
Gedung Pengadilan Hongkong
Kalila dan Alexander menghadiri acara sidang kasus Triad Wong dengan agenda menanyakan ke Lucas Syahputra. Entah kenapa Kalila merasa cemas bahwa semua saudaranya akan mendapatkan masalah secepatnya.
Kalila tidak meragukan kemampuan semua saudara sepupu dan iparnya, tapi apapun bisa terjadi. Alex menggenggam tangan Kalila karena tahu kalau dirinya merasa cemas atas keselamatan para anggota keluarganya.
"Tenang Lila. Mereka akan baik-baik saja." Alex berbisik di sisi kiri telinga Kalila.
Gadis itu hanya mengangguk. "Tapi aku tetap merasa cemas."
Alexander menggenggam tangan Kalila dengan kedua tangannya. "They will be okay."
( Baca Jayde and Wira Stories ).
***
Usai sidang, Kalila memeluk Ken sejenak apalagi dia tahu kembarannya tidak sebrutal sepupu pria yang lain. Ken termasuk kalem dibandingkan Luke, Bayu ataupun Sadawira.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Ken dengan wajah khawatir.
"Baik-baik saja. Alex dan Jayde menjaga aku. Mbak Leia dan bang Dante juga." Kalila menggenggam tangan Ken. "Kamu yang kuat ya."
"Tentu saja. Aku bersama saudara - saudara ku jadi aku akan selalu kuat." Ken mencium pipi Kalila. "Aku ke hotel prodeo dulu." Pria itu berjalan menyusul Radeva.
Kalila melihat bagaimana semua saudara - saudaranya didorong untuk keluar gedung pengadilan dan masuk ke dalam mobil tahanan. Benar-benar tidak ada sopan - sopannya. Padahal mereka semua termasuk salah satu pengusaha sukses, agen federal, Emir Dubai dan Yakuza .
Alexander melihat Kalila menatap sendu ke arah semua keluarganya yang diperlakukan tidak baik, hanya memeluk bahu gadis itu. "Sabar, Lila. Memang resikonya seperti ini dan tampaknya mereka cuek saja."
"Benar-benar deh! Semua ini tidak akan terjadi jika para aparat penegak hukum tidak bermain dua kaki!" omel Kalila yang untungnya menggunakan bahasa Arab hingga tidak semua orang tahu.
"Kita tunggu saja dan aku yakin kita semua bisa pulang secepatnya."
"Apa kamu yakin Lex?" Mata hazel Kalila menatap serius ke pengawalnya.
"Aku yakin. Tapi nanti sesampainya di Dubai, aku juga akan melihat bahwa kamu dan Gasendra akan ribut di depan Oma Sabine. Jadi, siapkan mental mu karena Gasendra ingin mengklaim baby." Alexander tersenyum ke arah Kalila. "Aku rasa kamu harus lebih cemas akan hal itu."
Kalila tertawa kecil. "Dimana-mana biasanya orang berebut warisan berupa uang, rumah atau pun saham dan surat obligasi tapi aku dan mas Sendra berebut warisan yang berbeda."
"Terkadang harus ada yang anti-mainstream supaya lain dari yang lain" ucap Alexander.
__ADS_1
"Kalian berdua mau kembali ke hotel atau mau ikut makan malam?" tanya Hoshi saat melihat keduanya sibuk sendiri.
"Ikut makan malam Oom" jawab Kalila.
"Kamu bersama Leia dulu Lila. Oom mau bicara dengan Alex." Hoshi memberikan kode ke Kalila untuk mengikuti Leia. Gadis itu pun mengangguk.
Setelah Kalila pergi, Hoshi mendekati Alexander.
"Alexander..."
"Mr Reeves."
"Bagaimana Lila? Apakah masih mimpi buruk?" tanya Hoshi.
"Bagaimana..."
"Benji yang cerita. Sekarang, kamu ceritakan keadaan Lila." Hoshi menatap tajam ke Alexander.
"Lila... dua malam ini memang gelisah saat tidur dan saya pun menemaninya di kamarnya dan ... saya tidur di sofa. Semalam masih mengigau tapi tidak sudah seperti malam usai kejadian itu."
Hoshi mengusap wajahnya. Jujur dia sangat khawatir dengan kondisi emosi Kalila. Keponakannya kuat, itu Hoshi tahu. Tapi dalam waktu kurang dari dua puluh menit membunuh lebih dari sepuluh orang, padahal belum pernah membunuh sebelumnya, pasti akan mengalami mental breakdowns.
"Mr Reeves, tanpa anda minta, saya akan melindungi Lila. Saya yang laki-laki saja tidak terbayang apakah saya mampu menembak orang sebanyak itu dengan tenang seperti halnya Lila. Saya akui, Lila punya mental bagus saat itu ditambah dengan adrenalin dan tujuannya untuk melindungi semua saudara nya. Tapi setelah itu, baru dia merasakan lelah luar biasa meskipun berusaha menutupi nya." Mata hijau Alexander menatap serius ke mata hitam Hoshi.
"Syukurlah kamu paham. Saya tidak bisa menemani anak itu tapi jika kamu bisa membantu Lila mengatasi PTSD nya, kami sangat berterimakasih, Lex" ucap Hoshi tulus.
"Selalu Mr Reeves. Saya akan menjaga dan membantu Lila mengatasi PTSD nya."
***
Penthouse Kamar Kalila Hotel Ritz-Carlton Hongkong
Kalila sudah berganti pakaian dengan piyamanya dan berjalan menuju ruang tengah dimana Alexander dan Jayde sedang mengobrol. Tampak Keduanya sedang membicarakan soal bisnis dan kehidupan Jayde di Manchester.
"Hai, kalian ngobrol apa?" tanya Kalila sambil duduk di sofa berseberangan dengan kedua pria itu.
"Ini aku cerita soal pekerjaan aku di Manchester dan kehidupan disana" jawab Jayde.
"Jujur aku belum pernah pergi ke Manchester" ucap Alexander.
__ADS_1
"Bilang saja kamu mau nonton pertandingan Manchester United atau Manchester City" kekeh Kalila sambil mengambil bantal dan mulai meringkuk di sofa nya.
"Memang dapat tiket spesial?" tanya Alexander.
"Bisa lah. Kan Oom Tristan salah satu petinggi Manchester United" sahut Kalila.
Ketiganya masih mengobrol berbagai macam hal hingga memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur. Alexander kembali tidur di sofa kamar Kalila karena dirinya masih mencemaskan kondisi emosi gadis itu meskipun sudah mulai relaks.
***
Suara gedoran di pintu kamar Kalila membuat keduanya terbangun dan Alexander segera membuka pintu kamar. Tampak Jayde panik sambil membawa MacBooknya.
"Ada apa Jayde?" tanya Kalila yang terkejut melihat sepupunya masuk tanpa permisi.
"Mereka diserang, Lila!" seru Jayde sambil menunjukkan situasi di blok penjara tempat para generasi keenam berada. Pria itu langsung duduk di sisi kiri tempat tidur Kalila.
"Bagaimana bisa ada gambar mereka?" tanya Alex yang duduk di tempat tidur Kalila sisi kanan.
"Tampaknya ada yang membawa CCTV kancing, Lex" jawab Jayde.
Mereka bertiga tampak menahan nafas saat para polisi yang datang bersama dengan para preman datang mengeroyok semua generasi keenam dan agen federal disana.
"Ken!" teriak Kalila saat Ken mencoba menyelamatkan seorang agen yang terkena pukulan tongkat tapi Pedro Pascal langsung menerjang orang yang hendak memukul Ken.
"Ken !!! Masuk sel bersama Omar Zidane!! Kamu tidak usah ikutan!" teriak Gasendra dengan bahasa Arab membuat Jayde menatap Kalila dan Alexander karena tidak paham artinya. Alexander lalu menerjemahkan dan Jayde paham.
"Ken bukanlah petarung, dia lebih cenderung healer makanya Mas Sendra dan Mas Dam sangat melindungi Ken, tidak mau terluka karena dia seorang dokter bedah" ucap Kalila.
Ketiganya masih melihat bagaimana mereka semua berhasil mengalahkan para pengeroyok yang datang tanpa diundang.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1