My Undercover Prince

My Undercover Prince
All Is Well


__ADS_3

Sebulan usai Kalila dan Alexander bersama Raine berlibur ke Ladakh dan Mumbai, akhirnya mereka pun kembali ke rutinitas di Dubai.


Hingga pada bulan Desember, mereka mendapatkan kabar bahwa Eagle dan Elane menunda acara pernikahan mereka hingga Mei tahun depan karena nenek Elane harus menjalani kemoterapi dan wanita ayu berhijab itu tidak mau meninggalkan neneknya. Eagle pun tidak mempermasalahkan jika harus menunda karena tahu Elane ingin neneknya sehat saat mereka menikah.


Akhirnya Alessandro Moretti pun memilih mengambil slot jadwal pernikahan dengan menikahi Sakura Park di bulan itu. Seperti halnya kedua orangtuanya yang menikah sederhana di mesjid New York, Sakura dan Alessandro memilih menikah di mesjid Tokyo yang hanya dihadiri keluarga karena mereka ingin pernikahan yang private dan intimate.


Sayangnya Kalila tidak bisa hadir karena dirinya mengalami flu berat jadi harus tinggal di Dubai apalagi keluarga Pangeran Qatar akan hadir untuk membawakan seserahan karena menurut rencana Januari tahun depan, akan diadakan acara pernikahan.


Kalila yang sudah tahu, hanya bisa pasrah mendengarkan ucapan Sabine dan Georgina yang sudah heboh bahwa acara pernikahan akan dilaksanakan di Dubai dan setelahnya dua bulan kemudian acara perkenalan atau resepsi ngunduh mantu di Qatar.


"Kenapa mereka menunggu dua bulan untuk acara resepsi ya Tante?" tanya Georgina bingung karena setahunya, ngunduh mantu tidak selama itu.


"Mungkin di Qatar ada acara yang tidak bisa ditunda jadi tidak bentrok. Kan kita tidak tahu, Georgi" jawab Sabine.


Tadi pagi barang-barang seserahan sudah diberikan dan menumpuk di kamar tamu. Dari semua barang itu, sebuah pistol Glock dengan aksen emas, membuat Kalila tergelitik. Darimana inspektur Megure tahu aku bisa menembak?! Kalila menepuk jidatnya. Hongkong! Tidak mungkin inspektur Megure tidak tahu soal aku di Hongkong!


"Lila, masih pilek dan pusing?" tanya Sabine ke cucunya yang masih bergelung di sofa dengan selimut tebal.


"Masih Oma..."


"Obat dari Ken manjur nggak sayang?" tanya Georgina sambil menyentuh kening putrinya.


"Lumayan. Cuma ya tinggal sentrap sentrup saja sama nelan masih belum enak." Kalila semakin menaikkan selimut nya.


"Kamu ke kamar saja deh... Alex!" panggil Sabine.


Alexander yang berdiri dekat ruang tengah segera menghampiri Sabine. "Yes, madam Schumacher?"


"Kamu gendong Lila deh! Kuat kan? Kasihan Lila masih pusing." Sabine tersenyum ke arah Alexander yang melongo.


"Tapi Oma... UHUK ! UHUK!" Kalila pun terbatuk-batuk.


"Sudah, Alex gendong Lila. Biar mommy buatkan sup ayam dan wedang jahe" ucap Georgina.


"Baik Nyonya Al Jordan." Alexander menghampiri Kalila. "Sorry princess, tapi memang kamu belum sehat." Pria itu lalu menggendong Kalila macam bridal style dan gadisnya melingkarkan tangannya di leher Alexander.


"Maaf merepotkan kamu, Lex" bisik Kalila sambil meletakkan kepalanya di bahu Alexander.


"Sehatlah, princess. Aku sedih jika kamu sakit seperti ini" balas Alexander sambil meminta tolong seorang pelayan untuk membuka pintu kamar Kalila.

__ADS_1


Alexander meletakkan tubuh Kalila diatas tempat tidurnya yang empuk. Gadis itu menatap Alex dengan mata cemas.


"Ada apa Lila?" tanya Alexander sambil duduk di pinggir tempat tidur Kalila.


"Aku... takut..."


"Kenapa?" Alexander menggenggam tangan Kalila.


"Takut bulan depan, Alex... Apakah kamu tahu... Aku akan segera menikah bulan depan dengan inspektur Megure... Dan aku belum mengatakan apapun tentang dirimu..." Air mata Kalila menitik dan membuat Alexander mengusapnya lembut.


"Semuanya akan baik-baik saja, Lila.." Alexander menatap mesra ke Kalila. "Semuanya akan baik-baik saja."


"Benarkah?" Kalila menatap ke mata hijau pria yang sudah memenuhi relung hatinya.


"Benar. Aku janji." Alexander mengusap kepala Kalila.


Suara ketukan di pintu membuat keduanya menoleh dan tampak pelayan membawakan nampan berisikan sup dan wedang jahe.


"Saya taruh dimana nona?" tanya pelayan itu.


"Sini. Biar saya yang urus" ucap Alexander sambil berdiri dan mengambil alih nampan. Pelayan tersebut mengangguk hormat dan pergi meninggalkan kamar Kalila.


"Mau..." Kalila lalu bangun dan duduk sambil bersandar di kepala tempat tidurnya. Alexander dengan telaten menyuapi Kalila hingga sup itu habis. Setelahnya dirinya menghabiskan wedang jahe buatan Georgina.


"Tunggu sampai tercerna dulu baru kamu tiduran, Lila" ucap Alexander sambil membereskan semua bekas - bekas makan Kalila dan membawanya keluar dari kamar.


Kalila mengangguk lalu menyetel televisi yang memperlihatkan berita Sean dan Zinnia yang datang ke Jepang selain untuk acara bilateral antara Jepang dan Belgia, juga akan menghadiri acara pernikahan Sakura Park dan Alessandro Moretti.


Alexander pun masuk lagi ke kamar Kalila lalu duduk di kursi sebelah tempat tidur gadis itu. Keduanya melihat bagaimana gaya Sean dan Zinnia yang elegan membuat lampu Blitz tidak berhenti menimpa pasangan itu.


"Ratu Zinnia memang cantik" gumam Alexander.


"Yup. Mbak Zee paling cantik dari ketiga kakak-kakak perempuan aku yang sebaya. Mbak Leia, mbak Blaze dan mbak Dira semuanya cantik dengan khasnya tersendiri soal anggun dan manner, mbak Zee paling the best. Nggak heran Bang Sean tergila-gila dengan kakakku satu itu." Kalila tersenyum bangga dengan kakak perempuannya itu.


Kalila tahu karena dulu tinggal bersama dan Zinnia memang memiliki attitude layaknya princess, selalu anggun dan meskipun dia hanya memakai baju santai, aura putri Emir tidak dapat dihilangkan padahal bukan putri kandung Ayrton dan Mariana Schumacher. ( Baca The Four Emirs ).


"Lila, apakah kamu ingin punya anak?" tanya Alexander.


"Bukankah aku harus bisa punya anak?" balas Kalila. "Kalau kamu bertanya begitu, aku akan bilang aku ingin punya anak. Dua."

__ADS_1


"Cowok cewek?"


Kalila mengangguk sambil tersenyum. "Kok tahu?"


"Karena aku juga ingin hal yang sama."


Kalila menatap Alexander. "Andaikan inspektur Megure itu kamu Lex..."


Alexander membalas tatapan Kalila. "Kenapa kalau inspektur Megure itu... Aku?"


"Well, aku senang karena menikah dengan orang yang aku suka... Tapi tampaknya tidak mungkin ya Lex" senyum Kalila.


Alexander berdiri lalu duduk di sebelah Kalila. "Sudah jangan terlalu kamu pikirkan. Ingat kamu masih harus banyak istirahat, jangan terlalu over thinking. Okay? Nanti pusing lagi."


Suara ketukan pintu lagi membuat keduanya menoleh. Tampak Ken Al Jordan, saudara kembar Kalila datang usai berpraktek di rumah sakit.


"Masih pusing kata Okāsan?" tanya Ken sambil menghampiri saudara kembarnya dan membawa stetoskop nya


"Dikit Ken" jawab Kalila sambil diperiksa oleh Ken yang berprofesi sebagai dokter. Ken sedang mengambil spesialisasi bedah, tampak telaten memeriksa adiknya.


"Aku sudah melihat seserahan dari pangeran Qatar. Wow, dia sangat tahu kamu, Lila. Glock dengan aksen emas? Sangat berbeda" kekeh Ken sambil mengalungkan stetoskop nya. "Paru-paru mu sudah jernih suaranya, tidak seperti tiga hari lalu. Masih tidak enak menelan?"


"Much better kok Ken."


"Benar kata Alex, jangan over thinking. Okay?" ucap Ken sambil memeluk adiknya.


"Thanks Ken."



Ken Al Jordan


***


Yuhuuuu Up Malam Yaaaaaa


Thank you for reading and support author


Don't forget to like vote and gift

__ADS_1


Tararengkyu ❤️🙂❤️


__ADS_2