
I see you up on high
I see you every night
I'll hold you in my heart
To the end
Aku terdiam dan tidak tau harus berkata apa ketika melihat brosur itu. Rasanya seperti berdiri di sebuah tebing yang tinggi sendirian. Senior Jo mencoba menggenggam tanganku namun aku menarik tanganku menjauh. Bukankah ini terlalu cepat? Atau aku yang tidak pernah siap untuk situasi ini?
"Senior ... Aku mau pulang," kataku pada senior Jo
"Baiklah ... Ayo kita pulang,"
"Brosur ini boleh ku simpan?" Tanyaku padanya
"Kalau memang dengan menyimpannya kau tidak menjauh dariku, boleh saja,"
Aku menyimpan brosur ke dalam tasku. Senior pergi untuk membayar cake dan minuman kami. Aku menunggunya untuk turun dan pergi ke mobil bersama. Selesai senior membayar, ia dan aku turun bersamaan. Kami berdua bersama menuju mobil yang terparkir di depan toko.
Mobil berangkat menuju rumahku. Sepanjang perjalanan aku hanya diam saja dan melihat keluar jendela. Yeah it's my mood breaker, I need my mood booster.
"Eunsu, kau tidak ingin mampir ke suatu tempat lagi sebelum pulang?"
Tidak biasanya senior memanggilku dengan nama Korea ku. Aku menoleh padanya dan masih terdiam belum menjawab.
"Aku ingin pulang saja."
Aku tidak ingin kemana-mana lagi. Pulang dan beristirahat saja, kembali ke sekolah juga butuh energi.
"Eunsu ... Aku tidak ingin mengecewakanmu. Kalau ingin marah ya marah saja, wajar saja di setiap hubungan ada pasang surut. Daripada berjalan dengan monoton ..."
Aku tidak menjawabnya, yang aku inginkan hanya sampai di rumah itu saja. Rasanya mobil melaju dengan lambat, lama sekali sampai di rumah. Dadaku terasa sesak dan suaraku tercekat di tenggorokan. Tidak lama kemudian, mobil sudah sampai di rumah. Di luar terlihat kakekku sedang berbincang dengan sopir Han.
__ADS_1
Mobil sudah sampai disana, aku langsung keluar mobil dan masuk rumah tanpa menyapa kakekku. Aku juga meninggalkan senior Jo yang baru saja keluar mobil. Aku menghiraukan suara kakekku yang memanggilku. Masuk ke rumah juga aku langsung menuju ke kamarku. Pintu ku tutup dan ku kunci, dari jendela aku melihat kakekku yang mengobrol dengan senior Jo. Kakekku juga memegang pundak senior dan mereka berbincang dengan tersenyum.
Tanpa sadar air mataku menetes melihat senyuman senior Jo. Aku duduk di kasurku dan menangis tanpa suara. Ku keluarkan brosur kuliah yang diberikan senior Jo kepadaku. Aku menggenggam brosur itu dan menangis sejadi-jadinya. Aku memang belum siap, tidak pernah siap dengan situasi ini. Aku terlalu emosi dan meninggalkan senior Jo begitu saja.
Pintu kamarku diketuk dan terdengar suara kakek yang memanggilku. Aku masih kacau, masih menangis sehingga ku abaikan panggilannya. Cukup lama aku menangis dan kuputuskan untuk pergi mandi. Ku hapus air mataku dan bersiap untuk mandi. Tanpa kusadari juga waktu sudah hampir menunjukkan makan malam.
Selesai mandi aku keluar kamar untuk makan malam. Kakek, nenek dan eomma-ku sudah berada di meja makan. Kemungkinan kami akan makan malam bersama dengan Appa. Aku duduk nenek dan minum air putih dari gelas yang ku tuang sendiri. Kami semua terdiam tanpa suara, Eomma-ku juga melihatku dengan tersenyum saja.
"Eunsu ..." Kakekku membuka suara untuk memulai percakapan.
"Y-ya?"
"Mengenai Jo Eunbyul ..."
Aku berhenti minum dan meletakkan gelasku. Situasi ini, percakapan yang serius. Terdengar dari nada bicara kakek yang juga serius.
"... Dia akan melanjutkan pendidikan ke China kan? Kakek tau ini keputusan yang sulit, kalian juga masih muda. Jadi ... Apa kau sungguh menyukainya?"
"Vivi!" Ucap ibuku dengan tegas.
Kakek mengangkat tangannya pertanda Eomma-ku untuk membiarkanku berpendapat.
"Kalau memang aku menyukainya kenapa? Apa kalian tidak menyetujui?"
"Begini sayangku, mungkin sebelum atau setelah acara kelulusan kau akan menemui keluarganya kan? Mungkin juga kedua pihak keluarga akan saling bertemu. Jadi ... Apa kau siap dengan pertunangan?"
"Ha?!?"
"Kami tidak memaksamu sayang, ini juga bukan karena keuntungan keluarga. Ini kembali lagi kepada keputusanmu," ucap nenekku sambil mengelus pundak ku.
Belum ku jawab pertanyaan dari kakek, appa-ku sudah pulang. Eomma-ku berdiri dan menuju keluar untuk menyambut Appa. Aku kembali minum karena merasa haus. Memikirkan ucapan kakek tadi, tidak mungkin kakek dan keluarga senior Jo belum bertemu. Aku yakin dengan dalih bisnis mereka sudah bertemu, aku sedikit keberatan karena merasa pertunangan ini bukan karena aku menyukai senior Jo tapi seperti penyatuan dua keluarga agar memperluas relasi.
Appa masuk dan duduk ikut makan malam. Kakek tidak mengatakan apa-apa lagi, dan kami mulai makan malam. Selesai makan malam, aku dan Eomma membereskan meja makan. Kakek dan Appa ada di ruang tamu untuk berbincang. Nenek juga menuju ke ruang tamu, sebelumnya ia meminta ahjumma untuk membuatkan minuman dan dibawa ke ruang tamu. Eomma menyuruhku ke ruang tamu, katanya nanti Eomma akan menyusul juga.
__ADS_1
Aku menuju ke ruang tamu dan duduk di sebelah nenek. Tidak lama setelah aku duduk Eomma ku datang juga duduk di samping Appa. Kakek duduk di kursi utama sebagai pemimpin keluarga.
"Jadi ... Kami tidak ingin menunda lagi mengenai diskusi ini," kata kakekku.
"Benar, kita tidak bisa memaksa Eunsu," ucap Appa-ku.
"Boleh aku berbicara?" Tanyaku dan kakek memberi sinyal untuk mempersilahkan ku berbicara.
"Baiklah, mengenai pertunangan ku sebenarnya aku tidak keberatan tapi aku tidak ingin kedua pihak merasa terbebani karena pertunangan ini. Aku tidak akan melanggar aturan yang sudah ditetapkan. Aku menghormati kedua keluarga dan juga keputusan masing-masing keluarga. Perjalanan ku masih panjang, mengenai jodoh atau tidak semua tergantung pada waktu. Kalau memang kedua keluarga sudah setuju, aku juga tidak ingin mengecewakan kalian. Aku akan menjaga amanah yang diberikan dan pastinya akan menjaga nama baik keluarga kita."
Semuanya terdiam, kakek belum membuka suara. Nenek mengambilkan minum untukku, Appa juga minum. Aku tau situasi ini karena situasi yang tegang, belum pernah kurasakan seperti ini.
"Aku sudah mendengar pendapat cucuku, intinya kau menyetujui pertunangan ini dan siap dengan resikonya. Kembalilah ke kamar dan belajar, kau juga fokus untuk sekolah."
Aku mengangguk dan menghabiskan minumanku. Lalu kembali ke kamarku, dan aku mengintip dari kamar. Kakek dan Appa sedang berdiskusi, aku tidak tau apa ini keputusan yang tepat. Tapi aku menerima resiko ini, baik sekarang atau untuk kedepannya, aku siap menghadapi resiko dan keputusanku.
Aku menutup pintu kamar dan duduk di meja belajar. Aku tidak niat belajar, hanya ku susun buku dan mengerjakan satu dua soal latihan saja. Lalu ku putuskan untuk tidur, aku memejamkan mataku dan mencoba untuk tidur. Tapi tidak bisa, selalu terlintas bayangan senior Jo setiap kali aku menutup mata. Aku menatap langit-langit kamar dan dikejutkan dengan bunyi handphone-ku. Kulihat handphone-ku ternyata sebuah panggilan dari senior Jo.
Angkat atau tidak? Sempat ragu untuk mengangkatnya, tapi aku rindu dengan suara senior. Ku putuskan untuk mengangkat panggilannya ....
"Halo? Senior?"
"Ayo besok ke Gangwon-do!"
"Ha? Kau mabuk senior? Ngapain pergi ke Gangwon-do?"
"Tidak, aku tidak mabuk! Aku serius! Selesai sekolah kita akan langsung ke sana. Bilang tidak berarti kau minta dijemput olehku, bilang ya berarti kau setuju!"
"Apa maksudmu?"
"Aku tutup ya! Sampai jumpa besok, bye sweetie!"
Belum sempat aku menjawab senior Jo sudah menutup panggilannya. Ada apa dengan orang ini? Kenapa tiba-tiba mengajak ke Gangwon-do? Perjalanan dari Seoul ke Gangwon tidak sebentar. Lalu ... Ada apa di Gangwon-do?
__ADS_1