My Silver Star

My Silver Star
Fallen Leaves


__ADS_3

How long will beautiful things in the world stay?


Rain shower in the midsummer, flowers endure strong


Last winter snow storm, trees stand tall.


Can everything under the sky, stand alone?


.....


"Ada apa dengan kalian? Seperti anak kecil saja." Kataku memecah keheningan sesaat.


"Hmm." Ucap senior Jo sambil duduk di sofa.


"Bukalah kado dari kami."


Aku menyodorkan bungkus kado kepada Junsu, ia menerimanya dengan tersenyum.


"Sini aku bantu buka." Kataku pada Junsu


Bungkus kado sudah dibuka dan terlihat syal berwarna biru muda. Ekspresi Junsu terkejut, ia melirik ku beberapa saat. Ia juga melirik senior Jo, kemudian tertawa kecil.


"Terima kasih atas kadonya tapi ..."


"Apa?"


"Ini warna biru muda."


"Ya, menurutku itu cute."


"Tapi warna seperti ini untuk bayi, memangnya aku bayi?"


"Ah itu ..."


Senior Jo tertawa meledek Junsu. Akhirnya aku tau apa maksudnya tadi. Senior sengaja menyetujui warna itu untuk mengejek Junsu.


"Kau tetap tampan memakainya kok. Remaja perempuan sekarang suka melihat Oppanya memakai warna yang cute!"


"Hah?"


"Apa kau tau? Chanyeol saja pernah memakai outfit serba pink! Dan penggemarnya sangat menyukainya!"


"Jadi aku sama dengan Chanyeol?"


"Anggap saja begitu. Bagus juga kan?"


"Ah ... Iya."


Aku tau Junsu terlihat agak terpaksa menerimanya. Aku melirik senior Jo sambil tersenyum ia juga tersenyum balik. Aku memotong kan beberapa buah untuk kami makan. Pak Kwon ternyata membawa piring cadangan dan juga pisau serta sendok.


"Omong-omong ayahmu pergi kemana?" Tanya senior Jo tiba-tiba pada Junsu.


"Mungkin ia pergi kerja ..."

__ADS_1


"Jadi kau sendirian?"


"Kan ada kalian ..."


Aku masih memotong buah dan menyiapkannya di piring. Ku lihat ke arah jendela hujan mulai mereda.


"Kalau kami kembali kau sendirian?" Tanya senior Jo lagi.


"Aku sudah terbiasa sendirian kok." Jawab Junsu.


"Aigoo~ ini dia buahnya. Senior kemarilah dan makan buah."


"Arasseo~"


Senior mendekat kepadaku dan Junsu, ia mengambil beberapa buah dan memakannya. Junsu juga mengambil sepotong buah dengan garpu menggunakan salah satu tangannya. Di ruangan ini hanya ada kami bertiga, seperti yang diprediksi senior Jo bahwa pak Kwon tidak akan kembali. Kami menemani Junsu hingga hujan benar-benar reda.


Selama satu jam lebih aku dan senior Jo menemani Junsu. Kami banyak membicarakan soal sekolah, tentang hobi, bahkan tentang keluarga. Sedari awal tidak ada kecanggungan diantara kami bertiga hanya saja ...


"Eunbyul-a ... Kau ini seorang atlet kan?" Tanya Junsu pada senior Jo.


"Ya ... Sekarang bahkan kau bicara banmal (informal) padaku." Jawab Senior sambil memakan anggur.


"Jadi kau adalah 'pembunuh' itu?"


Aku terkejut dengan pertanyaan Junsu, aku melirik senior Jo yang masih santai memakan anggur. Aku tidak tau harus berbuat apa dan berbicara apa.


"Ya, memang kenapa? Apa kau takut sekarang?" Jawab Senior Jo.


"Ah ... Baru kali ini aku bertemu dengan 'pembunuh' keren sekali!"


"Haha! Kau konyol sekali." Ucap senior sambil tertawa kecil.


Aku yang melihatnya hanya bisa tersenyum saja. Kurasa pribadi senior Jo dan juga Junsu bisa dikatakan 'cocok'. Tapi, tunggu ...


"Hey Junsu! Kenapa kau bicara banmal pada senior? Langsung memanggil namanya pula." Kataku tegas pada Junsu sambil mengarahkan pisau pemotong buah padanya.


"Lalu aku harus memanggilnya Hyung begitu? Aish jinjja!"


"Ya! Kau ini!" Aku hampir memukulnya dengan pisau yang ku pegang.


Senior Jo tertawa dengan puas, ia suka melihat Junsu tertindas olehku. Tidak lama kemudian, pak Kwon datang. Beliau datang dan tersenyum pada kami bertiga.


"Aigoo~ maaf ya sepertinya aku terlalu lama dan merepotkan kalian ..." Kata pak Kwon.


"Tidak apa-apa Kwon-ssi kami juga senang menemani Junsu." Ucap senior Jo dengan tersenyum dan melirik Junsu.


"Baiklah ... Karena aku merepotkan kalian, ini ada sedikit bingkisan untuk kalian." Pak Kwon menyodorkan bingkisan kepada kami bertiga.


"Ah tidak perlu repot-repot pak ..." Kataku menolak bingkisan dari pak Kwon.


"Tapi ... Tolong terima saja ya ..." Kata pak Kwon padaku.


Aku terdiam sejenak dan memandang senior Jo. Senior melihat pak Kwon dengan lekat, kali ini senior Jo akan mengatakan sesuatu untuk pak Kwon.

__ADS_1


"Terima kasih atas bingkisannya Kwon-ssi, tapi lain kali anda tidak perlu repot-repot begini. Kami kan teman, kami juga senang menemani Junsu dan mendoakan agar ia cepat pulih." Kata senior Jo


Pak Kwon menyerahkan bingkisan itu padaku. Aku menerimanya dengan senang dan membungkuk berterima kasih.


"Terima kasih banyak pada nona Kim dan juga tuan muda Jo." Ucap pak Kwon mengantarkan kami.


"Terima kasih banyak tuan muda dan my sis!" Kata Junsu sambil melambaikan tangannya.


"Tuan muda ...?" Kataku sambil melihat senior.


Senior merangkul ku dan berjalan keluar kamar rumah sakit. Pak Kwon mengantarkan kami sampai di lift. Aku dan senior turun lift dan senior menelepon sopirnya. Senior Jo menggenggam tanganku sambil keluar lift. Keluar dari lift dan kami menuju lobi, saat keluar lobi mobil senior Jo sudah menunggu di depan. Sopir membukakan pintu belakang dan senior menyuruhku masuk. Senior sendiri duduk di bagian depan di samping sopir.


.....


Senior mengantarkan ku pulang. Saat sampai di rumah, Appa juga kelihatan baru sampai di rumah. Senior keluar dari mobil, sopir juga membukakan pintu untukku.


"Halo Kim-ssi, aku dan Vivi baru saja kembali dari menjenguk Junsu." Ucap senior pada Appa.


"Ah begitu ya, tidak mau mampir?"


"Tidak, terima kasih atas tawarannya. Saya pulang dulu."


"Baiklah ... Hati-hati di perjalanan."


"Terima kasih Kim-ssi."


Senior membungkuk pada Appa dan berbalik masuk ke mobil. Aku berada di samping Appa dan melambaikan tangan ke senior. Mobil senior perlahan menjauh dan menghilang dari pandanganku. Hari ini senior memanggil nama pak Kwon dan juga Appa dengan panggilan formal. Maksudku mereka lebih terlihat seperti rekan bisnis dibandingkan dengan seorang teman yang bertemu orangtua teman.


Aku dan Appa berjalan masuk rumah, bersiap untuk makan malam. Aku memang belum makan malam, tadi senior menawarkan untuk makan malam tapi ku tolak karena ingin makan malam di rumah. Makanan sudah disiapkan dengan Eomma dan ahjumma. Kami duduk untuk makan malam bersama.


"Appa, aku ingin bertanya sesuatu tentang senior Jo." Kataku pada Appa di tengah-tengah makan malam.


"Ya, ada apa dear?"


"Apa Appa mengenal senior Jo?"


Appa melihat dan terdiam sejenak sebelum menjawab pertanyaan dariku.


"Memangnya kenapa dear?"


"Tadi ... Pak Kwon juga memanggil senior Jo tuan muda. Aku ingin tau apa sebenarnya Appa juga mengenalnya sebelum ku kenalkan?"


"Saat ini ... Orang-orang perusahaan tidak ada yang tidak mengenalnya. Perusahaan ayahnya mengakuisi beberapa perusahaan dan sahamnya juga mendominasi beberapa perusahaan. Termasuk perusahaan tempat Appa bekerja ..."


"Oh begitu."


"Appa tidak melarang untuk dekat dengannya, Appa tau persis orang seperti apa Jo Eunbyul. Dia orang yang baik, Appa harap kalian baik-baik saja."


Aku tidak menjawab yang Appa katakan padaku. Aku hanya tersenyum dan melanjutkan makan malam. Setelah selesai makan malam, aku kembali ke kamar untuk belajar. Ujian masih berlangsung, namun karena sebelum ujian kami sudah belajar malam ini hanya mereview materi saja.


Selesai mereview materi, aku bermain SNS dengan handphone ku dan kemudian handphone ku berdering. Ternyata panggilan dari Sora, tumben Sora menelepon malam-malam begini.


"Halo? Sora? Ada apa? Hey jawablah! jangan membuatku khawatir ..."

__ADS_1


__ADS_2