Justru karena bertetangga ..."


"Siapa namanya? Apa dia juga pindah ke sekolahku?"


"Tadi Appa mengobrol sedikit dengan pak Kwon, namanya anaknya Kwon Junsu tapi pak Kwon bilang anaknya tidak mau pindah sekolah. Jadi ia berangkat sekolah dengan sepedanya, sekolahnya tidak terlalu jauh dengan sekolahmu. Searah juga kok ..."


"Oh sekolah itu ..."


"Dear, ulang tahun kalian sama bahkan nama Korea kalian juga mirip! Junsu dan Eunsu! Ah kiyowo~" Ucap Eomma-ku dengan nada gombal


"Hmm! Eomma!"


"Hahaha!"

__ADS_1


Makan malam ini penuh dengan canda tawa. Yang tadinya aku bersikap sedingin es juga perlahan kembali tersenyum. Selalu ada hari-hari esok yang menanti kita. Bersemangat lah!


__ADS_2