
Istana Khalid Doha Qatar
Kalila menatap bangunan istana yang jauh lebih mewah dari istana Al Jordan. Ya iyalah Lila, ini penguasa Qatar bukan macam keluarga kamu yang memiliki sebagian wilayah...
"Kamu kenapa Lila?" tanya Alexander.
"Hanya takjub melihat bangunannya" jawab Kalila tenang.
"Yuk masuk dari pintu samping" ajak Alexander sambil menggandeng tangan Kalila. Keduanya berjalan masuk ke istana Qatar yang berada di pusat kota. Semua anggota keluarga tinggal disana kecuali putri Alesha yang ikut suaminya.
Dengan diiringi para pengawal, Alexander dan Kalila masuk dari pintu samping sayap timur istana yang juga merupakan pintu masuk para anggota keluarga istana yang tidak terlihat mencolok.
Sesampainya di ruang tengah, semua anggota keluarga Alexander sudah menunggunya termasuk Shalimah, ibu Alexander dan Alesha. Kalila tersenyum ke semua orang lalu menghampiri dan mencium punggung tangan Emir Qatar, Emir Ahmed kakek Alexander dan Emir Akhram. Kalila mendapatkan pelukan hangat dari Shalimah yang memberikan cium di kening gadis itu.
"Umi setuju dengan sikap kamu, Lila. Alexander memang patut mendapatkan pelajaran karena dia nakal padamu. Kalau nanti dia nakal lagi, bilang sama umi biar umi sendiri yang turun tangan!" ucap Shalimah tegas membuat Alexander hanya bisa melengos.
"Selamat datang di Doha, Lila. Jika butuh menghajar adikku, aku akan membantumu" senyum Alesha. "Maafkan aku yang tidak melindungi kamu."
"Tidak apa-apa kak Alesha. Sudah berlalu jadi tidak perlu dipikirkan lagi" senyum Kalila.
Pangeran As'ad dan istrinya pun menyambut Kalila hangat begitu juga dengan dua anak mereka.
"Ayo kita makan malam dulu" ajak Emir Ahmed. "Lila, terimakasih mau bersama dengan cucu nakal aku" ucap sahabat Sabine Al Jordan itu sambil memegang tangan Kalila.
"Sama-sama grandpa. Sejujurnya aku masih melihat sejauh mana Alex bisa membuktikan ucapannya" senyum Kalila sambil melirik suaminya tapi Alexander merasakan hawa dingin di lehernya saat melihat lirikan tajam Kalila.
Semua anggota keluarga Khalid duduk di meja makan yang panjang. Disana juga ada beberapa anggota keluarga lainnya termasuk Paman dan Bibi yang menyambut hangat kedatangan istri Alexander tersebut.
Acara makan malam pun berlangsung dengan penuh keakraban apalagi istri As'ad sangat menyukai arsitektur dan desain interior hingga banyak berdiskusi dengan Kalila yang juga memiliki jiwa seni tinggi. Dan sekali lagi, Alexander merasa dirinya diacuhkan oleh keluarganya sendiri.
Sabar Alex... sabar.
***
Pukul sepuluh malam, Alexander dan Kalila berpamitan untuk beristirahat di kamar pria itu dan Kalila terkejut melihat foto pernikahan mereka yang tampak Membagongkan dipasang disana.
"Seriously Alex, kamu pasang foto ini?" kekeh Kalila melihat bagaimana wajahnya tampak terkejut saat melihat siapa yang menjadi suaminya.
"Sebagai pengingat aku bahwa pernikahan kita penuh kekacauan... " Alexander melepaskan jaketnya meninggalkan kemeja hitam dan celana hitam.
Kalila hanya mengangguk. Wajahnya tampak tersenyum melihat foto dirinya dan Alexander di berbagai tempat baik di Hongkong, dubai, Mumbai dan Ladakh. Bahkan di area menembak tempat latihannya.
__ADS_1
Gadis itu terkejut melihat wajahnya dari samping yang dipasang Alexander dengan pigura indah berada di meja kerja pria itu.
Kalila Al Jordan
"Kapan kamu ambil foto ini Lex?" tanya Kalila.
"Usai kamu latihan menembak dan menikmati matahari pagi. Menurut ku kamu cantik disitu." Alexander melepaskan kemejanya dan melemparkannya ke keranjang baju kotor.
Kalila menatap suaminya yang duduk di sebelahnya. "Kamu mau ngapain?"
B aja bang lihatnya
Alexander hanya menatap dirinya. "So, kita ngapain enaknya?"
"Ngapain? Pertama aku mau mandi, gerah..."
"Mandi bersama?" tawar Alexander.
Gadis itu berdiri lalu berjalan menuju kopernya.
"Seriously Lila? Kamu lagi dapat?" tanya Alexander. "Ya Allah... kita akan menikah sesungguhnya, Lila. Jangan berubah pikiran lagi please..."
Kalila hanya tersenyum smirk. "We'll see about that..." bisikinya di sisi telinga Alexander sebelum masuk ke dalam kamar mandi dengan membawa pembalut.
Alexander hanya bisa mendengus kesal.
Damn it !
***
Seminggu sudah Kalila tinggal di Doha Qatar dan selama itu pula gadis itu mengikuti semua acara yang diadakan istana Qatar termasuk acara amal bagi para warga tidak mampu.
Kemampuan memasak Kalila dipertaruhkan saat Shalimah mengadakan acara memasak untuk amal yang nantinya setiap masakan dari keluarga istana dilelang dan uangnya akan dialokasikan ke yayasan amal milik negara Qatar untuk pembiayaan semua panti asuhan dan jompo milik istana.
Kalila yang tampak bingung karena harus memasak dengan menu bebas, akhirnya memilih membuat masakan yang menurutnya paling mudah dilakukannya, sup buntut.
Sehari sebelum acara, Kalila memang sudah diberitahu oleh sekretaris nya bahwa akan ada acara memasak bebas. Kalila meminta kepada kepala dapur istana untuk dipersiapkan semua bumbu yang dibutuhkan untuk membuat sop buntut versinya sesuai dengan resep dari almarhum eyang Ayu, ibu dari Mariana Hadiyanto, nenek Zinnia, Gasendra dan Garvita yang orang Jawa.
__ADS_1
Dan kini di depan semua para elite Qatar, Kalila yang mengenakan kaftan bewarna hitam sudah siap dengan acara memasaknya. Alexander yang datang dengan As'ad, tampak semangat melihat istrinya serius dibalik meja persiapan.
"Istrimu buat apa kak?" tanya Alexander yang melihat Maryam, istri As'ad sibuk memasak.
"Paling membuat baklava. Dia paling suka membuat masakan itu" senyum As'ad sambil melihat istrinya. "Lila?"
"Aku tidak tahu. Lila tidak bilang apa-apa." Alexander menatap ke arah Kalila yang mengelap dahinya dengan punggung tangannya.
"Apa dia memasak masakan khas Dubai atau Indonesia?" tanya As'ad.
"Entahlah." Alexander pun berjalan menghampiri Kalila sembari mengambil saputangan dari saku jas nya.
"Alex? Kamu ngapain?" tanya Kalila bingung.
"Kamu keringatan..." ucap Alexander lembut sambil mengelap keringat di dahi dan leher istrinya. Wajah Kalila merah padam melihat sikap suaminya yang membuat hadirin langsung heboh.
"Sudah... kamu pergi..." Kalila mendorong suaminya dengan sikutnya karena tangannya bau tomat. "Sanaaaa!" desis gadis itu.
"Kamu masak apa?" Alexander mencium bau rempah dan daging bersamaan.
"Ada deh !" Mata Kalila menatap tajam ke arah Alexander yang akhirnya memilih pergi dari meja istrinya tapi tidak mau jauh-jauh dari gadis itu.
As'ad dan Maryam saling berpandangan lalu keduanya tersenyum simpul melihat bagaimana Alexander berusaha membuka hati istrinya.
As'ad melihat ke arah Alexander yang tetap memandangi wajah Kalila yang masih sibuk memperhatikan panci besarnya.
Semoga kamu bisa membuat istri mu kembali mencintaimu seperti sebelum kejadian ijab qobul.
As'ad tersenyum mengingat ucapan Kalila. Inspektur Megure. Dan dirinya berharap Inspektur Megure dan Midori Megure, bisa menjalani pernikahan yang berbahagia seperti dirinya dan Maryam.
***
Yuhuuuu Up Siang Yaaaaaa
Thank you for reading and support author
Don't forget to like vote and gift
Tararengkyu ❤️🙂❤️
__ADS_1