My Silver Star

My Silver Star
The Fate Line


__ADS_3

Garis yang tak akan terputus, seperti kita.


"Halo? Sora?"


"Vi ... Vivi ..."


"Hey! Ada apa?"


"Itu ..."


"Aku tidak suka mendengar setengah-setengah, to the point saja."


"A-aku besok ti-tidak masuk se-sekolah ..."


"Memangnya kenapa? Ayo cerita saja ..."


"A-aku akan ujian susulan saja ... Aku sakit."


"Aigoo~ saat-saat seperti ini kita harus jaga kesehatan. Beristirahatlah ... Besok aku dan senior Jo akan menjengukmu."


"Terima kasih Vivi hiks hiks ..."


"Jangan menangis dan istirahatlah ..."


"Maaf mengganggu waktumu Vivi ... Aku tutup ya ..."


"Tidak apa-apa ... Ingat! Istirahatlah! Bye ..."


Aku heran, tidak di Indonesia atau di Korea. Saat musim ujian pasti ada saja yang terjadi. Apalagi musim gugur kali ini, hujan sering turun. Jalanan menjadi licin dan cuaca menjadi dingin, kalau tidak berhati-hati dan mengenakan coat akan mudah sakit nantinya. Waktunya untuk beristirahat, ujian hari terakhir tidak boleh mengecewakan.


.....


Ujian hari terakhir sudah selesai! Aku masih membereskan tas, dan juga belum menghubungi senior Jo untuk menjenguk Sora. Kurasa senior Jo sudah tau kondisi Sora dari senior Nam. Aku memegang pipi dan dahiku masih terasa hangat dan normal. Aku harus menjaga kesehatan, aku tidak ingin berpisah dengan senior Jo tanpa melihatnya.


Selesai membereskan tas dan keluar kelas, senior Jo sudah menunggu di depan pintu kelas. Anak-anak di kelasku sudah mengetahui hubungan antara aku dan senior Jo. Sampai saat ini belum ada kritikan mengenai hubungan kami, maklum saja ... Senior tidak terlalu ramah pada adik kelasnya. Sikap senior yang dingin malah dijauhi junior-juniornya, mereka lebih memfavoritkan senior Nam dan juga senior Kim.


"Senior kau sudah mendengar tentang kondisi Sora?" Tanyaku pada senior Jo


"Sudah ... Yeon Seok yang memberitahu tadi. Kita jenguk hari ini?"


"Ah iya ... Tadi malam Sora meneleponku. Dia bilang dia tidak masuk dan ujian susulan. Omong-omong dimana senior Nam?"


"Yeon Seok sudah pulang duluan ... Dia mengkhawatirkan Sora."


"Begitu ya, kita akan belanja buah dulu."


"Kita naik mobil saja ... Aku sudah menelepon sopir."


"Baiklah ... Akhir-akhir ini senior sering naik mobil ya ... Apa senior sudah mendengar gosip tentang senior?"


"Aku naik mobil hanya saat pulang saja, soal gosip itu ... Aku sudah terbiasa."


"Sungguh?"


"Orang terkenal sepertiku tidak terlalu menghiraukan perkataan yang tidak penting."


"Heol~ Uri namja chingu sangat keren!"

__ADS_1


"Of course!"


Ketika keluar gerbang mobil milik senior sudah stand by. Kami berdua masuk mobil dan menuju ke toko buah di dekat rumah Sora. Senior Jo dapat informasi dari senior Nam bahwa Sora sedang demam dan istirahat di rumahnya.


Tiba di toko buah, kami membeli beberapa buah-buahan. Kami juga membeli teh hijau dan beberapa obat herbal di toko seberang. Saat membeli buah, senior Jo disapa oleh seseorang. Seseorang itu menyapanya 'Tuan muda' ah iya! Aku juga lupa bertanya pada senior kenapa pak Kwon memanggilnya tuan muda.


"Halo tuan muda, apa kabar?" Tanya seorang pria paruh baya yang mengenakan coat berwarna moka.


"Baik, bagaimana dengan Jang-ssi?"


"Ahahah tentu saja aku sehat tuan! Ah iya, perkenalkan seseorang yang ada disampingmu tuan muda ..."


"Vivi, perkenalkan ini adalah pak Jang, beliau adalah kolega bisnisku. Jang-ssi ini adalah Vivi, dia adalah pacarku."


"Olivia Kim." Sapaku pada pak Jang sambil mengulurkan tangan dan tersenyum.


"Jang Jun Hyuk." Balas pak Jang dengan bersalaman denganku dan tersenyum juga.


"Maaf aku sedikit lancang tapi ... Apa Nona Kim adalah orang asing? Wajah anda lebih seperti orang China."


"Aku blasteran Korea-Indonesia, ayahku bekerja di Korea jadi keluargaku pindah ke Korea."


"Ah begitu ya ..."


"Oh, aku akan membayar belanjaan, kalian mengobrol saja."


"Baiklah ... Terima kasih nona Kim."


Aku pergi ke kasir dan membayar belanjaan. Pak Jang dan senior Jo sedang mengobrol sepertinya tentang bisnis. Makin banyak orang yang tau mengenai hubunganku dengan senior Jo. Bahkan rekan bisnis senior Jo sudah mengetahuinya. Belanjaan sudah selesai dihitung dan dibayarkan, ku lihat senior Jo dan pak Jang sudah selesai mengobrol.


"Sudah selesai?" Tanya senior Jo


"All right. Ayo berangkat ke rumah Sora."


Aku dan senior Jo berangkat ke rumah Sora dengan menggunakan mobil senior. Hanya berjarak 15 menit dari rumah Sora. Saat sampai senior Nam yang menyambut kami. Senior Nam juga membawa buah-buahan yang kami bawa untuk Sora. Di rumah Sora juga ada Ibunya senior Nam, maklum saja mereka besanan.


"Sora ada di kamar ... Ia sudah menunggumu ..." Kata senior Nam


"Baik Oppa, aku akan naik."


"Aku akan disini dengan Yeon Seok." Ucap senior Jo.


Aku mengangguk dan naik ke atas, ke kamar Sora. Aku masuk dan melihat Sora sedang terbaring di atas kasur. Aku langsung memeluknya begitu masuk, ekspresi wajah Sora yang manja dan sedih begitu melihatku membuatku terbaru.


"Bagaimana kabarmu?" Tanyaku pada Sora


"Aku sudah mendingan sekarang. Terima kasih sudah datang ..."


"Tidak masalah, kau harus kembali sehat!"


"Arasseo~"


Aku dan Sora berpelukan, badan Sora hangat. Di mejanya ada beberapa obat dan air minum. Kamar Sora penuh dengan poster Taeyong, salah satu lemari berisi koleksi album NCT yang tersusun rapi. Dan juga beberapa dekorasi lightstick NCT yang terpajang.


"Vivi ... sebenarnya aku ..."


"Apa? Ada apa?"

__ADS_1


"Ingin bergosip denganmu eheheh."


"Kau ini ... Gosip apa itu?"


"Hehehe apa kau sudah dikenalkan dengan orangtuanya senior Jo?"


"Hah? Apa ini tiba-tiba?"


"Apa kau tau? Senior Jo bukan tipe orang yang blak-blakan tentang hubungannya! Sebentar lagi kau pasti akan dikenalkan dengan orangtuanya!"


"Ah iya! Chaebol tidak sembarangan menerima menantu kan? Kalau tidak direstui?"


"Hey!" ucap Sora dengan nada marah dan sambil mencubit ku.


"Sakit ..."


"Tidak mungkin mereka tidak merestui kalian! Kalau mereka melihat materi, bukannya mereka tidak menyelidiki latar belakang keluargamu kan?"


"Ah Molla Molla ... Aku tidak pernah berpikiran seperti itu."


"Sebentar lagi acara kelulusan kelas 3 apa kau ingat?"


"Ya ... Tentu saja."


"Dengarkan aku! Apapun yang terjadi diantara kalian ... Kalau senior Jo memang serius dia tidak akan ingkar janji. Makanya jangan terlarut sedih jika terjadi sesuatu dan datanglah padaku! Mengerti?"


"Baiklah ~~~"


Aku dan Sora membicarakan banyak hal. Benar kata Sora, jangan terlalu terlarut sedih jika terjadi sesuatu. Aku punya sahabat yang mensupport ku, aku juga masih terlalu muda untuk mengerti sebuah hubungan yang serius . Pada akhirnya masing-masing dari aku dan senior Jo akan mengejar karir sebelum berkomitmen, jika langit masih menyatukan garis takdir kami.


Selesai mengobrol dengan Sora, aku juga mendoakannya agar cepat sembuh dan kembali sekolah. Aku turun dan berpamitan dengan Sora. Senior Jo berdiri dan berpamitan dengan senior Nam, tidak lupa kami juga berpamitan dengan keluarga Sora. Diluar sopir sudah menunggu kami, kami masuk mobil dan menuju ke rumahku.


Selama di perjalanan, senior beberapa kali mengecek handphone-nya. Ia juga berkata ke sopir bahwa setelah mengantarku ia akan pergi ke kantor ayahnya. Mungkin ini saatnya aku menanyakan tentang 'tuan muda' kemarin.


"Senior-" / "Vivi-"


Ucapan kami berbarengan, aku tertawa kecil begitu juga dengan senior Jo.


"Kau duluan saja ..." Kata senior Jo


"Senior saja ..."


"Baiklah kalau kau memaksa ... Aku ingin mengatakan, sebelum acara kelulusan dan aku berangkat ke China. Aku ingin mengenalkan mu dengan keluargaku. Akan ada acara makan malam, kakekku juga datang ..."


"Keluarga besar?"


"Tidak juga ... hanya keluarga intiku dan ditambah kakekku. Aku akan bilang ibuku jikalau kau setuju ... Gimana?"


"Baiklah tidak apa-apa, nanti senior shareloc saja. Aku akan diantar dengan sopir Han nantinya."


"Jadi tidak usah aku jemput?"


"Tidak usah ... tidak apa-apa."


"Baiklah kalau begitu."


Tiba-tiba aku jadi lupa kapan acara kelulusan diadakan. Ah iya! Saat awal musim semi, masih lama ternyata. Yang dikatakan Sora benar, cepat atau lambat pasti akan dikenalkan dengan orangtuanya senior Jo.

__ADS_1


Aku melihat ke arah luar jendela, banyak daun kuning berguguran yang menutupi jalanan. Hembusan angin yang sayup-sayup juga menjatuhkan daun-daun yang sudah menguning. Jalanan yang basah dan licin tergenang air memantulkan bayangan dari pohon dan membiaskan sinar mentari yang menyinari bumi.


__ADS_2