My Silver Star

My Silver Star
Conch Shell


__ADS_3

Senior Jo melepas perlahan bibirnya yang lembut dari ciumannya. Mata monolid senior Jo yang sedang melihatku dengan lekat, memfokuskan penglihatan dan perhatianku padanya seorang. Desiran ombak yang menari-nari sedari tadi membuatku tersipu malu. Senior Jo tersenyum, mendekatkan kepalanya dengan kepalaku. Hidungnya yang mancung kini menempel dengan hidungku juga. Hembusan angin pantai di musim gugur yang dingin mewarnai kami yang berdiri di pasir putih pantai.


Senior kembali menciumku perlahan, lalu kini ia memelukku. Pelukannya sangat hangat, begitu hangat dan dekat sampai rasanya aku mendengar detak jantung senior Jo. Aku tidak ingin momen ini berakhir, aku tidak ingin berpisah dengan senior Jo. Harapanku untuk terus berada di sisi senior Jo hanya anganku semata. Saat tiba waktunya kami akan berpisah, mengingatnya saja membuatku merinding. Aku memeluk senior Jo dengan erat, sangat erat.


"Aaakk!" Teriakan kecil senior Jo mengejutkanku. Aku melepaskan pelukanku yang erat dan menatap senior Jo.


"Apa terlalu erat? Pelukanku?" Tanyaku pada senior Jo.


"Sangat erat hingga pinggangku hampir patah."


"Ah ... Begitu ya ..." Kataku dengan wajah memelas, aku merasa bersalah karena pelukanku begitu erat.


"Aigoo~ aku hanya bercanda! Mana mungkin pelukanmu bisa mematahkan pinggangku yang kuat ini!"


Senior Jo menggendongku dan mendekat ke arah air. Senior Jo tertawa puas sedangkan aku memegangnya dengan erat, aku tidak mau jatuh ke air. Aku memukul kecil senior Jo yang usil. Setelah itu ia menurunkan ku dan mengajakku keluar area pantai. Senior Jo sempat berhenti dan berbalik ke arahku, kemudian senior Jo memberi kecupan manis di bibirku. Aku tertawa karena tingkahnya, ia juga sesekali mengeluarkan aegyo untukku. Apa orang ini benar-benar senior Jo yang dingin? Benar ... Dia memang Jo Eunbyul yang dingin, tapi rasanya manis. Seperti vanilla ice cream kesukaanku.


"Senior sekarang sudah jam berapa?" Tanyaku padanya. Senior terlihat sedikit terkejut, lalu melihat jam tangannya. Ia menghela napas dan menatapku sambil tersenyum.


"Aku tidak ingin kembali ... Tapi, waktu begitu kejam. Rasanya tidak memberi kesempatan untuk kita berlama-lama disini ..." Katanya dengan ekspresi cemberut.


"Kenapa tidak coba hidangan laut selagi kita disini? Setelah itu kita kembali ... Ya?"


"Aku tau restoran yang enak di dekat sini, ayo!"


Senior mengajakku ke sebuah restoran yang berjarak 100 meter dari pantai yang kami kunjungi. Begitu dekat, dan untungnya Dewi Fortuna berpihak pada kami. Restoran yang kami kunjungi masih buka meski langit mulai menggelap. Restoran sederhana yang tidak begitu besar, dengan ornamen kayu dan lampu yang bergaya vintage membuat semakin nyaman.


"Selamat datang," sambut seorang wanita paruh baya kepada kami berdua. Wanita itu masih terlihat cantik di usianya yang tidak lagi muda.


"Annyeonghaseyo," sapa senior pada wanita itu.


"Sepertinya aku mengenalmu."


"Ya ... Saya terkadang berkunjung kesini, nama saya Jo Eunbyul."


"Aigoo! Ternyata Eunbyul-a ... Kau sudah semakin dewasa ya! Sudah lama sejak kunjungan mu yang terakhir!"


"Ah ... Iya, anda masih mengingatku."


"Kau kan pelanggan di restoran ini, mana mungkin aku tidak mengingatmu sejak kau masih kecil."


'sejak masih kecil? Senior Jo besar di daerah Gangwon?' batinku


"Ah iya! Perkenalkan aku dengan wanita cantik di sampingmu Eunbyul-a ..."


"Halo ... Nama saya Olivia Kim, senang bertemu dengan anda."


"Aigoo~ seperti kau berasal dari luar negeri ya ... Ah iya, ayo duduklah! Aku akan menyiapkan hidangan spesial untuk kalian berdua."


"Terima kasih banyak."


Senior Jo dan aku duduk di bangku kosong. Dominasi kayu di restoran ini, membuat suasana di restoran menjadi hangat meski diterpa angin pantai.


"Senior sering datang kesini ya?" Tanyaku pada senior Jo.


"Saat kecil kakek sering mengajakku datang kesini."


"Begitu ya ... Kalian terlihat akrab."


"Hmm begitulah ... Masih ada 2 jam lagi sebelum kita pulang ke Gangnam, mau main kemana lagi?"


"Aku tidak terlalu mengenal daerah Gangwon, aku ngikut senior aja deh."

__ADS_1


"Ah ... Mau membuat itu tidak?" Ajak senior sambil menunjuk ke arah aksesoris cangkang kerang yang ada di meja resepsionis.


"Boleh! Ayo kita buat!"


"Nanti ... Setelah kita makan ya ..."


"Maaf aku terlalu bersemangat hehehe."


Beberapa menit kemudian, ahjumma pemilik restoran datang dengan hidangan laut yang khas. Cukup banyak hingga senior Jo juga membantunya membawa hidangan itu. Bau kaldu yang lezat sudah menggodaku untuk mencicipi nya.


"Silahkan dinikmati makanannya!"


"Terima kasih."


Senior mulai mengambil seekor kepiting yang lumayan besar. Aku terkejut melihatnya, Daebak! Besar sekali! Air liur ku yang bodoh tidak bisa menahan diri. Senior memotong dan membuka tubuh kepiting itu. Ia membagikan nya untukku, dan menuangkan sedikit kuah. Aku sungguh tidak sabar, aku menyeruput kuah kaldunya dan ...


"Aaaahhh! Enak sekali!"


"Makan pelan-pelan ya ..."


Aku mengangguk dan mulai memakan kepiting yang dibagikan oleh senior Jo. Senior Jo juga mulai memakan makanannya. Pantas saja senior Jo sering datang kemari, rasa makanannya memang juara. Sayang sekali di Gangnam tidak ada restoran seenak ini.


.....


Selesai makan, senior memanggil ahjumma itu. Ahjumma datang dan menyerahkan bil pembayaran kepada senior Jo. Senior Jo mengambil dan melihatnya, kemudian ia mengeluarkan black card nya untuk membayar tagihan makanan kami.


"Ah iya ... Ahjumma kami ingin membuat aksesoris sebelum kami pulang."


"Boleh boleh! Aku akan membereskan meja kalian dan memberi bahan-bahan untuk aksesoris."


"Baiklah."


"Ini dia bahan-bahannya, apa mau ku ajari?"


"Tidak usah ahjumma, aku akan mengajari pacarku cara membuatnya," ucap senior Jo kepada ahjumma sambil tersenyum.


Aku juga tersenyum malu mendengarnya. Senior Jo mulai memberikanku satu cangkang kerang. Motif cangkang kerang ini begitu cantik, masih terlihat kasar.


"Amplas ini untuk apa senior?"


"Untuk menghaluskan beberapa bagian yang masih tajam, seperti bagian ini. Agar tidak melukai kita nantinya."


"Ah ... Begitu ya, akan ku bersihkan."


Aku dan senior mulai membersihkan cangkang kerang masing-masing. Menghaluskan bagian yang tajam, membersihkan bagian dalamnya juga.


"Senior ini apa ya?" Tanyaku pada senior Jo sambil menunjuk sebuah wadah berisi cairan bening dan kuas.


"Itu adalah pelapis, agar cangkang kerang ini tahan lama dan tampilannya mengkilat."


"Di oleskan saja?"


"Iya ... Sini aku bantu."


Aku memberikan cangkang kerang ku pada senior Jo. Senior Jo mulai mengoles perlahan di cangkang kerang ku.


"Begini ... Perlahan-lahan saja."


"Baik, terima kasih senior."


"Terdengar begitu formal hmm."

__ADS_1


"Aku suka memanggilmu 'senior' daripada yang lain."


Senior Jo malah cemberut sambil mengoleskan cairan pelapis ke cangkang kerang nya.


"Arasseoyo Oppa."


Senior menghentikan olesannya dan melihatku lalu berkata,


"Coba ulangi lagi, aku tidak mendengar begitu jelas."


"Kalau telinga senior baik-baik saja seharusnya aku tidak perlu mengulangi kata-kataku."


"Hmmp!"


Aku tersenyum saja melihatnya, polesan senior sudah selesai terlebih dulu. Lalu milikku yang sudah selesai. Senior meletakkan nampan cangkang kerang kami di meja luar. Angin akan membuatnya cepat kering, setelah itu kami bisa membawa aksesoris itu pulang sebagai kenangan.


Butuh beberapa menit untuk membuat cangkang kerang itu benar-benar kering. Senior Jo mengambil kembali nampan cangkang kerang kami. Ahjumma datang dengan membawa kotak, lalu memasukkan cangkang kerang tadi ke dalam kotak yang ia bawa.


"Cantik sekali!" Kataku ketika melihat cangkang kerang itu.


"Benar! Ini adalah kenangan kalian berdua, jadi jangan dihilangkan. Arasseo?"


"Baiklah, ahjumma. Terima kasih banyak!"


"Kami akan pulang, terima kasih ahjumma."


"Hati-hati di perjalanan, sering-seringlah mampir kesini ya."


Kami meninggalkan restoran itu dan menuju ke terminal bus. Aku membawa paper bag yang berisi kotak cangkang kerang kami. Senior menggenggam tanganku dan kami berjalan ke arah bus kami. Sambil melihat nomor bus yang kami naiki, aku sesekali melihat ke arah senior Jo. Rahang senior Jo yang tegas dan hembusan napasnya karena cuaca dingin membuatku tidak bisa berpaling.


"Ini bus kita. Ayo kita masuk!"


Aku masih melihat senior Jo, aku bahkan tidak mengingat apa yang senior Jo katakan barusan. Kini senior Jo juga melihat ke arahku, ia tersenyum. Seberapa sering ia tersenyum ketika bersamaku? Entahlah ... Mungkin sudah tidak terhitung lagi.


"Vivi?"


"Hah? Maaf aku sedikit melamun, ayo kita masuk!"


Aku mengajak senior Jo segera masuk ke bus dan duduk di bangku kami. Wajahku terasa panas, pasti sedang memerah sekarang. Ah aku malu sekali! Bagaimana jika nanti pulang ke rumah? Apa yang terjadi?


"Sini aku pegang paper bag nya, kau pasti lelah. Tidur saja ... Sebentar lagi bus akan berangkat."


"Aku akan menemanimu sambil melihat pemandangan malam saja."


"Apa kau mau ku cium lagi?" Tanya senior Jo dengan berbisik.


"Apa-apaan! Jangan! Sudah cukup!"


"Baiklah my dear."


Penumpang sudah memenuhi kursi di bus, ahjussi sopir bus datang dan memberitahu keberangkatan kami. Bus mulai berjalan perlahan meninggalkan terminal. Cahaya lampu kota menghiasi malam Gangwon-do. Aroma laut yang terbawa angin menemani perjalanan pulang. Aku bersender kepada senior Jo dan melihat ke arah jendela. Rasanya baru saja sampai di Gangwon, tapi kini sudah berada di perjalanan pulang. Singkat, cukup singkat tapi kenangan diciptakan akan bertahan hingga lama. Sangat lama hingga tak terlupakan ...


The light on your eyes


The sweet kiss of us


I'll be your Flashlight in the darkness


Bring back all of our memories


- writer

__ADS_1


__ADS_2