
All the days
Beating in my heart and
blossom of your lonely heart
up high
Liburan musim dingin telah tiba. Ibuku sibuk dengan restoran barunya. Lebih tepatnya, masing-masing dari kami saling sibuk satu sama lain. Apa aku kesepian? Tidak. Aku memiliki kegiatan yang membuatku tidak bosan. Beberapa hari lalu aku memutuskan untuk menjadi relawan di sebuah rumah sakit. Hitung-hitung sebagai kegiatan amal dan menambah pengalaman.
Kakek dan nenek sudah pulang dari rumahku. Awalnya aku ingin liburan ke tempat nenek tapi aku berubah pikiran karena ketua kelas menawarkan kegiatan volunteer kepadaku. Sebenarnya tidak ada yang berubah, mungkin ada beberapa situasi yang berbeda tapi tetap sama.
Aku membuka handphone dan melihat room chat-ku dengan seseorang. Sudah lama kami saling memutuskan untuk lost kontak. Bukan tanpa alasan, banyak pertimbangan dan konflik sebelum akhirnya hal itu terjadi. Aku tidak merasa bersalah, aku hanya mengasihani diriku yang tidak jujur dengan perasaan sendiri. Aku juga tidak menyesal, tidak ada yang perlu disesali dari keputusan masa lalu. Tidak ada kata 'andai' dalam hidupku. Hanya membuatku memiliki harapan palsu saja.
Kegiatan relawan dimulai pukul 09.00 A.M sampai dengan 03.00 P.M tapi bagi beberapa yang ingin lebih lama juga tidak apa-apa. Tidak banyak dari anak-anak kelasku yang ikut relawan termasuk Sora. Sora pulang kampung ke rumah neneknya. Senior Nam juga membantu keluarganya mengurus pabrik tekstil.
"Vivi! Ternyata kau juga datang lebih awal ya" kata ketua kelas.
"Ya, aku merasa bosan di rumah jadi aku datang lebih awal. Ada yang bisa aku bantu?"
"Oh iya. Ini ada beberapa pasien yang keluar dari rumah sakit hari ini jadi tadi aku membantu perawat mengganti sprei. Mau ikut?"
"Oke aku ikut."
Ketua kelas dan aku berjalan di sebuah lorong menuju kamar yang ia tunjukkan. Di sebuah persimpangan yang aku lewati aku sepertinya melihat sosok yang familiar. Aku berhenti dan memundurkan langkahku untuk memastikan. Ternyata benar! Sosok yang sedang mengepel lantai itu memang sangat ku kenal.
"Vivi?" Suara ketua kelas yang memanggilku membuatku tersadar.
"Ah ... Maaf. Aku akan segera kesana" kataku padanya yang sudah berada di depan pintu kamar pasien.
Aku meninggalkan sosok yang sedang mengepel lantai tanpa menyapanya. Jarak antara kami juga agak jauh, entah dia menyadariku atau tidak.
.....
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau membantuku, sebentar lagi anak-anak akan datang. Pekerjaan kita tidak terlalu berat. Fighting!"
"Sama-sama ketua kelas. Kau juga ... Fighting!" Aku mengangkat tangan menunjukkan sikap semangat kepada ketua kelas.
Ketua kelas pergi untuk mengurusi kegiatan yang lainnya. Baru saja aku berbalik, dan tanpa disangka aku menabrak seseorang. Kurasa cukup kuat sampai ia juga terjatuh. Ah! ternyata orang yang ku tabrak adalah ...
"JUNSU ...!!!"
"Ah! Siapa yang me- ... VIVI ...!!!" Ucapnya sambil berusaha bangkit dan terkejut melihatku
"Kau relawan disini juga?" Tanyaku
"Hmm iya sekalian mengisi waktu luang."
"Baguslah kalau begitu. Aku ... Akan membantu teman-temanku disana."
"Baiklah kalau butuh sesuatu kau bisa bilang padaku."
"Sure."
"Vivi ..."
"Ya?" Jawabku pada Junsu yang memanggilku
"Apa kau mau pulang bersamaku nanti?"
Pertanyaan yang simpel tapi membuat berpikir begitu lama.
"Kenapa tidak?" Jawabku sambil tersenyum dan terus berjalan.
Kami memang bertetangga tapi karena berbeda sekolah kami jarang bertemu secara langsung. Ditambah kesibukan ayahnya dan keluarga kami juga sudah lama tidak mengobrol seperti dulu.
.....
__ADS_1
"Teman-teman semuanya terima kasih atas kegiatan volunteer yang kita laksanakan. Tetap jaga kesehatan dan ... Fighting!" Ketua kelas memberi semangat sebelum kami pulang ke rumah masing-masing.
Saatnya kembali ke rumah, aku berjalan ke arah gerbang dan seseorang sudah menungguku dengan sepedanya. Aku melambaikan tangan kepada Junsu. Junsu juga tersenyum dan balik menyapa.
"Sudah menunggu lama?" Tanyaku
"Tidak terlalu lama juga kok."
"Begitu? Ayo berangkat!"
"Naiklah."
Junsu dan aku berboncengan naik sepeda menuju rumah. Aku memegang baju bagian pinggangnya dengan erat. Angin berhembus terasa dingin ketika kami melewati jalanan. Junsu tidak berubah, dia masih sama. Seorang pecinta sepeda yang tampilannya sederhana. Sayangnya ... Dia selalu menyendiri dan lebih memilih kerja sambilan.
"Vivi?"
"YAAAA" Jawabku agak menaikkan volume
"Bagaimana keadaanmu?"
"Apa kau bodoh? Kita kan bertetangga, masa tidak tau sih!"
"Bukan itu. Maksudku ... Dengan Tuan muda Jo ..."
Pertanyaan itu ... Akhir-akhir ini selalu banyak yang menanyakan. Terkadang aku muak karena membuat semakin rindu.
"Yah ... Kami baik-baik saja. Kurasa ..."
"Kau tidak menyesal?"
"Untuk apa? Kalaupun aku sangat rindu dengannya aku bisa menitipkan pesan rindu ke awan."
"Puitis sekali ..."
__ADS_1
Aku tidak menjawab apa-apa. Rasanya sesak, ingin menangis dan teriak. Tapi kami berusaha untuk menjadi dewasa. Semacam cambukan bagi pribadi kami masing-masing untuk menjadi lebih baik.
"Junsu apa kau tau? Sebenarnya ..."