My Silver Star

My Silver Star
가을 (Autumn)


__ADS_3

Seminggu berlalu setelah kunjungan kami ke Gangwon. Senior Jo mulai sibuk menyiapkan ujian ini lah ujian itu lah. Belum lagi ujian masuk universitas untuk kelas 3. Aku memutuskan untuk membatasi komunikasi diantara kami. Baik aku maupun senior Jo mengerti yang harus kami lakukan. Tidak perlu menghubungi setiap hari atau setiap saat, cukup bertemu dan kembali mengobrol sudah mengobati rinduku pada senior Jo.


Sesekali senior Jo meneleponku dan menanyakan beberapa hal. Bagaimana dengan keluargaku? Appa dan kakek akhir-akhir ini sering pulang larut. Eomma dan nenekku saling membagi waktu untuk restoran dan rumah. Meskipun di rumah kami ada ahjumma Jung namun baik Eomma maupun nenek selalu berusaha untuk menemaniku.


Pagi yang cukup dingin ini aku berangkat sekolah di antar sopir Han. Musim gugur akan berganti dengan musim dingin. Daun-daun merah yang berguguran akan tertutup dengan salju pertama di kota Seoul nantinya. Pohon-pohon tidak lagi memiliki "rambut" dan akan bersemi lagi di musim berikutnya.


Mobil yang dikendarai oleh sopir Han berhenti di dekat gerbang sekolah. Belum terlalu ramai, karena aku memilih datang lebih awal. Tanpa terasa sebentar lagi akan berganti periode. Yang datang akan pergi, dan akan terganti oleh yang baru. Ya, murid-murid baru sebagai juniorku nantinya. Kakiku melangkah menuju kelas, menaiki tangga dan melewati kelas-kelas yang masih kosong.


Tiba di kelas dan benar saja, bahkan sang ketua kelas yang biasanya datang awal belum tampak batang hidungnya. Kosong melompong, hanya diriku seorang. Ku letakkan tas diatas meja, aku mengeluarkan earphone yang kubawa. Kupasang earphone dan mendengarkan musik selagi kelas belum ramai. Aku melihat keluar jendela, ku topang daguku ketika melihat arah luar. Alunan lagu dari Infinite membuat kilas balik ketika aku pertama kali datang. Ketika berkenalan dengan Sora, pertama kali bertemu senior Jo, dan kemudian dekat satu sama lain hingga beberapa kejadian tidak terduga. Rasanya waktu mengukir kisah manusia dengan detail dan cepat.


.... Our days are the same but different as it repeats


Our days can’t always be peaceful


Each of us goes through the wind in life


Swaying back and forth like reeds


I may be weak but I’m right here


Relying on the roots that is you ....


Aku memejamkan mata sebentar menikmati keheningan sejenak. Dikala aku memejamkan mata aku mendengar langkah seseorang memasuki kelasku. Langkah yang terdengar halus dan anggun. Mendekati bangku tempatku duduk dan semakin mendekat. Langkah kaki itu berhenti disampingku, mataku yang masih terpejam tidak lagi menangkap cahaya yang menembus mataku ketika terpejam. Seseorang itu menghalau cahaya agar aku tidak merasa silau.


Perlahan aku membuka mataku, dan benar saja. Telapak tangan seseorang ada dihadapan ku. Dilihat dari posisinya berarti seseorang itu ada di belakangku. Aku langsung berbalik untuk melihatnya. Mataku terpaku melihat seseorang itu, Jo Eunbyul. Apa ia tau aku datang lebih awal? Senior Jo tersenyum padaku. Di dalam kelas hanya ada kami berdua saja.


"Selamat pagi Eunsoo-ku."


Aku balik tersenyum mendengarnya, rasanya rindu sekali. Di pagi ini aku mendengar suaranya dan bertemu dengannya juga.


"Selamat pagi senior Jo."


"Aku datang untuk mengatakan sesuatu ..." Ucap senior Jo.


"Apa itu?"

__ADS_1


"Maaf jika akhir-akhir ini kita jarang bertemu berdua, tapi aku akan sering mencuri waktu untuk kita."


"Aku tau senior juga sibuk, maklum saja."


"Oh iya, sebelum ujian universitas ayo kita ke Namsan."


"Namsan?"


"Ya! Tidak hanya Namsan, ayo kita ke Gyeongbokgung palace dan juga melihat Hanmok."


"Mwoya? Tiba-tiba ..."


"Di Gyeongbokgung palace kita foto pakai Hanbok, aku juga akan membelikanmu sesuatu."


"Kau tidak perlu membelikanku sesuatu senior ... Ayo kita pergi kesana, ayo kita berfoto, ayo kita buat kenangan sekali lagi."


"Baiklah! Aku akan menjemputmu nanti. Sepertinya akan mulai ramai, aku kembali ke kelas dulu. Jaga kesehatanmu dear!" Kata senior sambil mengelus kepalaku.


"Senior juga jaga kesehatan. Bye!"


"Kira-kira menu makan siang nanti apa ya?" Tanya Sora.


"Ayo kita makan Jajjangmyeon saja" jawabku.


"Aih aku sangat ingin makan Jajjangmyeon, tapi aku juga ingin makan siang di kantin."


"Serakah sekali ... Seperti **** saja."


"Aku adalah **** yang langsing dan cantik!"


"Aish jinjja. Mulai lagi nih ..."


.....


"Hahaha! Syukurlah hari ini makan siang bukan kimchi. Kalau kimchi lebih baik kita pesan Jajjangmyeon saja." Kata Sora padaku ketika membawa nampan makan siang.

__ADS_1


"Ya ... Kali ini sangat enak." Jawabku pada Sora.


"Omong-omong ... Sebentar lagi ujian akhir. Bagaimana persiapan mu?"


"Begitulah ... Jalani saja, aku juga belajar secukupnya. Aku tidak mau stress."


"Cih, belajar secukupnya apaan. Nilaimu selalu bagus begitu."


"Aku sudah terbiasa dapat nilai bagus."


"Omo! sombongnya si blasteran ini."


"Ayo kita belajar bareng."


"Kita?"


"Ya ... Aku, Junsu dan kau."


"Boleh juga."


"Kau mau sosis lagi Sora?"


"Mau!"


"Ambil saja punyaku."


Makan siang ini aku tidak melihat senior Jo ataupun senior Nam. Beberapa senior kelas 3 juga tidak terlihat di kantin. Suasana kantin agak sedikit sepi karena para senior skip makan siang mereka.


Setelah makan siang kami kembali ke kelas. Tidak banyak yang berubah, kembali belajar seperti biasa hingga jam pulang. Langit mulai menggelap, hari ini juga masih harus lanjut kelas tambahan. Aku mengecek handphone-ku, ada pesan masuk dari Eomma. Hari ini Eomma di rumah dan sudah menyiapkan makan malam. Sopir Han yang menjemputku mengarahkan mobil menuju tempat les.


Meskipun jendela mobil tertutup namun dingin yang kurasakan terasa menusuk tulang. Suasana malam di kota Seoul yang belum tertidur menemani perjalanan menuju tempat les. Anak-anak seumuranku bahkan yang lebih kecil masih lalu lalang untuk kelas tambahan. Keras bagi pelajar seperti kami, tapi aku sudah terbiasa. Jika aku tidak pindah ke Korea aku tidak akan menemukan kisah baru di dalam hidupku.


Setiap perjalanan membuat kita semakin dewasa, apa kita dapat menahannya atau tidak. Tidak apa-apa, setiap individu memiliki mindset yang berbeda, tidak perlu dipaksakan dan harus menjadi sama.


Where are you? You left everything to me

__ADS_1


I’m looking for your everything ...


__ADS_2