My Silver Star

My Silver Star
Coldest Day


__ADS_3

Pagi hari aku bangun terasa sangat dingin, aku mengecek ponsel dan cuaca sekarang sekitar minus 5 derajat celcius. Sebenarnya tadi malam aku tidak bisa tidur dengan nyenyak. Siapa tau yang aku rasakan tadi malam adalah mimpi dan tidak nyata. Hari ini benar-benar dingin, jadi tidak ingin keluar rumah tapi aku masih punya kewajiban di luar rumah.


Aku memakai hoodie dan dilapisi lagi dengan coat tebal agar dinginnya tidak terlalu menusuk tulang. Sayangnya, aku tidak punya syal untuk menutupi leherku. Aku lupa membelinya karena kupikir tidak akan sedingin ini. Bodoh! Padahal yang namanya musim dingin tentu akan sangat dingin. Ketika keluar kamar, ku lihat sekeliling rumah terasa sepi sepertinya hanya aku yang bangun kesiangan. Haih ... kenapa ibu tidak membangunkanku lebih awal.


“OII CHINGU ...!!!”


Suara anak laki-laki yang teriak memanggil kawannya dari luar sungguh tidak ada akhlak. Bahkan ia tidak memanggil nama kawannya, hanya memanggil ‘CHINGU’ memangnya aku tidak punya nama? Memangnya namaku ‘chingu’ apa!?


“Daebak, kau memanggil teriak seperti seekor anjing ...” kataku padanya dengan nada kesal


“Apa kau tau aku sudah menunggu berapa lama? Chat tidak dibaca dan telepon tidak diangkat. Kau mau aku mati membeku di depan rumahmu ha?!” ucap Junsu dengan nafas yang banteng kedinginan


“Oh ... mian.”


“Itu saja? Kau memang tidak menyesal aku mati kedinginan disini?”


“Tidak usah banyak bacot. Ayo berangkat!” kataku padanya sambil menepuk punggungnya setelah aku duduk dibangku penumpang sepedanya.


.....


Hari ini kegiatan volunteer selesai lebih cepat. Kata ketua kelasku karena hari ini sangat dingin jadi kegiatan volunteer selesai sampai makan siang saja. Baguslah! Aku tidak ingin berlama-lama di luar rumah. Aku merindukan kasurku yang sangat kucintai. Sial! Berapa derajat sekarang? Rasanya siang ini lebih dingin dari tadi pagi.


Junsu mengenakan coat tebal berwarna hitam dan juga memakai syal baby blue yang aku belikan. Aku jadi iri melihat syal miliknya, ingin kurebut dan kupakai di leherku sebagai penghangat.


“Chingu, apa kau kedinginan? Telingamu sampai memerah seperti telinga monyet yang kedinginan. HAHAHA!”


Memang manusia satu ini sedikit tidak berotak. Mengataiku monyet dan tertawa terbahak-bahak didepan umum. Ingin sekali aku memenggal kepalanya dan kulempar ke anjing liar.


“Sudah selesai tertawa? Kalau kau tertawa lagi kau akan mati.”


“Maaf chingu, sebagai permintaan maaf ini kau pakai dulu syal milikku. Ayo kita mampir membeli syal untukmu sebelum pulang ke rumah” kata Junsu sembari memasangkan syal ke leherku


Junsu dan aku menaiki sepeda ke toko untuk membeli syal. Sampai disana ada banyak warna yang sedang trend di musim dingin saat ini. Warna-warna yang lucu dan cute, ada yang tebal dan ada juga yang tidak terlalu tebal.


“Chingu! Aku suka yang ini, kau kubelikan yang ini aja ya? Ya? Yaaa???” ucap Junsu sambil memegang syal berwarna merah dengan motif simetris berwarna putih.

__ADS_1


“Not bad. Kau yang belikan, pilih saja yang mana pasti akan ku pakai.”


“OH! Kalau begitu aku suka yang ...”


“Ayo kita bayar yang ini” kataku memotong ucapannya dan merangkulnya untuk segera membayar syal merah yang ia pegang.


“Pilihan warna yang bagus, untuk pacarnya ya?” ucap penjaga kasir kepada Junsu


“Oh bukan kok. Ini untuk temanku” jawab Junsu dengan gerakan tangan menolak


“Hmm baiklah.”


Selesai membayar kami keluar toko dan mampir untuk membeli kopi di kafe seberang. Suasana retro dari kafe sangat menarik, lagu yang mereka putar juga kebanyakan versi piano. Versi piano lebih menenangkan dan terasa hangat di cuaca yang sangat dingin saat ini. Junsu duduk di depanku, aku melepas syal-nya dan memberi pada Junsu.


“Terima kasih sudah meminjamkannya padaku.”


“Tidak masalah, ini syal milikmu. Akan kupasangkan kepadamu ...” kata Junsu sambil memasangkan syal yang baru dibeli tadi.


Syal yang dibelikan Junsu seketika membuatku hangat. Dan tentunya pilihan Junsu sangat bagus, karena aku suka warna merah jadi ini cocok dengan seleraku juga. Aku menyeruput kopi yang masih panas kemudian melihat ke arah Junsu. Junsu sibuk bermain hp, raut wajahnya juga jadi serius.


“Oke ...”


Junsu keluar kafe sebentar sambil mengangkat telepon. Wajahnya serius sekali, anak yang sering bercanda itu berubah jadi atasan kejam. Cukup lama ia menelepon sampai kopiku habis ia bahkan belum selesai juga. Dari tadi aku melihatnya menelepon, aku merasa bosan sampai tidak tau harus berbuat apa. Ku mainkan ponselku sambil menunggu Junsu selesai menelepon.


Junsu sudah kembali, ia duduk dan langsung meneguk kopinya sampai habis. Ia menghela napas panjang kemudian melihat ke arahku. Aku hanya melihatnya saja, menunggu ia mengeluarkan kata-kata dari mulutnya. Ia masih diam saja, dan memilih bersandar di kursinya. Ia juga melihat ke arah luar lalu tersenyum, senyumnya aneh bukan senyum karena bahagia tapi senyum sedih (?)


“Apa ada masalah? Kau bisa cerita padaku chingu” kataku pada Junsu


“Tidak ada, ayo kita pulang saja.”


“Arasseo ...”


.....


“Ayo mampir ke rumahku sebentar, kau pasti capek mengendarai sepeda apalagi memboncengku” kataku menawarkan pada Junsu

__ADS_1


“Ha? Kan rumah kita sebelahan ... tapi aku belum pernah ke rumahmu sih.”


“Ayo masuk!”


Rumahku seperti biasa tetap sepi, sepertinya orang-orang sedang kerja. Di meja ada beberapa surat, ada yang untuk ayah, ibu dan ... aku? Zaman sekarang masih ada yang mengirim surat pribadi? Untuk apa ada e-mail jika masih mengirim surat seperti ini.


“Wah ... rumahmu bagus sekali ya!”


“Terima kasih. Kau mau minum sesuatu? Kopi? Teh?”


“Apa ada whiskey?”


“Pulang saja kau setan.”


“Maaf aku bercanda jangan usir aku. Aku mau teh saja.”


Junsu duduk di sofa sementara aku membuatkan teh untuknya. Kalau diingat-ingat benar juga ini pertama kalinya ia main ke rumahku. Biasanya aku yang main ke rumahnya atau kami jalan-jalan ke suatu tempat dengan sepedanya.


“Chingu, apa Tuan Muda Jo pernah meneleponmu?”


“Pernah. Kenapa?”


“Dengan ponsel?”


“Tidak, telepon umum. Apa kau tau sesuatu tentangnya? Maksudku keadaannya sekarang?”


“Tentu tidak, tapi apa kau tidak merasa aneh kenapa ia meneleponmu dari telepon umum?”


“Apa maksudmu?!”


“Tidak ... tidak ada. Jangan terlalu dipikirkan.”


Setelah Junsu pulang aku mulai merasa aneh dengan yang ia katakan tadi. Tidak mungkin baginya tidak tau-menau tentang senior Jo. Hanya saja ada yang harus ia jaga makanya ia bersikap seperti itu. Hari yang sangat dingin dengan kejutan tidak terduga yang kualami. Pertama kalinya seorang teman lelaki membelikanku syal bahkan ia meminjamkan syal miliknya padaku. Junsu orang baik kuharap akan tetap seperti itu karena tidak selamanya orang akan tetap baik.


Sendirian ditengah cuaca yang tidak bersahabat bukanlah masalah. Karena perlahan aku mulai mencari kesibukan hingga lupa waktu. Angin yang berhembus hampir membekukan jendela kaca. Tidak puas dengan membekukan benda mati, kurasa musim dingin juga membekukan hatiku.

__ADS_1


-SEASON 1 SELESAI-


__ADS_2