My Undercover Prince

My Undercover Prince
Berharap


__ADS_3

Kamar Alexander dan Kalila di istana Khalid Doha Qatar


Alexander terbangun saat mendengar suara burung berkicau. Pria itu melihat ke arah jendela besar di kamarnya yang berada di lantai dua dan tampak matahari sudah bersinar terang. Mata hijau Alexander melirik jam digital yang ada diatas nakas dan betapa terkejutnya dirinya saat angka disana menunjukkan pukul setengah sembilan pagi.


"Astaghfirullah... " Alexander pun menyibak selimutnya dan turun dari tempat tidur melupakan tubuhnya yang tanpa busana. Pria itu melihat seprainya yang ada noda disana dan tersenyum mengingat permainan cinta dengan Kalila semalam.


Alexander menarik seprainya dan melipat dengan rapi lalu meletakkan diatas sofa. Pria itu bingung mencari Kalila dan tak lama telinganya mendengar suara keluhan di kamar mandi. Alexander membuka pintu kamar mandi dan tampak Kalila sedang berendam dengan wajah mengerenyitkan rasa sakit.


"Kamu nggak papa?" Alexander menghampiri bathub besar tempat istrinya berendam.


"Sakit semua" rengek Kalila. "Ya Allah, perihnya..."


Alexander pun masuk ke dalam bathtub membuat Kalila melotot. "No, Alex. Biar istirahat dulu punya ku..."


"Aku tidak minta jatah, Lila. Aku hanya ingin memijat mu" ucap Alexander yang memutar tubuhnya hingga berada di belakang tubuh istrinya.


Perlahan Alexander memijat bahu dan punggung mulus Kalila membuat istrinya merasa nyaman.


"Aduh Lex... Enak banget..." gumam Kalila sambil tersenyum. Mata hazel Kalila terbelalak saat pijatan Alexander berpindah ke depan dan pria itu menyandarkan punggung Kalila di dadanya yang bidang dan kekar.


"Apakah sudah mulai terjadi disini, Lila?" tanya Alexander sambil mengelus perut rata Kalila.


"Insyaallah..."


Alexander memeluk tubuh Kalila. "Mau punya anak berapa kita?"


"Dua saja... Alex ! " Kalila menatap Alexander galak ketika merasakan jari suaminya bermain di milikinya. "Katanya nggak mau minta jatah !"


"Maaf sayang... Tapi aku tidak bisa menahannya..." Alexander melirik ke arah miliknya yang tertutup air dan bubble. "Aku akan bermain lembut..."


"Tapi Alex... punyaku masih perih... Oohhh..." Kalila memejamkan matanya saat mendapatkan sensasi yang membuatnya gemetar nik*mat.


"Kamu sudah basah sayang... " Alexander Melu*mat bibir istrinya. Dan pagi itu Kalila menyerah dengan gai*rahnya bersama dengan suaminya.


***


"Aku tidak sanggup jalan..." gumam Kalila usai mandi dan berganti pakaian. Bahkan untuk mengeringkan rambutnya, Kalila memilih edisi mager duduk di sofa. Alexander tampak sangat segar dan membuatnya semakin tampan, yang membuat Kalila kesal dibuatnya.


"Bagaimana bisa kamu tambah segar sedangkan aku makin lemas?" sungut Kalila kesal. "Padahal kamu yang banyak bergerak dibandingkan aku?"


Alexander berlutut didepan istrinya. "Karena kamu menerima. Kalau kamu mengimbangi, mungkin akan sama capeknya..."


"Kan punyaku masih sakit!" hardik Kalila. "Lho Lex... Mana seprainya?" Wanita itu tampak bingung tidak melihat seprai bersejarah mereka.


"Aku simpan."


"Buat apa?"

__ADS_1


"Sebagai pengingat bahwa aku sudah mendapatkan hadiah yang tidak ternilai dari istriku yang memiliki hati luas tidak terbatas untuk bisa menerima aku kembali... " Alexander menatap Kalila penuh cinta. "Aku tahu, aku tidak pantas kamu maafkan karena membuatmu sakit..."


"Kalau aku tidak memiliki rasa cinta padamu, mana mau aku menerima kamu kembali Lex." Kalila menatap lembut ke Alexander. "Hanya saja, tidak ada kesempatan dua kali..."


"No Lila, aku tidak akan melanggar janjiku padamu. Apalagi ada kemungkinan besar anakku sedang berproses disana." Alexander menyentuh perut Kalila.


"Astaghfirullah ! Kita baru bercinta semalam !" protes Kalila kesal. "Kok kamu sudah yakin sekali sih?"


"Sayang, kamu kan baru saja selesai periode nya jadi kemungkinan kamu akan hamil itu 99% dan boleh dong aku berharap? Aku ingin segera punya anak sayang, aku tidak sabar menjadi suami siaga ... "


Kalila menggelengkan kepalanya. "Alexander, kamu itu benar-benar deh !"


"Benar-benar apa?"


"Membagongkan!"


***


Dua Bulan Kemudian...


Alexander sedang menghadiri acara parade angkatan bersenjata Qatar ketika mendengar Kalila pingsan di acara pameran kerajinan seluruh dunia di sebuah expo gedung pertemuan Doha.


As'ad yang juga mendengar adik iparnya pingsan, menyuruh Alexander untuk menyusul ke rumah sakit tempat istrinya dirawat di sana.


"Lila lebih membutuhkan kamu. Kami semua maklum Lex !" perintah As'ad.


***


Aman Hospital di Doha Qatar


Alexander berlari mencari kamar Kalila dan seorang perawat mengantarkan pangeran bungsu itu ke kamar VIP. Disana Alexander melihat istrinya tergolek lemah dengan infus tertancap di tangannya.


Alexander menoleh ke Rahma, asisten Kalila untuk mendapatkan cerita detail kenapa istrinya bisa pingsan.


"Tadi princess berjalan melewati area makanan khas Indonesia dan beliau ingin makan kerupuk udang dengan gado-gado. Entah kenapa baru mencium bau makanan itu, princess pingsan" terang Rahma.


"Apakah ada zat di makanan itu?" Pikiran Alexander melayang kemana-mana membayangkan ada yang berusaha mencelakakan Kalila.


"No, tuanku pangeran. Putri Kalila sedang mengandung empat Minggu jadi wajar kalau pingsan karena mencium bau tertentu." Suara seorang dokter wanita berhijab terdengar saat masuk ke dalam ruang rawat inap Kalila.


Alexander bergegas mendekati Kalila dan menggenggam tangannya. Semua pengawal dan asisten pun memilih pergi meninggalkan pangeran dan putri itu bersama dengan dokter wanita.


"Ha... hamil? Lila hamil?" Alexander menatap dokter berusia lanjut itu.


"Iya tuanku pangeran Khalid. Putri Kalila hamil empat Minggu..." senyum dokter itu geli melihat pangeran tampan di hadapannya tampak bingung.


"Alhamdulillah... Alhamdulillaah." Alexander menciumi seluruh wajah Kalila yang masih terlelap dan terakhir adalah tangannya yang bebas dari infus. "Tapi kenapa Lila belum bangun juga dokter?"

__ADS_1


"Sebentar lagi tuan putri akan bangun, tenang saja."


"Bagaimana dengan kandungan Lila?" Alexander menatap dokter itu.


"Alhamdulillah semuanya baik dan sehat. Aku rasa tuan putri adalah wanita yang sangat menjaga pola makannya dan semuanya baik-baik tuanku."


Alexander mengangguk. "Terima kasih dokter."


"Saya tinggal dulu. Permisi." Dokter wanita itu pun keluar dari kamar Kalila.


***


Sepuluh Menit Kemudian...


Kalila mengerjapkan matanya dan melihat wajah bahagia Alexander. Wanita itu tampak bingung karena berada di tempat yang asing.


"Aku... dimana Lex?" tanya Kalila.


"Rumah sakit."


Kalila terkejut. "Rumah sakit? Memang aku ke... Aku.. Oh ya Allah. Tadi aku datang ke Expo... lihat ada gado-gado dan sebelum makan... entah kenapa pusing saat mencium bau bawang goreng... Aku pingsan ya Lex?"


Alexander mengangguk.


"Apa karena bau minyaknya ya..."


"Sayang, kamu itu pingsan bukan karena itu saja...." senyum Alexander.


"Kenapa? Apa yang terjadi padaku?" tanya Kalila panik.


"Kamu sedang hamil anak kita sayang..." ucap Alexander bahagia.


Kalila tampak bingung. "Hamil? Kok bisa ?"


Alexander tertawa kecil lalu mencium bibir Kalila lembut. "Ya bisa dong sayang, kan kita hampir tiap malam membuatnya jadi dia tumbuh disini" senyum Alexander sambil meletakkan tangannya diatas perut Kalila tanpa menutupi rasa bahagianya karena keinginannya untuk segera memiliki anak, dikabulkan.


"Serius aku hamil? Bukan karena bawang goreng?"


"Serius sayang" ucap Alexander sambil mencium kening Kalila. Tak lama tangan Kalila merangkul leher Alexander. Keduanya saling berpelukan bahagia karena akan segera mendapatkan momongan.


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2