My Undercover Prince

My Undercover Prince
Kamu Akan Berikan Apapun?


__ADS_3

Indramayu Jawa Barat


Masih dengan memeluk kaki Kalila, Alexander menatap wajah istrinya dan dia pasrah jika bakalan dibogem lagi macam usai ijab.


Kalila menunduk melihat wajah pria yang sudah membuatnya bahagia, sedih, sakit hati dan marah. Sisi ego nya, dia ingin menghajar Alexander habis-habisan tapi sisi baiknya, dia tidak mau menjadi pembunuh lagi. Usai Hongkong, Kalila sudah berjanji untuk tidak membunuh orang lagi jika tidak terpaksa.


"Bangun Alex..." pinta Kalila.


"No, sampai kamu maafkan aku..."


"Bangun Alex!" bentak Kalila.


Alexander pun berdiri berhadapan dengan Kalila yang bisa melihat mata hijaunya menatap dirinya penuh kerinduan dan cinta.


"Kamu itu seorang pangeran Qatar, For God's sake! Bagaimana bisa kamu melakukan hal ini? Berlutut dan merendahkan diri sendiri di hadapan aku?" Kalila memandang wajah Alexander yang tampak tirus.


"Saat ini aku bukanlah pangeran Qatar, Lila. Aku adalah seorang suami yang sedang memohon maaf dari istrinya yang marah besar akibat kesalahan bodoh suaminya sendiri." Alexander menahan dirinya untuk tidak memeluk Kalila. Hampir empat bulan setelah Ubud, dia berusaha mencari dimana istrinya tapi semua anggota keluarganya memilih bungkam termasuk kedua mertuanya.


As'ad sang kakak pun tidak bisa mengorek keterangan dari Gasendra maupun Damian, sepupu Kalila pada saat ada pertemuan Emir di Madinah.


"Darimana kamu tahu aku disini?" tanya Kalila yang tahu semua tentang dirinya sudah ditutup aksesnya.


"Keponakan mu, Arsyanendra."


"Arsya? Bagaimana?" Kalila merasa bingung kenapa Arsya bisa memberitahukan Alexander.


"Saat Eagle dan Elane menikah dua Minggu lalu, aku hadir bersama dengan kak As'ad. Disaat aku sedang duduk sendirian, Arsya menghampiri aku. Dia tahu aku sedang berusaha mencari kamu dan Arsya memberitahukan keberadaan kamu dan alamat rumahnya ini. Arsya tidak mau melihat aku dan kamu seperti kedua orangtuanya dulu...


"Arsya tidak tahu apa-apa kenapa aku pergi!"


"Kamu salah Lila. Arsya tahu! Arsya juga tahu tantenya keras kepala, kalau marah lama ..."


"Tergantung apa yang membuat tantenya marah!" potong Kalila galak.


"Apa kamu tidak capek Lila? Mau marah sampai kapan? Aku bersumpah, tidak akan pernah membohongi kamu lagi, selamanya."


"Jangan sembarangan bilang sumpah kalau kamu sendiri tidak yakin bisa memenuhinya" sindir Kalila sinis.


"Sudah aku ucapkan sejak ijab qobul. Detik aku bilang menikahi kamu, detik itu juga aku sudah bersumpah bahwa ini kebohongan aku yang terakhir padamu. Dan jika kamu mengira bahwa perasaan aku padamu itu bohong, kamu salah Lila. Dan aku tidak akan bosan mengatakan padamu setiap detik bahwa aku jatuh cinta padamu, dulu calon istri tapi sekarang sudah istriku... Aku sangat mencintaimu Lila." Alexander menyentuh tangan Kalila tapi gadis itu menarik tangannya.


"Kamu istirahat dulu. Dokter Asep bilang tubuhmu berantakan dan sangat tidak sehat." Kalila berbalik dan hendak keluar kamar tapi Alexander memegang tangannya.


"Do you walk away from me Lila ( kamu pergi dariku lagi Lila )?" Mata hijau Alexander menatap Kalila dengan tatapan sedih dan terluka.

__ADS_1


"Seperti aku bilang. Kamu istirahat dulu." Kalila menyentakan tangannya hingga pegangan Alexander terlepas. "Aku keluar dulu."


Kalila pun keluar kamar dan menutupnya meninggalkan Alexander yang menatap pintu itu dengan tatapan nanar. Pangeran Qatar itu mengusap wajahnya kasar. Mau sampai kapan kamu marah, Lila?


Dibalik pintu, Kalila menyandarkan punggungnya dan sebutir air mata turun ke pipi nya. Ya Allah...


***


Makan Malam...


Alexander menatap Kalila yang menikmati soto Betawi buatan bik Minah. Pria itu melihat istrinya makan dengan lahap seolah tidak ada beban bahkan dengan santainya dia menambah satu porsi lagi.


"Kamu tidak makan?" tanya Kalila melihat piring Alexander baru berkurang separu.


"Masih menikmati wajahmu..."


"Nggak usah merayu gombal! Nggak mempan!" sahut Kalila dingin.


"Lila... "


"Habiskan makanmu, karena setelah ini Bik Minah harus beristirahat!" Kalila menghabiskan soto Betawi nya lalu berdiri dan masuk ke dalam kamarnya.


Alexander melongo ditinggal Kalila tanpa basa basi. Astaghfirullah...


"Tuan Alex mau tambah lagi?" tanya Bik Minah dengan bahasa Inggris.


"Bik Minah..." panggil Alexander ketika wanita paruh baya itu sedang membereskan meja.


"Ya tuan Alex?"


"Apa yang Lila lakukan selama disini? Aku ingin tahu..."


Bik Minah menatap pangeran Qatar yang tampan itu tapi sekarang terlihat lelah dan tidak semangat. Bik Minah tahu dari Benny kalau suami Kalila itu dalam kondisi tidak sehat.


"Mbak Lila disini banyak ikut acara tanam padi kalau tidak masak buat banyak orang. Tuan Alexander kan tahu disini banyak pengawal jadi kami memasak buat semua yang tinggal disini. Kalau tidak ya mbak Lila berjalan - jalan sama saya ke pasar atau ke kota untuk membeli isi dapur. Kalau di rumah, mbak Lila paling baca. Kan disini ada koleksi buku milik Nyonya Zinnia."


"Menanam padi?" tanya Alexander.


"Iya tuan. Mbak Lila masuk ke dalam sawah bersama para kaum buruh. Bahkan mbak Lila suka ngobrol dengan mereka dan makan bersama di saung."


Alexander menatap pintu kamar Kalila. "Pantas kulitnya jadi coklat sekarang..."


"Mbak Lila senang disini tuan dan besok sudah kembali ke Jakarta untuk pulang ke Dubai."

__ADS_1


"Pulang?" beo Alexander.


"Iya tuan. Jika tuan masih mau tinggal disini, tidak masalah. Saya bisa memasakan makanan untuk anda tuan."


Alexander tidak mendengarkan ucapan bik Minah. Apa iya dia tega meninggalkan aku lagi sendirian disini?


***


Kalila baru saja menyelesaikan ibadah malamnya dan berdzikir seperti biasanya ketika suara ketukan di pintu, membuatnya menoleh.


"Sebentar Bik" sahut Kalila yang biasa jika bik Minah mengetuk usai jam makan malam untuk berpamitan istirahat di kamarnya. Bik Minah pasti menanyakan apakah Kalila membutuhkan sesuatu sebelum tidur.


Masih mengenakan mukenanya, Kalila membuka pintu kamarnya dan betapa terkejutnya dia melihat siapa yang berdiri di hadapannya.


Alexander melongo melihat istrinya baru saja menyelesaikan ibadahnya dan dimatanya gadis itu tampak cantik dengan mukenanya.


"Ada apa Alex?" tanya Kalila usai menghilangkan rasa terkejutnya.


"Aku..." Alexander melihat koper-koper besar milik Kalila sudah berjajar rapih di depan lemari pakaian. "Kamu jadi pulang?"


"Jadilah! Sayang aku sudah membeli tiketnya jauh-jauh hari."


"Jangan pergi lagi Lila. Please."


"Aku kan tidak meminta kamu datang kemari. Kalau kamu masih mau tinggal disini, tinggal saja ! Tidak masalah!" Kalila menutup pintunya keras di depan Alexander.


"Lila! Lila!" Alexander menggedor pintu kamar yang terbuat dari jati itu. "Please, Lila. Aku sudah minta maaf padamu, sudah melakukan apapun demi maafmu... Aku harus berbuat apa lagi?! Aku tidak akan mengucapkan kata itu yang jelas!"


Pintu kamar itu terbuka dan menampakkan wajah Kalila yang dingin membuat Alexander merasakan hawa dingin di tengkuknya.


"Kamu mau berbuat apapun demi maafku?"


"Ya."


Kalila menatap tajam ke arah Alexander. "Jika aku minta nyawamu, apa akan kamu berikan?"


Alexander ternganga.


***


Yuhuuuu Up Pagi Yaaaa


Thank you for reading and support author

__ADS_1


Don't forget to like vote and gift


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2