
Indramayu Jawa Barat
Bik Minah bagaikan Déja Vu melihat pria yang diketahui suami Kalila dibawa masuk ke dalam oleh para pengawal. Macam jaman nyonya Zinnia dan tuan Sean.
Tak lama dokter perusahaan pabrik beras Zinnia pun datang setelah kepala pengawal menelpon nya. Dokter Asep mengangguk hormat ke Kalila yang dia tahu adik sepupu Nyonya Zinnia.
"Dimana yang sakit nona Lila?" tanya Dokter Asep yang berusia sekitar empat puluh akhir.
"Di kamar tamu. Benny, tunjukkan kamar pria itu." Kalila meminta salah seorang pengawal nya untuk mengantarkan Dokter Asep.
Benny pun mengajak pria itu masuk ke dalam kamar tempat Alex berada.
"Ben, bukannya ini suami nona Lila?" bisik Dokter Asep.
"Memang iya Dok. Kabarnya lagi perang Malvinas. Dengar-dengar nona Kalila sedang mengajukan cerai."
Dokter Asep menggelengkan kepalanya. "Sama saja dengan Nyonya Zee. Keluarga Sultan itu memang keras kepala semua" gerutunya sambil mengambil stetoskop dan termometer serta tensimeter.
"Gosipnya tuan Alexander, nama pria ini, membohongi status dirinya hampir dua tahun ke nona Kalila. Nona baru tahu saat ijab qobul."
Dokter Asep melongo. "Kenapa harus berbohong?" tanyanya sambil membuka kancing kemeja Alexander yang masih pingsan.
"Sebenarnya mereka dijodohkan dan tuan Alexander menyamar jadi pengawalnya nona Kalila. Dan ternyata selama ini nona Kalila tidak pernah tahu seperti apa pria yang dijodohkan. Baru tahu usai ijab" ucap Benny.
"Dan nona Lila kabur kemari?" tanya Dokter Asep yang tidak terlalu mengikuti berita tentang keluarga Bossnya. Dia hanya tahu adik Zinnia berlibur di Indramayu tanpa mengetahui sudah menikah.
"Iya."
"Wajar dia marah karena merasa dibohongi. Tapi sebenarnya bisa dibicarakan baik-baik... Tapi faktor usia juga pengaruh. Nona Kalila kan masih muda jadi emosinya masih tinggi..." ucap Dokter Asep usai memeriksa Alexander. "Memang pria ini siapa Benny?"
"Pangeran Qatar."
Dokter Asep melongo.
"Li...la..."
Dokter Asep dan Benny menoleh ke arah Alexander.
"Yang mulia, anda sudah sadar?" Dokter Asep mulai memeriksa semua panca indera milik Alexander.
"Di...ma....na Li..la..." Alexander menatap Dokter Asep.
"Nona Lila diluar, yang mulia."
"Dia...tidak ... masuk?"
Dokter Asep menggelengkan kepalanya. "Maaf, yang mulia..."
Alexander menutup matanya dengan tangannya. "Damn... Dia masih marah..."
__ADS_1
***
"Bagaimana dokter Asep?" tanya Kalila.
"Nona Lila, apakah pria itu suami anda?" Dokter Asep malah balik bertanya.
"Akan menjadi mantan suami. Bagaimana kondisinya?" tanya Kalila dingin.
"Sedikit dehidrasi, lambungnya kosong dan pola makannya tidak teratur. Tekanan darahnya rendah nona. Intinya, fisiknya berantakan."
"Fisiknya berantakan kan dia buat sendiri! Bukan urusan saya!" balas Kalila dingin.
"Nona, saya tahu ini bukan urusan saya tapi tuan Alexander benar-benar sakit. Anda tidak mau kan dicap sebagai penghilang nyawa suami anda..." ucap dokter Asep pelan. "Saya tahu anda besok hendak kembali ke Jakarta tapi tolong nona..."
"Cih! Dasar bikin repot!" umpat Kalila.
Dokter Asep tersenyum lembut. "Janganlah menyimpan amarah karena akan membuat tubuh anda juga ikut sakit. Jiwa anda tidak akan tenang..."
"Aku akan berpisah dengannya!"
"Apakah anda tidak mencintai nya sebelumnya?"
"Dokter Asep!"
"Nona Lila, saya tahu anda marah luar biasa karena dibohongi tapi apakah tuan Alexander tidak mencintai anda?"
"Aku tidak tahu apakah perasaan dia benar atau tidak setelah kebohongan yang dia lakukan! Dan aku merasa terjebak!"
"Dia hanya merasa bersalah karena berbohong padaku. Bahkan kedua orang tuaku juga!" Wajah Kalila tampak mengeras.
"Nona Lila, apakah kedua orang tua anda sudah meminta maaf kepada anda?"
"Setiap menelpon aku, mommy dan Daddy selalu meminta maaf padaku..."
"Apakah anda sudah memaafkan mereka?"
"Sudah..."
"Tapi mereka masih terus meminta maaf pada anda bukan? Nona Lila, okelah mereka salah karena membohongi anda tapi sebagai anak, apakah anda juga akan menghukum orang tua anda terus? Nona Lila, anda sudah menikah, sudah menjadi tanggung jawab tuan Alexander. Tapi anda juga masih menjadi anak tuan dan nyonya Al Jordan... Mau sampai kapan anda dipenuhi amarah seperti ini? Sangat tidak elok jika kalian semua saling menyakiti karena endingnya pasti akan sama-sama tidak enak..."
"Dokter Asep, mengapa anda bisa berbicara seperti ini?" Kalila menatap dokter itu.
"Karena saya pernah di posisi anda, nona dan itu adalah penyesalan saya yang paling tinggi. Saya tidak setuju dengan keputusan kedua orangtua menjodohkan saya. Saya marah pada mereka, kami bertengkar dan saya memilih pergi. Kedua orang tua saya memohon, meminta maaf kepada saya meminta saya kembali ke Bandung. Tapi saya sudah sakit hati saat itu dan saya tetap mengacuhkan hingga akhirnya kedua orang tua saya perjalanan menuju kemari hanya demi mendapatkan maaf saya. Apa yang terjadi nona? Mereka meninggal karena kecelakaan di tol... " Dokter Asep mengusap matanya yang basah. "Saya menyesal amat sangat mengapa saya begitu sombong menolak memaafkan kedua orang tua saya dan rasa sesal itu terus bersemayam di hati saya selamanya..."
Kalila tertegun. "Karena itulah anda tidak menikah?"
Dokter Asep mengangguk. "Saya takut karma, nona Lila. Jadi, saya minta, jangan sampai anda mengalami hal yang sama seperti saya. Karena yang tinggal hanyalah penyesalan seumur hidup..."
Kalila terdiam.
__ADS_1
***
Kalila kini berada di dalam kamar Alexander dan matanya menatap tajam ke arah pria yang sedang makan itu.
"Lila..."
"Habiskan!" perintah Kalila.
"Tapi aku sudah..."
"Habiskan! Hanya tinggal dua sendok itu!"
Alexander mengehela nafas panjang. Fix ! Dia masih marah. Pria itu lalu menghabiskan sisa makannya. Kalila lalu mengambil piring kosong itu dan berjalan keluar kamar.
"Lila... Apakah besok kamu akan pulang ke Dubai? Meninggalkan aku?"
"Aku tidak memintamu datang, Alex." Kalila membuka pintu kamar.
"Apakah kamu akan pergi lagi? Mau sampai kapan Lila?"
"Bik Minah! Tolong piringnya ini diambil ya!" panggil Kalila sambil meletakkan piring di lantai luar kamar.
"Baik mbak!"
Kalila lalu menutup pintu kamar Alexander dan merasa dirinya harus menghadapi juga pada akhirnya. "Aku akan terus pergi sampai kamu setuju menalak aku."
"No, sampai kapan pun aku tidak akan mengucapkan kata itu!"
"Aku sudah tidak percaya lagi padamu Lex."
"Please Lila, aku berbohong tentang status aku tapi tidak perasaan aku. Aku sangat mencintaimu, Lila. Aku jatuh cinta pada istriku sendiri bahkan sejak masih calon istri dan itu yang sebenarnya." Alexander turun dari tempat tidur dan berdiri menghadap Kalila lalu pria itu berlutut, memeluk kaki istrinya membuat gadis itu terkejut.
"Apa yang harus aku lakukan demi mendapatkan maafmu kecuali soal berpisah! Aku tidak mau berpisah denganmu! Dan aku berjanji padamu, aku tidak akan berbohong lagi padamu, sekecil apapun itu" pinta Alexander.
Kalila mendongakkan wajahnya. Dia memang tidak sepenuhnya berdarah Jawa tapi dia dididik campuran Jawa. Sebagai keturunan Jawa dari Oma Paradina, tidak sepantasnya pria sampai bersimpuh seperti ini. Harga dirinya sudah sampai titik nadir, titik penyesalan paling tinggi. Bagaimana pun Kalila tidak tega melihat Alexander yang seorang pangeran Qatar, berbuat seperti ini demi mendapatkan maafnya.
"Bangun Lex..."
"Tidak, sampai kamu memaafkan aku..."
"Alex, jika kamu tidak bangun, jangan salahkan aku menghajar mu lagi!"
"Aku terima itu Lila..."
***
Yuhuuuu Up Malam Yaaaa
Thank you for reading and support author
__ADS_1
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️