My Silver Star

My Silver Star
1st Summer


__ADS_3

Musim panas begitu indah dan begitu hangat hingga rasanya masih melekat di kenangan.


"Vivi ayo bangun! Ini hari pertama ke sekolah, jangan berikan kesan jelek di hari pertama."


Eomma mengetuk-ngetuk pintu kamarku sambil membangunkan ku. Benar saja! sudah jam berapa ini, syukurlah belum terlambat. Aku masih bisa sarapan, dan nanti Appa-ku yang akan mengantarkan ku ke sekolah.


"Selamat pagiii dua malaikat ku eheheh, nanti Appa yang akan mengantarkan ku sekolah?" tanyaku pada Appa


"Of course my dear! sekalian Appa berangkat ke Gangnam nanti ada rapat. Kita naik mobil bareng, biar Appa yang antar ke sekolah." jawab Appa


"Pulang sekolah nanti, aku lanjut les jadi Appa tidak usah jemput, aku naik bus saja lagipula Cashbee sudah ku isi saldonya kok."


"Kalau nanti malam hujan? Appa saja yang jemput, atau Appa panggilkan supir untukmu yaa."


"Eomma juga bisa menjemput mu kok dear." sambung Eomma di sela-sela pembicaraan ku dengan Appa


"All right, saranghae Eomma and Appa!" jawabku pada kedua orangtuaku sambil menyantap nasi dengan menggunakan sumpit kayu.


Disini aku belum mengenal banyak teman, hanya ada beberapa sepupu dan teman setempat les. Itupun berbeda sekolah, sekolahku bukan sekolah yang elit namun bukan juga sekolah yang tidak begitu bagus. Sekolahku adalah sekolah biasa tanpa membedakan kalangan, baik kalangan atas ataupun bawah. Mungkin ada beberapa yang masih begitu di sekolahku tapi itu minoritas.


Aku sudah selesai sarapan, masih ada waktu yang lumayan lama ternyata. Perjalanan ke sekolah tidak terlalu memakan banyak waktu, apalagi naik mobil. Aku pergi ke kamarku untuk mengambil jepit rambut. Aku memandang ke cermin, ku pandang diriku yang sudah 17 tahun dan mengenakan seragam sekolah lengkap.


"Ayo semangat! Hari pertama jangan mengecewakan yaa!"


Ku pasang jepit rambut berwarna perak dengan motif bunga sakura di atas bagian telingaku. Rambutku pendek sebahu dengan poni tipis yang sedang trend di Korea, sengaja ku pasang jepit rambut agar tidak terlihat polos. Aku tersenyum memandang diriku sendiri di cermin, lalu panggilan Appa untuk mengajak berangkat membuyarkan lamunanku.


"Eomma aku berangkat dulu yaa."


"Take care my dear, oh iya ini payungnya jangan lupa, nanti kemungkinan akan hujan."


"Gomawoyo Eomma, Love youuu."


"Love you too dear."


......


Jalanan masih tidak terlalu macet, lagipula sudah terbiasa dengan berangkat pagi saat dulu sekolah di Indonesia. Aku duduk di kursi depan disamping Appa yang sedang menyetir mobil, radio di mobil memberitahukan bahwa menurut prediksi cuaca kemungkinan akan hujan dan masyarakat dihimbau untuk membawa payung.


"Vivi sudah bawa payung?" tanya Appa padaku


"Sudah kok, tadi Eomma yang mengingatkan." jawabku


"Vivi, ini hari pertama di sekolah dan Appa harap kau tidak kecewa ataupun merasa terbebani. Kalau terjadi apa-apa jangan segan beritahu Appa atau Eomma, ok?"


"Arasseoyo ..."


Sebagai anak tunggal tentu tidak ada orangtua yang ingin anaknya terluka. Begitu juga dengan Appa-ku, sesibuk apapun beliau pasti akan datang untukku. Semoga Appa diberi umur panjang dan rezeki yang berlimpah. Love you Dad!

__ADS_1


.......


Ternyata perjalanan dari rumah ke sekolah sekitar 15 menit, jika tidak macet. Di dekat gerbang sekolah ada sebuah halte bus, dan busnya baru saja berhenti. Banyak anak sekolahku yang naik bus dan turun menuju sekolah.


"Thanks Appa, kalau aku di sudah selesai nanti aku kabari."


"All right, Appa berangkat dulu ya, take care my dear! Enjoy your day."


"Bye bye"


Aku masih berdiri di depan gerbang melihat mobil Appa perlahan menjauh. Bayangan mobil sudah hilang tak nampak lagi, aku berbalik dan masuk ke sekolah baruku. Welcome my new life! Aku harus ke ruang guru sebelum masuk kelas, tentu saja aku belum tau dimana kelasku.


......


Ah, ini ruang gurunya, apa aku harus masuk? tentu saja aku harus masuk. Tapi dimana meja wali kelasku ya? Ruangan ini lumayan ramai dan banyak guru. Oh! ada seseorang yang akan kemari, sepertinya dia baik aku akan coba bertanya kepadanya.


"Permisi, apa anda tau meja guru Ibu Choi?" tanyaku padanya


"Bu Choi yang mengajar kelas 2A?"


"Ah iya benar ..."


"Aku juga akan menemui Bu Choi ayo kita barengan."


Dia sangat ramah, sekali lihat saja aku bisa menebak tingginya, sepertinya sekitar 180 cm. Lumayan tinggi, mungkin dia atlet basket, perawakannya juga terlihat dia sering berolahraga. Potongan rambutnya lumayan pendek, tidak seperti anak remaja laki-laki lainnya, lebih mirip potongan rambut ala tentara hanya saja sedikit lebih tebal. Kami memasuki ruangan, dan meja Bu Choi terletak no 3 dari belakang.


"Selamat pagi Eunbyul, ah ini adalah anak baru ya! Selamat pagi."


"Selamat pagi Bu, jadi apakah ini kebetulan kenapa kalian datang berdua?"


"Ah tadi kami bertemu di depan ruangan Bu." Jawab lelaki itu.


"Begitu ya."


"Eunbyul, ini ada beberapa kompetisi olahraga nasional di beberapa sekolah, Ibu harap kau akan mewakili sekolah di pertandingan nanti."


"Baik terima kasih Bu, kalau begitu saya undur diri." Lelaki itu tersenyum pada Bu Choi dan padaku juga, lalu berbalik arah meninggalkan ruangan.


"Jadi, namamu adalah Olivia Kim? Punya nama panggilan?" tanya Bu Choi padaku


"Iya, nama panggilan ku adalah Vivi karena Olivia terlalu panjang." Jawabku


"Kau dari Indonesia? tapi tidak terlihat seperti orang Indonesia kebanyakan ..."


"Ya saya dari Indonesia, bagaimana ibu tau seperti apa orang Indonesia?"


"Ibu sering ke Bali untuk liburan, menurut Ibu kamu lebih seperti orang Korea kebanyakan."

__ADS_1


"Orang-orang juga bilang begitu, Ibu saya keturunan Chinese dan Ayah saya asli Korea jadi tidak terlalu tampak Indonesia nya."


"Baiklah, ayo kita ke kelas. Ah iya, omong-omong yang tadi itu adalah seniormu namanya Jo Eunbyul dan dia adalah atlet hapkido kebanggaan sekolah kita."


Aku hanya mengangguk-angguk saja, sambil berjalan mengikuti Bu Choi menuju kelas. Jadi namanya adalah Jo Eunbyul dan dia seorang atlet, dia keren juga. Andai aku punya kakak laki-laki pasti dia keren juga. Lain kali jika bertemu lagi aku akan berterima kasih padanya, jika tidak ada dia saat itu aku akan bingung di depan ruangan guru.


.....


Aku dan Bu Choi sudah sampai di kelas 2A, kelasnya tidak terdengar terlalu ribut tapi terdengar sangat ramai aku tersenyum mengingat sekolahku yang dulu juga begini sebelum guru masuk. Bu Choi mulai membuka pintu kelas dan masuk, ia juga mengajakku masuk kelas. Perlahan aku langkahkan kaki ku masuk kelas, semua pandangan mengarah padaku. Aku juga bisa mendengar suara was wes wos dari mereka ketika melihatku.


"Selamat pagi Anak-anak, hari ini kita kedatangan murid baru. Ayo perkenalkan dirimu."


"Annyeonghaseyo, perkenalkan namaku Olivia Kim aku berasal dari Indonesia, senang bertemu dengan kalian semua."


Aku menyapa mereka dengan tersenyum, mereka juga menyapa ku kembali. Ternyata mereka lumayan humble mungkin kesan diawal begitu ntah nantinya.


"Ayo duduk ke bangku mu."


"Baik terima kasih Bu."


Aku berjalan menuju bangku kosong di belakang, di sampingnya ada seorang anak perempuan berambut panjang berwarna coklat yang tersenyum padaku. Aku duduk disampingnya dan memperkenalkan diri, dia juga memperkenalkan dirinya padaku.


"Namaku Kang Sora dan aku adalah seorang Nctzen! Senang berkenalan denganmu!" Sora menawarkan untuk berjabat tangan padaku dan aku menjabat tangannya sambil tersenyum.


Ternyata dia seorang kpopers, di negara industri K-Pop dan seorang teman sebangku yang kpopers. Sora ini memang humble dan dia tipe yang cerewet apalagi jika membahas Oppa-oppa tapi aku tidak masalah karena aku juga suka Oppa. Selama pelajaran berlangsung, sesekali Sora menceritakan tentang dirinya. Sora menjadi teman pertama ku disini, beruntungnya aku karena teman-teman perempuan tidak terlalu mengintimidasi satu sama lain. Tapi, ada beberapa orang yang memang berbeda, Sora tipe yang bodo amat that's good for me too.


DING DONG DING DONG


Kelas sudah usai, saatnya makan siang, Sora mengajakku untuk makan bersama. Aku melihat keluar jendela, awan perlahan menutupi matahari namun belum begitu gelap tapi sepertinya prediksi cuaca benar, akan turun hujan.


"Aish! Vivi musim panas kali ini malah hujan, padahal aku ingin menikmati hangatnya matahari, untung saja aku bawa payung."


"Jangan begitu hujan adalah berkah hahaha."


Sora suka musim panas, aku dan Sora baru beberapa jam bertemu namun rasanya tidak ada canggung diantara kami. Kami mengambil piring makan siang, Sora bilang dia suka sosis dan tidak suka sayur, sedangkan aku suka sayur dan tidak terlalu suka sosis, kami memang saling melengkapi. Aku dan Sora duduk bersama teman-teman yang lain, tentu saja teman sekelas yang sebagian besar kompak aku juga tidak tau bagaimana mereka bisa sekompak ini.


Sora menukarkan sayur dengan sosis, tapi di sudut lain aku menangkap sosok yang tidak asing. Ya, itu adalah Jo Eunbyul, senior yang mengantarkan ku pada Bu Choi dia bersama teman-temannya. Bu Choi bilang dia atlet, tapi sepertinya tidak terlihat terlalu populer sebagian anak perempuan melihat seseorang yang lain, namun bagiku Senior Jo seperti magnet tersendiri.


Tik tik tik


Perlahan suara rintikan air hujan akan turun membasahi bumi, aku refleks melihat ke jendela dan ternyata awan hitam sudah menutupi sang Surya. Hujan mulai deras, Sora mengeluh sambil makan bahwa ia tak bisa main ke luar ruangan jika hujan. Aku hanya tersenyum dan menertawakan raut wajah Sora yang lucu, aku berbalik menatap senior Jo dan siapa sangka ia juga menatapku. Aku terdiam sejenak ntah dia ingat aku atau tidak tapi perlahan ia tersenyum padaku, waktu seperti berhenti sejenak. Lalu kubalas kembali dengan senyuman, hari itu hujan begitu deras namun anehnya aku semakin menyukai hujan yang deras kala itu.


"Hari ini hari yang indah ya." gumamku


"APA?!??! INDAH APANYA? Hujan turun sangat deras dan aku tidak bisa main keluar! huhuhu." Kata Sora dengan nada kesal


"Tetap saja menyenangkan kok!" balasku padanya

__ADS_1


Semua tertawa melihat kekesalan Sora karena cuaca. Tapi hari ini memang menyenangkan, aku sangat berterima kasih pada hujan yang turun hari ini. Terima kasih hujan.


__ADS_2