
Indramayu Jawa Barat
Alexander menatap tidak percaya mendengar ucapan Kalila. Pria itu mengehela nafas panjang berulang kali lalu menatap Kalila dengan wajah yang sudah pasrah.
"Jika memang dengan memberikan nyawaku, kamu bisa lega dan tenang... Akan aku berikan Lila. Syaratnya hanya satu, kamu lah yang mencabut nyawaku." Mata hijau Alexander tampak berkaca-kaca. "Aku sudah pasrah kan semuanya."
Kalila tampak tergugu mendengar ucapan Alexander yang sudah seperti pria yang sudah tidak ada semangat hidup lagi. Jika aku yang mencabut nyawa Alex, berarti aku melanggar janjiku lagi untuk tidak menjadi pembunuh.
"No..." bisik Kalila pelan.
"No apa Lila?" Alexander menatap wajah istrinya yang tiba-tiba meneteskan air mata.
"Aku... aku tidak bisa mencabut nyawamu..." Kalila menatap Alexander. "Aku tidak bisa..."
"Tapi tadi kamu tampaknya ingin..."
"Aku hanya ingin tahu apa kamu..."
Alexander memeluk Kalila erat. "Tanpa kamu meminta, jika demi kamu, nyawaku pun akan aku berikan, Kalila. Please, jangan pernah pergi dariku, jangan pernah tinggalkan aku, aku mohon. Aku sangat mencintaimu Lila..."
Kalila membalas pelukan Alexander. "Jangan pernah berbohong padaku, Alex. Aku sudah sangat sakit hati kalian semua membohongi aku..."
"Maafkan aku, maafkan Papa Enzo, Mama Georgina, Oom Benji... Maafkanlah kami semua Lila. Kami semua merindukanmu... " isak Alexander penuh perasaan. Bagaimana dirinya sangat merindukan wanita yang sangat dicintainya ini.
Kalila menangis keras di dalam pelukan suaminya. Semua emosinya dia curahan di dada Alexander dan entah berapa keduanya dalam posisi itu hingga Alexander membawanya masuk ke dalam kamar istrinya dan menutup pintunya.
Masih memeluk Kalila, Alexander membawanya duduk di pinggir tempat tidur. Pria itu memberikan kesempatan pada istrinya meluapkan semuanya. Hingga tangis Kalila menjadi sesenggukan, Alexander memegang wajah istrinya.
"I'm sorry Lila jika kami menyakiti kamu sedemikian rupa. Maaf... maaf... maaf..." ucap Alexander.
Kalila yang masih sesenggukan tidak bisa menjawab karena nafasnya masih pendek-pendek.
Alexander memperhatikan wajah istrinya berubah menjadi pucat, membuat dirinya takut jika terjadi sesuatu pada Kalila.
"Lila... Lila... jangan pingsan sayang... Please, Lila... stay with me..." Alexander menepuk pelan pipi Kalila.
"No... aku hanya lelah..." Kalila pun ambruk diatas kasur.
"Lila! LILA!" Alexander menepuk pipi istrinya. Pria itu lalu melepaskan mukena yang masih dikenakan istrinya lalu membenarkan posisi tidurnya. Alexander lalu membongkar meja rias Kalila dan menemukan inhaler serta Vicks. Pria itu melonggarkan baju istrinya dan menggosokkan Vicks ke leher dan pelipisnya. Alexander juga mengganjal kaki Kalila dengan bantal lebih tinggi dan menggosokkan dengan Vicks di telapaknya.
Alexander melihat ada termos elektrik di sebuah meja pantri di dalam kamar. Segera dia mengambil sebotol air mineral dan membuat air panas. Dia juga menyiapkan cangkir dengan teh. Sambil menunggu air matang, Alexander memijat bagian antara ibu jari dan telunjuk dengan Vicks.
Tak lama suara erangan Kalila terdengar dan Alexander mengucapkan syukur istrinya mulai sadar.
"Alhamdulillah... sudah mulai sadar..." senyum Alexander menatap mata istrinya yang mulai terbuka.
__ADS_1
"Aku... kenapa?" bisik Kalila.
"Sama seperti aku tadi..." Alexander pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju meja pantri untuk membuatkan teh manis panas.
"Tunggu agak hangat, ini masih panas Lila" ucap Alexander sambil meletakkan mug di meja nakas sebelah tempat tidur.
Kalila masih memejamkan matanya karena semuanya masih terasa berputar. "Pusing..."
"Bersabarlah... " Alexander menggenggam tangan Kalila yang bau Vicks.
"Kenapa ... bau Vicks?" Mata Kalila terbuka dan menatap Alexander.
"Aku hanya menemukan itu untuk membuatmu sadar. Sayang, jangan pingsan lagi ya... Kamu membuatku takut..." Alexander mengusap rambut Kalila.
"Aku... " Kalila pun beringsut berusaha untuk duduk yang dibantu oleh Alexander. "Aku...mau teh nya."
"Pelan - pelan, sayang. Masih panas." Alexander memberikan mug teh manis itu.
Kalila menerima nya dan perlahan menyesap teh nya. Mata hijau Alexander tidak lepas-lepas menatap wajah istrinya. Jari Alexander menyingkirkan anak rambut Kalila ke balik telinganya.
Perlahan-lahan wajah Kalila menjadi memerah tidak seperti tadi tampak pucat.
"Much better ( mendingan )? Ingin sesuatu?" tawar Alexander.
Gadis itu lalu merebahkan tubuhnya lalu tidur menyamping tapi kemudian merasakan sebuah tangan memeluknya dari belakang.
"Tidurlah... Aku akan menjagamu" bisik Alexander. "Relaks saja Lila."
Kalila tidak menjawab namun matanya perlahan terpejam. Alexander menunggu sampai Kalila benar - benar terlelap lalu merubah posisi tidurnya. Pria itu merengkuh tubuh Kalila dan memutarnya hingga saling berhadapan.
Alexander mengusap wajah lelah istrinya. Dia tahu Kalila menahan emosinya begitu lama hingga tadi adalah puncaknya sampai tubuhnya tidak bisa menghandle.
Maafkan aku.
Alexander mencium kening Kalila dan memeluknya erat hingga dirinya pun ikut terlelap.
***
Kalila mengerjapkan matanya merasakan tangannya seperti memeluk sesuatu tapi bukan guling seperti biasanya. Gadis itu melihat dirinya memeluk Alexander yang tidur terlentang tapi tangan kanannya tetap memeluknya.
Kalila melirik jam dinding yang menunjukkan pukul setengah lima pagi, waktu yang selalu membuatnya terbangun. Kalila memang memindset pikirannya untuk memerintahkan jam tubuhnya agar bangun setengah lima. Dan selama ini gadis itu tidak pernah membutuhkan weker karena tubuhnya seperti ada alarm tersendiri.
Kalila menarik tangannya dari tubuh Alexander lalu perlahan dirinya bangun dari tempat tidur. Gadis itu pun melihat bagaimana mukena yang semalam dikenakannya, sudah teronggok di lantai.
Pasti dibuang sembarangan sama Alex.
__ADS_1
Kalila melipatnya lalu meletakkan diatas sajadah dan gadis itu masuk ke dalam kamar mandi untuk berwudhu.
Alexander yang mendengar suara gemericik air, pun terbangun dan melihat tubuh istrinya sudah tidak ada di sisinya. Pria itu pun bangun menunggu Kalila keluar dari kamar mandi.
Tak lama Kalila keluar dengan kondisi sudah berwudhu.
"Sudah mendingan? Sudah tidak pusing?" tanya Alexander sembari menatap lekat wajah istrinya.
"Alhamdulillah..." jawab Kalila dan sayup-sayup terdengar adzan subuh berkumandang.
"Kamu tunggu sebentar." Alexander berjalan menuju kamar mandi.
"Tunggu apa?" tanya Kalila.
"Kita akan sholat berjamaah. Tolong kalau ada gamis atau..."
"Ada sarung dan baju Koko milik mas Sendra."
"Boleh lah Lila. Aku pinjam dulu."
Kalila membuka lemari pakaian yang memang ada sisi sendiri milik Gasendra. Kamar yang dipakai Kalila adalah kamar milik Gasendra kalau menginap di Indramayu. Kalila selalu suka kamar Gasendra karena tidak terlalu luas tapi cozy.
"Ini, baju Koko dan sarungnya" ucap Kalila sambil menyerahkan ke Alexander.
"Terimakasih. Tunggu sebentar, aku bebersih dan wudhu dulu." Alexander pun masuk ke dalam kamar mandi sedangkan Kalila mengambil sajadah yang disimpan disana dan menggelar di sebelahnya. Gadis itu lalu mengenakan mukenanya lalu duduk diatas sajadahnya menunggu Alexander keluar dari kamar mandi.
Tak lama Alexander keluar dari kamar mandi dan tersenyum kearah Kalila sudah mengenakan baju koko dan sarung. Pria itu lalu menghampiri Kalila dan duduk di hadapan istrinya.
"Assalamualaikum, Ya Zaujati."
"Wa'alaikum salam, Ya Zauji."
Alexander tersenyum bahagia mendengar jawaban Kalila. "Kita mulai sholat nya?"
Kalila pun mengangguk.
***
Yuhuuuu Up Sore Yaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1