
Senyuman rahasia milik matahari di balik rintikan hujan
Seperti yang sudah senior Jo bilang kemarin, aku boleh menonton ia latihan secara langsung. Kali ini aku datang lebih awal atau senior Jo yang terlambat? Tidak, aku sudah tau pukul berapa ia datang. Tak lama kemudian, senior Jo datang dengan wajahnya yang datar. Terik matahari siang ini membuatnya sedikit menyipitkan matanya, alhasil matanya terlihat segaris saja. Ia datang dengan tas ransel berwarna hitam dengan motif sulam printing bergambar naga. Naga adalah lambang kaisar, ia seperti itu seolah seperti kaisar saja.
"Kau datang lebih awal?" Tanya senior Jo
"Tentu ... Aku kan 'monitor' mu jadi aku tau kapan kau akan datang senior." Jawabku padanya
"Begitu? Kalau begitu kau jadi coach ku saja. Sebentar lagi akan ada pertandingan dan aku kurang merasa nyaman berlatih di ruang olahraga."
"I'll be your coach right now!"
"Never mind?"
"Sure!"
"Aku yakin kau sudah tau bagaimana pemanasan saat aku latihan, kau tinggal menghitung saja, dan perhatikan gerakan ku yang kurang maksimal."
"Itu saja?"
"Untuk saat ini itu saja, Let's go!"
Aku duduk di samping tas ransel hitamnya, dan menghitung dengan suara lantang berapa putaran ia lari dan hitungan lainnya. Senior Jo terlihat sangat berusaha keras, aku yakin ia berusaha sekuat tenaga memulihkan nama baiknya dan keluarganya. Nafas senior tidak tersengal, masih begitu stabil. Peluhnya mulai membasahi seluruh badannya juga bajunya.
Gerakan-gerakan dari martial art hapkido ia lakukan seorang diri, harusnya gerakan ini membutuhkan bantuan setidaknya 2 orang. Karena aku disini bukankah lebih baik minta bantuan? Ya walaupun bukan untuk hal yang berat. Sejak tadi aku hanya menghitung saja, ini pertama kalinya aku melihat seseorang berlatih martial art secara langsung di depan mataku dan aku adalah coach nya.
"Apa kau lelah senior?" Tanyaku
"Seorang atlet tidak pernah merasa lelah." Jawab Senior Jo
"Seorang atlet juga manusia, istirahatlah sudah 1 jam kau latihan, setelah itu lanjut lagi."
"Apa kau mengkhawatirkan ku?"
"Ya! Aku mengkhawatirkan sekolahku, bagaimana jika nanti kau malah pingsan saat pertandingan? Itu tidak lucu."
"Ya itu tidak lucu." Jawab Senior Jo sambil tersenyum kecut, lagi-lagi aku merasa omonganku sedikit menyinggung perasaannya
"Ayo semangat senior!"
"Kau bosan?"
"Hah?"
"Kalau kau bosan kau berkeliling atau makan buah-buahan yang kubawa, ada di dalam tasku."
"Ah ... baiklah, terima kasih senior!"
Jadi maksudnya ia ingin menawarkan ku makan buah? Hahaha lucu sekali caranya. Sikapnya yang cuek memang tidak semua orang akan memahaminya.
"Pertandingan nanti aku mau lihat senior juga."
"Datanglah ..."
"Tidak pakai tiket?"
"Tidak ... gratis kok."
"Aku boleh bertanya sesuatu?"
"Ya"
Senior Jo menjawab singkat sambil memakan buah, apa memang sikapnya begini sejak sebelum insiden atau ini karena insiden? Ntah lah ... Mari kita cari tau.
"Ah ... itu ..."
"Berbicara jangan sepotong-potong, menyebalkan."
"Apa sikapmu memang begini sejak dulu?"
__ADS_1
Senior Jo berhenti mengunyah makanan, dan diam sejenak sebelum menjawab. Ia kebiasaan begini ketika ditanya hal yang sensitif, mungkin agar tidak salah bicara dan orang salah mengartikan.
"Sebenarnya tidak, Aku juga tidak tau kenapa aku jadi kehilangan emosiku. Keluargaku sudah mencoba yang terbaik namun kurasa ini karena diriku sendiri."
"Aku tau apa yang terjadi ..." ucapku padanya
"Lalu?"
"Karena itu ... kau tidak perlu terus merasa bersalah, setiap orang memiliki masa lalu yang berbeda dan dari mereka ada yang memaafkan ada juga yang menguburnya dalam-dalam."
"Tidak mudah bila kau ada di posisiku."
"Aku tau ... karena itu aku disini untuk membantu."
Senior Jo tidak mengucapkan apapun, ia minum lalu bangkit untuk berjalan keliling lapangan basket. Ia meletakkan kedua tangannya berkacak pinggang dan kemudian menengadah ke langit. Ia menutup matanya dan menarik nafas dalam-dalam kemudian mengembuskan napasnya. Ia terlihat seperti sedang memutar otak menyelesaikan banyak masalah dan beban di pundaknya. Aku melanjutkan makan buah, kini aku tidak banyak komentar, yang aku tau pasti berat menjadi dirinya tapi ia hebat karena bisa bertahan sejauh ini.
Senior kembali latihan aku hanya melihatnya saja. Kali ini bahkan tidak berhitung, hanya memantau waktu saja. Saat sedang latihan wajah senior Jo menurutku memiliki emosi, emosi yang berbeda dari kebanyakan seperti ... semangat? Ya kurasa itu adalah semangat. Senior Jo mengentikan latihannya dan berbalik padaku.
"Aku sudah selesai."
"Ah ... iya"
"Hari ini kau kosong."
"Hmm ya, kenapa?"
"Tidak ada kelas tambahan?"
"Tidak juga."
"...."
Senior Jo mengemasi barangnya, ia diam saja setelah bertanya. Sepertinya ada sesuatu yang akan ia sampaikan.
"Kalau tidak ada, temani aku makan ayam."
"Tentu, kalau tidak kenapa ku makan."
"Baiklah, kalau enak aku mau."
TIK TIK TIK
Gerimis perlahan turun membasahi bumi dan juga mulai membasahi kami. Sayangnya, ramalan cuaca hari ini meleset, dan aku tidak membawa payung. Senior Jo menarik tanganku mengajak menepi ke lantai 1. Gerimis yang awalnya hanya rintik-rintik berubah menjadi deras, tanganku masih digenggam oleh senior Jo. Tangan senior besar dan hangat, senior menatap lurus ke arah hujan, dan tidak bilang apapun.
Lagi-lagi untuk kedua kalinya kami terjebak di bawah hujan, kali ini situasinya berbeda, tidak ada canggung lagi. Seperti deja vu namun ada sedikit berbeda. Kami benar-benar membisu selama hujan turun, genggaman tangannya tidak terlepas jadi tanganku tetap hangat.
"Jadi ... makan malam kita batal?" tanyaku memecah keheningan
"Tetap berjalan, hujan pasti akan reda."
"Sayang sekali ya ..."
"Apanya?"
"Bunga-bunga kecil itu baru saja bermekaran sudah diterpa hujan yang deras."
"Mereka pasti bertahan, mereka itu kuat. Untuk menjaga bunganya yang baru mekar mereka rela diterpa hujan deras, itu cobaan bagi mereka."
"Berarti ... gimana kalau besok mereka mati?"
"Jika ada yang bertahan dan ada yang mati, maka seperti itu lah dunia kita juga. Ada yang bertahan diterpa masalah ada juga yang menyerah dan memutuskan mengakhiri hidupnya."
"Tapi itu bukan kita yang memilih kan?"
"Memang bukan kita yang memilih tapi kitalah yang menghadapinya, buktikan bahwa kita sanggup diterpa badai."
"Senior juga seperti itu ya kan, masih berdiri walau pernah diterpa badai."
Senior Jo sudah membuktikan ucapannya sendiri, apa buktinya? Buktinya ia masih berdiri disini, masih menghadapi dunia luar yang penuh cercaan fitnah. Meski hanya berdiri berdua disini aku sudah merasa terhibur, seseorang yang pernah jatuh ke lubang depresi kini berdiri di sampingku dan menggenggam tanganku. Ia juga secara tidak langsung memberi kekuatan untuk terus bertahan di dunia yang kejam ini.
__ADS_1
Hujan mulai mereda dan kami berdua mulai berjalan keluar sekolah untuk makan malam di restoran ayam yang disukai Senior Jo. Restoran yang dimaksud ternyata tidak terlalu jauh dari sekolah, senior bilang ia sering makan disini juga. Senior dan pemilik tempat ini sudah lumayan akrab, mereka saling bertegur sapa. Senior juga mengenalkan ku pada pemilik restoran. Selagi menunggu pesanan datang kami duduk di bangku ketiga dekat jendela.
"Senior, apa ini juga bagian dari bisnismu?"
"Hahah darimana kau tau?"
"Kenapa malah tanya balik??"
"Jawab saja~"
Senior Jo sering tersenyum saat mengobrol bersamaku, nada bicaranya tadi seperti sedang gombal.
"Aku hanya menebak kok."
"Sebenarnya ini bukan bagian dari kepelimikan ku, tapi ini milik pamanku, tentu saja pemiliknya kenal aku."
"Karena pemiliknya adalah pamanmu sendiri ya~ Atau Senior sering makan disini karena tidak bayar?"
"Hipotesis macam apa itu? Bisnis tetap bisnis, dan disini memang enak kok. Percayalah ..."
"Ya ya arasseo~"
Tidak menunggu lama, pesanan kami sudah datang. Dari baunya memang terasa enak, tapi apa memang iya? Mari kita coba! Aku mengambil 1 drumstick (paha ayam) dan mulai gigitan pertama. OMG! Ini benar-benar enak seperti kata senior. Lalu ku lihat senior makan dengan lahap, ini kali pertama aku makan di luar bersama teman saat tiba di Korea. Suasana di luar restoran terlihat lembab sehabis hujan, cuacanya sejuk dan restoran yang ramai membuat kita berada di tengah-tengah masyarakat yang sebenarnya.
"Hari ini senior yang traktir kan? Iya kan?"
"Iya iya kan aku yang mengajakmu jadi aku yang mentraktir."
"Oh yes! I like it! Terima kasih senior~"
"Hahah ..!"
"Kau tertawa! Senior sering tertawa dan tersenyum kalau bersamaku."
"Bukankah kau yang menyuruhku untuk tersenyum?"
Aku tidak menjawabnya aku hanya tersenyum saja, begitu juga dengan senior Jo yang tersenyum senang dan melanjutkan makan. Memang bahagia ternyata hanya sesederhana ini, lepas dari kelas tambahan dan tugas lainnya. Cukup makan di restoran ayam sederhana ini sudah rileks.
"Senior ..."
"Ya?"
"Berjanjilah padaku bahwa kau akan memenangkan pertandingan."
Aku mengepalkan tanganku ke arah Senior Jo, jika ia setuju ia juga akan membalas hal yang sama padaku. Dan ia juga melakukan hal yang sama artinya ia menyetujui hal itu juga.
"Baiklah! Akan ku menangkan pertandingannya, dan jika menang aku akan traktir makan bulgogi untukmu."
"Hanya untukku?"
"Khusus bulgogi memang untukmu saja kok."
"Aku pegang janjimu senior!"
"Hiyaaahhh!"
"Tapi ..."
"Apa?" tanya senior
"Kalau memang tidak ditakdirkan untuk menang aku yang akan menghibur senior dengan traktir makan disini ..."
"Tidak perlu begitu, aku pasti akan menang, lihat saja!"
"Aku akan datang langsung loh!"
"Ya ya kau juga berjanji."
Karena sudah berjanji jadi kau wajib memegangnya. Baik menang ataupun kalah itu tidak masalah, ada saatnya kita terjatuh ada juga saatnya kita masih berdiri. Tidak masalah, yang terpenting adalah jaga kesehatanmu, jaga juga senyum dan tawamu. Jangan menghilang lagi ya senyuman matahariku. Sangat sulit mengembalikan senyuman dari matahari, seperti hujan saat ini, senyumnya masih tampak dibalik awan yang mendung. Ketika hujan sudah mereda, matahari kembali menampakkan senyumnya. Let's be happy :)
__ADS_1