My Silver Star

My Silver Star
Random Street


__ADS_3

... ternyata matahari lah yang tak lagi ingin tersenyum


Senior Jo terlihat kaget atas apa yang baru saja ku ucapkan, seolah ia tidak percaya aku baru saja mengatakan hal itu. Ia terdiam sejenak lalu tertawa kecil ia masih tak mengucapkan sepatah katapun kemudian ia tersenyum dan melihat ke arah ku.


"Apa itu tadi adalah hiburan? Atau kau memang menyatakan cinta?" Ucap senior Jo


"Hah? Memangnya itu terdengar seperti menyatakan cinta?" Tanyaku dengan terkejut dan tidak percaya


"Haha kau ini lucu sekali ya."


Aku berhasil membuat senior Jo tersenyum kembali, hujan deras kali ini dengan melihat senior Jo malah tidak terasa dingin. Padahal tadi rasanya sangat dingin hingga menusuk tulang, aku yang pakai jaket saja masih terasa dingin apalagi senior Jo yang tidak memakai jaket hanya seragam sekolah saja. Tak lama setelah itu mobil Appa datang dan parkir mendekat ke halte.


"Dear, let's go home." Ajak Appa kepadaku


"Tapi bagaimana dengan ..."


"Tidak apa-apa kok, sebentar lagi bus terakhir akan datang. Kau pulang duluan saja ya." Ucap senior Jo yang memotong pembicaraanku tadi


"Hey boy, pulang bareng kami saja. Rasanya agak tidak mengenakkan meninggalkanmu sendirian disini." Kata Appa-ku


Senior Jo terlihat agak gusar sebelum iya menyetujui ajakan Appa-ku. Kami masuk ke mobil, aku dan senior Jo duduk di bangku belakang.


"Kalau boleh tau siapa namamu boy?" Tanya Appa-ku di dalam mobil sambil menyetir


"Nama saya Jo Eunbyul, saya tinggal di distrik Gangnam, apgujeong-dong."


"Ah begitu, berapa umurmu boy?"


"Saya berusia 18 tahun."


"Kau tinggal sendirian boy?"


"Iya."


"Wahhh ..."


Setelah percakapan singkat itu kami diam sepanjang perjalanan diterpa hujan deras hingga sampai ke apartemen milik senior Jo. Apartemen miliknya terlihat mewah, dapat ditebak bahwa senior Jo berasal kalangan atas. Mungkin jika kami membeli apartemen kami akan memilih apartemen yang mirip dengan apartemen milik senior Jo.


.....


Sekitar 15 menit kemudian aku dan Appa kembali ke rumah. Hujan sudah tidak terlalu deras, gerimis rintik-rintik dari air hujan yang terdengar begitu jelas. Setelah selesai mandi aku mencoba mereview kembali materi pelajaran di sekolah, mata ini sudah terasa ngantuk apalagi di cuaca seperti ini rasanya tidak ingin jauh-jauh dari bantal dan kawan-kawan. Materi yang disampaikan di kelas tadi sebenarnya sudah ku pelajari sebelumnya, tepatnya di tempat les sebelum aku pindah ke kota Seoul.


Omong-omong memangnya senior Jo kenapa? Ini seperti hal yang menarik ketika aku sampai di negeri orang, ah, tidak juga tapi ini negeriku juga. Rebahan seperti ini memang menyenangkan ya, saat aku hampir terlelap tiba-tiba ponselku berdering. Aish! mengganggu saja, siapa malam-malam begini menelpon. Ku lihat layar ponselku dan ternyata itu adalah Sora, siang tadi setelah makan siang kami bertukar nomor agar bisa saling menghubungi.


"Halo?" kata Sora


"Hai ..." jawabku singkat

__ADS_1


"Ternyata ini memang nomormu ya! Kau menghilang di perpustakaan, aku mencarimu kemana-mana tadi. Apa kau sudah pulang?"


"Hm ... tadi aku memang di perpustakaan. Sekarang aku sudah pulang, di rumah lagipula tadi aku tidak sendirian kok."


"Memangnya kau punya teman selain aku?"


"Ada seseorang ... tebak lah!"


"Ketua kelas? Wakil ketua kelas? Hyejin?"


"Bukan ... ayo putarlah otak cerdasmu Sora~"


"Apa jangan-jangan ... Senior Jo?"


"...."


"HEYYYY!!!!"


"Kalau aku diam saja berarti jawabanmu benar. Selamat ya!"


Suara Sora seperti tercekat, ia tidak percaya aku bersama senior Jo tadi. Seharusnya kalau dia bersamaku tadi mungkin kami akan bertiga disana.


"Baguslah ..." kata Sora


"Apa maksudmu?"


"Senior Jo ... dia itu ... sedikit antisosial ..."


Senior tidak terlihat seperti itu kok! Dia tidak terlihat antisosial, dia juga nyaman berbicara denganku. Dia normal-normal saja kok!


"Vivi, besok akan ku ceritakan tentang insiden tahun lalu, kurasa aku lah yang menyerah dan memberitahumu tentang ini. Tapi kalau kau sudah dekat dengan senior Jo kurasa kau harus tau ini sejak awal. Istirahatlah dan jangan terlalu dipikirkan ... Selamat malam."


"Selamat malam." jawabku pada Sora sambil menutup telepon.


Sedari awal aku penasaran kenapa orang-orang bersikap acuh pada senior Jo, padahal dia berusaha untuk tidak terlihat berbeda. Ucapan senior tadi juga, aku tidak bisa begini. Ku lihat jam dan sudah menunjukkan pukul 00.40 AM aku juga sudah lelah, daripada kupaksakan mencari tau hari ini mungkin lebih baik besok saja, aku ingin beristirahat.


.....


Pukul 05.00 AM aku bangun dan sudah stand by di depan laptop. Aku mulai pencarian dengan mengetik nama sekolahku, kemudian muncul begitu banyak artikel tentang sekolah, namun agak sulit mencari artikel tentang tahun lalu. Aku terus mencari kata kunci dan scrolling agar ketemu yang aku cari, hingga akhirnya ....


"Seorang Atlet Dari SMA B 'Membunuh' Lawannya Saat Pertandingan"


Gila! Berita macam apa ini! Ku coba membuka artikelnya, dan tanpa ku sangka atlet itu adalah ... senior Jo! Mungkin judul artikel dibuat kejam begini agar banyak yang membaca tapi ini sungguh keterlaluan, memangnya di pembuat berita merasakan yang dirasakan senior Jo? Gila saja! Di artikel dikatakan bahwa lawannya memang ada cedera punggung sebelumnya, bantingan dari senior Jo membuatnya langsung pingsan ditempat. Setelah diperiksa tim medis, tim medis langsung membawa ke rumah sakit dan didapati lawan tersebut sudah koma.


10 hari di rawat di rumah sakit kemudian lawannya mengembuskan nafas terakhirnya. Cedera punggungnya ternyata melukai syaraf sumsum tulang belakang miliknya. Dan karena hal itu, senior Jo sempat di skors dari pertandingan dan klub olahraga. Dari hasil penyelidikan itu murni bukan salah senior Jo, namun ada beberapa pihak yang menyalahkan karena dianggap ceroboh.


Cedera dalam pertandingan memang sudah biasa, apalagi ini adalah pertandingan martial art kita tidak bisa menyalahkan pihak manapun, bisa jadi ini adalah takdir yang memang sudah ditetapkan. Dari kasus ini aku bisa melihat pandangan orang-orang terhadap senior Jo. Mungkin ini yang akan diceritakan oleh Sora nanti, dari kasus ini pula kita bisa mengambil pelajaran kehidupan, bahwa kenyataannya dunia memang kejam.

__ADS_1


.....


"Appa, aku sepertinya naik bus saja, selagi masih pagi pasti masih sempat terkejar, aku tidak akan terlambat."


"Baiklah kalau begitu, hati-hatilah my dear."


"Dear, kalau memang nanti ingin pergi ke kelas tambahan telpon Eomma saja ya, hari ini Appa-mu akan pulang agak lama." kata Eomma sambil memberikan cemilan untukku


"Arasseoyo, Gomawoyo Eomma."


Perjalanan dari rumah ke halte tidak begitu jauh, hanya butuh beberapa menit saja. Selain itu, banyak juga anak dari sekolahku yang naik bus. Setelah sampai di halte sekolah, ternyata suasana masih sepi. Ku lihat bangku di halte ini dimana tadi malam aku dan senior Jo duduk disini menunggu Appa. Sisa-sisa genangan air karena hujan kemarin masih terlihat, lumayan banyak juga. Jalanan tampak basah dan cuaca terasa lembab, ada beberapa bangku halte yang juga basah. Embun pagi ini terasa begitu sejuk dan sinar mentari pagi ini begitu hangat.


Aku melangkahkan kaki menuju sekolah dan memasuki kelas, di dalam ada beberapa orang yang kemarin baru saja ku kenal. Aku duduk di bangku milikku dan melihat keluar jendela. Sinar mentari pagi ini yang hangat menyinari jejak-jejak bekas hujan kemarin, cantik sekali terutama pepohonan. Tak lama setelah aku duduk kelas mulai ramai dan Sora juga datang.


"Hei! Good morning!" Sapaku pada Sora yang pagi ini terlihat bahagia sekali karena cuaca hari ini pasti hangat.


"Morning too!" balasnya padaku


"By the way, selagi masih belum masuk aku akan menceritakan tentang ...."


"... Nanti saja saat makan siang ya." ucapku memotong omongan Sora, mungkin aku tidak siap atau lebih tepatnya aku merasa ruang kas bukan tempat yang tepat untuk membicarakan hal ini.


Selama kelas berlangsung Sora tetap seperti biasanya yang sibuk sendiri dan cerewet, namun pribadi Sora ini sudah dikenal kawan-kawan sekelas. Ada yang tidak terlalu nyaman namun ada juga yang nyaman saja seperti aku ini.


.....


Tidak terasa sudah waktunya untuk makan siang, seperti biasanya kami makan siang di kantin sekolah karena makanan disediakan oleh pihak sekolah. Aku melihat sekeliling mencari sosok familiar yang kemarin malam menemaniku namun tidak tampak batang hidungnya.


"Jadi ..." ucap Sora memulai pembicaraan


"Apa?"


"Setahun yang lalu sekolah ini mengirimkan atlet hapkido ke pertandingan olahraga nasional, salah satu atlet yang berprestasi dan dikirim saat itu adalah ..."


"... senior Jo." Lagi-lagi aku memotong omongan Sora dan Sora tidak mempermasalahkan hal itu


"Ya, semua orang menaruh harapan padanya sebagai pembawa nama sekolah. Namun siapa sangka, lawannya memiliki masalah medis memang saat itu tidak ada yang tau. Seperti pertandingan hapkido pada umumnya, gerakan membanting adalah hal biasa. Tapi pada hari itu, gerakan itu adalah bencana. Lawannya pingsan ditempat, dan langsung dibawa ke rumah sakit. Setelah itu kami dapat kabar bahwa lawannya dlama keadaan koma, semua terkejut tatapan bersalah juga ada pada senior Jo, dan tatapan orang-orang seolah mengatakan bahwa senior lah penyebabnya. Sejak saat itu sikap senior Jo mulai berubah, yang awalnya dia adalah orang yang mudah bersosialisasi kini menutup dari dunia luar termasuk sekolah. Kabarnya keluarganya juga membawanya ke psikiater, bisa dibilang saat itu dia sangat terguncang, sekarang sudah lebih baik apalagi jika dia sudah mau mengobrol dengan orang lain."


"Pasti berat sekali ... dituduh sebagai pembunuh secara tidak langsung. Bagaimana reaksi keluarga pihak lawan?"


"Mereka mengajukan gugatan tapi pihak senior Jo mengajukan banding, dan untungnya kedua belah pihak berdamai."


"Begitu ya ..."


Setelah mendengarnya aku jadi tidak selera makan, makan siangku hanya ku aduk-aduk dan sebagian dimakan oleh Sora. Hari ini aku melihat senior Nam dan beberapa temannya namun tidak kelihatan senior Jo, seperti kata Sora, ia menarik diri dari sosial. Media begitu buruk, membuat artikel yang menyatakan bahwa seorang atlet martial art adalah pembunuh, apalagi ia masih seorang siswa, kejam sekali.


Makan siang sudah selesai, kebetulan hari ini setelah makan siang ada jam kosong, sebagian besar akan pergi ke perpustakaan dan menghabiskan waktu disana. Sora mengajakku ke perpustakaan tapi aku ingin merilekskan pikiran, aku berjalan di sebuah lorong di lantai 2 yang menghadap ke arah lapangan basket lama yang sudah tidak terpakai. Didekat sekitaran lapangan basket tumbuh bunga-bunga liar yang berukuran kecil, kecil dan memiliki banyak warna, cantik sekali. Tepat di lapangan basket yang sudah tidak terpakai terlihat sosok familiar yang terlihat seperti sedang bersilat. Satu sosok familiar yang tadi tidak makan siang di kantin, di pinggir lapangannya terdapat sebuah tas ransel berwarna army dan bekal makan siang yang terlihat kosong.

__ADS_1


Sosok yang mengenakan baju olahraga sekolah sepertinya sedang latihan hapkido seorang diri. Sesekali ia beristirahat dan minum dari tumblr-nya yang berwarna merah, ia juga menengadah ke langit sambil memejamkan mata dan sinar mentari menyinari tubuhnya yang basah karena peluh. Ada sisi lain darinya, seolah tidak ada beban, dan ... ia juga tersenyum. Senyuman itu adalah senyuman haru dan bahagia, untuk pertama kalinya tanpa di lihat orang banyak. Pasti sungguh berat, ku harap kau tetap tersenyum seperti itu, tidak perlu tau bahwa ada orang yang melihatmu dari atas sini.


"Tapi tetaplah tersenyum seperti itu Jo Eunbyul."


__ADS_2