
Impian yang dibangun dengan darah juga hancur berkeping-keping karena darah ...
Waktu sudah pukul 23.00 PM senior Jo mengajakku pulang. Ia menggandeng tanganku memasukkannya ke dalam kantong jaket. Selang beberapa langkah ia terhenti dan melihat ke arahku.
"Tanganmu dingin sekali, kenapa tadi tidak pakai jaket?"
"Tidak apa-apa lagi pula ini musim panas."
"Tetap saja ..."
Senior Jo melepas jaketnya dan memakaikannya untukku. Ternyata memang benar, hangat sekali. Wangi parfum senior Jo juga melekat, aroma mint ini sangat segar cocok dengan karisma senior Jo. Jaketnya cukup tebal dan oversize ketika kupakai. Aku menatap ke arah Senior Jo dan ia juga menatap ku lama, sampai akhirnya ia menggandeng lagi tanganku dan mengajak jalan.
"Apa senior tidak dingin?"
"Tidak apa-apa, aku sudah terbiasa."
"Nanti senior sakit. Lusa sudah hari-H pertandingan."
"Apa kau tau? Seorang atlet harus tahan dengan cuaca, aku juga pernah berendam di dalam kolam yang dingin untuk melatih ketahanan."
"Sungguh?"
"Apa aku terlihat berbohong?"
"Hmm saat ini ekspresi senior seperti kucing yang memelas."
"Aku jago seperti ini."
Kami melanjutkan perjalanan ke rumahku. Senior juga bilang kemungkinan setelah ini kami akan jarang berhubungan dan bertemu sampai hari-H pertandingan.
Angin malam menghembuskan nafasnya. Terasa dingin hingga menusuk tulang. Ku lihat senior yang terdiam menatap jalan, apa ia tidak kedinginan? Ketika sampai di rumah, toko milik Eomma sudah tutup. Kami berpisah di depan gerbang rumah, sebelum berpisah aku mengembalikan jaketnya.
"Terima kasih karena sudah menemaniku hari ini."
"Tidak apa-apa senior, aku juga senang. Pulang dan istirahat lah, pertandingan nanti harus menang! Fighting!"
"Fighting!"
Senior berbalik dan pergi melangkah, aku masih melihat bayangan punggung itu menghilang. Sesekali ia berbalik ke arah ku dan tersenyum. Ia juga menyuruhku segera masuk karena dingin. Perlahan bayangan itu menghilang, aku membalikkan badan dan masuk ke rumah.
Sepertinya para penghuni rumah sudah tertidur, aku menuju dapur dan menengguk segelas air menghilangkan rasa haus. Lalu aku kembali ke kamarku, ku lihat pantulan diriku di cermin dengan leher yang dihiasi emas putih bertali. Simbol Yin Yang yang kini ada di leherku menandakan kini ada Seseorang yang menjagaku secara tidak langsung.
"Hai ... kau pasti terkejut hari ini, jagalah baik-baik dan beristirahatlah. Akan ada hari yang sangat kau nantikan, Fighting!"
Aku mengatakan pada pantulan bayangan ku di cermin sambil tersenyum. Begitulah cara menyemangati diri sendiri versi ku. Saat berada di titik terendah lihat diri kita di cermin, selama ini bagaimana kita berjuang dan berusaha tidak menyerah. Hal itu hanya ada di diri kita sendiri, love yourself.
.....
Hari ini adalah hari-H pertandingan senior Jo. Aku datang bersama Sora dan juga senior Nam, beberapa kawan-kawan satu geng senior juga datang. Kami duduk di seat yang agak tinggi dan berada di posisi tengah. Terlihat beberapa tim dari sekolah kami, begitu juga dengan Sabeum yang melatih senior Jo. Tapi senior belum tampak, aku menyusuri kesana-kemari dan kemudian ia muncul dengan seragam hitamnya. Ia tampak fokus, berkumpul dengan grupnya.
Menjelang pertandingan senior sempat melihat ke arah kami, sontak kami memberi semangat padanya. Ia tersenyum dan kemudian kembali ke bangkunya. Sesuai dengan nomor yang didapat, senior bertanding di pertengahan. Selama awal pertandingan wajahnya terlihat kaku dan serius. Beberapa kali tampak ia sering memijat bahu bagian kirinya. Semoga hasil pertandingan kali ini mendapat hasil yang terbaik.
__ADS_1
Tiba saatnya senior Jo bertanding, kami menyuarakan support untuknya dengan begitu meriah. Ia sangat serius dan fokus kali ini, dimulai dari junbi, chaeryeot, bahkan pada posisi miong sa senior seperti bukan orang yang ku kenal selama ini. Babak pertama pertandingan berjalan dengan baik, nafas senior begitu stabil. Pada bagian Deonjhigi dan Keokki membuatku berdebar khawatir. Lagi-lagi ia memijat bahu kirinya dan merilekskan tubuhnya.
"Yeon Seok Oppa, apa kau tau kenapa ia memijat bahu kirinya?" tanyaku pada senior Nam
"... Tidak apa-apa, pasti karena pegal saja."
jawab Senior Nam
Sebelum menjawab pertanyaanku senior Nam terlihat ragu-ragu untuk menjawab. Raut wajahnya jadi serius dan ekspresinya sedikit khawatir. Aku jadi tidak tenang ...
Babak kedua dimulai, kali ini lebih brutal dari babak pertama. Aku melirik ke arah Senior Nam yang kini lebih banyak diam. Aku kembali memperhatikan pertandingan senior Jo. Berbagai Deonjhigi, Nakbob, Makki, Keokki, dan paegi kali ini sering dilancarkan. Aku merasakan firasat tak enak pada klimaks pertandingan. Lawan dari senior melakukan Deonjhigi tinggi dan membantingnya begitu keras. Senior Jo berteriak keras dan memegang bahu kirinya. Sontak semua terkejut, senior Nam yang sejak tadi diam langsung berdiri dan lari ntah kemana. Aku yang terkejut juga berdiri dan tidak sanggup melihatnya, air mataku jatuh. Sora memelukku dan mengajakku keluar, sebelum keluar aku melihat senior Nam menghampiri sabeum di arena pertandingan. Staf medis datang dan aku melihat senior Jo yang begitu kesakitan.
Sora memapahku keluar, ia terus memelukku dan berusaha menenangkan ku. Aku begitu syok melihatnya, pertandingan terakhir senior Jo kenapa malah begini? Aku masih speechless menyaksikannya. Masih ku ingat dengan jelas teriakan kesakitan dari senior Jo tadi.
.....
Senior Nam menelpon Sora, Sora bilang senior Jo menyuruhku segera pulang. Bagaimana aku bisa pulang seperti ini? Aku khawatir padanya! Aku masih terdiam dan menyeka air mataku.
"A .. Ayo kita pulang." Ucap Sora terbata-bata
"Tidak! Aku tidak mau pulang!" Jawabku tegas
"Tapi ..."
"Aku ingin melihatnya! Dimana mereka? Aku ingin melihatnya sekarang!"
"Oppa bilang mereka ada di ruang medis ..."
Aku menggenggam tangan Sora dan melangkah cepat ke ruang medis. Sora terpaksa mengikuti ku menuju ruang medis. Aku terlalu kalap dan tergesa-gesa, aku bingung dengan ruangannya.
"Vivi, ayo aku tunjukkan. Kita pelan-pelan saja ya. Ayo ..."
Sora berbalik menggenggam tanganku dan mengajak ku ke koridor sebelah. Tampak tulisan "Ruang Medis" dan di depan pintu ada senior Nam yang sedang duduk. Senior Nam terlihat terkejut karena kedatangan kami. Ia tidak mengucapkan sepatah katapun, hanya mengisyaratkan agar kami duduk. Kami duduk dan menunggu, entah menunggu siapa.
"Sebentar lagi sabeum akan keluar ... " Ucap senior Nam membuka suaranya
"Senior tau tentang ini juga?" Tanyaku padanya, aku masih berusaha menahan air mataku. Bagaimana tidak? Malam sebelumnya kami masih di rental komik dan masih baik-baik saja. Kenapa di hari-H terjadj hal seperti ini?!
"Sebenarnya ... hanya kambuh. Namun kambuhnya disaat yang tidak tepat."
"Kambuh ya ..."
"Setelah insiden tahun lalu ia seperti orang yang tak punya harapan. Berdiam diri sepanjang waktu, hingga akhirnya ia keluar kamar dan menerima ajakan jongging bersamaku."
"Lalu?"
"Meskipun jogging bersamaku tapi aku tau ia masih 'kosong' aku yang saat itu lalai tanpa sadar membiarkan ia sendirian. Sebuah mobil pick up yang mengangkut barang tanpa sengaja menyerempet nya. Bahu kirinya mengalami Fraktur clavicula, ia menjalani pengobatan dan juga terapi. Terkadang memang kambuh, terasa nyeri katanya. Tapi kali ini, kambuhnya di waktu yang salah. Sebelum bertanding ia menjalani terapi, fisioterapi sudah mengatakan resiko padanya. Dan ia bilang ..."
"Apa? Apa yang ia bilang?"
'Ini pertandingan terakhir untuknya dan pertandingan pertama untuk kau lihat."
__ADS_1
Aku tidak sanggup berkata-kata lagi. Senior Jo ini bodoh atau bagaimana? Memangnya aku tidak pernah menonton pertandingan hapkido? Padahal terlalu beresiko untuknya.
Tak lama kemudian Sabeum keluar, melihat kami dan melangkah pergi. Kami dipersilahkan untuk masuk ke ruangan. Senior Nam dan Sora memilih untuk tetap diluar, mereka mempersilahkan ku masuk untuk bicara empat mata dengan senior Jo.
Aku melangkah masuk dan menatap senior Jo yang bahunya disanggah deker khusus bahu. Senior melihatku sedikit terkejut, aku mendekatinya. Tanpa sepatah kata pun, hnya merapikan Dobok miliknya. Cukup lama kami berdiam tanpa sepatah katapun.
"Kenapa dipaksakan?" Tanyaku padanya memecah keheningan
"Karena ... ini pertandingan terakhir."
"Yeon Seok Oppa bilang kau kambuh ..."
"Aku tidak ingin mengkhawatirkan mu, karena itu belum ku beritahu."
"Kini aku khawatir! Apa kau tau betapa syok nya aku?!"
"Maaf ..."
"Apa kau ingin meninggalkanku senior?"
Aku tidak bisa menahan air mataku, ia menyeka air mataku dengan tangan kanannya. Miris melihat nya yang begitu bekerja keras malah berakhir di meja medis.
"Jangan menangis ... kumohon ..."
"Apa maksud ucapan mu tempo hari?"
"Belum saatnya aku memberitahumu ..."
"Oh? Lalu kapan? Saat kau tiba-tiba pergi? Menghilang begitu saja? Lalu aku bagaimana?"
"Tidak ... bukan begitu ..."
Senior Jo menggenggam tanganku dan menatapku lekat. Wajahnya kini bukan lagi seseorang yang dingin, malah terlihat seperti seseorang yang akan pergi untuk selamanya.
"Dengarkan aku ..."
"...."
"Aku sudah menjalani operasi, melakukan terapi, bukannya aku tidak peduli pada tubuhku. Untuk terakhir kali ... aku bangkit dengan Hapkido maka aku juga akan jatuh dengan Hapkido. Maaf karena pertandingan ini mengecewakanmu ..."
"Senior ... Trust me ... I Will fix you! Kau tidak boleh sakit! Kau tidak boleh pergi dan membuatku menangis! Kau akan pulih dan tetap bersamaku!"
"Tapi kali ini ... setelah kelulusan aku akan pindah ke Cina dan berobat disana."
"Kau tidak menghilang kan? Kau akan sembuh, kau ... patah tulang ini akan sembuh!"
"Gomawo ... My Star."
Senior Jo mencium keningku dan wajahnya terlihat berusaha tegar. Wajahnya pucat dan senyumnya terasa hambar. Aku tidak ingin ia sakit, meski sakit jangan pergi dan meninggalkanku sendirian.
"... I will fix you, I promised."
__ADS_1